
Pagi ini baby Fathan tiba-tiba panas. Semalam memang tidurnya sedikit tidak tenang. Hidungnya sedikit tersumbat sehingga susah bernapas. Mungkin baby Fathan sedang flu. Dengan sigap dan tenang, Hana membawa baby Fathan ke rumah sakit.
Rafa sengaja mempekerjakan supir pribadi untuk Hana. Agara Hana lebih mudah bila pergi kemanapun? Takutnya Rafa tidak bisa mengantar. Seperti saat ini, saat Hana harus segera membawa baby Fathan ke rumah sakit. Panas tubuh baby Fathan sangat tinggi. Sangat tidak mungkin bila Hana merawatnya sendiri.
Hana membawa baby Fathan sendiri. Saat di perjalanan, Hana sempat menghubungi Rafa. Namun ponsel Rafa mati, tanpa pamit pada Rafa. Hana membawa baby Fathan ke rumah sakit. Sekitar setengah jam, akhirnya Hana sampai di rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Hana langsung menuju poli anak. Hana mengantri seperti yang lain. Hana tidak ingin membedakan dirinya dengan yang lain. Semua antri sesuai aturan, sama halnya Hana yang mengantri meski bisa saja dia masuk lebih dulu.
"Hana, ada apa dengan putramu?" sapa Naufal, Hana menoleh ke arah Naufal. Terlihat seorang dokter tampan, raut wajah dewasa jelas terlihat dari rapi penampilannya. Ketampanan Naufal tidak memperlihatkan usia yang sudah hampir memasuki kepala empat. Naufal selalu tersenyum setiap bertemu dengan orang. Itulah rahasia dibalik raut wajah yang terlihat tampan dan teduh.
"Apa kabar dokter tampan? Semakin terlihat berwibawa dengan jas putihnya!" ujar Hana, Naufal tersenyum mendengar pujian Hana. Naufal menyentuh kening baby Fathan, terasa panas. Seketika wajah Naufal panik, Naufal cemas setelah merasakan panas suhu Baby Fathan.
"Hana, tubuh Fathan sangat panas. Dia harus segera mendapat penanganan. Aku akan memeriksanya, kita ke ruanganku. Jika tidak kita langsung masuk ke IGD!" ujar Naufal cemas, Hana menggeleng lemah. Naufal terperanjat kaget melihat penolakan Hana.
"Kenapa Hana? Aku sendiri yang akan memeriksanya. Aku takut terjadi sesuatu pada Fathan!" ujar Naufal cemas, sekali lagi Hana menggeleng. Dengan tenang Hana menggendong baby Fathan, sembari tersenyum Hana menoleh pada Naufal. Sedangkan baby Fathan sedikitpun tidak rewel atau menangis dalam gendongan Hana.
"Dokter Naufal, Fathan tidak apa-apa? Dia hanya demam, mungkin karena flu. Dia bisa menunggu seperti yang lain. Mereka jauh lebih butuh pertolongan, tapi mereka tetap mengantri. Fathan akan melakukan hal yang sama. Dia akan menunggu giliran dengan sabar!" ujar Hana, Naufal mengangguk pelan. Sifat inilah yang membuat Naufal tak pernah mampu melupakan Hana. Keteguhan Hana mementingkan orang lain lebih dulu. Kesederhanaan yang takkan pernah bisa berubah. Hana mungkin hidup dalam kemewahan, tapi dia tetap Hana khairunnissa yang dia kenal. Sederhana tanpa berpikir lebih tinggi dari orang lain.
Naufal memandang wajah Hana yang takkan lagi mampu dia miliki. Wajah yang sepenuhnya telah memilih Rafa Akbar Prawira sebagai langi pelindungnya. Langit yang bersama panas matahari, mendekap hangat Hana dikala dingin dan sepi hatinya. Langit dan bintang kecil, yang memberikan kebahagian dalam sedihnya. Langit bersama bulan yang menenangkan dikala gelisahnya. Langit yang selalu ditatap Hana di setiap waktu terpuruknya. Langit yang selalu diharapkan Hana dalam setiap sujudnya. Langit itu tak lain Rafa Akbar Prawira.
Naufal menyadari benar kekalahannya. Cintanya harus kalah akan ketulusan Rafa pada Hana. Mungkin Naufal sempat berpikir, Hana mencintai Rafa hanya karena terpaksa. Namun saat Naufal berhadapan langsung dengan Rafa. Naufal melihat jelas, betapa besarnya cinta Rafa pada Hana. Dengan mudah Rafa memberikan bantuan, tanpa takut akan terjatuh dan rugi. Selama itu demi satu kata dari Hana. Kedua kalinya Naufal melihat ketakutan Rafa akan kehilangan Hana, saat dia mengatakan akan menggandeng tangan Hana bila terlepas darinya. Diam Rafa seakan bukti ketakutannya kehilangan Hana.
__ADS_1
Bertahun-tahun cinta Naufal untuk Hana, kuat tak tergoyahkan. Kini harus ikhlas untuk mengakui cintanya kalah oleh ketulusan cinta Rafa. Naufal melihat kebahagian dari kedua mata Hana. Kebahagian yang tak pernah mampu dia berikan. Rafa mampu berjuang demi Hana. Sebaliknya Naufal tetap lemah, tanpa mampu berjuang.
"Hana, kelembutan dan kesederhanaanmu, yang membuatku sulit melupakanmu. Entah kebaikan apa yang pernah Rafa lakukan? Sehingga dia bisa memiliki cinta sucimu. Seandainya mama Annisa layaknya dirimu. Takkan pernah Annisa menjadi putri terbuang. Kehangatanmu mendekap Fathan, membuatku menangis mengingat putriku tumbuh tanpa dekapan mamanya. Hanya pelukan pengasuh yang selalu dia rasakan!" tutur Naufal lirih, Hana mengangguk pelan. Dia melihat raut wajah Naufal sedih. Dengan tersenyum Hana menatap wajah Naufal.
"Kak Naufal, meski Annisa tumbuh tanpa dekapan mamanya. Dia akan tumbuh dengan pelukan hangat dirimu. Langit yang akan selalu melindunginya, langit yang akan menemaninya. Annisa akan bangga memikili papa sepertimu. Jadikan Annisa putri dengan iman dan islam sebagai pegangan. Sebab hanya itu sebaik-baiknya pegangan saat ini. Aku yakin kelak akan ada wanita yang mampu menjadi ibu dan istri terbaik. Dia akan menjadi pelita dalam keluarga kecil kalian. Dia akan membawa kebahagian dalam hidupmu dan Annisa. Jangan meragukan ketetapan-NYA. Jangan lupa Allah Swt sebaik-baiknya pemberi keputusan" tutur Hana, Naufal mengangguk pelan. Sekali lagi kebijaksanaan Hana mengetuk pintu hati Naufal. Han sosok wanita yang didambakan Naufal menjadi istri dunia akhiratnya. Namun kini hanya sebuah angan yang takkan mampu terwujud. Naufal jauh dibawah Rafa, secara hati dan harta. Besar cinta Rafa telah terbukti dengan nyata. Kekayaan Rafa mampu membuat Hana hidup penuh kemewahan.
Tak terasa hampir setengah jam lebih Hana dan Naufal saling berbicara. Tiba giliran Fathan masuk ke dalam poli anak. Hana meninggalkan Naufal sendiri dengan tatapan yang tak mampu diartikan. Sebaliknya kedua mata indah Rafa melihat kedekatan Hana dan Naufal. Sebuah kedekatan yang mengusik hatinya. Ada rasa ngilu dalam hatinya. Tubuh Rafa mematung melihat, betapa dekatnya Hana dan Naufal. Kenyamanan yang jarang terlihat oleh Rafa. Bahkan Hana tak pernah senyaman itu berbicara dengan Rafa.
"Sayang, apa yang kulihat hari ini nyatakah atau sebuah mimpi? Aku melihat betapa nyaman dan santainya dirimu berbicara dengan Naufal. Kenyamanan yang tak pernah aku berikan padamu. Haruskah aku cemburu melihat semua ini. Mungkinkah kamu mencintaiku, tapi nyaman bersamanya. Akankah tangannya yang menggenggam tanganmu, kala tanganmu terlepas dari genggamanku. Sayang, aku mohon, cukup sekali aku melihatmu nyaman bersama Naufal. Sakit, sungguh sakit. Lebih baik terluka karena pisau, saat darahnya berhenti mengalir. Lukaku akan mengering dan tak terasa sakit. Namun luka ini, mampu membuat dadaku sesak seakan napasku berhenti!" batin Rafa.
Rafa datang setelah menghubungi supir pribadi Hana. Rafa melihat notif panggilan tak terjawab dari Hana. Rafa tidak mengetahui jika ponselnya mati. Saat Rafa menghubungi Hana, gantian ponsel Hana yang tidak bisa dihubungi. Rafa cemas memikirkan alasan Hana menghubunginya. Akhirnya Rafa menghubungi supir pribadi Hana.
Rafa terkejut saat mengetahui Hana pergi ke rumah sakit untuk mengantar Fathan. Secepat mungkin Rafa menuju rumah sakit. Dia meninggalkan rapat pentingnya demi segera menemui Hana. Rafa sangat cemas memikirkan kondisi Fathan.
"Tuan Rafa, anda datang menjemput Hana!" sapa Naufal yang berpapasan dengan Rafa di lorong tak jauh dari poli. Seketika Rafa mendongak, dengan senyum kikuk Rafa menyapa Naufal.
"Aku baru saja tahu jika Fathan dibawa ke rumah sakit. Saat aku datang, aku melihat Hana baru saja masuk poli anak. Jadi aku belum sempat menemui Hana!" ujar Rafa berbohong, Naufal mengangguk seraya tersenyum. Rafa sengaja menutupi fakta, dia melihat Hana dan Naufal bicara berdua.
"Iya, Hana baru saja masuk. Sebenarnya aku sudah menawarkan padanya, untuk memeriksa Fathan di IGD. Namun Hana menolak, dia ingin menunggu giliran sesuai antrian. Jadi aku sempat berbicara berdua dengannya!" ujar Naufal jujur, Rafa mengangguk. Naufal merasa tidak ada yang perlu ditutupi dari Rafa. Sebab langit Hana sudah terpilih, bagi Naufal tidak akan ada dua langit untuk satu bulan. Dengan penuh keikhlasan Naufal bertekad melepas Hana. Sebaliknya semenjak perkataan Naufal saat itu. Rafa selalu dihantui rasa cemas akan kehilangan Hana.
"Anda sudah mengenal siapa istri saya? Jadi sudah jelas dia akan memilih mengantri. Sifat sederhana Hana tidak akan pernah bisa berubah. Meski kemewahan terpampang nyata di depannya!" ujar Rafa, Naufal mengangguk penuh ketegasan.
__ADS_1
"Tuan Rafa benar, Hana akan tetap sederhana. Sebab bulan akan tetap menunduk, meski keindahannya tak bisa diragukan. Anda beruntung telah menjadi langitnya. Sesuatu yang pernah aku impikan, tapi kini hanya sebuah angan semata!" ujar Naufal lirih seraya menunduk. Rafa melihat nyata seorang laki-laki kalah oleh cinta Hana. Dia laki-laki yang mengagumi istrinya dengan sepenuh hati.
"Kak Rafa, kapan datang?" sapa Hana setelah keluar dari poli. Rafa menoleh sembari menghampiri Hana. Dia mengambil Fathan dari Hana, lalu menggendongnya dengan hati-hati. Rafa mencium pipi gimbul Fathan. Rafa meluapkan kecemasannya saat mendengar Fathan sakit. Naufal melihat sikap hangat Rafa pada Fathan. Kasih sayang seorang ayah yang luar biasa. Hana menatap wajah Rafa yang penuh kecemasan dan kerinduan.
"Tidak perlu cemas, Fathan hanya demam. Setelah meminum obat, dia akan lebih baik. Sebaiknya kita segera pulang, kasihan Fathan sudah sangat lelah!" ujar Hana, Rafa mengangguk. Naufal melihat keluarga kecil Hana, kini bulan telah menemukan langit dan bintang sejatinya.
"Hati-hati di jalan, aku juga harus bersiap. Sebentar lagi akan ada operasi. Aku permisi dulu!" pamit Naufal, Hana dan Rafa mengangguk pelan. Naufal meninggalkan keluarga kecil yang penuh cinta dan kehangatan.
"Kak Rafa, kenapa harus diam melihatku dan Naufal bicara berdua? Kenapa tidak datang menghampiriku? Kak Rafa marah melihatku bersama Naufal!" ujar Hana lirih, Rafa mendongak kaget lalu seketika menggeleng.
"Lebih tepatnya aku cemburu, kamu sangat nyaman berbicara dengan Naufal. Aku seakan tersisih, melihatmu begitu dekat dengan Naufal secara emosional. Tak ada beban saat berbicara dengannya!" tutur Rafa lirih, Hana tersenyum mendengar keluhan Rafa. Hana bergelayut manja pada lengan Rafa. Dia menyandarkan kepalanya pada bahu Rafa.
"Kak Rafa, langitku dan tidak mungkin ada dua langit untuk satu bulan. Meski aku merasa nyaman bersama kak Naufal, tapi hatiku hanya milikmu. Muhammad Fathan Alfarizqi buah cinta kita saksi bisu besarnya cintaku padamu. Bukankah arti nama putra kita, laki-laki pemenang dan pembawa riski. Sebab dia bukti kemenangan cintaku akan pesimisnya orang akan keteguhan cintaku. Dia riski terindah dalam pernikahan dan cinta suci kita. Jadi masih perlukah cemburumu. Seandainya cemburu itu ada. Jangan jadikan itu alasan yang membuat kita terpisah. Cepatnya aku cemburu pada Mila, dengan cepat pula aku percaya padamu!" tutur Hana lirih sembari menyandarkan kepalanya pada Rafa. Tiba-tiba tangan Kanan Rafa merangkul, sedangkan tangan kirinya menggendong Fathan.
CUP
"Aku akan menjadi pelindung kalian. Jangan pernah tinggalkan aku. Duniaku terhenti tanpa wajahmu!" ujar Rafa, sesaat setelah mencium puncak kepala Hana.
"Hana, akhirnya aku harus benar-benar mengikhlaskanmu. Akankah aku mampu membuang rasa cinta yang telah bersemi bertahun-tahun ini!" batin Naufal yang tanpa sengaja menoleh melihat Rafa merangkul dan menggendong Fathan sekaligus. Kehangatan keluarga yang tak pernah mampu dia berikan pada Annisa putrinya.
...☆☆☆☆☆...
__ADS_1
TERIMA KASIH😊😊😊