KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Persetujuan


__ADS_3

"Sudahkah kamu menemukan jawaban akan pinanganku. Masihkah kamu ragu akan kesungguhan dan keteguhan cintaku!" ujar Steven membuyarkan lamunan Nuur.


Seketika Nuur mendongak melihat Steven berdiri di samping Nuur. Steven duduk tepat di depan Nuur. Memang malam ini keduanya janji bertemu. Jawaban atas pinangan Steven berakhir malam ini. Batas waktu yang diberikan Steven, untuk mendapatkan sebuah persetujuan atau penolakan. Sebab itu hari ini Steven menemui Nuur. Apapun jawaban Nuur? Steven akan menerimanya dengan lapang dada. Tanpa mengeluh atau bertanya, Nuur berhak memutuskan.


"Kamu sudah datang. Haruskah aku menjawab pinanganmu malam ini. Tidakkah kamu berpikir kembali untuk meminangku. Tulang rusukku sangatlah rapuh, tak lagi mampu menopang atau melindungi kehormatanmu. Hidup yang kujalani penuh kerikil tajam. Tak mudah untukku sampai di posisi ini. Jalan terjal yang kuhadapi hanya akan membuatmu lelah dan terluka. Tidak bijak jika aku memaksamu masuk dalam hidup yang penuh beban ini!" ujar Nuur, Steven menunduk terdiam.


Sekilas Nuur menoleh ke arah Steven. Diamnya seolah mengiyakan perkataan Nuur. Ada rasa yang tak bisa diungkapkan. Nuur mulai melihat keraguan di mata Steven. Meski dia berkata ingin melihat Steven menjauh. Namun jauh dalam hatinya, Nuur merasa bahagia ketika ada yang berharap menjadi imam sholatnya. Entah kenapa Nuur bimbang? Satu sisi dia melepaskan dan di sisi lain dia mengharapkan. Cinta membuatnya tak berdaya memilih. Antara logika dan suara hati. Antara cinta dan kenyataan hidupnya.


"Berapa kali kamu harus bertanya? Berapa kali pula aku harus menjawab? Seragu itukah kamu akan diriku. Apa kamu tidak yakin bila aku mampu melindungi? Seberat apapun bebanmu, aku akan menanggungnya bersamamu. Tidak akan terasa semua beban itu. Jika tangan kita saling menggenggam. Melawan semua ujian itu bersama. Sejak aku melihatmu malam itu. Aku menyadari satu hal. Setiap orang tidak tercipta dengan kesempurnaan. Sebab ada orang lain yang akan melengkapi hidupnya Sehingga dia akan menjadi sempurna!" tutur Steven, Nuur diam menatap langit malam di depannya.

__ADS_1


Banyaknya bintang tak sebanyak rasa percayanya melangkah menuju ikatan suci dengan Steven. Laki-laki yang baru beberapa bulan di kenalnya. Mereka bertemu dalam acara bakti sosial yang diselenggarakan oleh yayasan milik Faiq. Saat itu Faiq tidak bisa datang. Steven dan Vania yang menggantikan Faiq. Sedangkan Nuur menjadi salah satu relawan dalam acara tersebut. Kebetulan tempat bakti sosial, tak lain tempat tinggal Nuur. Saat itulah Vania bertemu Nuur dan menjalin pertemanan.


"Entah harus berapa kali aku bertanya? Baru aku yakin akan rasa yang kamu tawarkan. Bukan aku menolak, tapi aku terlalu takut terluka dan menyakitimu. Masa laluku tak semudah itu terlupakan. Ada banyak noda dalam putih mukena yang aku pakai. Seolah sujud dan doa yang aku lakukan. Belum mampu menghapus noda itu. Sekarang pantaskah aku menjadi makmum sholatmu. Ketika aku sendiri masih ragu dengan mukena yang aku gunakan!" ujar Nuur lirih, tangannya meremas ujung hijabnya.


Steven tidak pernah bisa memahami ketakutan Nuur akan masa lalunya. Rasa takut yang tak mudah hilang membekas jauh dalam benak. Namun Steven yakin, dia bisa melewati semua itu. Asalkan Nuur bersedia bersandar pada tubuhnya. Percaya akan kesungguhan hatinya. Bahwa akan ada bahagia untuknya bila bersama Nuur. Rasa percaya bahwa tulang rusuknya akan lengkap setelah bersama Nuur.


"Tidak akan aku bisa meyakinkan dirimu. Selama kamu sendiri tak pernah ingin meyakininya. Sebesar apapun rasa percaya dan kesungguhanku. Hanya sia-sia selama kamu sendiri terus ragu akan dirimu sendiri. Tak berarti iman seseorang, ketika dia tidak pernah percaya akan ketentuan yang tertulis untuknya. Layaknya dirimu yang merasa lemah dan rendah. Aku juga pernah merasakan hal yang sama, kala aku mencintai Vania. Wanita yang mencoba mendekatkan kita sekarang. Namun kini aku menyadari satu hal. Jika sempurna itu tidak pernah ada. Sempurna itu ada ketika kita saling melengkapi!" ujar Steven tegas, Nuur menoleh heran.


"Maksudmu apa? Vania yang kamu maksud adik Fathan bukan?" ujar Nuur lirih, Steven mengangguk pelan. Seketika Nuur menunduk lemah, "Kenapa aku harus berurusan dengan dua orang dari keluarga yang sama? Rahasia apa yang tersembunyi dari hubungan Steven dan Vania? Inikah alasan Vania mempertemukanku dengan Fathan. Menjelaskan masa lalu yang masih mengganjal. Alasan aku selalu menolak pinangan Steven!" batin Nuur. Steven melihat raut wajah Nuur berubah. Seakan marah mendengar nama Vania disebut.

__ADS_1


"Vania Aulia Azzahra, adik perempuan Muhammad Fathan Alfarizqi. Laki-laki yang mengenalkanmu arti cinta dan membuatmu hijrah mencari iman dan islam. Dua saudara yang ada dalam masa lalu kita. Aku tidak keberatan mendengar masa lalumu dengan Fathan. Sebab aku juga memiliki masa lalu dengan Vania. Sama halnya noda hitam dalam hidupmu. Aku juga memiliki noda kelam di masa mudaku. Aku menjauh dari Vania, sebab aku merasa tak pantas untuknya. Namun bukan berarti aku mendekatimu, karena berpikir kamu lebih hina atau rendah dari Vania. Aku meminangmu, sebab denganmu aku ingin belajar islam!" tutur Steven, Nuur hanya menunduk.


"Lihatlah sela di jari-jari tanganku!" ujar Steven sembari menunjulurkan tangannya ke arah Nuur. Dengan cemas Nuur melihat ke arah tangan Steven.


Namun Nuur heran, ketika dia tidak melihat apa-apa di sela jari Steven? Nuur terus memperhatikan tangan Steven. Namun dia tidak menemukan apapun. Semakin lama dia mencoba, sedikitpun dia tidak mengerti maksud perkataan Steven.


"Apa yang sebenarnya ingin kamu katakan? Jangan membuatku cemas, katakan sekarang apa yang terjadi padamu? Jujur kamu membuatku takut. Semua ini tidak lagi lucu!" ujar Nuur tatkala melihat Steven tersenyum melihat Nuur yang kebingungan.


Ada rasa bahagia dihati Steven. Ketika dia melihat Nuur khawatir akan kondisinya. Sebuah rasa cinta yang sengaja Nuur simpan rapat. Hanya karena rasa takut melukai Steven. Kenyataan yang jelas diperlihatkan Nuur, jika rasa cinta itu memang ada.

__ADS_1


"Tanganku tidak terluka, hanya saja tanganku membutuhkan tanganmu. Sela-sela jariku tidak akan pernah rapat dan kuat tanpa tanganmu. Tanganku membutuhkan tanganmu, agar dia bisa menggenggam erat dan mengepal melawan terjal hidup yang akan kita jalani. Bukan dirimu atau diriku yang akan menjalani hubungan ini. Tapi kita berdua yang akan berjalan bergandeng tangan menghadapi ujian yang ada. Takkan ada kata tidak mungkin, bila kita percaya dan yakin semua bisa terjadi. Apapun yang akan kita hadapi kelak. Anggap saja semua sebagai ujian cinta kita. Jangan menyerah menggapai bahagia. Sebab bahagiaku ada bersama dirimu. Dengan atau tanpa masa lalumu!" ujar Steven lirih, Nuur mengangguk pelan.


"Terima kasih telah mengajarkanku arti cinta dan iman!" sahut Nuur.


__ADS_2