KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Sebuah Kebenaran


__ADS_3

"Selamat datang nyonya Rafa, ada yang bisa saya bantu!" ujar Zyan ramah, Hana tersenyum. Rafa menatap tajam ke arah Zyan yang berusaha menggoda Hana.


"Sudahlah pak Zyan, aku tetap Hana yang sama. Jadi panggil saja Hana, jangan nyonya Rafa! Terdengar aneh ditelingaku!" ujar Hana lirih, Zyan tertawa sembari menutup mulutnya.


"Zyan, jangan macam-macam. Kamu tahu siapa Hana? Berani kamu menggodanya!" ujar Rafa, Hana melirik ke arah Rafa. Zyan mengangkat kedua tangan, isyarat menyerah pada Rafa.


"Kalian ingin berdebat terus, lebih baik aku pulang! Silahkan diteruskan!" ujar Hana kesal, dia berjalan perlahan keluar. Sontak Rafa merangkul tubuh Hana, menahan agar tidak pergi.


"Sayang, maaf jangan marah. Sekarang kita masuk, bukankah kamu tadi ingin memakan sesuatu!" ujar Rafa lirih, tanpa sadar Rafa merangkul Hana. Sedangkan Hana menerima, tanpa ingin menolak rangkulan Rafa.


"Rafa, sepertinya semua berjalan lebih baik!" bisik Zyan, Rafa mengangguk pelan. Hana berjalan lebih dulu.


"Doakan agar Hana bersedia menerimaku kembali. Aku pasti akan memberikan bonus padamu!"


"Siap bos Rafa!" sahut Zyan, sembari mengangkat tangan isyarat hormat. Rafa mengangguk seraya tersenyum. Rafa mengikuti Hana masuk ke dalam ruangan yang sudah khusus dipesan oleh Rafa.


Setelah selesai makan, Rafa dan Hana duduk berdua saling berhadapan. Hana sengaja meminta Rafa untuk memesan tempat khusus. Hana ingin mengatakan banyak hal pada Rafa. Hana ingin bicara dari hati ke hati dengan Rafa.


"Sayang, apa yang ingin kamu katakan padaku? Aku harap bukan keinginan untuk sebuah perpisahan. Aku tidak sanggup mendengarnya!" ujar Rafa lirih, Hana menggeleng lemah. Sampai detik ini Hana tak pernah berpikir untuk meninggalkan Rafa. Hana hanya ingin mencari sebuah cinta tulus tanpa keraguan.


"Kak Rafa, maafkan Hana selama ini mengacuhkanmu. Bahkan Hana melukai harga dirimu sebagai seorang laki-laki. Demi Hana kak Rafa harus menghiba pada Diana. Sampai sekarang kak Rafa harus menjauh dariku dan putramu!" ujar Hana lirih, Rafa menatap wajah Hana. Dia ingin melihat keseriusan Hana dalam perkataannya.


"Kamu mengatakan semua ini dengan serius atau hanya ingin melihatku bahagia sesaat. Jika memang iya, aku mohon biarkan aku seperti semula. Aku cukup bahagia hanya dengan melihatmu, meski tak bisa menyentuhmu!" ujar Rafa, Hana menggeleng lemah. Hati Hana masih terlalu takut untuk membuka diri. Namun mengacuhkan Rafa bukanlah jalan yang terbaik. Rafa berhak bahagia dengan atau tanpa dirinya.


"Kak Rafa, aku serius dengan perkataanku. Aku tidak pernah membencimu. Bahkan aku takkan pernah mampu membencimu. Hatiku sepenuhnya memilihmu, tapi hatiku terluka karena dirimu. Mungkin kak Rafa berpikir aku egois, tapi ada alasan kenapa aku sulit menerimamu saat ini?"


"Katakanlah, aku siap mendengarkannya. Sepahit apapun itu, setidaknya pertama kali dalam hidupku. Kamu bersedia bersandar padaku!" ujar Rafa santai, Hana menggeleng lemah.


"Aku hanya akan menjawab pertanyaan? Katakanlah apa yang ingin kak Rafa ketahui tentang diriku? Tidak perlu kak Rafa menghiba pada orang lain. Jika hanya ingin mengenalku, istrimu sendiri!" ujar Hana, Rafa terperangah tak percaya mendengar perkataan Hana.

__ADS_1


"Sayang, kamu mengizinkanku bertanya apapun?"


"Hmmmm, katakanlah! Apapun yang ingin kak Rafa ketahui!"


"Dalam pikiranku hanya ada dua pertanyaan. Seberapa berartinya Raditya Naufal Wirawan dihidupmu? Apa rahasia dibalik kematian kedua orang tuamu? Sehingga kamu akan marah setiap kali orang lain menyinggungnya. Kamu selalu terluka dan menangis!" ujar Rafa lirih sembari menunduk takut Hana terluka lagi.


"Baiklah, aku akan menceritakan semuanya! Setelah ini, kak Rafa nilai sendiri. Seberapa berartinya Kak Naufal dalam hidupku dulu!"


FLASH BACK


9 Tahun yang lalu


Hubungan Hana Khairunnissa dengan Raditya Naufal Wirawan terjalin tanpa disengaja. Pertemuan mereka tanpa ada yang merencanakan. Naufal putra pemilik rumah sakit terbesar di kota ini. Dokter muda dengan ketampanan dan keramahan yang mampu membius kaum hawa. Tak terkecuali Hana yang masih duduk di kelas tiga SMP.


Pertemuan Hana dan Naufal terjadi, saat Hana menolong seorang nenek yang mengalami tabrak lari. Hana pribadi yang ringan tangan, meski terkadang dia tak mampu menolong. Hana tak berpikir dua kali saat melihat seorang nenek terluka, saat tertabrak sepeda motor yang lewat. Hana membawa sang nenek menuju rumah sakit terdekat. Hijab putih Hana sudah berubah warna menjadi merah oleh darah.


Sesampainya di rumah sakit, sang nenek tidak langsung mendapat penanganan. Hanya karena tidak ada uang deposito yang masuk. Gadis SMP yang tak lain Hana. Kebingungan memikirkan cara agar sang nenek bisa dirawat. Dalam kebingungan dan air mata, Naufal datang bak pahlawan. Dengan tangan terbuka dan ketulusan hati. Naufal memberikan perawatan tanpa banyak berkata.


Pertemuan terus berlanjut tanpa direncanakan. Selalu ada saja kebetulan yang mempertemukan mereka berdua. Lama kelamaan pertemanan terjalin antara sang dokter muda dan gadis SMP. Setiap kali Hana bertemu Naufal, selalu ada Diana disampingnya. Hana tak pernah sendiri menemui Naufal.


Pertemanan berlangsung hampir satu tahun, pertemanan yang tak murni lagi. Pertemanan yang tersisipi rasa kagum dan saling memuji. Menghasilkan sebuah cinta yang nyata. Cinta samar diatas perbedaan usia dan status. Hana tak pernah mengetahui pasti, cintakah dia atau hanya sekadar rasa kagum pada Naufal? Namun Hana tak pernah peduli dengan semua itu, sampai suatu hari Naufal mengutarakan niaatnya.


Naufal meminta sebuah janji pada Hana. Janji menjadi seorang pendamping hidup, ketika Hana sudah menyelesaikan sekolahnya. Sebuah ketguhan cinta Naufal pada Hana, gadis SMP yang tak pernah mengenal cinta atau mengetahui arti cinta sebenarnya? Hana tak pernah menolak atau mengiyakan permintaan Naufal. Jawaban Hana singkat pada Naufal kala itu, "Jika kelak namamu yang ada dalam setiap sujud dan doaku. Itu artinya kamu orang yang akan menjadi imam sholat dan langkahku". Jawaban samar yang bergantung pada jalan jodoh yang tertulis. Naufal menerima keputusan Hana. Dengan keyakinan dan keteguhan cintanya. Naufal bersedia menunggu jalan jodoh yang tertulis.


Namun perbedaan tetaplah perbedaan, status Hana seorang gadis sederhana dan Naufal pewaris keluarga Wirawan yang terpandang tak mampu ditutupi. Kenyataan pertemanan Naufal dan Hana tercium oleh keluarga besar Wirawan. Mereka murka sehingga mendatangi gubuk sederhana tempat tinggal Hana.


Kedatangan yang membawa awal kehancuran hidup Hana Khairunnissa. Bukan hanya amarah yang diterima oleh Hana. Hinaaa dan cacian terdengar melengking di telinga Hana. Kedua mata Hana seolah tak ingin melihat lagi. Ketika kedua orang tuanya menghiba dan menangis bersujud di depan orang tua Naufal. Meminta belas kasih melepaskan Hana yang tak mengerti apa-apa? Tangisan orang tuanya, tak mampu dilupakan Hana sampai saat ini. Hana penyebab keluarganya terhina bak sampah yang tak layak dipandang.Rasa malu yang harus ditanggung orang tuanya membuat Hana terpuruk.


Setelah keluarga Wirawan pulang, orang tua Hana menasehatinya. Meminta dengan menengadahkan tangan padanya, memintanya berhenti bertemu dengan Naufal. Tangan yang menghiba di depannya, melukai hati terdalam Hana. Meski orang tuanya tidak meminta Hana takkan pernah menemui Naufal.

__ADS_1


Lagi dan lagi kenyataan pahit harus ditelan Hana. Tepat setelah menasehati Hana, kedua orang tuanya mengalami kecelakaan. Deposit menjadi jalan terjal orang tua Hana mendapatkan penanganan. Tak ada dokter yang berani merawat kedua orang tua Hana.


Naufal datang bak pahlawan, sekuat tenaga Naufal menyelamatkan orang tuanya. Naufal dokter yang melakukan perawatan, meski semua seolah tak mungkin. Naufal merawat kedua orang tua Hana hingga napas terakhir. Mungkin ALLAH SWT lebih menyayangi kedua orang tuanya. DIA mengambil mereka bersama menuju surga-NYA.


Dalam kepedihan dan kesedihannya, Naufal datang membantu Hana mengurus semua keperluan pemakaman kedua orang tuanya. Gadis SMP yang takkan mampu berdiri tanpa orang tua. Harus ikhlas kehilangan kedua orang tuanya sekaligus. Tanpa saudara yang mampu Hana jadikan sandaran. Naufal orang yang membantu Hana. Kebaikan Naufal sangat berarti bagi hidup Hana. Sebuah bantuan untuk pengabdian terakhir Hana pada kedua orang tuanya. Namun tanpa Hana sadari, semua bantuan itu harus dibayar dengan kepergian Naufal ke luar negeri.


Orang tuanya mengizinkan Naufal membantu Hana untuk terakhir kali. Dengan syarat Naufal meninggalkan Hana selamanya. Naufal harus meneruskan studi kedokterannya, bahkan harus menikah dengan wanita yang dijodohkan oleh orang tuanya. Naufal hanya laki-laki tanpa daya saat itu. Kekuatan keluarga Wirawan mampu menyakiti Hana. Dengan kebesaran jiwa Naufal pergi tanpa pamit pada Hana.


FLASH BACK OFF


"Sayang, maafkan aku!"


"Sekarang kak Rafa tahu siapa Raditya Naufal Wirawan? Kenapa aku ketakutan saat melihat orang marah padaku? Apa alasan lukaku setiap kali orang mengungkit kematian kedua orang tuaku. Semua telah kak Rafa ketahui. Naufal mungkin laki-laki yang pernah berarti di hidupku, tapi itu dulu jauh sebelum aku bertemu denganmu. Ketakutanku saat kak Rafa memarahiku, karena bayangan keluarga Wirawan menghina orang tuaku tepat sebelum kepergian mereka. Mengingatkan aku betapa gagalnya aku sebagai seorang anak. Perkataan kak Rafa malam itu, membuka mata hatiku bahwa kedua orang tuaku pergi meninggalkan putri yang membuat mereka terhina! Bahwa aku tak pantas untuk dicintai!" ujar Hana lirih, Rafa menunduk. Tangannya mengepal menahan marah, bukan pada siapa? Tapi pada dirinya sendiri.


"Sayang maaf, aku yang tak pernah memahami dirimu!" ujar Rafa penuh penyesalan. Hana menggeleng lemah, dia tak pernah menyalahkan Rafa akan sakit hatinya. Sebab Rafa tidak pernah mengetahui kebenarannya.


"Kak Rafa, kamu tidak pernah salah. Masa laluku tak akan bisa berubah menjadi lebih baik. Setiap luka yang tertoreh kala itu, akan melekat dalam ingatanku. Semua akan tetap sama, sampai aku merasa berani menerima kenyataan pahit itu. Maafkan aku yang menghancurkan masa depan kita, hanya karena masa lalu. Aku belum mampu melupakan luka itu. Kehilangan orang tua yang membesarkanku, hanya karena pertemanan berbeda derajat!"


"Sama halnya diriku, yang terus belajar menerima masa laluku. Tak seharusnya kak Rafa menghancurkan masa depan Kiara. Dia tidak bersalah, kenapa Kiara harus menanggung kemarahanmu? Lindungi dan sayangi adikmu, dia satu-satunya saudara yang kak Rafa miliki. Aku merasakan sepinya hidup tanpa saudara. Pulanglah, minta maaf pada tuan Ardi. Dia hanya laki-laki tua yang ingin melindungi kebahagian putranya! Sama halnya dirimu yang ingin melindungiku dan putra kita. Jangan menjadi pria yang kejam, yang kelak akan membuat putramu malu. Jadilah ayah yang dibanggakan putramu"


"Sayang, akankah kita bisa bersatu kembali!" ujar Rafa, Hana mengangguk pelan.


"Aku tak pernah berpikir menjauh darimu atau meninggalkanmu. Sudah kukatakan sejauh apapun langkahku, putramu akan mengingatkan diriku padamu. Jadi untuk apa pergi? Jika akhirnya selalu teringat!"


"Lalu kapan kita bisa bersama? Rumah kita sepi tanpa dirimu!"


"Maafkan aku jika masih ingin sendiri, tapi kak Rafa berhak bertemu dengan putramu. Aku akan kembali padamu, karena namamu ada dalam doa dan sujudku. Jangan berpikir sikap hangatku pada kak Naufal. Awal hadirnya rasa yang sudah menghilang! Kamu imam dunia akhiratku, darah kita telah menyatu dalam nadi putra kita!"


☆☆☆☆☆

__ADS_1


TERIMA KASIH😊😊😊


__ADS_2