KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Jalan-jalan Malam


__ADS_3

Setelah makan malam, Hana merengek ingin pergi jalan-jalan. Seperti anak kecil Hana menangis saat Rafa melarangnya pergi. Bukan menolak permintaan Hana, tapi keadaan Hana yang lemas dan sedikit hangat. Membuat Rafa cemas bila pergi keluar Hana akan semakin sakit. Udara dingin malam hari tidak bagus untuk ibu hamil. Apalagi Hana yang sedang tidak sehat. Rafa tidak tega melihat Hana menangis layaknya anak kecil kehilangan mainanya.


Rafa kebingungan membujuk Hana untuk tidak menangis. Namun usahanya sia-sia, bukan berhenti menangis. Hana semakin menjadi, bahkan dia melempar bantal ke arah Rafa. Emosi Hana benar-benar tak terbendung. Dia kesal mendengar Rafa melarang dirinya pergi keluar. Keributan yang terjadi terdengar sampai ke kamar Kiara. Teriakan marah Hana membuat Kiara khawatir. Dengan segera Kiara berjalan menuju kamar Hana. Dia ingin melihat, apa yang sebenarnya terjadi?


"Kak Rafa, ada apa dengan kak Hana? Kenapa dia berteriak seperti itu? Kalian sudah dewasa, masih senang bertengkar!" ujar Kiara, sontak Rafa menoleh pada Kiara. Dia menatap Kiara seakan ingin melahapnya. Rafa benar-benar kalut melihat Hana memaksa ingin jalan-jalan. Seandainya Hana sehat, Rafa tidak akan melarangnya. Namun kondisi Hana berbeda saat ini. Hana sedang demam dan angin malam sangat tidak baik bagi ibu hamil.


"Diam kamu, Hana merengek ingin pergi jalan-jalan. Sedangkan dia sedang tidak sehat. Aku khawatir angin malam akan membuatnya semakin sakit. Aku sedang membujuknya untuk tidak pergi. Bukan malah diam, dia malah semakin marah. Bantu aku membujuknya!" ujar Rafa kesal, Kiara menggeleng. Rafa melotot ke arah Kiara, tapi tidak dihiraukan oleh Kiara. Dengan santai Kiara mendekat pada Hana. Dia berniat mengantar Hana keluar bersama Rizal. Kiara tidak tega melihat Hana yang merengek ingin keluar dari rumah.


"Kak Hana, jika kak Rafa tidak mengizinkanmu pergi. Bagaimana kalau kita pergi bertiga? Aku akan mengajak kak Rizal mengantar kita. Aku juga ingin jalan-jalan. Daripada di rumah melihat kak Rafa marah. Hanya akan membuat hatiku sakit!" ujar Kiara santai, Hana mengangguk setuju. Rafa terperangah mendengar perkataan Kiara. Bukan membantu membujuk Hana, malah Kiara dengan sengaja akan mengantar Hana pergi. Rafa menatap tajam ke arah Kiara. Namun Hana menghadang tatapan itu, Hana berdiri tepat di depan Kiara. Seakan ingin melindungi Kiara dari amarah Rafa.


"Sayang, aku bukan melarangmu pergi. Kamu sedang sakit. Aku tidak ingin kondisimu semakin parah. Apalagi kalau malam udaranya pasti sangat dingin. Kamu lupa semalam saja kedinginan. Ayolah sayang, lain kali saja perginya. Aku janji akan menemani selama sehari penuh. Asalkan tidak malam ini!" bujuk Rafa mesra, Hana menggeleng. Lalu menunduk lemah, terdengar suara isak tangis dari bibir mungil Hana. Bukan tangisan yang keras, tapi isak tangis Hana mampu membuat Rafa semakin frustasi. Rafa dilema mengizinkan Hana pergi, akan membuat dia semakin sakit. Melarang Hana pergi, bisa membuat Hana menangis semalaman bahkan sampai pagi. Rafa semakin kalut saat Hana tidak berhenti merengek. Hana terus memaksa, puncaknya saat Hana mengatakan hal yang tidak-tidak.


"Kak Rafa, kenapa aku tidak boleh pergi kesana? Apa hanya Sesil yang kak Rafa izinkan kesana? Sedangkan aku tidak boleh. Kak Rafa melarangku bukan karena aku sakit. Tapi lebih karena banyak kenanganmu dengan Sesil disana!" ujar Hana lirih disela tangisnya. Rafa dan Kiara terkejut mendengar perkataan Hana. Sejak kapan Hana mengetahui tempat-tempat yang pernah dikunjungi Rafa dengan Sesil? Jika menyangkut masalah cemburu. Sedikirpun Rafa tidak bisa membantah. Dengan perlahan Rafa mendekat pada Hana. Tepat di depan Hana, Kedua tangan Rafa menangkup pipi Hana. Rafa menatap wajah yang mengisi seluruh hati dan benaknya. Rafa melihat kedua mata indah Hana merah karena menangis. Air mata Hana terus mengalir. Seakan tak ingin berhenti, Rafa semakin merasa bersalah. Melihat kesedihan yang begitu mendalam yang dirasakan Hana.


"Sayang, aku akan mengizinkanmu pergi. Aku akan mengantar kemanapun kamu ingin pergi? Namun aku mohon, jangan pernah mengungkit masa laluku. Aku terluka setiap kali kamu mengingatkanku akan kenangan-kenangan bersama Sesil. Kecemburuanmu membuatku marah, aku merasa tak pantas dan tak mampu membuatmu percaya. Kita pergi sekarang, aku ambilkan baju hangat untukmu!" ujar Rafa, lalu menghapus air mata Hana. Kemudian mengecup kening Hana lembut. Hana mengangguk senang, saat Rafa berjanji akan membawanya jalan-jalan. Rafa mendekap erat Hana. Seandainya sejak awal Hana jujur. Jika keinginannya tak lain rasa cemburu. Kecemburuan pada Sesil yang pernah pergi dengan Rafa. Memang tempat yang ingin dikunjungi Hana. Tempat favorit Rafa yang sering dikunjungi bersama Sesil dulu. Entah darimana Hana mengetahui tentang tempat ini? Satu hal yang pasti, Rafa akan memenuhi keinginan Hana demi menghapus keraguan Hana akan dirinya. Bahwa sepenuhnya Rafa sudah melupakan masa lalunya dengan Sesil. Rafa tidak ingin Hana terus berpikir, Sesil masih ada dalam ingatannya. Sesil bukan kenangan bagi Rafa. Dia masa lalu yang ingin Rafa kubur sedalam mungkin. Sehingga tidak akan lagi muncul dalam kehidupannya kembali.


"Jangan pernah mengingat masa laluku. Sebab aku tahu, masa laluku hanya akan membuatmu terluka dan menangis. Aku tersiksa bila mengingat semua itu, masa lalu yang membuatku selalu menyesal. Aku tak pernah bisa merubah yang pernah terjadi dulu. Namun aku pastikan padamu, takkan ada Sesil dalam masa depanku. Jangan sakiti dirimu dengan mengingat masa laluku. Rasa sakit yang sama kurasakan, ketika melihat air mata cemburumu!" bisik Rafa tepat di telinga Hana. Rafa mendekap erat tubuh Hana yang terasa hangat. Bahkan saat Rafa mengecup kening Hana. Rafa merasakan suhu tubuh Hana yang sedikit demam. Rafa benar-benar harus tega melihat Hana kedinginan. Sikap keras Hana tidak akan pernah mampu Rafa taklukkan. Sejak dulu Rafa selalu mengalah, bukan kalah tapi Rafa tidak ingin melihat Hana terluka.

__ADS_1


"Terima kasih!" sahut Hana datar, Rafa mengangguk.


Kiara terpaku melihat kedua kakaknya. Kiara tak habis pikir, pertengkaran dalam sekejap bisa berganti kemesraan. Tak ada amarah yang terlihat. Semua berganti kemesraan yang tak mampu dikatakan. Kiara tersenyum sendiri melihat kakaknya Rafa. Seakan luluh dengan satu kata dari Hana. Bukan takut atau ingin menghiba pada Hana. Namun Rafa melupakan keegoisannya, agar Hana tak lagi marah dan menangis. Pengertian sederhana, tapi akan sulit dilakukan. Jika kita sama-sama bersikap egois dan merasa paling benar sendiri.


Kiara belajar sesuatu, dari apa yang dia lihat dalam hubungan kedua kakaknya? Bukan hanya cinta yang dibutuhkan dakam sebuah rumah tangga. Namun pengertian dan saling memahami. Mengalah yang tak berarti kalah. Agar tak ada pertengkaran yang fatal. Mengalah selama tidak terhina, hanya demi sebuah kedamaian. Sebab pengertian tidak mudah dipahami. Namun pertengkaran mudah terjadi, saat amarah dan keangkuhan mengusai. Kiara melihat betapa cinta merubah kakaknya Rafa. Menjadi sosok yang penuh pengertian dan peduli akan perasaan Hana yang lembut.


"Kiara, minta Rizal mengeluarkan mobil kakak. Jika kamu bersedia ikutlah, agar kak Hana ada yang menemani. Kakak akan mengambilkan baju hangat milik kak Hana. Lalu memeriksa Fathan sebelum kita pergi!" tutur Rafa, Kiara mengangguk mengerti. Kiara berjalan meninggalkan Rafa dan Hana. Dia mencari Rizal yang kebetulan masih ada di bawah. Rizal masih terjaga di ruang tengah. Terlihat Rizal sedang mengutak-atik laptopnya. Kiara mendekat dan mengajak Rizal untuk pergi keluar. Sekadar ingin mencari udara segar, menghilangkan kepenatan sebentar saja. Mungkin angin malam tidak terlalu bagus. Tapi langit malam menyimpan keindahan yang tidak mampu dikatakan.


Rafa mengambilkan Hana baju hangatnya. Rafa membantu Hana memakainya, dengan sabar Rafa menghadapi sikap manja Hana. Rafa melihat tangis yang berganti senyum dalam sekejap mata. Kebahagian sederhana seorang Hana yang terkadang sangat sulit digapapinya.


"Kak Rafa maaf, jika aku selalu menyudutkanmu dengan masa lalumu. Bukan maksudku ingin melukaimu. Namun kenangan itu seolah ingin mengatakan padaku. Betapa tak berharganya diriku bagimu. Aku merasa tak pernah ada bersamamu. Terlalu banyak kenangan-kenanganmu bersama orang lain. Kenangan yang sama, seakan ingin kuukir denganmu. Aku ingin dirimu mengingat diriku, dalam setiap tempat yang pernah ada dalam masa lalumu. Mungkin aku egois, tapi aku terlalu takut kehilangan dirimu. Cinta ini membuatku takut kehilanganmu. Cinta ini membuatku iri akan masa lalumu. Cinta ini membuatku angkuh akan kelemahanku menerima masa lalumu. Bahwa masa lalumu terlalu banyak menyimpan kenangan yang tak pernah ada dalam masa depanmu bersamaku!" batin Hana sembari menatap wajah Rafa yang sangat tenang. Rafa terus membantu Hana memakai baju hangatnya. Rafa benar-benar takut Hana kedinginan.


"Sayang, seandainya aku mampu merubah masa laluku. Tak pernah aku ingin memiliki masa lalu. Sebab adanya masa laluku, kamu akan selalu merasa tak berarti bagi diriku. Aku mengerti jika dirimu ingin mengukir kenangan yang sama denganku. Kenangan yang pernah ada bersama wanita lain. Fakra itulah yang seakan membuat sesak napas. Aku tak pernah ingin melihatmu tersiksa dengan masa laluku. Sebab masa depanku denganmu jauh lebih berharga!" batin Rafa, seakan ingin mengatakan pada Hana. Hanya Hana yang paling penting dalam hidupnya kini.


...☆☆☆☆☆...


Hana berdiri tepat di bibir pantai, di bawah langit malam yang gelap. Angin laut bertiup sangat kencang, menyentuh wajah Hana. Meninggalkan rasa dingin yang seakan menusuk tembus kulit Hana. Rafa dan Rizal berdiri tepat di samping mobil. Pandangan mereka tak lepas pada Hana dan Kiara yang sedang berada di tepi pantai.

__ADS_1


Lama Hana merasakan perpaduan alam yang sangat nyata. Langit yang terlihat indah dengan hadirnya bintang-bintang kecil. Laut yang terlihat sangat menakutkan, ketika cahaya tak lagi menyinarinya. Angin yang terasa begitu dingin menebus tulang. Sedingi hati seseorang yang tak memiliki cinta. Lalu Hana mulai tersadar, saat sebuah suara memanggil namanya. Sebuah suara yang sangat dikenalinya.


"Hana!" sapa Sesilia Anastsya, seketika Hana menoleh dengan tatapan penuh keterkejutan. Hana tak menduga jika akan bertemu Sesil di tempat ini. Wanita dalam masa lalu Hana dan kini berada di tempat yang pernah menyimpan kenangan diantara mereka. Lama Hana terdiam, terkejut akan kedatangan Sesil. Hana mulai tersadar saat Kiara memanggilnya.


"Kak Hana baik-baik saja! Kak Sesil memanggilmu!" ujar Kiara, Hana tersadar lalu mengangguk pelan. Dengan senyuman Hana membalas sapaan Sesil. Tanpa ada yang meminta Kiara menjauh dari Hana dan Sesil. Kiara merasa ada banyak yang ingin mereka katakan. Pertemuan tak terduga ini terjadi bukan tanpa alasan. Pasti ada maksud dbalik pertemuan ini. Sebuah penegasan akan posisi masing-masing.


"Sesil apa kabar? Kuharap kamu baik-baik saja!" sapa Hana balik, Sesil tersenyum ke arah Hana. Seakan mengisyaratkan dirinya baik-baik saja. Setelah menyapa sepintas, Hana dan Sesil menatap laut yang tenggelam dalam kegelapan. Sesuatu yang selalu dilakukan Rafa dulu. Dua wanita yang mencintai satu nama. Hana ingin mencari alasan kenyamana yang dirasakan Rafa ketika berada disini. Sebaliknya Sesil mengingat kenangan-kenangan dulu aaat dirinya masih bersama Rafa. Kenangan yang mulai memudar dan menghilang. Hanya meninggalkan luka yang terus menganga.


"Sedang apa kamu disini? Sudah sangat malam, bukankah angin malam sangat tidak baik bagi kesehatan ibu hamil. Aku yakin Rafa melarangmu, sebab Rafa tidak pernah bisa membiarkan seorang wanita terluka. Dia sangat peduli pada wanita. Rafa akan sangat cerewt bila berhubungan dengan kesehatan!" ujar Sesil, Hana terdiam seraya menunduk. Sesil menatap jauh ke depan. Menatap laut yang hilang tertelan langit. Hana menarik napas panjang, seakan beban berat sedang dia pikirkan.


"Ternyata kamu sangat mengenal suamiku. Kamu bisa menebak semua pemikian suamiku dengan sangat tepat. Aku percaya hubungan diantara kalian sangat dekat dulu. Seandainya tak pernah ada diriku diantara kalian. Mungkin kini yang berada disampingnya. Tak lain dirimu seorang!" ujar Hana, Sesil membisu mendengar perkataan Hana. Entah sebuah pujian atau hinaan? Satu hal yang pasti, apa yang dikatakan Hana sangatlah benar? Dia seseorang yang menjadi penghalang hubungan diantara Sesil dan Rafa.


"Aku memahami Rafa, sebab aku pernah merasakan perhatian itu. Sisi hangat Rafa yang tersimpan rapat dibalik sifat pemarahnya. Perhatian yang menghilang dariku, bahkan alasan aku tak pernah bisa menjauh atau melupakan bayangan Rafa. Dia laki-laki yang menganggap wanita layaknya bunga mawar yang indah. Rafa menyentuh wanita dengan kelembutannya, sebab bunga mawar mudah patah dan layu!" ujar Sesil lalu mendongak ke atas menatap langit malam yang gelap.


Hana terdiam membisu, cemburu hal yang wajar. Tapi bukan cemburu yang membuat Hana terdiam. Luka hati Sesil yang terdengar nyata dari setiap perkataannya. Hana merasa iba, kala dia melihat seorang wanita begitu mencintai suaminya. Tanpa sedikitpun berpikir ingin melupakannya.


"Apa yang sedang terjadi sekarang? Seseorang berdiri tepat di sampingku. Dia mengenal suamiku melebihi diriku. Dia tak lain wanita yang pernah mengisi kekosongan hati kak Rafa. Sanggupkah telingaku mendengar, dia mengagumi suamiku!" batin Hana pilu.

__ADS_1


...☆☆☆☆☆...


__ADS_2