KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Surat Terakhir


__ADS_3

Kondisi Fathan semakin membaik, setelah semalam rewel tidak ingin lepas dari Rafa. Semalaman Rafa menggendong Fathan, tubuhnya sedikit hangat. Mungkin kerinduannya pada Rafa, membuat Fathan tidak ingin lepas dari dekapan Rafa. Bahkan tidurpun Fathan memeluk Rafa, Hana seolah tak diperlukan lagi.


Sebenarnya Hana kasihan pada Rafa, sebab setelah seharian bekerja dia harus begadang semalaman demi Fathan. Setiap kali Hana mencoba menggendong Fathan. Dia selalu menangis, seolah berkata hanya ingin digendong oleh Rafa. Hana pasrah melihat Rafa harus begadang semalaman.


Meski Hana khawatir melihat kondisi Rafa semalam. Terselip rasa bahagia, kala melihat Rafa mendekap Fathan erat. Dekapan seorang ayah yang selalu didambakan oleh seorang anak. Kehangatan yang tanpa sadar tak pernah dirasakan oleh Rafa kecil. Hana terharu sekaligus bahagia, melihat Rafa tidak bersikap sama pada putranya. Mengacuhkan tanpa berpikir ingin mendekap dan memeluk dengan penuh kehangatan.


"Kak Rafa, hari ini tidak perlu ke kantor. Semalam kak Rafa kurang tidur, aku tidak ingin melihat kak Rafa sakit!" ujar Hana saat melihat Rafa sudah siap dengan pakaian kerjanya. Seketika Rafa menggeleng, sebab hari ini ada rapat penting dengan pihak investor. Rafa harus menghadirinya, sebab kemungkinan dalam waktu dekat Rafa harus pergi ke luar kota.


"Tidak bisa sayang, hari ini aku ada rapat dengan pihak investor. Ada masalah dengan proyek di luar kota. Aku harus segera menanganinya, jika tidak proyek ini akan terbengkalai. Apalagi proyek yang ditangani perusahaan Wirawan, proyek itu yang paling parah. Jika tidak segera dibahas, dalam qaktu dekat proyek itu harus dihentikan total!" tutur Rafa, Hana menunduk resah. Rafa menatap Hana lekat. Rafa menangkap raut wajah bersalah dari Hana. Sontak Rafa berdiri, dia menghampiri Hana.


Rafa memutar tubuh Hana 180° menghadap ke arahnya. Rafa mengangkat dagu Hana pelan sejajar dengannya. Kedua mata Rafa menatap wajah Hana, lalu dengan lembut Rafa menangkup wajah Hana.


"Sayang, jangan merasa bersalah soal perusahaan Wirawan. Aku tidak akan mengalami kebangkrutan meski perusahaan itu hancur. Aku hanya memikirkan para buruh yang harus berhenti dan mencari pekerjaan lain. Jangan pernah merasa bersalah. Aku akan merasa rugi bila kehilangan senyummu!" ujar Rafa, lalu menarik Hana dalam pelukannya. Kepala Hana menempel pada dada bidang Rafa. Hana mampu mendengarkan detak jantung Rafa.


"Tapi karena ideku, kak Rafa semakin sibuk. Kak Rafa tidak memiliki waktu istirahat. Seandainya aku mampu membantumu. Kak Rafa tidak akan terlalu sibuk. Apalagi sampai di rumah bukan istirahat, kak Rafa malah harus menggendong Fathan!" tutur Hana lirih, Rafa menggeleng seraya mengusap kepala Hana.

__ADS_1


"Tidak akan ada kata lelah dalam hidupku. Selama keringatku menetes untuk memenuhi semua kebutuhan kalian. Tidak akan aku merasa terbebani. Selama tulangku kokoh, demi melindungi kalian berdua. Percayalah aku tidak akan merasa rugi. Selama semua demi senyum kalian berdua!" ujar Rafa lirih, lalu mengecup puncak kepala Hana. Dengan lenuha haru dan Bahagia Hana mengangguk. Ada rasa takut kebahagian ini akan terenggut suatu hari nanti.


"Kak Rafa sekarang sarapan. Aku akan menyiapkannya dan hari ini kak Rafa tidak boleh membawa mobil. Kak Rafa akan diantara oleh supir. Jika menolak kak Rafa tidak boleh ke kantor. Kalau memaksa aku akan pergi dengan Fathan!" ujar Hana lirih, sontak Rafa mengangguk tanpa Ragu. Dia tidak ingin Hana marah, apapun akan Rafa lakukan. Pergi ke kantor dengan supir bukan hal yang sulit.


"Sayang, aku akan pergi diantar supir. Tapi setelah mengantarku, dia akan langsung kembali kemari. Takutnya kamu membutuhkannya!" ujar Rafa tegas, Hana mengangguk pelan.


Rafa menyatap sarapannya dengan lahap. Setelah selesai sarapan, Hana sengaja mengantar Rafa. Hana bergelayut manja pada tangan Rafa, dengan heran Rafa menoleh pada Hana. Dia merasa Hana bersikap tidak wajar.


"Sayang, hari ini kamu aneh. Ada yang kamu inginkan, tapi takut aku menolaknya!" ujar Rafa heran, Hana mengangguk pelan. Sontak Rafa menepuk jidatnya pelan, dengan perasaan was-was Rafa akan mendengar permintaan Hana.


"Aku akan ke rumah sakit. Aku ingin bertemu dokter, aku ingin mencari KB yang terbaik. Agar ASI ku tidak terpengaruh!" ujar Hana lirih.


"Kenapa pakai KB? Aku belum memiliki seorang putri!" goda Rafa, Hana menggeleng lemah. Setelah mencium tangan Rafa. Hana langsung masuk ke dalam rumah. Dia kesal saat Rafa masih belum mengizinkannya menggunakan KB. Hana belum siap bila memiliki seorang anak lagi. Sedangkan Rafa berpikir, ingin segera memiliki anak lagi.


...☆☆☆☆☆...

__ADS_1


"Rafa, kenapa kamu tidur di sofa. Apa kamu sakit? Lebih baik pulang istirahat!" ujar Gunawan cemas, saat melihat Rafa tertidur di sofa. Rafa bukan tipe orang yang dengan mudah tertidur. Bila dia tidak benar-benar lelah atau sakit. Rafa mencoba membuka kedua matanya yang sangatl lengket. Rafa mengerjapkan kedua matanya, melihat siapa yang datang? Rafa benar-benar mengantuk, semalaman dia menggendong Fathan. Jika Rafa mengatakan pada Hana. Pasti Hana akan cemas dan menyalahkan diri sendiri!


"Ada apa papa datang ke kantor? Bukankah Adrian sudah datang menemuimu!" ujar Rafa setengah sadar, Gunawan melihat Rafa sangat lelah. Dia duduk tak jauh dari Rafa, sebaliknya Rafa mencoba untuk duduk. Meski sejujurnya Rafa ingin tidur. Rafa menyeruput kopi yang sudah disediakan.


"Papa datang hanya ingin bertanya. Benarkah Fathan sakit, lalu sekarang keadaannya bagaimana?" ujar Gunawan, Rafa terdiam membisu mendengar kecemasan Gunawan. Entah siapa yang mengatakan pada Gunawan Fathan sedang sakit?


"Papa aneh, Fathan sakit di rumah. Malah papa datang kemari mencariku! Jika memang papa Khawatir, kenapa papa tidak datang saja menjenguk Fathan? Agar lebih jelas Fathan sakit apa?"


"Papa terlalu malu pada Hana. Sudah sering papa menyakiti Hana. Jadi lebih baik papa datang padamu! Sekaligus ada yang ingin aku berikan padamu! Sebuah amanah yang telah aku simpan bertahun-tahun. Kini sudah saatnya aku berikan padamu!" ujar Gunawan sembari memberikan sebuah kotak. Rafa menerima kotak itu dengan rasa cemas.


"Apa ini pa? Aku harap bukan sesuatu yang buruk!" ujar Rafa cemas, Gunawan menggeleng lemah. Gunawan melihat Rafa ragu menerima kotak tersebut.


"Rafa kotak itu berisi peninggalan ibumu. Dia menitipkan padaku sehari sebelum wafatnya. Ada surat dalam kotak tersebut. Papa tidak pernah membuka kotak itu, apa isi surat itu papa tidak pernah tahu? Dulu mamamu berpesan, agar memberikan ini padamu setelah kamu menikah!" ujae Gunawan, dengan tangan bergetar. Rafa membuka surat dari orang tuanya.


"Mama, aku merindukanmu!" uajar Rafa sembari meletakkan surat di atas dada bidang Rafa.

__ADS_1


__ADS_2