
"Hana, bolehkah aku duduk bersama kalian!" sapa Dilla tiba-tiba. Hana dan Diana mendongak serempak. Mereka melihat Dilla berdiri tepat di belakang mereka. Segera Hana dan Diana melepaskan pelukan mereka. Diana berdiri tepat di depan Dilla. Seakan ingin menghadangnya, agar tidak mendekat pada Hana. Sedangkan Hana yang menyadari kekhawatiran Diana. Meminta agar Diana menyingkir dan mempersilahkan Dilla duduk bersama mereka.
"Dilla, duduklah kebetulan aku dan Diana sedang makan siang bersama. Sekalian saja kamu bergabung dengan kami. Makanan yang kupesan terlalu banyak. Jadi tidak akan mungkin habis bila kami makan berdua!" ujar Hana sopan, Dilla mengangguk sembari mengutas senyum. Sebaliknya Diana merasa kesal melihat kebaikan Hana pada Dilla.
Bukan Dilla tidak menyadari kekesalan Diana. Semua orang akan marah, saat sahabatnya terus menerus dihina dan direndahkan. Sahabat yang tak pernah Dilla miliki. Dia hanya memiliki teman yang akan ada disaat dirinya berjaya. Terkadang rasa cemburu mengusai Dilla. Ketika dia melihat Hana dan Diana tertawa bersama. Bukan dengan harta atau kemewahan mereka berteman. Namun pertemanan mereka berlandaskan kasih sayang yang tulus.
Hana dan Diana akan bersama meski tanpa adanya makanan. Mereka akan tetap tertawa, walau harus menelan ludah saat melihat teman-temannya makan di kantin. Jika sebuah cinta butuh pengorbanan, tapi persahabatan Hana hanya butuh dukungan dan saling melindungi. Sesuatu yang sangat sulit dimiliki dalam dunia yang penuh tipuan.
"Terima kasih Hana, aku hanya duduk sebentar. Sebenarnya aku ada janji dengan kak Adrian. Kami akan berangkat ke luar kota. Dia memintaku untuk menunggunya di sini. Awalnya aku heran, sekarang aku mengerti. Ternyata pak Adrian akan berangkat setelah menemui Diana. Sungguh jika aku boleh berkata jujur. Aku iri melihat kedekatan kalian berdua, persahabatan yang terus terjalin dari dulu sampai sekaran. Ditambah kalian berdua memiliki cinta dari suami kalian. Seseorang yang menjadi idaman kaum hawa. Dengan mudah jatuh cinta pada kalian!" ujar Dilla lirih, Hana menatap raut wajah sedih Dilla. Hana merasakan betapa sepi dan sunyinya hidup sebatang kara. Diana hanya diam tanpa sedikitpun merasa iba. Diana sangat marah pada Dilla. Bukan karena Diana mendengar Adrian akan bertemu Dilla. Namun perkataan Dilla malam itu masih sangat membekas di hati dan benak Diana.
"Kamu akan selalu merasa iri akan kebahagian orang lain. Sebab seumur hidupmu, kamu hidup dengan sangat mudah dan nyaman. Kamu tidak akan pernah mengerti arti kata bersyukur. Kamu juga tidak akan memahami arti kerja keras. Setiap senyum yang ada di bibirmu. Semua itu palsu, sebab hanya ada tipuan dan kebohongan agar senyum itu terlihat!" ujar Diana ketus, Dilla diam seribu bahasa. Sedangkan Hana meminta Diana untuk diam. Meski Hana terluka oleh perkataan Dilla, tapi tak sepantasnya Diana membenci Dilla. Tidak akan ada baiknya, bila kebencian dibalas kebencian. Namun akan berakhir, bila kebencian dibalas dengan kasih sayang.
"Diana, maafkan aku yang selalu menyakiti hatimu. Aku menyadari sikapku selama ini memang tidak pantas dimaafkan. Aku hanya ingin memulai semua dengan hati yang bersih. Aku ingin melupakan persaingan yang pernah ada diantara kita!" ujar Dilla, Hana mengangguk tapi Diana menggeleng. Sontak Hana menoleh melihat ke arah Diana. Namun dengan tatapan yang sama, Diana membalas dengan tegas tatapan Hana. Diana tidak akan percaya pada perkataan Dilla. Takkan mudah seseorang berubah. Apalagi persaingan diantara mereka bertiga sudah menjadi sebuah obsesi bagi Dilla.
__ADS_1
"Dilla, jangan terlalu dipikirkan perkataan Diana. Jika kamu ingin berubah, jangan pernah setengah-setengah lakukan semuanya dengan ketulusan hati. Tidak semua orang akan langsung percaya. Buktikan dengan perbuatan dan bukan perkataan. Sebab segala sesuatu yang tulus akan mudah terasa dan terlihat. Sebaliknya sebuah kebohongan akan bisa terungkap suatu hari nanti. Jadi berhati-hatilah dengan ucapan dan sikapmu!" tutur Hana ramah, Dilla diam mematung. Dia menatap wajah Hana yang selalu tersenyum. Bahkan Dilla bisa merasakan ketulusan yang baru saja dikatan Hana. Ada rasa malu dalam diri Dilla. Sebab sikap hangat Hana selalu Dilla balas dengan hinaan. Dilla selalu meremehkan Hana, tak pernah Dilla ingin Hana melebihi dirinya.
"Kenapa kamu masih begitu baik padaku? Sejak dulu aku selalu menghancurkanmu. Aku selalu ingin melihatmu terpuruk dan menangis dipojok kelas. Aku selalu merasa bahagia setiap kali melihatmu bersedih. Bukankah aku orang yang buruk? Seharusnya kamu membenciku, bukan mengasihiku!" ujar Dilla, Hana menggeleng lemah. Dia tidak pernah ingin menyimpan dendam pada siapapun? Termasuk Dilla atau orang lain. Hidup hanya sekali sangat merugi bila harus diisi dengan kebencian.
"Dilla, aku tidak pantas membenci atau menyalahkan orang lain. Aku bukan manusia yang sempurna. Terkadang aku juga melakukan kesalahan. Jadi aku dan dirimu sama-sama berhak meminta maaf dan memaafkan. Semua yang terjadi antara kita, tak lebih dari sebuah pembelajaran diri dan jalan menuju kedewasaan. Setiap persaingan tak lain bentuk kenakalan masa remaja. Jadi dimana letak kesalahanmu? Yang mengharuskan akh memaafkanmu atau bahkan membencimu. Mungkin saat itu, diriku yang terlalu lemah dan takut untuk membela diri. Hana yang dulu bukan yang sekarang. Aku mulai belajar arti menghargai, Diana ada dalam setiap suka dan dukaku sejak dulu. Jika dulu aku mengurung diri, menyalahkan jalan takdir dan rendah diri karena kondisiku yang miskin dan sebatang kara. Kini aku jauh lebih kuat, sebab ada Diana disampingku. Dia yang tak pernah memandang diriku sebelah mata. Kini aku menghargai perhatiannya, sehingga aku berani menghadapi dunia. Jadi kamu tidak perlu meminta maaf padaku. Apa yang terjadi dulu akan menjadi kenangan? Namun seandainya kedatanganmu kali ini, untuk mencoba bersaing kembali denganku. Semua tergantung keputusanmu, sejujurnya aku mulai lelah dan ingin menyerah mengejar kebahagian. Sebab sejatinya sebuah kebahagian bukan dikejar, melainkan sudah diatur dengan porsi yang berbeda-beda!" tutur Hana, Diana mengangguk setuju. Sebaliknya Dilla fokus menatap mata dan bibir Hana saat berbicara. Dilla melihat sebuah kejujuran tanpa kebohongan. Perkataan Hana bak air yang mengalir tanpa ada penghalang. Semuanya mengalir begitu saja. Perkataan yang melegakan dahaga pengertian dalam hidup Dilla. Menyejukka hati Dilla yang gersang, kurang merasakan kasih sayang. Seandainya Dilla tidak malu, ingin rasanya dia mengakui kepintaran dan kebijaksanaan Hana.
"Tidak mungkin kamu setulus ini. Apa kamu tidak kecewa atau menyesal saat memberikan kesempatan kuliah di luar negeri. Apa kamu tidak membenci Rafa? Semua yang kamu alami, sedikit banyak karena kelalaiannya saat menyetir? Tidak mungkin dengan mudah kamu memaafkan dan menerima tanpa mengeluh semua ujian dalam hidupmu. Aku tidak akan percaya, kamu selalu ikhlas menerima hinaan demi hinaan yang menimpa hidupmu!" ujar Dilla sedikit sinis, Diana menatap tajam ke arah Dilla. Dia tidak terima Dilla meragukan Hana. Sebaliknya Hana menggeleng dengan mengutas senyum yang paling manis. Dilla semakin heran dengan cara berpikir Hana. Seakan semua yang katakan hanya sebuah omong kosong belaka.
"Aku hanya wanita biasa yang penuh kelemahan. Sangat tidak mungkin aku menerima dengan ikhlas semua hinaan. Sungguh sangat tidak mudah memaafkan semua kesalahan kak Rafa. Tanpa pergolakan batin yang hebat. Apalagi sangat tidak mungkin aku bahagia tidak kecewa. Ketika dengan tanganku, kuberikan kesempatan perubahan hidup padamu saat itu. Namun dibalik semua kata maaf, keikhlasan, dan ketulusanku. Ada alasan yang membuatku harus memilih jalan itu. Tanpa berpikir mengeluh dan kecewa, bahkan menyesal telah melakukan semua itu. Aku yakin kelak kamu akan memahami cara berpikir. Ketika kamu berada di posisiku!" tutur Hana, Dilla terdiam membisu. Sebenarnya sejak awal Dilla menemui Hana. Hanya ingin mengulik fakta dibalik semua keputusan Hana. Dilla ingin membongkar keburukan Hana dibelakang Rafa. Dilla tidak pernah percaya, jika Hana memaafkan Rafa dengan mudah, kecuali untuk kehidupan nyaman yang dijalaninya. Sejak awal Dilla duduk di depan Hana. Sejak saat itu ponselnya terhubung dengan Rafa. Dilla ingin membuat Hana malu di depan Rafa.
"Jaga bicaramu Dilla. Sejak awal Hana mengatakan yang sebenarnya. Kamu yang bertanya, Hana menjawab sesuai kenyataan yang dialaminya. Kamu percaya atau tidak? Semua tergantung penilaianmu, tapi dengan catatan jangan meragukan kejujuran sahabatku Hana!" sahut Diana emosi, Dilla tersenyum sinis mendengar pembelaan Diana. Jauh dilubuk hatinya, Dilla iri pada Hana. Disaat orang lain menghina dan meragukan ketulusan Hana. Ada Diana yang dengan tegas membela dan menjadi perisai bagi Hana.
"Aku tidak akan bisa membenci atau mwnyalahkan kak Rafa atas kematian kedua orang tuaku. Meski sejujurnya aku terluka, aku menangis setiap kali melihat wajah kak Rafa. Seakan aku melihat mendiang kedua orang tuaku. Namun yang terjadi tidak lebih dari sebuah kecelakaan yang mampu menimpa siapapun? Termasuk kita yang hanya manusia biasa. Jika bukan kita yang lalai, tentu kita yang mengalami kelalaian itu. Begitu juga kak Rafa yang harus berada pada posisi yang lalai. Sehingga membuat orang tuaku meninggal. Padahal jika kita pikir lebih dalam, kak Rafa hanya menjadi perantara dari jalan takdir yang harus diterima orang tuaku. Lagipula senyum Fathan putraku yang akan menghilang bila aku tidak memaafkan kak Rafa. Aku seorang ibu yang tak mungkin menghilangkan senyum putraku. Demi sebuah dendam yang tak berkesudahan. Sebagai seorang wanita kita ditakdirkan mengalah, tapi bukan kalah. Kita selalu mengutamakan kepentingan orang lain agar semua bahagia. Entah itu demi suami yang menjadi imam kita. Atau demi seorang anak yang terlahir dari rahim dengan penuh cinta!" tutur Hana, Dilla menunduk malu. Dia menatap lantai yang kosong. Pemikiran Hana nyata menghancurkan keraguannya selama ini.
__ADS_1
"Dilla, aku melepaskan kesempatan kuliah di luar negeri bukan semata demi senyum kedua orang tuamu. Namun aku merasa takkan pernah mampu berjuang melawan dunia tanpa Diana. Seandainya aku tetap pergi, aku akan kehilangan sahabat yang selalu ada mendukungku. Kamu sendiri mengetahui, setiap kali kamu dan teman-teman yang lain tertawa dan duduk makan di kantin. Aku dan Diana duduk berdua di perpustakaan. Diana melupakan makan siangnya hanya demi menemaniku yang tak mungkin pergi ke kantin. Ketika kamu merencanakan pergi tamasya dengan teman-teman di kelas. Tawa kalian terdengar menggema di seluruh ruang kelas. Aku dan Diana hanya duduk di pojok kelas. Menatap sendu kalian yang terlihat bahagia. Sekarang katakan, mungkinkah aku akan bisa bertahan di luar negeri. Sedangkan selama disini aku hidup dengan keterbatasan. Bisa saja saat itu aku tidak memberikannya padamu. Namun demi senyum orang tuamu. Aku memberikannya padamu. Sebab keterbatasanku takkan pernah bisa mewujudkan semua impianku!" ujar Hana, Dilla mengangguk pelan. Diana memeluk Hana dengan erat, perkataan Hana menusuk jauh relung hatinya. Persahabatan mereka kini berubah menjadi persaudaraan yang erat tak terpisahkan.
"Sekarang kamu puas, kamu sengaja menghubungiku agar aku bisa mendengar semuanya. Namun sepertinya harapanmu sia-sia, aku malah ingin berterima kasih padamu. Kamu membuatku memahami pengorbanan Hana!" ujar Rafa yang tiba-tiba berdiri di samping Hana. Dilla terperanjat melihat kedatangan Rafa. Diana menggelengkan kepala tak percaya. Jika Dilla tetap sama, seseorang yang ingin bersaing dengan Hana dalam segala hal. Termasuk mendapatkan cinta Rafa.
"Kak Rafa, tidak pantas kamu berkata seperti itu. Dilla melakukan semua itu, karena dia menginginkanmu. Jangan pernah salahkan caranya, sebab dalam cinta semua terasa benar. Meski terkadang cinta itu salah dan dengan cara yang salah!" ujar Hana, Rafa mengangguk pelan. Rafa mengecup kening Hana, lalu berjongkok di depan perut Hana. Mencium lembut perut Hana yang membuncit.
"Hana, terlalu baik hatimu. Kenapa kamu memaafkan diriku yang ingin melihatmu hancur? Sesungguhnya hatimu yang baik atau kamu dituntut untuk terus mengalah. Demi sebuah harapan orang lain yang tak pernah ada ujungnya. Aku wanita yang dengan nyata ingin bersaing denganmu. Malah kamu bela tanpa sedikit keraguan. Entah aku harus bahagia atau bersedih? Saat aku mengetahui bahwa diriku tak lebih dari wanita hina yang mengharapkan cinta dari suamimu!" batin Dilla pilu.
"Dilla, aku tidak akan melarangmu bersaing denganku memperebutkan cinta kak Rafa. Bukan aku terlalu percaya diri. Namun aku mencoba memahami cinta yang ada dihatimu. Sebab cinta itu buta, dia tidak sadar dimana tumbuh dan pada siapa dia mencinta? Namun alangkah bijaknya jika kamu melihat resiko yang akan kamu hadapi. Sebagai seorang wanita kita ditakdirkan berada pada posisi yang lemah. Tidak akan ada yang menyalahkan laki-laki saat cinta terlarang bersemi. Hanya pada wanita semua kesalahan dilimpahkan. Semua mata seakan buta melihat kebenaran. Mereka akan sibuk menyalahkan para wanita. Jangan buat dirimu hina dengan mencintai kak Rafa. Buktikan pada dunia, bahwa cintamu suci bukan untuk merusak. Pilihan ada pada dirimu, akankah kamu memilih menjadi pencinta yang salah atau benar!" tutur Hana, Dilla menunduk.
"Dilla, kamu tidak akan pernah bisa mengikuti pemikiran Hana. Jadi lebih baik berpikirlah kembali. Jika ingin bersaing dengannya!" sahut Diana ketus.
"Kak Rafa, kita pulang sekarang. Perutku mulai terasa kram. Aku mungkin terlalu lelah!" ujar Hana, Rafa mengangguk pelan. Keduanya berjalan perlahan meninggalkan Dilla.
__ADS_1
"Ingat Dilla, jangan biarkan orang lain menghinamu. Buktikan kamu wanita yang kuat!" ujar Hana, Dilla mengangguk pelan.