
Setelah semalam kehujanan, pagi ini Vania mengalami demam. Sejak kecil Vania alergi terhadap air hujan. Sebentar saja dia kehujanan, Vania akan langsung sakit. Vania sangat rentan dengan air hujan. Namun kekecewaannya pada Raihan. Membuat Vania tetap diam, dia tidak ingin terlihat lemah di depan Raihan dan Amalia. Sikap diam yang ditunjukkan Vania semalam. Harus dibayar dengan sakit yang kini dia derita.
Semalam setelah mengantar Vania pulang. Raihan tidak bisa menghubungi Vania lagi. Berkali-kali Raihan menghubungi Vania, tapi hanya operaator yang menjawab. Jangan Vania mengangakat ponselnya. Sejak semalam ponsel Vania mati. Raihan kelabakan saat dia tidak bisa menghubungi Vania. Semalam kedua matanya tidak bisa terpejam. Hanya penyesalan yang tersisa kini. Kebodohan Raihan membuatnya semakin jauh dari Vania. Rasa ingin dihargai, malah membuatnya bertengkar dengan Vania. Raihan melakukan kebodohan yang tidak akan pernah dia lupakan.
Setelah semalam dia terjaga, pagi ini Raihan mencoba menghubungi Vania. Namun hasilnya tetap sama. Ponsel Vania masih tidak bisa dihubungi. Raihan gusar dan cemas, dia memikirkan kondisi Vania. Raihan takut jika Vania benar-benar marah padanya. Selama di dalam mobil. Vania tidak bicara atau menoleh padanya. Vania selalu membuang muka ke arah jendela mobil. Seakan Vania tidak peduli akan keberadaan Raihan. Diam Vania semakin menambah kegelisahan Raihan. Dia tidak ingin melihat amarah Vania. Raihan benar-benar menyesal.
Setelah lama berpikir, pagi ini Raihan memutuskan pergi ke rumah keluarga Prawira. Dia akan menemui Vania secara langsung. Raihan akan meminta maaf, dia akan menerima apapun perkataan Vania? Selama Vania tidak meninggalkannya. Raihan akan diam menerima konsekuensi atas perbuatannya. Tanpa sarapan, Raihan bergegas menuju rumah keluarga Prawira. Dalam benaknya hanya ada Vania. Dia harus mendapatkan kata maaf dari Vania. Dengan cara apapun? Raihan akan melakukan apapun yang dikatakan Vania.
Raihan tiba di rumah keluarga Prawira tiga puluh menit kemudian. Raihan melihat beberapa mobil berjejer. Salah satunya milik Faiq dan Fathan. Perasaan Raihan tidak karuan, dia takut terjadi sesuatu pada Vania. Tidak biasanya masih pagi rumah keluarga Prawira sudah ramai. Dengan hati yang gelisah dan kacau, Raihan masuk ke dalam rumah. Seorang ART mempersilahkan dia masuk. Raihan berjalan masuk ke dalam rumah yang tidak asing lagi baginya. Namun langkahnya terhenti tepat di samping ruang tamu. Keduanya bola matanya membulat sempurna. Terkejut dan bahagia bercampur menjadi satu. Raihan tidak percaya dengan yang dia lihat.
Pertama kalinya dia bertemu dengan Rizal yang tak lain ayah kandung Vania. Selama ini Raihan hanya melihat foto yang ditunjukkan orang tuanya. Saat Rizal datang ke rumahnya, Raihan sangat sibuk. Jadi mereka tidak pernah bertemu. Pagi ini pertemuan yang selalu Raihan harapkan. Seakan kabar bahagia ditengah pertengkarannya dengan Vania. Raihan cemas bila kedatangan Rizal. Akibat dari perselisihannya dengan Vania semalam. Tanpa ada yang menyadari, Raihan menwlan ludahnya kasar. Raihan benar-benar gelisah dan takut memikirkan hubungannya dengan Vania.
__ADS_1
"Masuklah Raihan, jangan berdiri disana! Kamu tidak ingin menyapa calon ayah mertuamu!" ujar Rafa lirih, Raihan mengangguk pelan. Dia menghampiri Rafa dan Rizal. Raihan mencium punggung tangan keduanya bergantian. Raihan duduk tepat di depan Rizal. Pertemuan yang membuat Raihan salah tingkah. Dia lebih memilih duduk dalam rapat. Daripada harus duduk di depan Rizal calon mertuanya. Raihan benar-benar tidak berkutik. Dia takut Rizal akan berpikir buruk tentang dirinya. Apalagi setelah kejadian semalam. Raihan takut bila Rizal salah paham dan akhirnya melarang Vania menikah dengannya.
"Raihan, kamu tentu sudah mengenal Rizal ayah kandung Vania. Dia sahabat sekaligus suami adikku Kiara. Sepengetahuanku, ini pertemuan pertama kalian!" ujar Rafa ramah, Raihan mengangguk seraya mengutas senyum simpul. Raihan sekilas melihat penampilan Rizal. Penampilan yang jauh berbeda dari Rafa. Namun sebelas dua belas dengan Vania. Jika Vania menutup seluruh tubuhnya, Rizal senantiasa menggunakan setelan baju koko dan sarung. Penampilan yang layak dikatakan sebagai pemilik sekaligus pengasuh pesantren.
"Maafkan Raihan yang tidak sopan. Sampai detik ini belum bisa bertamu ke rumah om Rizal. Bukan hanya karena kesibukan, tapi Vania belum mengizinkan aku untuk datang bertemu dengan om Rizal. Jadi pertemuan pertama ini harus terjadi tanpa ada persiapan apapun!" ujar Raihan lirih, Rizal mengangguk pelan penuh dengan wibawa. Rafa melihat jelas kegelisahan Raihan. Dia memahami ketakutan Raihan saat bertemu Rizal. Meski dia tidak pernah merasakan hal itu. Namun sebagai seorang laki-laki dia bisa merasakan kegelisahan Raihan bila Rizal menolak hubungan keduanya.
"Raihan, tidak perlu panggil aku om. Panggil saja aku ayah seperti Vania. Panggilan ayah terdengar merdu ditelingaku. Sejak aku menerima pinangan orang tuamu akan Vania. Sejak itu aku sudah menganggap dirimu putraku!" ujar Rizal lirih, Raihan mengangguk setuju. Dalam hati dia bahagia telah mendapat lampu hijau dari Rizal. Sebuah restu demi kelancaran hubungannya dengan Vania.
"Ayah, apa Vania baik-baik saja? Sejak semalam aku mencoba menghubunginya. Tapi ponselnya tidak aktif. Pagi tadi aku menghubunginya, tetap saja ponselnya tidak aktif. Memang ada kesalahpahaman diantara kami. Mungkin karena itu Vania marah padaku. Aku ingin menjelaskan padanya. Sungguh aku tidak pernah ingin menyakiti hatinya. Jangan minta Vania membatalkan pernikahannya denganku. Sungguh ayah, aku tidak pernah ingin menyakiti Vania!" tutur Raihan memelas dan ketakutan, sontak Rafa dan Rizal tertawa melihat Raihan yang ketakutan. Mereka tidak akan pernah ingin ikut campur urusan anak-anaknya. Rafa dan Rizal percaya putranya mampu memutuskan yang terbaik dalam hidupnya. Sebab itu mereka tidak akan pernah ingin terlibat dalam perselisihan anak-anaknya.
"Raihan, ayah tidak pernah ikut campur urusan Vania. Memang ayah yang menjodohkan kalian berdua. Bukan demi harta atau hidup nyaman putri ayah. Namun perjodohan kalian murni janji antara tiga sahabat. Ayah dan orang tuamu, dengan catatan tanpa ada paksaan. Namun jalan jodoh sudah tertulis untuk Vania putri ayah. Semenjak dia mengetahui perjodohannya dengamu. Vania merasa yakin dan percaya, jika kamu imam terbaik untuk dia dan buah hatinya kelak. Semenjak itu pula, ayah tidak ikut campur dalam keputusan Vania. Termasuk hari ini, ayah tidak akan menyalahkan atau membenarkan sikapmu dan Vania. Ayah juga tidak akan meminta janji kebahagian Vania. Semua tergantung rejeki kalian kelak. Namun sepertinya, kamu harus berjiwa besar menerim sikap keras Vania. Jika tidak harapanmu menjadi imam Vania. Akan tinggal kenangan, sebab Vania tidak mudah diluluhkan!" ujar Rizal, Raihan mengangguk mengerti. Rafa menepuk punggung Raihan pelan. Dia mencoba menenangkan kegelisahan Raihan.
__ADS_1
"Raihan, cinta butuh perjuangan dan pengorbanan. Sebab cinta itu anugrah yang tak ternilai. Jadi jangan pernah menyerah mendapatkan hati Vania lagi. Kelak kamu akan menyadari, cinta Vania akan membuatmu bahagia. Ingatlah, laki-laki ada untuk melindungu wanita. Sebaliknya wanita tercipta untuk menjaga kehormatan laki-laki. Pasangan bertemu dengan perbedaan bukan persamaan. Sebab suami istri hidup berumah tangga. Bukan untuk saling menjatuhkan atau saling mengusai. Sebab cinta mereka ada untuk saling melengkapi!" tutur rafa lirih, Raihan diam membisu. Dalam hati dia bahagia mendengar dukunga mereka padanya.
" Terima kasih, ayah sudah percaya padaku!" sahut Raihan, Rizal mengangguk pelan. Raihan mencoba mencari Vania. Namun dia tidak bisa menemukan Vania atau malah Vania sengaja tidak keluar agar tidak bertemu dirinya.
"Tidak perlu mencari, Vania sedang demam. Sejak semalam tubuhnya panas. Jangankan menyapamu, berdiri saja Vania jatuh!" ujar Faiq santai, lalu duduk di depan Raihan. Sontak saja Raihan terkejut. Seandainya tidak ada Rizal, mungkin dia sudah mencari Vania. Dia tidak akan tenang sebelum melihat Vania.
"Raihan, temui Vania. Dia ada di sofa ruang tengah. Namun ayah mohon jangan berisik. Sejak semalam dia tidak bisa tidur. Jadi biarkan saja dia istirahat!" ujar Rizal ramah, sontak Raihan mendongak menatap Rizal. Dia bahagia bisa bertemu Vania.
"Ayah, terima kasih!" ujar Raihan, Rizal mengangguk mengerti.
.
__ADS_1