
..."Cinta bukan hanya kata yang mudah dipahami. Cinta sebuah rasa yang sulit dimengerti. Dalamnya arti cinta, sedalam lautan lepas. Penuh misteri dan keajaiban yang tak mudah diselami. Luasnya makna cinta, seluas langit tak berujung. Penuh keindahan yang tak mampu ditiru dan dijabarkan. Tingginya keagungan cinta, setinggi gunung yang menjulang. Menyimpan anugrah yang tak bisa diterka dan diragukan. Seindah makna cinta, seindah itu pula rasa saat mencinta. Sepahit duka mencinta, sepahit itu pula jalan terjal cinta. Namun pahit dan manis cinta akan selalu beriring sejalan dengan lamanya cinta terjalin. Takkan ada kata selamanya, sebab akan ada masa dimana semua berakhir. Jangan pernah lupa diri saar tertawa. Sebab air mata menetes tanpa pamit. Jangan rapuh saat menangis. Terkadang tawa datang dengan kekuatannya. Percayalah akan ada cahaya di saat gelap. Akan ada air disaat kering. Akan ada panas setelah hujan turun. Yakin semua yang tertulis yang terbaik untuk kita. Bersyukurlah agar semua terasa nikmat."...
...☆☆☆☆☆...
Setelah berjuang sekitar satu jam, Hana akhirnya melahirkan bayi laki-laki mungil dan tampan. Buah hatinya dengan Rafa Akbar Prawira. Seorang laki-laki yang tak pernah Hana sangka akan menjadi suaminya, imam dunia akhirat Hana. Tak pernah Hana berpikir menjadi seorang istri dari pengusaha sukses. Kehidupan sederhana Hana berubah, semenjak Hana bertemu dengan Rafa suaminya.
Selama perjalanan menuju rumah sakit. Hana melihat kecemasan yang nampak dari raut wajah Rafa. Sekilas Hana juga melihat air mata Rafa menetes. Hana melihat jelas rasa sayang Rafa begitu besar. Air mata yang mengalir menunjukkaan, betapa tulus Rafa mencintai Hana. Melihat Hana kesakitan Rafa seolah tak mampu lagi berdiri.
"Kak Rafa!" panggil Hana lemah, segera Rafa menghampiri Hana. Rafa mengusap keringat di wajah Hana. Dengan lembut dan hangat Rafa mencium kening Hana.
Setetes air mata jatuh membasahi wajah Hana. Rafa sangat bahagia, dia telah menjadi seorang ayah. Rafa menangis bahagia, menerima hadiah terbesar dari Hana. Seorang putra yang begitu didambakan Rafa. Penyempurna cinta Hana dan Rafa. Penyatu ikatan suci mereka, alasan mereka terus bersama dalam suka dan duka.
"Sayang, terima kasih!" ujar Rafa sesaat setelah mencium kening Hana. Tangan kanan Rafa memegang tangan Hana. Dengan penuh cinta Rafa mencium tangan Hana. Lagi dan lagi air mata bahagia Rafa jatuh. Tak ada kata yang mampu mewakili rasa bahagia Rafa. Bibir Rafa seolah kelu melihat putranya terlahir dengan sempurna. Tubuhnya kaku melihat tubuh lelah Hana.
"Kak Rafa, air matamu membasahi wajahku. Kak Rafa aneh, bukan tersenyum malah menangis!" ujar Han kesal, Rafa terkekeh mendengar kekasalan Hana yang seolah rayuan bagi Rafa. Dengan tersenyum Rafa mendekatkan wajahnya, dia meniup kening Hana pelan. Hana merasakan hembusan napas Rafa, harum dan hangat.
"Sayang, aku menangis karena bahagia. Aku tidak akan pernah melupakan hadiah terindahmu. Sebagai hadiah perjuanganmu, apa yang kamu inginkan? Aku akan memberikan apapun yang kamu inginkan!" ujar Rafa, Hana diam membisu. Rafa menatap wajah istrinya yang lelah. Rafa ingin memenuhi apapun keinginan Hana. Bukan hanya demi hadiah terindahnya, tapi sebagai ungkapan rasa sayangnya.
"Kak Rafa, aku melahirkan putramu bukan demi sebuah hadiah. Jika memang kak Rafa ingin memberikanku hadiah. Berikanlah sesuatu dari hatimu. Agar aku bisa melihat ketulusanmu!" ujar Hana, Rafa menoleh pada box bayi di samping tempat tidur Hana. Dengan tersenyum Rafa menatap bayi mungilnya. Lalu menoleh pada Hana.
__ADS_1
"Dia bukti ketulusanku padamu. Putra kita seutuhnya cintaku untukmu. Tidak ada lagi cinta yang tersisa. Senyum kalian berdua harta paling berharga yang kumiliki. Kehadiran kalian akan menjadi pelipur setiap laraku. Semangat dalam setiap langkahku. Tak ada yang tersisa dariku, semua sudah kuserahkan padamu!" ujar Rafa tegas, Hana menggeleng lemah. Rafa mengeryitkan dahinya. Dia tidak mengerti arti gelengan Hana.
"Masih ada yang kamu miliki. Apa aku bisa meminta itu darimu?"
"Katakanlah sayang, apa yang kamu inginkan dariku? Aku akan memberikannya, selama itu membuatmu bahagia. Aku tidak mungkin bisa membalas hadiah terindahmu. Setiap tetes keringat dan air matamu. Takkan mampu aku kembalikan. Rintihan rasa sakit dan kesusahanmu selama mengandung putra kita. Takkan mampu aku rasakan. Jadi katakan apapun yang kamu inginkan. Asalkan bukan sebuah kata pisah, aku akan berusaha mewujudkannya!" ujar Rafa, Hana mengangguk dengan tersenyum. Rafa melihat kesungguhan di kedua mata indah Hana. Rafa menggenggam tangan Hana, mencium lembut tangannya.
"Berikan aku seluruh harta keluarga Prawira!" ujar Hana dingin, kedua mata Rafa membulat sempurna. Rafa tidak pernah menyangka permintaan Hana mengenai harta keluarga Prawira.
Lama Rafa terdiam, lalu dengan tersenyum Rafa mengecup lama kening Hana. Sedangkan Hana merasa aneh dengan sikap Rafa. Seharusnya Rafa marah mendengar permintaan Hana. Sebaliknya Rafa malah tersenyum mengetahui permintaan Hana.
"Assalammualaikum, bisa kami masuk!" ujar Adrian, dia datang bersama Diana. Mereka bukan datang bersama, tapi kebetulan bertemu di lobi. Rafa mengangguk pelan melihat Adrian dan Diana datang.
"Rafa, kamu serius memberikan semua hartamu pada Hana. Kamu bercanda bukan!" bisik Adrian, Rafa menggeleng. Rafa akan memberikan seluruh harta keluarga Prawira yang sudah menjadi miliknya pada Hana. Rafa tidak merasa keberatan, baginya harta tidak terlalu penting. Hanya bersama Hana, Rafa akan merasa bahagia.
Sejak lama Rafa sudah membagi harta keluarga Prawira. Dia tidak pernah ingin mengusai harta keluarga Prawira. Hanya saja Rafa tidak pernah mengatakannya pada kakek atau papanya. Terlebih lagi pada Sabrina yang haus akan harta keluarga Prawira. Sebejat-bejatnya Rafa, dia pernah menimba ilmu agama. Rafa sangat paham akan hukum waris. Maka dari itu Rafa hanya akan memberikan harta yang sudah menjadi miliknya. Bukan harta yang menjadi hak keluarganya yang lain.
"Aku tidak butuh harta itu, harta terbesarku hanya Hana dan putraku. Percuma aku memiliki harta, jika mereka menjauh dariku. Selamanya aku takkan pernah bahagia. Namun aku percaya, tanpa harta aku akan bahagia. Selama mereka tetap bersamaku. Hana bukan orang lain. Dia separuh jiwaku, jangankan harta semua mampu aku berikan. Selama Hana yang memintanya!" ujar Rafa tegas, lalu berjalan menghampiri putranya yang tertidur. Rafa mengelus pelan pipi gembul putranya. Wajah teduh yang mampu membuatnya tenang.
Hana melihat Rafa mendekat pada putra mereka. Raut wajah bahagia jelas terlihat. Tak ada rasa menyesal, saat Rafa menyerahkan seluruh hartanya. Hana tidak pernah berpikir ingin memiliki harta Rafa. Kartu ATM yang diberikan Rafa, hanya sekali dia gunakan. Lalu untuk apa harta Rafa sebanyak itu? Terkadang rasa dihargai, jauh lebih membahagiakan.
__ADS_1
"Kak Rafa, harta terbesarku tak lain dirimu. Aku tidak memerlukan harta yang lain. Permintaanku hanya ingin mengetahui, sejauh apa diriku berarti untukmu? Sekali lagi kamu membuatku tercengang dengan sikapmu. Kamu membuatku menjadi wanita paling beruntung. Hidupku seolah lengkap dengan kehadiranmu dan putra kita!" batin Hana sembari melihat wajah bahagia suami yang sangat dicintainya.
"Hana, apa yang terjadi? Kenapa dia memberikan hartanya padamu?" bisik Diana, Hana hanya tersenyum.
"Kak Rafa, kemarilah sebentar aku ingin memelukmu. Sebagai balasan atas harta yang kamu berikan padaku!" ujar Hana lirih, Rafa mengangguk lalu berjalan mendekat pada Hana. Rafa melihat Hana merentangkan kedua tangannya. Hana memeluk Rafa sangat erat, Rafa bahagia mendapat pelukan penuh cinta dari Hana.
"Sayang, terima kasih telah hadir dalam hidup Rafa Akbar Prawira yang kelam! Kamu menjadi pelita dalam hidup yang dulu gelap. Kamu hangatkan hati yang beku dan lupa akan rasa cinta. Terima kasih!" bisik Rafa, Hana mengangguk. Hana melepaskan pelukannya, dia menggenggam tangan Rafa.
"Kak Rafa, aku tidak pernah butuh harta itu. Jadi tidak perlu kamu memberikannya. Aku hanya ingin kedua tangan ini tetap berada di sampingku. Aku dan putramu butuh dekapan hangatmu, bukan harta yang menyilaukan mata. Kami butuh perlindungamu, bukan kemewahan tanpa arti ketenangan. Aku butuh tangan ini, untuk terus merangkul tubuh lemahku. Agar aku mampu berdiri tegak menghadapi dunia ini. Harta terbesarku tak lain dirimu. Hadiah terindah dari almarhum kakek!" ujar Hana, lalu mencium kedua tangan Hana. Menempelkan pada kedua keningnya.
"Agghhhmm! Kami masih ada di sini, bisa tidak dilanjutkan nanti kalau tidak ada kami!" ujar Diana kesal, Hana menoleh pada Diana.
"Diana, kenapa tidak kamu terima saja cinta pak Adrian? Kasihan dia menunggu cinta yang tak kunjung bersambut. Bukalah hatimu, jangan terlalu keras akan masa lalumu. Kamu berhak bahagia!" ujar Hana, Rafa mengangguk setuju. Rafa merangkul tubuh Adrian, sudah lama Rafa melihat cinta Adrian untuk Diana.
"Hana, kamu mengetahui jelas alasan penolakanku. Masih perlukah kamu bertanya?"
"Diana, katakan dulu pada pak Adrian. Jika memang dia mundur setelah mendengar semuanya. Itu artinya kalian tidak berjodoh. Jangan kamu mengambil keputusan, tanpa membicarakannya terlebih dahulu. Kamu berhak bahagia, tidak seharusnya kamu hidup dalam masa lalu!" ujar Hana, Diana terdiam. Dia tidak pernah berpikir menggapai kebahagiannya. Seandainya keputusannya menyakiti hati orang lain, terutama orang tuanya.
...☆☆☆☆☆...
__ADS_1
TERIMA KASIH😊😊😊