
"Sayang, hari ini aku akan ke luar kota. Sebaiknya kamu ikut, kita bisa sekalian bulan madu!" ujar Raihan lirih tepat di telinga Vania, sembari memeluk tubuh ramping Vania dari belakang. Raihan menyandarkan kepalanya di pundak Vania. Kebetulan Vania sedang menyiapkan keperluan Raihan yang akan pergi ke luar kota. Meski Raihan baru saja menikah, dia tidak serta merta bisa meninggalkan tanggungjawabnya sebagai seorang pemimpin perusahaan.
Vania menggeleng pelan, dia menolak ajakan Raihan. Sedikitpun Vania tidak berniat ikut dengan Raihan ke luar kota. Vania masih bekerja di perusahaan Fathan. Bukan demi sebuah penghasilan, tapi lebih mencari pengalaman hidup. Raihan tidak pernah membatasi kegiatan Vania. Selama Raihan mengetahui posisi Vania dan keadaannya baik-baik saja. Kebebasan yang diberikan Raihan dengan tanggungjawab dari Vania.
"Aku tidak ingin mengganggu pekerjaanmu. Apalagi asisten cantikmu sudah mengikutimu. Lebih baik aku di rumah atau aku menginap di rumah mama Hana. Pekerjaanmu akan menyita waktumu. Daripada aku diam melihatmu, jauh lebih baik aku bekerja!" ujar Vania, Raihan menggeleng tepat di atas bahu Vania. Dengan pelan Raihan mengecup leher Vania. Sontak Vania menggeliat geli, tapi bukan melepaskan Vania. Raihan malah memeluk Vania semakin erat.
Raihan selalu melakukan hal-hal kecil yang akan mendekatkan keduanya. Meski keduanya telah menikah, baik Raihan dan Vania masih sulit berdua. Terkadang Raihan pulang larut malam. Saat Vania sudah merasa lelah. Walau sebenarnya Vania selalu menunggu kedatangan Raihan. Namun Raihan selalu merasa kasihan melihat mata sayu Vania. Akhirnya Raihan memendam kerinduannya pada Vania. Demi kesehatan Vania dan istirahat Vania yang terganggu.
"Sayang, kamu tidak akan merindukanku. Aku pergi selama tiga hari. Sehari saja aku sudah merindukanmu. Bagaimana kamu bisa setega itu tidak merindukanku?" ujar Raihan lirih, Vania tetap menggeleng. Dia sama sekali tidak tertarik ikut dengan Raihan. Perjalanan bisnis akan sangat membosankan. Apalagi Vania masih memiliki tanggungjawab sebagai seorang karyawan. Dia tidak bisa seenaknya saja cuti tanpa alasan yang jelas.
Raihan tidak kehilangan akal. Dia terus merayu Vania. Raihan menyusupkan kepalanya ke belakang tengkuk Vania. Raihan mencium lembut tengkuk Vania yang tak terhalang hijab. Raihan mencium harum rambut hitam legam Vania. Raihan terus saja menyusup, menyusuri setiap jengkal bagian tubuh Vania. Tak satupun bagian yang luput dari kecupan hangat Raihan. Vania diam mematung, menerima perlakuan Raihan yang hangat.
Vania hanya bisa pasrah, meronta juga tidak akan membuat Raihan menghentikan sikapnya. Malah Raihan akan semakin menjadi. Lama kelamaan Raihan tak tahan melihat sikap dingin Vania. Raihan memutar tubuh Vania 180° menghadap ke arahnya. Lalu menarik tubuh Vania ke dalam pelukannya. Raihan mendekatkan wajahnya, dia mengecup lembut kening Vania. Lalu turun mengarah ke bibir mungil Vania.
Cup
__ADS_1
Satu kecupan manis mendarat sempurna di bibir Vania. Seketika tubuh Vania bergetar hebat. Desiran hangat mengalir deras dalam darahnya. Kehangatan Raihan membangkitkan hasrat Vania. Raihan melihat perubahan sikap Vania, dia tersenyum simpul merasa telah menang. Meski sebenarnya Raihan sudah tidak mampu lagi menahan hasratnya.
"Sayang, kamu jelas merindukanku. Kenapa tidak ikut saja denganku? Aku mohon, kita pergi bersama ke luar kota. Jika kamu menolak, pagi ini akan menjadi panjang untuk kita. Sekalian saja kita tinggal di rumah. Aku tidak ke luar kota, kamu tidak perlu pergi bekerja!" ujar Raihan mesra, Vania mengangguk pelan. Jauh lebih baik bila keduanya tetap di dalam rumah. Jadi tidak akan ada yang pergi bekerja.
"Baiklah, kita diam di rumah saja. Lakukan apapun yang kamu inginkan. Aku akan izin pada kak Fathan. Aku akan mengatakan padanya, kalau aku sedang memenuhi kewajiban seorang istri. Sekarang kamu yang melepas bajuku atau aku melepasnya sendiri!" ujar Vania menantang sembari melepas beberapa kancing piyamanya. Seketika Raihan melepaskan pelukannya, dengan jelas Raihan melihat tubuh indah Vania. Raihan memijat pelipisnya pelan. Tidak pernah Raihan bayangkan, Vania malah menantang dirinya. Dia tidak menyangka vania malah memintanya tinggal di rumah. Bukan mengalah dan ikut dengannya ke luar kota.
Vania selalu bisa membuat Raihan tak berkutik. Jelas terdengar Raihan menelan ludahnya kasar. Niat Raihan memancing hasrat Vania, malah berbalik menjadi bumerang untuk dirinya. Vania mendekat pada Raihan, kini Vania yang memeluk Raihan dari belakang. Vania menempelkan kepalanya pada punggung Raihan. Tangan mungilnya memeluk Raihan sangat erat. Raihan merasa tubuhnya mulai panas dingin. Hasrat yang sejak semula dia tahan, semakin jelas terasa dan ingin segera tersalurkan.
"Jangankan pagi ini, setiap waktu kamu memintanya. Aku akan siap memenuhinya. Kewajiban seorang istri bukan hanya merawat dan menjaga suaminya. Istri jauh lebih bertanggungjawab akan nafkah batin suaminya Kebahagian suami menjadi prioritas istri. Bagaimana kalau sekarang kita melakukannya? Kita salurkan kerinduan kita!" tutur Vania mesra, Raihan diam membisu. Darahnya mengalir sangat deras. Raihan menggali jebakannya sendiri, dia juga yang masuk perangkapnya.
Dengan tersenyum Vania memutar tubuh Raihan. Dia menatap wajah tampan Raihan dengan penuh kasih sayang. Raihan mengusap wajah sang suami, jarinya bermain di sekitar mata dan bibir tipis Raihan.
"Suamiku tercinta, aku akan mendapatkan pahala bila memenuhi kewajibanku sebagai seorang istri. Lantas atas dasar apa aku menolak memenuhi hasratmu? Sikap agresifku yang akan membuatku mendapatkan pahala. Menolak keinginanmu hanya akan membuatku menjadi istri durhaka!" ujar Vania santai, Raihan mengangguk mengerti. Vania menarik tangan Raihan, lalu mencium punggung tangan Raihan. Vania memeluk erat tubuh Raihan. Menyadarkan kepalanya pada dada bidang Raihan.
"Kita lanjutkan kemesraan pagi ini atau segera bersiap!" ujar Vania membuyarkan lamunan Raihan. Seketika Raihan menghela napas panjang. Dia sudah menduga, Vania hanya ingin mengalihkan perhatiannya.
__ADS_1
Terdengar suara pintu diketuk, bik Romlah mengatakan asisten Raihan sudah datang. Setelah menjawab perkataan bik Romlah, Vania membereskan koper yang akan dibawa Raihan. Lalu memberikan jas yang akan digunakan. Raihan. Setelah semua kewajibannya selesai, Vania mengambil pakaian ganti berjalan menuju kamar mandi.
"Berangkatlah, asisten cantikmu sudah datang. Aku harus bersiap ke kantor. Tidak perlu menungguku, kamu sarapan saja dengan asisten cantikmu. Aku akan sarapan di kantor. Jika menungguku kamu akan terlambat!" ujar Vania ketus dengan wajah ditekuk. Sontak Raihan menoleh sesaat setelah mendengar perkataan Vania. Namun terlambat, Vania sudah masuk ke dalam kamar mandi. Raihan merasa aneh dengan nada suara Vania. Seperti seseorang yang sedang marah.
"Sayang, kamu cemburu. Dia asistenku bukan siapa-siapa?" teriak Raihan, Vania diam bersandar pada pintu kamar mandi. Dia sangat kesal saat mengetahui, Sovia asisten Raihan akan ikut ke luar kota. Raihan mengetuk pintu kamar mandi, tapi Vania tetap diam tak menanggapi.
"Sayang, ayolah kamu jangan marah tidak jelas. Sovia sudah lama bekerja padaku. Aku dan dia hanya bos dan asistennya. Tidak akan lebih, aku mohon keluarlah sebentar. Aku akan pergi, tidak mungkin aku pergi tanpa senyum dan ciuman darimu. Jangan seperti anak kecil, Sovia hanya bawahanku!" teriak Raihan lantang, tangannya tidak berhenti mengetuk pintu. Namun Vania sedikitpun tidak membukakan pintu untuk Raihan.
"Pergilah, kasihan Sovia menunggu terlalu lama. Lagipula kamu benar, aku hanya anak kecil. Cemburuku tidak jelas, maaf sudah membuatmu resah!" sahut Vania, lalu menghidupkan kran air. Vania membersihkan dirinya secepat mungkin. Dia harus bertemu beberapa klien. Sekitar setengah jam, Vania berada di kamar mandi. Vania berpikir Raihan sudah berangkat. Sebab rapat Raihan akan berlangsung pagi hari.
Kreeeekkk
Vania membuka pintu kamar mandi dengan perlahan. Dia melihat sekeliling kamarnya. Tak ada Raihan di dalam kamarnya. Ada rasa kecewa melihat Raihan sudah berangkat tanpa menunggu dirinya. Sebenarnya Vania berharap, Raihan akan menunggunya dan merayunya lagi.
"Dia tidak peka, lihatlah dia berangkat tanpa menungguku. Bukankah seharusnya dia menungguku. Seorang wanita jika mengatakan pergi. Itu artinya jangan pergi, dasar manusia berhati dingin!" batin Vania kesal, lalu berjalan menuju meja riasnya.
__ADS_1
"Sayang, aku senang melihat cemburumu. Aku rela kehilangan banyak proyek. Selama aku bisa merasakan cintamu!" bisik Raihan, lalu mencium telinga Vania pelan.