
Dalam semalam Rizal dan Kiara resmi menjadi sepasang suami istri. Sabrina harus mengakui kelebihan yang dimiliki Rizal. Tanpa Kiara ketahui, Rizal datang ke rumah keluarga Prawira. Dengan keteguhan hati dan kebesaran jiwa. Rizal datang bersama Rafa melamar Kiara . Awalnya Sabrina menolak, tapi setelah semua persyaratannya dipenuhi. Akhirnya Sabrina menyetujui pernikahan diantara keduanya.
Rizal sudah berjanji dalam hati, akan memperjuangkan Kiara dengan cara apapun. Setelah memenuhi semua permintaan Sabrina. Rizal secara resmi melamar Kiara. Bahkan Rizal meminta menikah pada malam harinya. Demi sebuah pesta yang diinginkan Sabrina. Rizal dan Rafa mengerahkan tim khusus untuk mempersiapkan pesta pernikahan seperti yang diharapkan Sabrina. Sebuah pesta yang siap dalam hitungan jam. Rafa dan Rizal seolah menjadi sahabat sekaligus saudara ipar yang kompak.
Meski acara dihiasi amarah dan kecemburuan Hana. Namun semua terlaksana dengan sangat lancar. Rizal resmi menjadi imam dunia akhirat Kiara. Setelah pesta pernikahan, Rizal dan Kiara pulang ke rumah Rafa. Sebenarnya Rizal ingin membawa Kiara ke apartemen yang sengaja dibelinya beberapa hari yang lalu. Namun dengan halus Kiara menolak. Rasa terkejut akan pesta pernikahannya belum reda. Kiara tidak ingin terkejut kembali untuk sesuatu yang lain. Kebenaran siapa sebenarnya Rizal sedikit membuat Kiara terkejut. Dia tidak mengira, jika ustad Rizal sang idola. Tak lain pengusaha yang sukses, meski jauh dibawah sang kakak.
Malam ini kedua pengantin akan tinggal di rumah Rafa. Khusus sang pengantin Rafa telah menghias kamar Kiara, untuk mereka malam pertama mereka berdua. Kiara tidak pernah menyangka pernikahannya dengan Rizal akan secepat ini. Terlalu banyak hal yang mendadak membuat Kiara bingung harus mengatakan apa? Pernikahan yang biasa dipersiapkan berbulan-bulan. Hanya dalam sehari semua dipersiapkan, dengan hasil yang sangat memuaskan. Pernikahan yang selalu diimpikan seorang wanita. Penuh dengan kehangatan dan cinta keluarga. Rafa dan Rizal bekerja sama demi terlaksananya pernikahan megah ini. Sebuah pernikahan yang sangat didambakan seorang wanita.
Tok Tok Tok
Terdengar suara pintu kamar Kiara diketuk dari luar. Kebetulan acara baru saja selesai, Kiara dan Rizal memutuskan langsung kembali ke rumah Rafa. Rizal terperangah melihat kamar Kiara yang begitu rapi dan sederhana jauh dari kata mewah. Memang semenjak Kiara masuk pesantren. Dia tidak pernah menggunakan barang-barang mewah. Bahkan sekadar ponsel pintar Kiara sudah tidak memilikinya. Dia enggan menggunakan barang-barang yang membuatnya lupa diri. Jika di kamar yang ada di rumah keluarga Prawira. Hampir seluruh kamarnya dipenuhi dengan barang-barang mewah. Sebab itulah Kiara enggan pulang ke rumah keluarga Prawira.
Rizal yang tengah duduk memeriksa email yang masuk. Seketika berdiri untuk membukaka pintu. Kiara sedang berada di kamar mandi. Hampir setengah jam Kiara di kamar mandi. Rizal menyadari jika seorang wanita membutuhkan waktu yang cukup lama untuk membersihkan diri. Apalagi ini malam pertama mereka, Rizal menyadari jika Kiara gugup menghadapi Rizal. Malam yang selalu ditunggu oleh pasangan pengantin. Malam penyatuan dua insan yang mengikrarkan janji suci. Sebuah ikatan suci yang membuang jauh jarak diantara mereka berdua. Setelah malam ini takkan ada jarak diantara Rizal dan Kiara. Sepenuhnya Kiara halal bagi Rizal.
"Siapa?" sapa Rizal sembari membuka pintu. Terlihat Rafa berdiri mematung di depan kamar. Dia membawa paper bag kecil berisi pakaian ganti Rizal. Rafa sengaja membelikan pakaian untuk Rizal. Dia mengetahui jika sahabatnya tidak membawa pakaian sama sekali. Rafa tersenyum simpul melihat Rizal. Seakan mengatakan bahagiannya Rafa melihat Rizal secara resmi menjadi imam dunia akhirat Kiara adiknya.
"Ini pakaian gantimu, aku meminta Adrian membelikannya untukku. Aku rasa ukuran kita sama, jadi aku yakin pakaian ini pasti sesuai denganmu. Bukankah kamu tidak membawa pakaian ganti. Tidak mungkin kamu akan memakai pakaian yang sama sampai besok pagi. Ustad Rizal tidak mungkin terlihat lusuh dimalam pertamanya!" ujar Rafa lirih, Rizal menerima paper bag dengan mengangguk pelan. Rizal melihat Rafa sedang menoleh kesana kemari. Rafa seolah mencari seseorang di dalam kamar. Rizal terrsenyum melihat tingkah sahabatnya yang kini menjadi kakaknya. Dia mengerti kemana arah pandangan Rafa? Siapa yang sedang dicari oleh Rafa. Sedikit banyak Rizal mengetahuinpola pokir Rafa sahabatnya.
__ADS_1
"Dia masih berada di kamar mandi. Jadi tidak perlu mencarinya. Tenang saja aku tidak akan memaksa. Meski ini malam pertama kami, aku tidak akan memintanya malam ini. Masih banyak malam yang lain. Malam ini sebagai tanda, jika aku sudah memiliki Kiara sepenuhnya. Jadi sangat tidak mungkin aku memaksa Kiara. Jika memang dia tidak siap!" ujar Rizal, Rafa mengangguk sembari tersenyum. Rafa melihat Rizal yang begitu memahami dan mencintai Kiara. Dia mampu melihat cinta tulus dari kedua mata Rizal. Tidak akan ada yang mampu menyangkal semua itu. Termasuka Sabrina sang mama mertua. Wanuta yang haus akan harta dan kedudukan. Namun kenyataan siapa sebenarnya Rizal? Telah membungkam mulut Sabrina. Tanpa banyak berkata, akhirnya Sabrina menyetujui pernikahan Kiara dan Rizal.
"Semoga sukses merebut hati adikku. Malam ini duniamu akan berubah. Mungkin kita kuat, tapi kita akan sangat lemah bila sedang mencintai seseorang. Baik Hana dan Kiara akan merubah dunia kita yang penuh kepenatan. Mereka yang akan menjadi penghilang lelah kita setelah seharian hidup dalam tumpukan berkas. Terima kasih telah berkenan menjadi imam dunia akhirat adikku. Mulai malam ini, aku berikan tanggungjawab akan Kiara padamu. Setiap tawa yang ada di wajahnya. Akan ada dengan izin darimu, sebab dirimu yang bertanggungjawab langsung menghadirkannya. Setiap tetes air matanya akan menjadi lukamu, karena itu jangan pernag biarkan air matanya mengalir. Aku percayakan adikku padamu!" ujar Rafa sembari menepuk pundak Rizal pelan. Rizal mengangguk lalu memeluk tubuh Rafa erat. Pelukan yang dulu ada sebagai ungkapan cinta seorang sahabat. Kini berubah menjadi pelukan antara dua saudara ipar yang berjanji menjaga satu wanita.
"Kak Rafa tenang saja, Kiara sepenuhnya menjadi tanggungjawabku. Semua bahagia dan tangisnya menjadi amanahmu yang akan kujaga dengan segenap hatiku!" sahut Rizal sesaat setelah mereka berpelukan. Rafa mengangguk seraya tersenyum. Sekilas Rafa melihat Rizal sedang menyalakan laptop miliknya. Rafa bisa memahami kesibukan Rizal yang sesungguhnya. Terkadang waktu terasa sempit bila hidup dalam dunia Rafa dan Rizal. Semua seakan terlupakan, bahkan untuk istirahat saja tidak akan pernah sanggup.
"Ini malam pertamamu, tidak seharusnya laptop itu merebut waktumu dari Kiara. Atau mungkin kamu sedang gugup. Makanya kamu meluapkannya pada pekerjaan. Sudah malam istirahatlah, siapkan tenagamu untuk besok. Kita akan datang ke rumah utama. Bagaimanpun mama Sabrina ingin mengenal menantunya yang tampan? Kamu akan bertemu orang yang harus kamu hormati. Namun sesungguhnya tidak layak dihormati. Sebab baginya semua orang lebih rendah darinya!" goda Rafa, Rizal mengangguk mengerti. Lalu meninggalkan Rizal yang berdiri mematung di depan kamar. Rizal tak pernah menyangka jalan hidup yang tertulis. Kiara yang tak pernah dia kenal. Mampu membuatnya bertekuk lutut. Seakan dunia Rizal berputar disekitar Kiara. Persahabatnya dengan Rafa dulu, berubah menjadi persaudaraan yang nyata.
Rizal mengingat betapa besar dan teguhnya Mila menyimpan rasanya untuk Rafa. Kini bukan Mila yang menjadi bagian keluarga Rafa. Melainkan dirinya yang berubah status menjadi suami dari adik Rafa. Penolakan orang tua Rizal kala Rafa meminang Mila. Seakan menjadi jalan yang mempertemukan Rizal dan Kiara. Sebuah jalan jodoh yang tak pernah bisa diketahui. Sepenuhnya hanya Allah SWT sang pemilik hidup yang mengetahuinya. Sungguh indah dan menakjubkan jalan jodoh Rizal dan Kiara. Penuh dengan air mata dan tawa. Namun jalan jodoh sudah menggariskan Rizal yang menjadi bagian keluarga Prawira. Sebab itu dengan segala cara, akhirnya pertemuan Rizal dan Kiara tidak bisa dihindarkan.
"Ustad Rizal, kenapa malah melamun? Mandilah sekarang, sebelum malam semakin larut. Aku yakin ustad pasti lelah. Aku sudah menyiapkan handuk dan peralatan mandi. Aku pikir yang ustad pegang itu baju ganti. Nanti taruh saja pakaian kotornya di dalam. Besok pagi Kiara akan mencucinya!" ujar Kiara membuyarkan lamunan Rizal. Kiara berjalan menuju meja rias yang ada di samping tempat tidur. Rizal melihat bayangan Kiara dalam cermin. Lagi dan lagi Rizal tertegun melihat kecantikan Kiara. Aliran darah Rizal seakan terhenti. Dia begitu terpesona menatap Kiara yang terlihat sangat santai. Tidak ada beban, bahkan terkesan biasa dengan keberadaan Rizal di dalam kamarnya. Kiara berbeda dengan Kiara yang dia temui di pesantren. Terlihat lebih santai dan hangat.
"Kiara, kamu baik-baik saja! Aku merasa seperti tidak mengenalmu. Kamu terlihat berbeda dengan Kiara yang aku kenal dulu. Aku pikir akan menemukan dirimu yang malu dan gugup. Bahkan sekarang aku melihatmu tanpa hijab. Aku bermimpi atau memang kamu tidak merasa ada yang berbeda dari hubungan kita dulu dan sekarang!" ujar Rizal yang tertegun melihat sikap santai Kiara. Dia tidak melihat beban atau rasa malu dalam tatapan dan sikap Kiara. Rizal tidak pernah menyangka dia akan menemukan sisi lain Kiara.
"Kenapa ustad heran melihat sisi lain diriku? Bukankah ustad mengetahui, aku bukan wanita baik-baik sebelum masuk ke pesantren. Aku gadis yang melakukan semua hal demi kesenangan sesaat. Semua kesenangan remaja aku pernah merasakan. Berbelanja barang-barang mewah. Pergi berlibur dengan teman laki-laki yang bukan mukhrim. Bahkan kami menginap ditempat yang kami kunjungi. Tidur dalam satu tenda. Masih banyak sisi burukku, sekarang setelah mengetahui semuanya? Ragukah dirimu padaku. Jika memang ustad Rizal menyesal, masih ada waktu untuk meninggalkanku. Banyak sisi negatifku!" tutur Kiara lirih, Rizal menatap lekat wajah Kiara yang terlihat di cermin. Keduanya saling menatap dengan dengan pikiran masing-masing. Rizal merasa kesal dengan perkataan Kiara. Sebaliknya Kiara seolah kecewa dengan perkataan Rizal. Kedua saling menatap dalam cermin.
"Kiara, perkataanmu seolah mengutarakan keraguan yang sangat besar padaku. Setelah ijab yang kukatakan pada papamu. Dengan sepenuh hati beliau mengabulkan ijabku. Masihkah perlu pertanyaan seperti itu. Selemah itukah keyakinanmu akan cintaku. Sehingga kamu perlu mempertanyakan cinta ini. Tak bisakah kamu percaya pada cinta tulusku. Aku hanya heran dengan sikap santaimu. Aku tidak meragukan kesucianmu. Aku juga tidak ingin mengetahui atau menyalahkan masa lalumu. Bagiku hanya masa depan yang akan kita pikirkan. Biarkan masa lalumu tetap ada di masanya. Jangan pernah ragukan ketulusan dan keteguhan cintaku!" ujar Rizal lirih, Kiara melihat kesungguhan dalam perkataan Rizal. Kiara seakan malu dengan sikap dan perbuatannya dulu. Sesuatu yang seharusnya menjadi milik suaminya. Kini hanya tangan dan tubuh yang pernah tersentuh oleh orang lain. Namun Kiara seakan ingin mencari keyakinan dan kepercayaan diri dari perkataan Rizal. Kiara mencoba menggali kesungguhan Rizal yang sebenarnya tidak perlu.
__ADS_1
"Akankah keteguhanmu tetap ada pada diriku yang tak lagi suci? Masihkah kamu menganggap diriku berharga? Saat kamu mengetahui diriku tak lagi terhormat!" ujar Kiara lirih, Rizal terdiam membisu menatap wajah Kiara yang seolah mengatakan sebuah kebenaran. Lama Kiara menanti jawaban dari Rizal. Dengan perlahan Kiara berdiri, dia sudah mengetahui jawaban dari pertanyaanya pada Rizal. Tidak akan ada seorang suami yang rela menerima bekas laki-laki lain. Kiara tidak kecewa seandainya Rizal memutuskan mengakhiri semuanya. Tepat saat Kiara berjalan melewati Rizal. Tangan Rizal menggapai lenganya, Rizal menahan tubuh Kiara berhenti di sampingnya.
"Aku menikahimu bukan hanya demi hubungan intim. Meski setiap laki-laki berharap menjadi yang pertama. Namun keteguhanku dan ketulusanku tak pernah mengenal itu. Semua orang memiliki masa lalu. Cintaku ada untukmu menerima masa lalu dan masa depanmu. Seandainya tubuhmu tak lagi suci. Cinta dan imanku yang akan membuat semuanya suci. Aku akan menganggap dirimu suci layaknya kain putih. Hanya akan ada kisah kita dalam ingatanmu. Tidak akan kubiarkan masa lalumu merusak kebahagian kita. Jangan pernah berpikir aku jijik padamu. Memang aku kecewa seandainya semua itu benar. Namun aku yakin cintaku terlalu besar dan takkan mudah terhapus hanya dengan kenyataan itu. Jangan lagi meragukan cintaku. Sebab cintaku bukan napsu memiliki, tapi cinta suci dengan iman dan islam sebagai pondasinya. Menjadikannu makmum dunia akhirat jalan ibadahku kini!" ujar Rizal, sembari memeluk Kiara dari belakang. Rizal mencium wangi shampo Kiara. Desiran hangat mengalir dalam nadi Kiara. Ketika tangan Rizal menyentuh tubuhnya. Detak jantung yang tak lagi bisa dikendalikan. Seolah semua ingin melompat dari tempatnya. Rizal seakan tak mampu menahan hasrat, untuk memiliki Kiara seutuhnya. Hanya ada cinta yang ingin menunjukkan wujudnya. Bersatu dalam hubungan halal yang tak lagi mampu dipisahkan.
"Maafkan aku yang tak bisa menjaga kesucianku untukmu suamiku. Tangan yang kamu pegang ini. Pernah disentuh dan menggandeng tangan laki-laki lain. Tubuh yang kamu peluk ini, pernah dipeluk oleh laki-laki yang bukan suamiku. Wajah yang menempel pada pipimu, pernah dicium oleh orang lain. Bibirku yang berbicara, pernah mencium bibir yang seharusnya. Semua tubuh ini pernah terjamah, maaf jika kamu bukan laki-laki pertama yang melakukannya. Namun satu hal yang harus kamu ketahui. Kehormatanku masih tetap terjaga. Tidak akan pernah kulepas semua itu, untuk seseorang yang bukan mukhrimku. Aku bisa mengatakannya dengan keyakinan. Dirimu laki-laki pertama yang berhak merenggut kesucianku. Hanya suamiku yang berhak merenggut kesucianku!" tutur Kiara tetap dalam dekapan Rizal. Seketika Rizal membalik tubuh Kiara 180° menghadap ke arahnya. Rizal terkejut mendengar perkataan Kiara. Setelah semua pengakuan Kiara. Kini dia mendengar Kiara mengatakan dirinya laki-laki yang berhak merenggut kesuciannya.
"Jadi kamu!" ujar Rizal lirih, Kiara mengangguk pelan. Rizal terperangah melihat anggukan Kiara. Dia tidak marah atau kecewa seandainya Kiara tidak suci. Namun Rizal akan sangat bahagia. Seandainya Kiara tetap suci tanpa ternoda.
"Ustad Rizal berhak merenggutnya malam ini. Semua halal untukmu, setiap inci tubuhku milikmu seutuhnya. Aku siap menjadi milikmu sepenuhnya. Jadikan aku wanita yang sempurna, renggut sesuatu yang seharusnya kuberikan padamu. Takkan aku menolak permintaanmu, semua telah kuserahkan padamu seutuhnya. Semenjak ijab qobul kita, tidak ada alasanku menjaga kesucian tubuhku di depanmu. Miliki aku seutuhnya, biarkan aku yakin akan cinta suci kita. Yakinkan aku diriku satu-satunya wanita dalam hatimu. Makmum dunia akhiratmu!" tutur Kiara lirih, Rizal mengangguk pelan. Rizal mencium puncak kepala Kiara dengan sangat lembut. Lalu menenggelamkan Kiara dalam pelukannya. Kiara menurut saat Rizal memeluknya. Terdengar jelas suara detak jantung Rizal di telinga Kiara. Suara detak jantung yang menyebut namanya.
"Aku akan memilikimu setelah kita meminta izin pada-NYA. Tunggulah sebentar dan bersiaplah menjadi makmum sholatku. Kita akan sholat dua rakaat!" ujar Rizal lirih, lalu melepas pelukan Kiara. Dengan anggukan kepala Kiara menyahuti perkataan Rizal.
"Bersiaplah wahai makmumku, aku akan memilikimu seutuhnya!" ujar Rizal saat akan masuk ke dalam kamar mandi. Kiara membalas dengan anggukan kepala untuk kedua kalianya. Kiara serta mengutas senyum simpul. Tak pernah terbayangkan, malam ini dia akan melepas kehormatan yang dia jaga selama ini. Kehormatan yang hanya akan diberikan pada imam dunia akhiratnya.
...☆☆☆☆☆...
...TERIMA KASIH😊😊😊...
__ADS_1