KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Maaf...


__ADS_3

"Faiq, dimana mamamu? Kenapa belum turun?" ujar Rafa lirih, Faiq mengangkat kedua bahunya. Rafa menoleh pada Fathan, seakan bertanya hal yang sama. Lagi-lagi Rafa tak menemukan jawaban. Sebab Fathan langsung menggelengkan kepala. Sontak Rafa meletakkan sendok yang dipegangnya.


Tak ada lagi napsu Rafa untuk makan. Sejak perdebatan pagi tadi, Rafa dan Hana tak lagi bertemu. Keduanya saling menghindar, berpikir menjauh akan membuat keduanya tenang. Faiq dan Fathan hanya bisa melihat. Tanpa bisa ikut campur urusan kedua orang tuanya. Mereka yakin perdebatan yang terjadi hanya kerikil kecil yang takkan mampu menghancurkan pernikahan kedua orang tuanya.


Awalnya Rafa berpikir mampu menjauh dari Hana. Bukan Rafa marah atau menyalahkan Hana. Namun Rafa ingin memberikan waktu Hana, untuk melupakan semua perkataannya. Rafa menyadari setiap kata yang kekuar dari mulutnya. Semakin membuat hati Hana hancur. Meski Hana memang salah, dia pergi tanpa berpikir Rafa akan khawatir. Hana melupakan tanggungjawabnya sebagai seorang istri. Dia bersikap keras pada hatinya.


"Papa akan ke ruang kerja. Kalian lanjutkan saja makan malamnya. Papa sudah tidak berselera!" ujar Rafa lirih, Faiq menggeleng lemah. Rafa berdiri hendak berjalan menuju ruang kerjanya. Meski Rafa tak lagi bekerja. Dia masih menggunakan ruang kerjanya dulu. Sekadara untuk membaca dan mehilangkan kepenatan.


"Percuma papa menghindar, bahkan papa memilih tidak makan. Semua akan tetap sama, tak akan ada yang berbeda. Maaf jika Faiq salah, tapi selama bertahun-tahun. Papa dan mama bisa bertahan dengan luka dan masa lalu yang kelam. Lantas kenapa hari ini papa seolah kalah oleh kenangan itu? Mama bukan wanita sempurna, adakalanya dia melakukan kesalahan. Saat dimana mama merasa membutuhkan waktu sendiri tanpa kita. Sekadar mengingat kembali hidupnya bahagia, meski air mata selalu menetes!" ujar Faiq acuh, Fathan dan Rafa menoleh pada Faiq. Mereka tidak percaya akan perkataan Faiq.


Rafa duduk kembali di tempat semula. Dia menatap Faiq lekat, seolah butuh penjelasan atas perkataannya barusan. Fathan menatap cemas ke arah Faiq dan Rafa. Seakan dia takut terjadi sesuatu yang tak semestinya. Sebaliknya Faiq terlihat sangat santai. Tak ada rasa takut atau perasaan bersalah atas ucapannya.

__ADS_1


"Faiq, jaga bicaramu. Kamu harus menyadari batasanmu!" ujar Fathan tegas, Faiq tersenyum simpul. Dia seakan tak peduli akan perkataan Fathan. Faiq sedikitpun tidak merasa perkataannya melampaui batas. Sebagai seorang anak, dia tidak akan ikut campur. Namun tetap diam melihat pertengkaran orang tuanya. Bukanlah sesuatu yang benar.


"Faiq, tatap mata papa. Apa mama mengatakan sesuatu padamu? Kenapa kamu bisa mengatakan semua itu? Apa yang kamu ketahui tentang mama?" ujar Rafa cemas, Faiq menggeleng lemah. Hana tidak mengatakan apaupun pada Faiq. Hanya saja dari sikap dan raut wajah Hana. Faiq seolah mampu melihat kenyataan akan luka yang pernah ada.


"Tidak perlu mama mengatakan dukanya. Hanya agar kita bisa melihat air matanya. Sangat tidak berguna aku sebagai seorang anak. Seandainya aku tidak pernah bisa melihat kesedihannya. Mama sangat mencintai papa. Sebab itu mama memilih jalan yang salah. Hanya agar papa tidak pernah melihat hancurnya!" ujar Faiq, Fathan diam membisu.


"Papa, mama Hana tidak ingin membuatmu mengingat masa lalu itu. Mengingat hari dimana papa menjadi penyebab kedua orang tuanya meninggal? Mungkin mama salah, tapi mama hanya manusia lemah. Tak berdaya akan ketentuan yang tertulis. Sikap kurang ajar mama, tak lebih dari pilihan dalam dilema hatinya. Antara memilih menjadi istri yang terus diam menahan kenangan pahit itu. Atau menjadi seorang putri yang melupakan sejenak tanggungjawabnya sebagai seorang istri!" ujar Vania, Rafa menoleh ke arah Vania. Dengan lembut Vania mencium punggung tangan Rafa.


"Kenapa kalian bisa kompak bicara seperti ini?" ujar Fathan tak percaya, lalu menggeleng lemah seolah tak percaya Faiq dan Vania bicara begitu kompak. Rafa menunduk lesu, ketika mendengar Faiq dan Vania memahami Hana dengan begitu baik.


"Sekarang papa makan, mama sudah khusus memasak malam ini. Dia memintaku menyajikannya, mama tidak ingin papa sampai telat makan!" ujar Annisa lirih, Rafa mengangguk pelan. Lalu dia melanjutkan makan malam. Rafa memakan masakan yang sudah dibuat Hana.

__ADS_1


"Kak Annisa, om Rama itu bukannya suami tante Cintya. Memangnya mama Hana pernah pacaran dengan om Rama? Sampai papa bisa sangat cemburu!" ujar Vania polos, sontak Faiq dan Fathan menggeleng lemah. Rafa menoleh ke arah Vania. Annisa langsung menarik tangan Vania menjauh dari meja makan.


"Vania jelek dan pendek, kami semua susah payah menenangkan api yang membara. Dengan santainya kamu malah menyiram bensin di atasnya. Sungguh kedatanganku tak kami harapkan. Dimana Raihan berada? Aku akan meminta dia mengurungmu. Sehari saja aku bersamamu, seolah aku tak sanggup. Apa kabar dia yang setiap hari bersamamu!" ujar Fathan kesal, Annisa menepuk pundak Fathan pelan. Raut wajah Vania mulai berubah, suara isak tangis mulai terdengar.


"Jangan menangis, aku malas melihat air matamu!" sahut Faiq dingin, sontak Vania memeluk Annisa erat. Dengan lembut Annisa membelai kepala Vania yang tertutup hijab. Entah kenapa setiap kali ada kesempatan? Baik Faiq atau Fathan selalu ingin menggoda Vania. Mereka merasa bahagia bila melihat Vania menangis dan tertindas.


"Memangnya aku menyebalkan kak!" ujarnya lirih pada Annisa, sontak Annisa menggeleng tidak setuju dengan perkataannya. Annisa membawa Vania menuju kamarnya. Jika dibiarkan dekat dengan Fathan dan Faiq. Annisa yakin sebentar lagi Vania akan menangis. Semenjak hamil Vania jauh lebih perasa. Dia jadi lebih mudah menangis, meninggalkan sosok Vania yang keras dan mandiri.


Mereka bercanda satu sama lain. Melupakan sejenak ketegangan antara Hana dan Rafa. Ketegangan yang sebenarnya tidak perlu ada. Seandainya Hana dan Rafa saling memahami akan sisi lemah masing-masing. Tanpa peduli Fathan dan Faiq yang terus menggoda Vania. Rafa berjalan menuju kamarnya. Dia ingin segera menemui Hana. Rafa sudah tak bisa lagi menahan kerinduannya pada Hana.


"Hana, sayang dimana kamu?" panggil Rafa, Hana menoleh ke arah Rafa. Hana berdiri tepat di dekat jendela. Hana menatap langit malam ini dari kamarnya. Hujan yang turun sejak pagi. Mengubur jauh indah langit malam yang terang. Bulan dan bintang seolah takut tuk bersinar kalah oleh gelapnya mendung malam ini.

__ADS_1


"Sayang!" ujar Rafa sembari memeluk Hana dari belakang.


"Maaf aku telah menghina harga dirimu sebagai seorang suami. Sikap kasarku tanpa sengaja membuatmu terluka. Aku hanyalah wanita lemah yang penuh kekurangan. Terkadang ada sisi dimana aku egois dan berpikir yang kulakukan salah. Jika kamu marah itu wajar, tapi setidaknya aku berharap. Sekali saja diamkan sikapku, jangan menyalahkanku dengan alasan tuntunan. Sebab aku tak pernah ingin melangkahimu sebagai imam. Namun aku berharap kita berjalan berdampingan. Tuntunlah aku tanpa tuntutan yang nyata. Cinta kita tak serapuh itu. Sehingga akan kalah oleh satu kesalahpahaman!" tutur Hana lirih.


__ADS_2