KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Kita Ditakdirkan Berjodoh


__ADS_3

Hampir seminggu tuan Ardi berada di rumah Rafa. Setelah sadar dari kondisi kritisnya. Rafa memutuskan membawa tuan Ardi ke rumahnya. Rafa menyediakan fasilitas yang hampir mirip dirumah sakit. Dengan bantuan Naufal, Rafa memilih beberapa perawat dan dokter khusus untuk tuan Ardi. Selama berada di perawatan Rafa dan Hana kondisi tuan Ardi semakin membaik.


Keputusan Rafa bukan mendadak, banyak faktor yang membuat Rafa mengambil keputusan sebesar itu. Salah satunya sikap Sabrina yang tetap menganggap Hana Hina. Rafa tidak mungkin mengunjungi rumah, dimana tempat istrinya terus terhina. Rafa tidak ingin melihat Hana bimbang. Dengan membawa tuan Ardi. Rafa akan lebih mudah menjaga perasaan Hana. Sekaligus merawat tuan Ardi.


Keputusan Rafa semakin bulat, setelah Hana bertemu dengan tuan Ardi. Rafa melihat sebuah pengakuan dan kata maaf dari tua Ardi. Hana telah menganggap semua yang terjadi hanya masa lalu dan sudah saatnya berakhir. Rafa semakin mencintai Hana. Semenjak dia mrndengar sendiri pembicaraan diantara Hana dan tuan Ardi. Dia melihat betapa lembut dan mulia hati Hana.


FLASH BACK


"Hana, ada yang ingin aku katakan. Duduklah disampingku, aku tidak akan tenang bila tidak mengatakanya padamu!" ujar tuan Ardi lemah, Hana mengangguk pelan. Dia duduk di samping tempat tidur tuan Ardi. Hana menatap lekat wajah yang mulai menua. Wajah yang bertahun-tahun yang lalu datang dengan gagah padanya. Membawa koper berisi uang sebagai penebusan atas nyawa kedua orang tuanya. Bentuk kasih sayangnya pada cucunya dan berharap tidak terjadi sesuatu padanya.


"Katakanlah tuan, aku akan mendengarnya. Namun alangkah baiknya bila kita menunda pembicaraan ini. Bukankah kesehatan anda belum sepenuhnya pulih. Anda harus beristirahat, banyak waktu setelah anda sembuh. Saat itu saya pastikan akan mendengar anda, tanpa menolak atau bertanya!" ujar Hana lirih, tuan Ardi menggeleng. Banyak yang ingin dikatakan, semua itu harus dan tidak bisa ditunda lagi. Kesehatannya sudah sangat menurun. Dia tidak ingin menyimpan beban pikiran yang berat. Tuan Ardi ingin mengatakan semuanya. Dengan atau tanpa persetujuan Hana. Dia sudah siap lahir batin menerima konsekuensi dari amarah Hana.

__ADS_1


"Hana, aku sudah menyimpan fakta ini selama bertahun-tahun. Kini sudah waktunya aku mengatakannya. Jika aku harus menunggu, sungguh tidak akan mudah untukku!" ujar tuan Ardi, Hana mengangguk pelan. Tanpa Hana dan tuan Ardi sadari. Sejak awal Rafa mengintip dibalik pintu. Entah kenapa sejak kejadian semalam dengan Sabrina? Rafa sedikit takut meninggalkan Hana sendirian. Rafa tidak ingin Hana tertekan. Sebisa mungkin Rafa membuat Hana tenang.


"Silahkan, katakan apa yang ada dalam hati anda? Aku akan mendengarnya dengan baik!" ujar Hana lirih, tuan mengedipkan kedua matanya. Seakan mengerti persetujuan Hana.


"Sebelum aku mengatakan semuanya. Aku ingin mengucapkan permintaan maaf padamu. Aku telah melukai harga dirimu belasan tahun yang lalu. Ketakutan akan kehilangan Rafa, membuatku tak menyadari sikapku telah melukaimu. Seandainya kamu tidak bersedia memaafkanku, sungguh aku tidak akan memaksa. Kamu berhak marah, keluargaku membuatmu hancur dan hidup sebatang kara. Kasih sayangku pada keluarga membuatku buta. Sehingga tanpa aku sadari telah melukai banyak hati yang tak bersalah. Dengan kekayaan aku memanjakan seluruh keturunanku yang akhirnya membuat mereka lupa akan perasaan orang lain. Mereka lupa bahwa ada orang lain yang hidup di sekitar mereka!" tutut tuan Ardi, Hana terdiam membisu. Bayangan kelam saat tuan Ardi datang membawa uang bukan permintaan maaf. Hari dimana Hana harus kehilangan kedua orang tuanya? Terlihat nyata dalam benaknya. Sejujurnya Hana tidak pernah ingin mengungkit masa lalu. Bagi Hana semua telah terjadi. Sangat tidak pantas kita mengingatnya. Jika hanya menambah luka.


"Aku belajar melupakan masa lalu. Semua yang terjadi bukan tanpa sebuah alasan. Apa yang aku rasakan? Tak lain jalan menuju kedewasaanku. Pernikahanku dengan kak Rafa, bukan terjadi tanpa ada makna. Seandainya bukan kak Rafa suamiku. Mungkin hari ini aku masih menyimpan dendam ini. Luka hati yang tertoreh takkan menghilang. Berbekas meninggalkan luka yang cukup dalam. Seandainya aku boleh meminta. Jangan mengungkit sesuatu yang tak pernah bisa kita ubah!" ujar Hana, tuan Ardi menggeleng lemah. Sebaliknya Rafa bersandar pada dinding luar kamar. Dirinya orang yang membuat hati Hana terluka. Tanpa sengaja Rafa yang bertanggungjawab atas air mata Hana yang menetes selama ini. Kemarahannya kala itu, menjadikan Hana seorang yatim-piatu dalam sehari. Seolah belum lengkap luka yang ditorehkan. Tuan Ardi datang dengan uang ganti rugi akan nyawa kedua orang tuanya. Rafa tak lagi bisa membayangkan. Sesakit apa hati Hana kala itu?


"Kenapa kalian harus menyimpan rapat semua ini? Anda melihat sendiri, ayah tak pernah menyalahkan kak Rafa. Setidaknya anda mengatakan padaku, ayah tak pernah marah atau kecewa padaku. Selama bertahun-tahun aku hidup dalam penyesalan. Bukan menyesalkan kematian kedua orang tuaku atau marah pada takdir yang membuatku hidup sebatang kara. Namun penyesalan menjadi seorang putri yang membuat orang tuanya terhina. Kenapa anda dan tuan Wirawan bersikap sekejam ini?" ujar Hana lirih, tuan Ardi mengangguk pelan. Seakan dia menyadari kesalahannya yang takkan semudah itu dimaafkan.


"Sesuatu yang kuanggap benar bertahun-tahun lalu, ternyata sebuah sikap yang salah. Rafa telah pergi menjauh dariku. Semenjak dia mengetahui kebenarannya. Keputusanku yang telah menyakitimu, hanya membuatku menunda kebencian Rafa padaku. Aku berpikir harus melindungi Rafa, sebab dia kelak yang melindungi keluarga Prawira. Namun aku lupa, jika cinta mampu merubah segalanya. Rafa membenci keluarganya. Sedangkan kamu memaafkan keluarganya. Aku sadar, jika kamu akan membenciku. Bencilah aku, tapi aku mohon jangan jauhkan Rafa dan kami. Minta dia mendekap hangat keluarganya. Kami butuh Rafa, hanya dia harapan keluarga Prawira!" tutur tuan Ardi lemah, dia menghiba pada Hana. Sesuatu yang sudah seharusnya dilakukan tuan Ardi sejak bertahun-tahun yang lalu.

__ADS_1


"Aku tidak ingin membenci atau menyimpan dendam pada keluarga suamiku. Sudah sejak lama aku memaafkan anda. Aku tidak mungkin membenci kalian. Sebab aku mengandung keturunan kalian. Sekarang semua sudah terjawab. Ayah dan ibu tidak pernah membenciku. Mereka telah memaafkanku, jadi tidak ada alasanku membenci anda sekarang. Demi senyum kak Rafa, kita lupakan semua yang terjadi. Dia sudah cukup tertekan dengan kondisi diantara kita. Kak Rafa bimbang ingin melangkah. Dia ingin menemuimu, tapi takut melukai hatiku. Sering kali aku melihat kegelisahannya. Sudah cukup kak Rafa bersedih, sudah saatnya kita berdamai dengan keadaan. Jika memang memungkinkan, tinggallah bersama kami. Izinkan kak Rafa merawatmu sebagai cucu yang baik. Lagipula Kiara juga tinggal bersama kami!" tutur Hana tenang, tuan Ardi mengangguk lemah.


FLASH BACK OFF


"Sayang, terima kasih. Kamu menerima kakek dan memaafkannya. Aku tidak bisa memilih diantara kamu dan kakek. Kamu hidupku, sedangkan kakek tanggungjawabku. Kini tak ada lagi beban dalam hidupku!" ujar Rafa memeluk Hana. Kebetulan keduanya berada di atas balkon kamar Hana. Menatap langit yang penuh dengan bintang-bintang kecil yang berkelipan.


"Kak Rafa, bukan hanya dirimu yang bisa memahami diriku. Dengan mudah melihat kegelisahan dalam hatimu. Aku belajar untuk mengerti, meski terkadang aku harus menahan rasa sakit. Aku tidak ingin putra kita manja. Dia harus belajar mengalah dan tidak egois. Cukup sekali aku kalah dengan emosiku!" ujar Hana, Rafa menggeleng.


"Sayang, jangan paksakan dirimu. Putra kita tidak hanya memilikimu, tapi memiliki diriku. Biarkan dia bersikap manja padaku. Aku akan selalu siap memenuhi keinginannya. Sampai kapanpun? Aku akan ada untukmu dan putra-putra kita. Aku pernah merasakan kasih sayang yang tidak lengkap. Jadi takkan kubiarkan dia merasakan hal yang sama denganku. Kalian harus hidup bahagia. Selama ada aku tanpa kekurangan. Tanganku akan selalu kuat demi menopang dirimu. Kita ditakdirkan berjodoh, lihatlah saat semua orang berusaha memisahkan kita. Jalan takdir kita tetap bersama!" ujar Rafa, Hana menggenggam tangan Rafa erat.


"Kita ditakdirkan bersama, bukan hanya untuk saling mencinta. Namun kita bertemu untuk saling melengkapi!" ujar Hana, Rafa mengangguk pelan. Lalu mengecup kepala Hana yang tertutup hijab.

__ADS_1


__ADS_2