KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Menantu yang Terbaik


__ADS_3

"Hana Khairunnisa, apa kabarmu sekarang?" sapa Sabrina wanita setengah baya yamg tak lain ibu sambung Rafa Akbar Prawira. Sontak Hana menoleh saat dia merasa mengenali suara yang menyapanya. Benar saja dugaan Hana, dia mengenali suara wanita yang memanggilnya. Seketika Hana menelan ludahnya kasar. Dia tidak pernah menyangka akan bertemu dengan Sabrina. Sekian tahun mereka tidak pernah bertemu. Jangankan bertemu, kabar berita tentang Sabrina. Hana sama sekali tidak pernah mendengarnya. Dia tidak pernah tahu, apa yang terjadi pada Sabrina?


Semenjak kepergian tuan Ardi yang tak lain kakek Rafa. Kehidupan Gunawan dan Sabrina berubah drastis. Sikap Sabrina yang selalu bersikap kasar pada Hana. Membuat Rafa seolah enggan menganggap keberadaannya. Rafa hanya membantu Gunawan ala kadarnya. Apa yang diberikan Rafa tidak mampu mencukupi kebutuhan Sabrina yang terbiasa hidup mewah. Beberapa tahun setelah kepergian tuan Ardi. Gunawan yang mulai sakit-sakitan akhirnya menyusul sang ayah. Meninggalkan Sabrina sendirian hidup sebatanh kara. Namun sebagai seorang anak, Rafa tidak tinggal diam. Dia memberikan hak yang seharusnya diterima Sabrina. Namun apa yang Rafa berikan seolah tidak pernah cukup memenuhi kehidupan Sabrina? Sehingga Sabrina terlilit hutang yang sangat besar. Demi melunasi hutang-hutangnya. Sabrina menjual rumah keluarga Prawira.


Saat mengetahui rumah peninggalan kakeknya dijual. Rafa sangat marah, tanpa banyak berkata. Rafa mengusir Sabrina dari rumahnya. Dia melupakan status Sabrina sebagai ibu sambungnya. Kiara sang adik tidak bisa berbuat apa-apa? Kesalahan ibunya tidak bisa dimaafkan lagi. Akhirnya Kiara meminta bantuan Rizal mengirim Sabrina tinggal di kota lain. Dengan biaya hidup yang akan ditanggung Kiara dan Rizal. Sisa penjualan rumah menjadi modal awal Sabrina hidup. Sejak itu tidak pernah lagi terdengar berita tentang Sabrina. Kiara tidak pernah berani bercerita tentang ibunya di depan Rafa. Kemarahan Rafa tak bisa dibendung. Seandainya bukan rumah itu yang dijual. Mungkin Rafa akan melupakannya, srbab rumah keluarga Prawira menyimpan kenangan yang terlalu banyak. Kenangan yang tidak akan pernah bisa kembali lagi. Dengan susah payah Rafa memenangkan lelang. Meski tidak sedikit Rafa harus membayar untuk rumah yang dijual Sabrina.


Sekarang dengan kedua matanya, Hana melihat Sabrina berdiri di belakangnya. Dengan penampilan yang sangat anggun. Layaknya ibu-ibu sosialita jaman sekarang. Sabrina berpenampilan glamour, dengan membawa tas mahal. Entah darimana semua kemewahan yang dia miliki? Satu hal yang pasti. Sabrina akan tetap menyalahkan dan membenci Hana. Atas apa yang terjadi pada dirinya.


"Nyonya Sabrina!" sahut Hana lirih, Hana berjalan mundur. Rasa kagetnya belum sepenuhnya menghilang. Dia tidak pernah berharap bertemu dengan Sabrina. Penampilan Sabrina yang sangat glamaour membuat Hana sangat terkejut. Setelah sekian tahun, Sabrina tidak pernah berubah. Usia yang semakin tua seolah tidak pernah membuatnya sadar akan dosa yang selama ini telah dia lakukan. Cara dia menatap Hana, menunjukkan sikap yang sama layaknya bertahun-tahun yang lain. Kebencian Sabrina pada Hana yang entah karena apa?


"Iya, ini aku Sabrina istri Gunawan Adi Prawira. Menantu sah keluarga Prawira. Tidak sepertimu menantu yang tidak pernah dianggap. Aku menjadi menantu keluarga Prawira dengan harkat dan martabat. Sebaliknya kamu menjadi menantu tanpa ada yang mengetahuinya. Dengan tipu dayamu, Rafa terpikat padamu. Hanya itu kemampuan yang kamu miliki. Bahkan penampilanmu tetap sama layaknya wanita kampung. Meski kamu menjadi seorang istri Rafa Akbar Prawira. Tidak bisa merubah darimana kamu berasal!" ujar Sabrina sinis, Hana hanya diam mendengar semua perkataan Sabrina. Hana tidak pernah peduli akan perkataan Sabrina. Selama ini Hana berdiri dengan kebanggaan yang diberikan Rafa. Sedikitpun Hana tidak terpengaruh akan hinaan Sabrina.

__ADS_1


"Ternyata sifat anda tidak pernah berubah. Anda tetap menyimpan kebencian yang tidak pernah aku tahu alasannya. Aku merasa tidak pernah sedikitpun menyakiti anda. Sejak dulu aku selalu menghargai anda. Sudahlah tidak ada gunanya kita berdebat. Status yang anda banggakan sudah lama hilang. Aku memang bukan menantu keluarga Prawira. Aku cucu menantu keluarga yang begitu anda banggakan. Suka atau tidak suka, dari rahimku lahir penerus keluarga Prawira. Katakanlah apa yang membuat anda senang? Namun ingat ada batasan yang harus anda sadari. Jika dulu aku diam, karena aku hidup sebatang kara. Hari ini aku berdiri dengan kedua penopangku!" sahut Hana lirih, Sabrina tersenyum sinis. Dia tidak pernah ingin berdebat atau bertengkar dengan Sabrina. Entah dulu atau sekarang? Satu hal yang berbeda. Jika dulu Hana akan diam, sebab Rafa seorang anak yang tidak pantas melawan orang tuanya. Sekarang Hana yang menjadi orang tua. Kedua putranya siap melawan siapapun yang menghina atau menyakiti hatinya?


"Apa yang kamu maksud kedua putramu? Mereka hanya anak kecil yang lahir dari wanita sepertimu. Seorang anak yang berwatak sama dengan Rafa. Lebih memilih cinta dari wanita biasa. Wanita yang sekelas dengan ibu kandungnya. Aku tidak habis pikir, kenapa Faiq lebih memilih putri sahabatmu yang miskin daripada putri Sesil? Aku yakin jika semua itu karena keinginanmu. Agar putri sahabatmu itu menjadi bagian dari keluarga Prawira!" ujar Sabrina semakin sinis, Hana hanya bisa menggelengkan kepala tidak percaya. Dia sudah sangat hapal dengan sifat angkuh Sabrina. Baginya tidak ada artinya membalas perkataan Sabrina. Sebab hanya akan mendapatkan mudharat tanpa manfaat.


"Mama!" sapa Davina dari belakang. Dia menghampiri Hana bersama dengan Annisa. Kebetulan siang ini, Hana dan kedua menantunya sedang berbelanja keperluan bayi. Kehamilan Annisa sudah sangat besar. Hana ingin menyiapkan semua kebutuhan Annisa dengan sangat sempurna. Sebab itu mereka bertiga ada di pusat perbelanjaan terbesar di kota ini. Mereka tidak datang sendiri, ada Faiq dan Fathan. Namun kedua kakak beradik itu memilih duduk di cafe. Mengikuti tiga wanita cantik berbelanja. Keduanya merasa tidak akan sanggup. Mereka akan datang saat dibutuhkan.


"Bukankah dia putri Diana sahabatmu dan ini Annisa putri Naufal cucu Mira. Kamu hebat Hana bisa membuat semua orang menyayangimu!" ujar Sabrina ketus, Hana tetap tidak bergeming. Sabrina mendekat pada Davina, dia menatap wajah Davina lekat. Jelas terlihat rasa tidak suka Sabrina pada Davina.


"Tante Sabrina, sudah cukup. Kenapa selalu Hana yang tante salahkan?" sahut Sesil, Hana melihat Sesil berjalan pelan menghampiri mereka. Jelas sudah selama ini, Sabrina hidup bersama Sesil. Semenjak Sesil menikah, dia sedikit menjauh dari kehidupan Rafa. Putrinya juga menjauh setelah, Davina mengutarakan cintanya pada Faiq. Aulia putri Sesil memilih mengalah demi persahabatan diantara mereka berdua.


"Sesil, lihatlah dia wanita yang membuat putrimu menangis. Menantu yang dipilih Hana, agar putri sahabatnya menjadi bagian dari keluarga Prawira. Wanita biasa tanpa keistimewaan!" ujar Sabrina, Hana menggelengkan kepala. Sedangkan Sesil marah mendengar perkataan Sabrina. Baginya masa lalu akan selalu menjadi masa lalu. Dia tidak ingin mengungkit masa lalu. Seandainya hanya akan membuat masalah baru. Cukup sekali dia berurusan dengan Rafa. Dia tidak ingin lagi terlibat masalah dengan Rafa. Terutama dengan kedua putra Fathan dan Faiq putra Hana.

__ADS_1


Hana menarik tangan Annisa dan Davina bersamaan. Hana merangkul kedua menantunya. Sekilas Hana menoleh ke arah keduanya sembari tersenyum. Hana menggenggam erat tangan keduanya. Seolah ingin mengatakan pada dunia. Tangan mereka yang akan selalu Hana genggam.


"Nyonya Sabrina, dalam biasa kedua menantuku. Ada keistimewaan yang tidak akan pernah bisa anda lihat. Hanya manusia berhati lembut dan bersih yang bisa melihat kesempurnaan mereka. Davina mungkin wanita biasa yang terlahir dari rahim wanita biasa. Namun dia satu-satunya wanita yang bisa meluluhkan hati beku putraku Faiq. Bersamanya Faiq akan bahagia. Dengannya Faiq akan melewati hidupnya. Tangannya yang akan selalu Faiq genggam. Sosoknya yang membuat Faiq dewasa. Sebab Davina wanita yang akan selalu Faiq lindungi. Annisa putri Naufal, sekaligus putri sambung adikku. Wanita dengan latar belakang yang tidak bisa diragukan lagi. Namun anda lupa, dibalik kelebihannya ada sisi lemah yang membuat Fathanku luluh. Annisa wanita yang membuat putra pertamaku merasa berarti. Dia membuat Fathan merasa dibutuhkan. Kasih sayang Fathan melengkapi sisi hampa hati Annisa. Dia wanita istimewa dengan sisi lemah yang membuat putraku terikat. Mereka berdua wanita istimewa yang membuat putra-putraku bahagia. Tidak ada lagi istimewa yang ingin aku lihat dari mereka. Sebab sempurna itu, bila kita menjadi berarti untuk orang yang kita cintai. Mereka satu-satunya wanita yang membuat Fathan dan Faiq luluh. Aku tidak butuh status atau harta dari menantuku. Sebagai seorang ibu, bagiku bahagia mereka harta yang tak ternilai dan tidak akan bisa digantikan dengan yang lain. Seorang ibu akan merasakan tangis anak-anaknya tanpa harus melihatnya dulu. Sebab tangan seorang ibu yang menghapus air mata mereka sejak kecil. Jadi aku mengerti, siapa wanita yang membuat anak-anakku bahagia? Tanpa aku harus bertanya status yang melekat pada menantuku. Kelak tangan mereka yang akan menuntunku. Menantuku harta berharga yang dipilih kedua putraku!" tutur Hana, Annisa dan Davina menoleh menatap Hana. Seketika mereka memeluk tubuh Hana. Annisa dan Davina bergantian mencium punggung tangan Hana, lalu kedua pipi Hana. Rasa bahagia sekaligus bangga akan pendapat Hana pada mereka. Annisa dan Davina sangat menghargai dan menyayangi Hana.


"Mama segalanya bagi kami. Tidak akan ada yang berhak menghina mama. Terutama anda, jangan pernah menguji kesabaran kami!" ujar Fathan lantang. Terlihat Fathan menghampiri Hana, Faiq berjalan di belakangnya.


"Tante Sesil, anda mengenal siapa saya? Jadi anda memahami, apa yang bisa aku lakukan demi mama? Tidak akan aku biarkan siapapun menghina mama. Beliau alasanku berdiri di sinu. Jangan pernah memuatku marah!" sahut Faiq, Sesil mengangguk mengerti.


"Kalian akan selalu menjadi kebanggaan mama!" ujar Hana, lalu merangkul keduanya. Hana menyandarkan kepalanya pada dada bidang Fathan. Sedangkan tangannya menggenggam tangan Faiq. Hana merasa terlindungi oleh kedua putranya.


"Mama segalanya bagi kami!" ujar Fathan.

__ADS_1


__ADS_2