
Sepulang dari kantor Rafa langsung pergi menuju pemakaman elit tempat ibunya dimakamkan. Bukan pemakaman umum seperti kedua orang tua Hana dimakamkan. Pemakaman ini jauh dipinggir kota. Pemakaman khusus untuk beberapa kalangan. Selama bertahun-tahun Rafa tak pernah menginjakkan kakinya di pemakaman ini.
Hari ini kedua kalinya Rafa datang kemari. Pertama kalinya dia datang, saat membawa jenazah sang ibu. Rafa seakan trauma saat dia datang kemari. Diusia yang menginjak dewasa. Rafa kehilangan sang ibu, sekaligus harus merelakan sang ayah yang pergi entah kemana?
Sejujurnya Rafa kehilangan akan sosok ibunya. Namun Rafa juga marah, karena dia berpikir. Ibunya penyebab sang ayah menjauh darinya. Rafa seakan menyayangi tapi membenci. Merindukan tapi tak ingin bertemu. Namun semua salah paham terjawab tanpa keraguan. Saat dengan bangganya sang ayah mengakui kesalahan. Amarah dihati Rafa terobati, kala surat sang ibu menenangkannya.
"Kak Rafa, ayo kita masuk. Dimana makam mama Ainun? Kenapa kak Rafa malah melamun?" ujar Hana sembari menggendong Fathan. Rafa dan Hana datang berdua, senfaja Hana tidak pernah menggunakan jasa pengasuh. Sebab Fathan masih mengkonsumsi ASI eksclusive. Jadi dia tidak bisa lepas dari gendongan Hana. Lagipula Fathan tidak pernah rewel, kecuali dia haus dan mengantuk.
"Sayang, makam mama sedikit jauh di atas. Lebih baik Fathan aku yang menggendongnya. Nanti kamu kelelahan harus berjalan jauh, sembari menggendong Fathan!" ujar Rafa, Hana menggeleng lemah. Sengaja Hana menggendong Fathan dengan posisi di depan. Agar Fathan nyaman saat dibawa berjalan jauh. Hana sudah mengantisipasi kemungkinan terburuk. Rafa selalu mencari alasan Agar Hana tidak pergi ke pemakaman. Bukan Hana jika dengan mudah dia menyerah.
Terkihat Fathan lelap, dia tidur dalam dekapan Hana. Kepalanya bersandar pada dada Hana. Fathan sedikitpu tidak terusik selama perjalanan. Hana tersenyum menatap Rafa, seakan mengatakan bahwa Fathan nyaman tidur dalam dekapannya.
Hana berjalan mengekor di belakang Rafa. Apa yang dikatakan Rafa memang benar. Makam mama Ainun sangat jauh, sehingga butuh tenaga ekstra untuk sampai disana. Pengelola pemakaman memang sengaja membuat tempat parkir yang sedikit jauh dari area pemakaman. Sebab pemakaman ini dibagi sesuai agama dan kelas. Hari ini pengalaman pertama Hana memasuki pemakaman, tapi layaknya perumahan orang biasa.
Hana melihat daftar harga perawatan untuk satu makam setiap tahunnya. Jika dibandingkan biaya hidup Hana dalam setahun, hampir sebelas dua belas. Hana menggeleng-gelengkan kepala. Melihat betapa mahalnya pemakaman di tempat ini. Rafa melihat Hana yang terkejut melihat daftar harga perawatan pemakaman. Inilah alasan Rafa tidak ingin membawa Hana datang kemari. Sifat sederhana Hana berbanding terbalik dengan kemewahan sebuah makam disini. Namun Rafa tetap Rafa yang akan oleh bujukkan Hana. Meski dengan berat hati Rafa tetap membawa Hana datang kemari.
Bughhh
"Awwwsss!" teriak Hana, sesaat setelah menabrak tubuh tegap Rafa. Hana melihat tubuh Rafa yang tiba-tiba berhenti. Hana yang mengagumi sekaligus menyayangkan pemakaman yang terlalu bagus ini. Tidak melihat Rafa yang berhenti mendadak.
Tubuh Rafa tiba-tiba seakan kaku, dia berhenti mematung tak jauh dari makam mamanya. Hana yang tanpa sengaja menabraknya seolah tidak dipedulikan. Kedua mata elang Rafa membulat sempurna. Dia melihat tepat di depan makam ibunya. Berdiri sosok laki-laki yang bertahun-tahun yang lalu mencampakkannya. Seorang suami yang menyakiti batin dan fisil ibunya. Rafa melihat seorang Gunawan Adi Prawira berdiri mematung menatap nisan istrinya. Ainun Rohmawati, seorang gadis dari kota kecil yang terpaksa menikah dengannya.
__ADS_1
Gunawan menatap lekat nisan dan makam sang istri yang tak pernah bisa dia akui selama hidupnya. Hanya penyesalan yang kini Gunawan rasakan. Kata maaf tak lagi mungkin dia dapatkan. Gunawan mematung membisu di depan makam wanita yang teguh mencintainya. Malam terakhir pertemuannya selalu teringat. Suara lembut Ainun selalu teringang dalam telinga Gunawan. Wajah Ainun kala menangis terbayang jelas di setiap malamnya. Kebodohab seorang suami yang meragukan ketulusan dan kesucian cinta gadis sederhana.
"Ainun, maafkan aku. Meski sekarang kata maaf tak mungkin lagi bisa kamu ucapkan. Aku bersalah padamu seumur hidupku. Rasa cemburuku mengalahkan akal sehatku. Menghancurkan kesucian cinta kita. Aku tak pernah menyangka, jika yang kulihat menjadi kehancuran pernikahan kita. Tanpa aku bertanya, aku menunduhmu berbuat hina. Padahal diriku lebih hina darimu. Benar orang berkata, satu telunjuk menuding orang lain. Tanpa sadar 4 telunjuk menuding ke arahku. Kamu seorang istri yang baik, seandainya kamu menikah dengan orang lain. Kamu takkan pernah hidup dalam kepahitan dan air mata!" ujar Gunawan lirih, sembari mengusap nisan Ainun. Rafa berdiri mematung menatap sang ayah. Hana mendongak dari belakang tubuh Rafa. Dengan menutup mulut karena terkejut. Dia melihat Gunawan duduk bersimpung di samping sebuah makam. Hana sudah menduga, jika itu makam mama Ainun.
Tangan Gunawan mengusap nisan di depannya. Dia mengusapnya seakan sedang mengusap wajah Ainun. Gunawan menerawang jauh mengingat malam terakhir dia bertemu Ainun. Malam dimana dia menitipkan amanah untuk putranya.
FLASH BACK
"Katakan dengan cepat untuk apa kamu ingin bertemu denganku? Aku tidak ingin Sabrina marah padaku!" ujar Gunawan dingin, Ainun tersenyum dengan lembut dia menarik tangan Gunawan. Ainun mencium punggung tangan Gunawan dengan penuh kelembutan. Tubuh Gunawan mematung beku. Bibirnya kelu melihat sikap Ainun yang tak pernah berubah padanya. Sikap menghormati meski tersakiti, selalu menghargai walau terkhianati. Tak pernah Gunawan merasakan kelembutan Sabrina mencium tangannya. Hanya tekanan dan amarah yang selalu dia terima. Karma dari pengkhianatan yang dilakukannya.
"Mas, aku menemuimu sebab aku ingin membebaskanmu. Aku tidak ingin melihatmu dihantui rasa bersalah. Apa yang terjadi bukan sepenuhnya salahmu? Besar rasa cintamu padaku, membutakan mata hatimu. Berpikir apa yang terlihat malam itu nyata dan benar adanya? Sebagai seorang suami, wajar bila kamu marah. Sebab setiap orang berhak untuk cemburu!" ujar Ainun lirih, Gunawan menunduk malu. Dia tahu benar apa yang dikatakan Ainun?
"Jika hanya mengungkit masa lalu. Lebih baik kita hentika semua ini. Aku akan mengantarmu pulang!" ujar Gunawan kesal, Ainun tersenyum simpul.
"Jika aku menceraikan Sabrina, mungkinkah kita akan kembali bersatu!" ujar Gunawan, Ainun menggeleng lemah. Sudah terlambat bagi keduanya untuk bersama.
"Mas, aku datang padamu bukan menghiba cintamu. Aku datang hanya ingin memintamu menemui Rafa besok. Selama 6 tahun dia merindukan kasih sayangmu. Izinkan Rafa memelukmu besok. Kisah kita sudah berakhir beberapa menit yang lalu. Saat kedua mataku melihat kamu mendekap Kiara kecil. Dekapan yang tak pernah kamu berikan pada Rafa kita. Ketika kedua telingaku mendengar, kamu menghiba pada Sabrina hanya demi bicara denganku. Kala kedua tanganku menengadah, berharap istri mudamu mengizinkan kita bertemu. Saat itu semua telah berakhir diantara kita. Penantian selama 6 tahunku harus kuakhiri. Aku tidak ingin melihatmu merasa bersalah. Kamu imam yang kupilih, takkan kubiarkan imamku disalahkan. Malam ini talak aku, agar tak ada lagi ikatan diantara kita. Takkan lagi ada yang menyalahkanmu atas rasa sakitku. Sebab kamu bukan lagi imamku!" tutur Ainun lembut, Gunawan menunduk lemah. Tangannya mengepal, seakan dia ingin marah. Bukan pada orang lain, melainkan dirinya sendiri.
"Ainun, kenapa kamu datang padaku tanpa amarah? Tidakkah kamu terluka selama 6 tahun terakhir. Aku laki-laki brengsek, kamu pantas marah dan memakiku. Bukan datang dengan senyum, seolah hatimu tak pernah terluka!"
"Aku terluka, tapi jauh lebih terluka. Saat melihatmu terhina oleh sikap Sabrina. Aku tersakiti, tapi jauh lebih sakit. Ketika aku melihatmu dipermalukan, hanya karena cintamu padanya. Mas, jangan biarkan Rafa melihat papanya terhina. Agar dia tidak merasa pantas membenci Sabrina. Diam jika memang jalan terbaik untuk meredam amarah Sabrina!"
__ADS_1
"Sebesar itukah cintamu padaku, sampai tak ada amarah untuk setiap kesalahanku!" ujar Gunawan, Ainun menggeleng lemah.
"Aku rasa selama 6 tahun sudah cukup penantianku dan menjawab seberapa besar cintaku untukmu. Semua harus berakhir malam ini. Jika dia bisa membuatmu bahagia, aku ikhlas membebaskan dirimu dari pernikahan ini!"
"Mas, aku menemui sebab aku ingin menitipkan kotak ini. Berikan pada Rafa kelak saat dia menikah dan memiliki putra. Didalamnya ada surat yang baru saja aku tulis. Aku ingin Rafaku membacanya. Agar dia bisa menatapmu dengan cinta dan amarah!"
"Berikan saja sendiri pada Rafa!"
"Sekali seumur hidupku meminta bantuanmu. Seandainya aku ada disaat dia menikah. Maka aku akan mengambilnya darimu. Aku akan memberikannya sendiri pada Rafa. Aku tidak pernah tahu sampai kapan raga ini bersatu dengan tubuh lemahku? Satu hal yang pasti kulihat. Aku mencintaimu dengan iman, maka dengan iman pula cintai Sabrina!"
FLASH BACK OFF
"Kak Rafa, papa mencintai mama Ainun! Terlihat jelas dari penyesalannya. Jangan pernah marah atau dendam pada papa. Sebab amarahmu takkan pernah mengembalikan mama Ainun kembali. Buat mama Ainun bahagia, saat melihat putranya berjiwa besar!" ujar Hana, Rafa mengangguk pelan.
"Papa, kenapa setelah sekian lama? Aku melihat cinta untuk mamaku. Namun apapun yang terjadi, terima kasih telah mengingat mama!" ujar Rafa dingin, Hana tersenyum menyapa Gunawan yang terkejut.
Rafa dan Hana duduk berjejer di samping makam Ainun. Keduanya menengadahkan tangan, berdoa memohon ampunan untuk sang ibu yang telah tiada.
"Kak Rafa, kini hanya doa yang beliau butuhkan. Bukan penyesalan dan amarah. Ikhlaskan beliau agar dia tenang. Bukan tangan orang lain yang dia harapkan, untuk membersihkan makamnya. Tapi tanganmu yang pernah dia pegang saat mengajarimu berjalan. Bukan untuk membebanimu, tapi untuk mengingatkanmu. Bahwa hanya nisan ini yang mengingatkanmu akan dirinya. Gundukan tanah ini tempat terbaiknya kini. Senantiasa ingatlah beliau, dengan doa dalam sujudmu. Kembalilah wahai Rafa pemuda pesantrenku. Bukan demi diriku atau Fathan, tapi demi ampunan untuk mama Ainun!" tutur Hana sesaat setelah mereka berdoa. Rafa menunduk terdiam tanpa kata.
"Rafa, maafkan papa!"
__ADS_1
...☆☆☆☆☆...