KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Perjalanan ke luar kota


__ADS_3

"Papa, aku langsung berangkat. Aku harus memeriksa pasienku. Setelah itu aku langsung berangkat menuju ponpes om Rizal!" ujar Faiq, lalu dia duduk tepat di samping Rafa. Faiq meminum susu yang selalu Hana siapkan untuk kedua jagoanya. Sejujurnya baik Fathan dan Faiq tidak suka meminum susu. Namun demi senyum sang mama. Mereka meminumnya tanpa banyak mengeluh.


"Faiq, sebaiknya kamu sarapan dulu. Kamu tidak perlu terburu-buru pergi ke rumah Rizal. Mereka pasti menunggumu. Papa tidak ingin kamu jatuh sakit!" ujar Rafa, Faiq menggeleng lemah. Faiq harus segera berangkat, agar tidak kesiangan di jalan. Banyak tugas yang harus Faiq kerjakan sebelum pergi ke luar kota. Faiq bukan pribadi yang lupa akan tanggungjawabnya.


Hana keluar dari dapur membawa sarapan. Fathan baru saja turun. Dia duduk di sebelah Faiq. Fathan terlihat lesu, kedua matanya sayu seakan kurang tidur. Semalaman Fathan tidak bisa tidur. Annisa belum menjawab pinangannya. Entah kenapa Annisa begitu sulit menerima pinangan Fathan? Annisa memiliki ganjalan yang tidak bisa dia katakan. Annisa masih ragu akan menerima atau menolak Fathan. Sebaliknya Fathan tetap yakin bisa memiliki Annisa sepenuhnya. Menjadikannya makmum dunia alkhirat.


"Faiq, sarapan dulu mama sudah memasak makanan kesukaanmu. Lagipula ada yang spesial datang pagi-pagi. Dia khusus datang untuk membuatkanmu sarapan. Kasihan dia sudah susah payah memasak, setidaknya makanlah sedikit. Setelah itu kamu bisa pergi!" ujar Hana, Faiq menggeleng lemah. Dia sudah harus berangkat, jika tidak dia akan terlambat. Rafa dan Fathan tersenyum simpul. Mereka mengetahui orang yang dimaksud Hana. Namun siapapun dia yang datang? Faiq seakan tidak peduli.


"Maaf mama, kali ini Faiq harus mengecewakan mama. Aku harus memeriksa beberapa pasien sebelum berangkat ke luar kota. Aku juga harus menjemput Vania di bandara. Aku takut Vania menunggu terlalu lama. Mama tahu sendiri, Vania kalau marah. Bisa-bisa Faiq tidak bisa bekerja besok!" ujar Faiq lirih, Fathan menunduk sembari menutup mulutnya. Dia menyembuyikan senyumannya. Fathan takut Faiq tersinggung bila melihatnya tersenyum. Fathan tersenyum bukan bahagia untuk Faiq. Tapi dia menertawakan sang adik yang kini berada diantara dua wanita. Meski Faiq tidak menyadari posisinya sekarang.


Faiq berdiri meninggalkan meja makan. Dia menghampiri Rafa dan Hana. Dia mencium punggung tangan mereka bergantian. Belum jauh Faiq berjalan dari meja makan. Dia berhenti dengan kedua mata membulat sempurna. Faiq terkejut melihat Davina berdiri di depan pintu dapur. Faiq terkejut bukan karena keberadaan Davina. Namun air mata Davina yang menetes membuat Faiq heran.

__ADS_1


"Mama, kenapa dia datang pagi sekali? Memangnya dia ada urusan apa?" ujar Faiq dingin, tangis Davina semakin pecah. Dia melihat Faiq seakan tidak peduli padanya. Fathan dan Rafa kompak menggelengkan kepala. Mereka heran melihat sikap Faiq yang tidak peka. Jelas-jelas Davina marah dan cemburu mendengar perkataan Faiq yang akan menjemput Vania.


"Faiq, dia khusus datang membuatkan sarapan untukmu. Tapi kamu malah mengacuhkannya, kamu lebih peduli pada perasaan Vania daripada perasaannya. Kamu sungguh tega, tidak berhati!" ujar Fathan menggoda Faiq. Davina menunduk kesal pada Faiq. Sebaliknya Faiq sangat tidak peduli dengan keadaan Davina. Entah terbuat dari apa hati Faiq? Kenapa begitu dingin dan keras seperti batu? Davina sungguh tidak mengerti, kenapa Faiq bisa sedingin itu? Padahal mereka sudah secara sah menjadi tunangan. Davina berharap Faiq bisa sedikit bersikap hangat.


"Tidak ada yang memintanya datang. Lagipula apa dia tidak punya pekerjaan? Pagi-pagi sudah ada disini. Bukan aku melarangnya datang, tapi kak Fathan lihat sendiri. Tidak ada angin atau hujan. Dia sudah menangis, seolah-olah aku telah menyakitinya. Lalu aku harus bersikap seperti apa? Aku jadi bingung menghadapinya. Dia datang sendiri, saat dia menangis aku yang disalahku!" sahut Faiq kesal, Davina semakin terisak mendengar perkataan Faiq. Kekesalan Davina seketika menghilang. Kini yang dia rasakan hanya kecewa dan sakit hati. Faiq tidak pernah menganggapnya ada. Dia seolah tidak peduli pada perasaannya.


"Faiq, apa dokter Annisa akan ikut denganmu? Apa dia menjadi salah satu relawan dari rumah sakit?" ujar Fathan, Faiq mengangguk seraya mengacungkan jempol. Annisa memang masuk dalam relawan yang akan berangkat menuju pondok pesantren milik keluarga Rizal. Sebenarnya Faiq yang secara khusus meminta bantuannya.


"Dokter Annisa akan ikut bersamaku. Bahkan dia akan satu mobil denganku. Aku sengaja memintanya ikut. Dokter Annisa selalu suka, jika dia ikut ke tempat-tempat yang tenang dana sejuk. Kebetulan dokter Annisa ikut, kenapa kak Fathan tidak ikut juga? Kita bisa mengunjungi om Rizal bersama-sama. Sekaligus memperkenalkan calon istrimu!" ujar Faiq, Fathan menggeleng lemah. Lalu Faiq berjalan meninggalkan meja makan. Dia melewati Davina yang sejak tadi kesal. Sikap Faiq seolah tidak melihat keberadaannya.


"Kenapa menangis? Cemburu aku akan menjemput Vania. Aku heran pada diriku sendiri, kenapa aku bisa mencintai wanita sepertimu? Kamu mencintaiku, tapi tidak mempercayaiku!" ujar Faiq lirih, Davina mendongak menatap wajah Faiq. Davina menelan ludahnya kasar, dia tidak terkejut mendengar perkataan Faiq.

__ADS_1


"Maksudmu kak Faiq berkata seperti itu? Kak Faiq menyesal bertunangan denganku. Aku hanya wanita biasa yang memiliki hati. Seandainya aku bisa, aku tidak ingin cemburu padamu. Rasa cintaku padamu, membuatku kehilangan akal. Aku seakan takut kehilanganmu. Pesonamu membuat semua mata kaum hawa terpana. Sekarang salahku jika aku cemburu mendengarmu menjemput wanita lain. Bukan aku yang salah, tapi kak Faiq yang terlalu meremehkan cintaku!" sahut Davina kesal, Faiq menatap tajam ke arah Davina. Dia tertegun mendengar Davina memgatakan isi hatinya. Ada rasa bahagia, saat mendengar Davina begitu mencintainya.


"Terserah pendapatmu apa? Aku sudah menyimpan rasa ini bertahun-tahun. Selama ini tidak ada wanita lain yang bisa membuatku melupakanmu. Tidak ada nama lain yang tertulis dihatiku. Hanya bayanganmu yang ada dalam benakku. Senyummu alasan aku bahagia. Jika pesonaku membuat banyak wanita terpesona. Semua itu bukan salahku, tapi keberuntunganku yang terlahir dari cinta papa dan mama. Sehingga aku memiliki paras setampan papa dan sifat sedingin mama. Selama ini aku teguh pada cintaku. Aku tidak cemburu bila melihatmu bersama laki-laki lain. Bukan aku tidak mencintaimu, tapi aku mempecayaimu dengan sepenuh hati. Aku percaya kamu tulang rusukku yang hilang. Tidak ada keraguanku, seperti dirimu yang selalu ragu padaku. Kita hanya manusia biasa, tidak ada yang pasti di dunia ini. Termasuk hubungan diantara kita. Jika kamu mencintaiku, maka cintai aku dengan iman. Pasrahkan aku pada Allah SWT, hanya doa dalam sujudmu yang akan membuatku tetap bersamamu!" tutur Faiq, lalu tangannya mengusap pelan kepala Davina yang tertutup hijab. Faiq meninggalkan Davina yang bingung memahami perkataan Faiq. Rafa dan Fathan tersenyum mendengar Faiq. Cara pandang yang sama akan ditunjukkan Hana. Sebaliknya Hana menatap bayangan Faiq yang mulai menghilang. Dia menghampiri Davina.


" Dia begitu mencintaimu, lihat saja sendiri. Dia begitu peduli dengan satu tetes air matamu. Hanya saja dia berbeda dengan kita. Faiq bukan pribadi yang bisa mengungkapkan isi hatinya. Dia selalu menyimpan suka dan dukanya dalam hati. Namun baru saja mama mendengar. Faiq mengungkapkan semua isi hatinya. Hanya demi kamu bisa memahami perkataannya. Dia tidak ingin kamu salah paham. Hanya kamu yang bisa membuat Faiq berubah. Terima kasih telah mencintai putra mama. Bersabarlah menghadapi keras hatinya, tapi kelak kamu akan merasakan cinta yang begitu besar darinya!" ujar Hana, Davina mengangguk pelan. Davina selalu yakin akan cintanya, tapi dia belum bisa mengendalikan rasa cemburunya. Cintanya pada Faiq terlalu besar. Sehingga hanya rasa takut kehilangan yang dia rasakan.


"Daripada kamu menangis disini. Ikutlah denganku keluar kota. Hubungi tantr Diana, jika kamu akan ikut denganku. Jika tidak aku akan pergi sendiri!" ujar Faiq dingin. Dia kembali ke dalam untuk mengajak Davina. Faiq takut bila Davina salah paham dan berpikir buruk tentang hubungannya dengan Vania sepupunya.


"Aku ikut!" teriak Davina, sembari berlari mengejar Faiq.


"Mereka akan menjadi pasangan yang paling bahagia, seperti kita!" ujar Rafa sembari memeluk Hana dari belakang. Kepalanya bersandar pada bahu Hana.

__ADS_1


"Amin!"


__ADS_2