KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Rafa Kebingungan


__ADS_3

..."Jangan pernah merendahkan derajat orang lain. Hakikatnya kita sama di mata-NYA. Jangan berpikir kita lebih hebat dari orang lain. Sejatinya di atas langit masih ada langit. Kita terlahir tidak lebih rendah atau lebih tinggi dari orang lain. Sesungguhnya kita tercipta dengan kelebihan dan kelemahan yang berbeda. Semua akan sama, di saat kita bisa saling mengerti dan menghargai."...


...☆☆☆☆☆...


Beberapa hari terakhir Rafa melakukan perjalanan bisnis ke luar kota. Dia sudah mengaakan pada Hana. Jika Rafa tidak bisa menemuinya. Sebenarnya Rafa tidak ingin pergi, tapi perjalanan kali ini penting. Demi tender besar yang sedang dikerjakan oleh perusahaan Rafa.


Hana sudah terbiasa hidup sendiri. Usia kandungannya sudah masuk bulan kedua. Namun sedikitpun Hana tidak pernah merasa kesulitan. Seolah bayi yang sedang dikandumg Hana mengerti kondisi ibunya yang sendirian. Hampir setiap hari Rafa menghubungi Hana, bahkan satu jam satu kali dia menghubungi Hana. Menanyakan kabar serta kondisi kandungan Hana.


Rafa selalu khawatir tentang kondisi Hana. Sebaliknya Hana tidak pernah menanyakan kondisi Rafa. Hana berpikir seandainya Rafa sudah menghubunginya. Itu artinya dia baik-baik saja. Hana selalu percaya bahwa Rafa akan baik-baik saja. Selama Hana selalu mendoakan kesehatan suaminya.


Pagi ini Hana sengaja memasak. Entah kenapa dia merindukan Diana? Hana berniat datang ke perusahaan Prawira menemui Diana. Dia ingin makan siang bersama Diana. Sejak semalam Hana begitu ingin bertemu dengan Diana. Satu-satunya sahabat yang Hana punya.


"Diana!" sapa Hana ramah, dia datang sepuluh menit sebelum jam makan siang. Hana berani datang ke kantor Rafa. Sebab Rafa sedang tidak ada, Rafa masih melakukan perjalanan ke luar kota. Diana mendongak kaget melihat Hana berada di depannya.


"Hana, sedang apa?" ujar Diana, Hana tersenyum sembari mengangkat rantang berisi makanan yang khusus dibawanya dari rumah. Diana mengangguk mengerti maksud dari Hana.


"Baiklah, sebentar lagi waktu makan siangku. Kita makan siang di balkon saja. Suansana di sana jauh lebih tenang!" ujar Diana, Hana mengangguk senang. Diana merapikan semua berkas yang ada. Dia ingin segera pergi bersama dengan Hana.


"Hana, ayo kita pergi. Pasti seru makan di balkon, merasakan udara siang kota ini. Melihat gedung tinggi berjejer di bawah kita!" ujar Diana, dia menggandeng tangan Hana. Mereka berjalan bersama menuju balkon.


Diana sudah berpamitan pada kedua rekannya. Rafa tidak pernah pergi dengan sekretarisnya bila ke luar kota. Rafa terbiasa pergi dengan Adrian. Rafa mulai menjaga jarak dengan lawan jenis. Apalagi dengan Sesil, Rafa seolah menjaga jarak.


"Hana, kamu berani sekali datang ke kantor. Apa kamu ingin menunjukkan jati dirimu sebagai istri pak Rafa?" ujar Diana, Hana menggeleng lemah. Hana berjalan bersama Diana dengan bahagia.


"Bukankah kak Rafa sedang ada di luar kota. Jadi aku bebas datang kemari. Aku hanya ingin bertemu denganmu. Kak Rafa orangnya sibuk, jadi tidak mungkin dia mengingatku. Sudah tidak perlu membahas bosmu itu!" ujar Hana santai, Diana mengangguk pelan. Sebenarnya hari ini Rafa sudah kembali dari luar kota. Rafa sengaja tidak mengatakan pada Hana. Dia ingin memberi kejutan dengan kedatangannya.


"Sayang, sejak kapan kamu berani datang ke kantorku? Kenapa tidak sekalian saja, aku mengenalkan dirimu sebagai istriku. Mereka berhak mengetahui, kalau bos mereka sudah memiliki istri!" ujar Rafa mesra, tangan kekarnya memeluk Hana erat. Diana minggir beberapa langkah, dia sudah melihat Rafa datang. Namun atas perintah Rafa, dia tetap diam.

__ADS_1


"Kak Rafa, bukankah sedang di luar kota. Kenapa sekarang ada di sini? Kak Rafa berbohong padaku!" ujar Hana cemberut, Rafa membalik tubuh Hana menghadap ke arahnya. Dia menangkup pipi Hana yang sedikit gimbul.


"Sayang, aku sudah mengatakannya padamu. Kalau hari ini mungkin aku sudah pulang. Kapan aku berbohong, tapi aku tidak mengatakan jam berapa? Jadi kapan aku berbohong padamu?" ujarnya, Hana menunduk malu. Rafa menarik tubuh Hana. Dia mendekap erat tubuh yang sangat dirindukannya. Harum tubuh Hana, menenangkan kepenatan Rafa.


"Kak Rafa lepaskan. Kita berada di kantormu. Semua karyawanmu melihat kita!" ujar Hana, Rafa seolah tidak peduli. Rafa mendekap erat Hana, dia benar-benar merindukan Hana. Rafa sudah tidak peduli dengan pendapat orang lain.


Diana dan Adrian menjadi penonton setia. Tiba-tiba dengan sekuat tenaga Hana menginjak kaki Rafa. Berharap Rafa bisa melepaskan pelukannya.


"Awwwsss, sakit sayang!" teriak Rafa sembari melepaskan pelukannya. Hana tidak peduli dengan teriakan Rafa. Hana menarik tangan Diana. Mereka berjalan perlahan menuju balkon.


"Rafa, kita harus segera pergi. Kita ada janji makan siang. Jangan sampai mereka menunggu terlalu lama. Bisa gagal kerjasama kita!" ujar Adrian, Rafa mengusap wajahnya kasar. Dia ingin mengejar Hana, tapi kewajibannya mengharuskan dia pergi menemui rekan kerjanya.


...☆☆☆☆☆...


Setelah makan siang dengan Diana, Hana mampir ke supermarket. Dia membeli beberapa buah. Semenjak hamil Hana terbiasa nyemil di malam hari. Jika dulu Hana tidak suka jajan, sekarang tidak ada waktu Hana tanpa cemilan.


"Kak Rafa, sejak kapan datang? Maaf, Hana mampir membeli buah dan camilan!" sahut Hana ramah, dia mencium tangan Rafa. Dengan sigap Rafa menarik tubub Hana ke dalam pangkuannya. Rafa tidak ingin jauh dari Hana.


"Kak Rafa turunkan Hana. Sekarang tubuh Hana sangat berat!" Rafa menggeleng lemah, dia tidak peduli dengan perkataan Hana.


"Sayang, kapan kita bisa tinggal bersama? Aku sudah tidak bisa menahannya. Kenapa tidak kita katakan pada mereka? Bahwa kita sudah menikah. Aku ingin di saat lelah pulang kerja, ada kamu yang menyambutku!" ujar Rafa, sembari memeluk Hana yang duduk dipangkuannya. Hana membalikkan tubuhnya, dia mengalungkan kedua tangannya pada leher Rafa.


Cup


Hana mengecup lembut kening Rafa. Dia mengusap wajah tampan sang suami. Menangkupkan kedua tangannya pada kedua pipi Rafa. Hana menatap kedua mata indah Rafa.


"Kak Rafa, bukankah kita selalu bersama. Lalu untuk apa kamu bertanya lagi? Meski tubuh kita terpisah, hati dan cinta kita sudah menyatu dalam rahimku. Dia buah cinta kita, penyatu hubungan kita. Jadi hidup bersama atau tidak semua sama saja, yang berbeda hanya tempat kita tinggal. Kak Rafa masih punya tanggungjawab yang lain. Keluargamu butuh perlindunganmu!" ujar Hana, Rafa mengangguk mengerti. Meski hatinya tidak menginginkan keadaan seperti ini. Rafa ingin memeluk Hana setiap saat.

__ADS_1


Setiap malam Rafa selalu sulit untuk tidur. Rafa tidak bisa tidur di atas kasur yang empuk. Sedangkan Hana dan bayinya tidur di kasur busa yang mulai tipis. AC kamar Rafa selalu dingin, tapi Hana selalu kepanasan setiap malam. Kemewahan yang dirasakan Rafa berbanding terbalik dengan kesederhanaan Hana.


Terkadang Rafa memutuskan tidur di bawah. Agar dia bisa merasakan kesederhanaan Hana. Sebenarnya dengan mudah Rafa bisa membelikan semua kenyaman itu. Namun Rafa mulai memahami cara berpikir Hana. Dia tidak ingin menyinggung perasaan Hana.


"Sayang, lalu siapa yang akan melindungimu? Sampai kapan kamu bisa menjaga dirimu dan bayi kita sendirian? Setiap malam kamu bangun sendiri, sekadar ingin memakan sesuatu atau untuk minum. Bahkan untuk belanja dan pergi ke dokter. Kamu selalu melakukannya sendiri. Aku suamimu, ayah dari bayi yang kamu kandung. Kenapa aku merasa tidak berguna?"


"Kak Rafa, aku tidak pernah mengajarkan pada bayiku untuk hidup dengan kenyamanan. Dia harus belajar hidup sederhana dan mandiri. Aku ingin dia menjadi pekerja keras seperti ayahnya. Aku berharap dia hidup sederhana sepertiku. Jadi aku akan berusaha menjaganya dengan sekuat tenagaku! Kak Rafa alasan senyumku, bayi ini semangat hidupku. Kalian dua orang penting dalam hidupku. Aku menyayangi kalian!" ujar Hana, lalu memeluk erat Rafa.


"Terima kasih sayang!" bisik Rafa tepat di samping telinga Hana. Dengan malu Hana mengangguk pelan.


"Kak Rafa, aku menginginkan sesuatu. Bisakah kak Rafa memenuhinya!" bisik Hana mesra, Rafa mengangguk. Sesuatu yang selalu ditunggu oleh Rafa. Memenuhi keinginan Hana untuk pertama kalinya.


"Kak Rafa aku lapar, bisa minta tolong buatkan aku mie dan susu. Setelah aku mandi, aku akan memakannya. Sekalian dengan buahnya, mienya jangan terlalu matang. Nanti tambahkan sayur, tapi jangan pakai telur!" ujar Hana, Rafa mengangguk sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Cup Cup


Hana mengecup kedua pipi Rafa. Dia berjalan menuju kamarnya, meninggalkan Rafa yang kebingungan. Bagi Rafa mengelola perusahaan jauh lebih mudah. Daripada membuat mie atau susu. Sejak kecil Rafa tidak pernah menginjakkan kakinya di dapur. Sekarang dia harus membuat makanan dan minuman. Sesuatu yang diminta Hana untuk pertama kalinya pada Rafa. Sangat tidak mungkin Rafa mampu menolak permintaan Hana.


"Kak Rafa, aku tahu kamu tidak pernah pergi ke dapur. Aku bahkan sangat tahu, jika kamu tidak pernah menyentuh kompor. Hidupmu selalu di dalam kata nyaman. Aku hanya ingin melihat, seberapa besar kamu berusaha menuruti permintaanku. Apakah kamu masih Rafa yang sama? Selalu hidup dalam kata nyaman, tanpa berpikir ingin berusaha. Maafkan aku jika keterlaluan, tapi hatiku masih ragu menyerahkan sepenuhnya hidupku di tanganmu!" batin Hana, dia mengintip dari balik pintu kamarnya. Hana melihat Rafa kebingungan.


Sedangkan Rafa terus berpikir caranya memenuhi permintaan Hana yang sangat biasa. Namun sangat luar biasa bagi Rafa. Rumitnya perusahaan akan dengan mudah Rafa selesaikan, tapi membuat mie dan susu. Sebuah tantangan baru bagi Rafa.


"Sayang, kenapa aku begitu bodoh? Sampai membuatkanmu mie dan susu saja aku tidak bisa. Permintaan kecilmu yang seharusnya bisa kukerjakan dengan mudah. Kenyataannya sangat sulit aku penuhi. Sayang, aku baru menyadari semua terlalu nyaman untukku. Sekarang aku tahu, jika selama ini aku telah menyakiti banyak orang. Pekerjaan yang selalu aku anggap mudah. Ternyata tidak mampu aku lakukan. Kini aku sadar, jika setiap orang memiliki kelebihan masing-masing. Terima kasih!" batin Rafa, dia mengingat sikap kasarnya pada ART di rumahnya. Kini dia tertekan hanya, karena permintaan kecil istrinya.


...☆☆☆☆☆...


TERIMA KASIH😊😊😊

__ADS_1


__ADS_2