
Sang Fajar menyingsing di ufuk timur. Menandakan sang malam telah pergi, berganti pagi yang lebih indah. Sinar sang mentari hangat terasa menyentuh kulit. Suara kicauan burung, terdengar merdu di telinga. Melantunkan simpfoni alam yang tak tertandingi. Indahnya pagi hari menyejukkan mata yang memandang. Ketenangan dan kenyamanan yang tercipta dari alam. Takkan mampu bisa diberikan atau dibentuk oleh siapapun? Hanya Allah SWT yang mampu menjadikan keindahan yang seimbang di alam ini.
Sejak seminggu lalu Hana berada di kampung tempat ayahnya dibesarkan. Kampung yang jarang Hana kunjungi saat orang tuanya masih ada. Bahkan hampir tidak pernah Hana datangi. Setelah kedua orang tuanya meninggal. Selama bertahun-tahun Hana hidup sebatang kara. Tanpa keluarga yang menemaninya. Sekadar ingin menceritakan apa yang terjadi padanya hari itu? Hanya selalu diam bercerita dalam hati, mengeluh dalam sujud. Berharap kelak semua rasa sepi menjauh dari hidupnya.
Harapan Hana kini telah terwujud, sang pemilik hati bukan hanya menghapus rasa sepinya. Namun dia kini yang menjadi tumpuan dan harapan Hana. Pelindung dalam menghadapi semua masalah yang ada. Imam dunia akhirat yang sengaja dipilih oleh sang kakek. Hadiah terakhir sekaligus terindah dari almarhum sang kakek. Alasan itulah yang membawa Hana menetap sementara di kampung ini. Demi mencari serpihan cinta yang mulai bersemi di kampung ini.
"Sayang, aku mencarimu kemana-mana? Ternyata kamu sedang duduk santai di sini. Seharusnya kamu mengajakku, paling tidak kamu pamit. Aku khawatir saat tak melihatmu ada di rumah!" ujar Rafa kesal, Hana menoleh tanpa menyahuti perkataan Rafa. Hana kembali menatap sang mentari yang bersinar dibalik bukit. Sinarnya berusaha menyusup diantara daun-daun pepohonan. Hana merasa tenang melihat sinar mentari yang tak terlalu panas. Kedamaian yang akan sulit Hana dapatkan saat berada di kota. Rafa duduk di samping Hana, tangannya merangkul tubuh Hana. Menarik kepala Hana bersandar pada lengannya.
"Aku menanti sang mentari bersinar. Jika menunggu kak Rafa mandi. Aku pasti kehilangan sang mentari. Kak Rafa kalau mandi bisa menghabiskan berjam-jam. Bisa-bisa aku bosan menunggumu!" sahut Hana dingin, Rafa terkekeh membenarkan perkataan Hana. Rafa tidak tinggal di kampung bersama Hana. Namun Rafa akan selalu ada di sisi Hana setiap dia butuh. Sebab Rafa akan datang dua hari bahkan setiap hari untuk melihat kondisi Hana. Pekerjaan Rafa sangat tidak mungkin ditinggal oleh Rafa.
"Kamu juga tahu, jika aku sudah berusaha secepat mungkin mandinya. Lagipula setiap hari kamu sudah melihat mentari. Apakah kamu tidak bosan? Melihat hal yang sama setiap hari. Aku saja mulai merasa jenuh, kalau melihat berkas yang sama setiap hari!" ujar Rafa lirih, Hana menggeleng lemah. Namun tatapan Hana mengunci pada mentari dan alam yang nampak indah. Hana menatap cahaya mentari tanpa berkedip. Keindahan alam yang akan sangat sulit Hana lihat bila berada di kota. Kesejukan alam yang sangat segar, mampu menghapus kepenatan atau menenangkan hati yang kalut. Obat yang disediakan alam dan dengan menatap keindahan alam kita mampu bersyukur.
__ADS_1
"Mentari dan alam ini sedang mengajarkanku banyak hal. Aku telah menjadi manusia yang angkuh dan ingkar. Setiap hari aku tidak akan bosan melihat mentari bersinar. Sebab dengan melihatnya, aku mengingat betapa Allah SWT menyayangiku. DIA takkan memintaku untuk berterima kasih. Namun aku sadar, tanpa kasih sayangnya aku takkan pernah mampu melihat semua ini. Seperti kasih sayangmu padaku, yang mengajarkan Hana yang dingin dan takut pada dunia. Mengerti arti mencinta, sehingga aku bisa mensyukuri kehadiranmu sebagai anugrah yang Allah SWT berikan padaku. Agar aku bisa menghargai kebahagian yang ada di depanku. Bukan terus menyalahkan dan seakan mengacuhkan orang-orang yang menyayangiku!" tutur Hana lirih, tanpa komando Rafa mencium lembut kepala Hana yang tertutup hijab. Hana merasakan kehangatan yang menelisik jauh ke dalam hatinya. Kehangatan dan cinta Rafa yang menjadikannya wanita paling beruntung dengan segala resiko yang harus dia terima. Sejatinya sesuatu itu ada dengan sangat adil. Tidak akan ada bahagia yang abadi, tentu akan ada sedih yang mengiringinya. Hakikatnya hidup berputar pada dua hal, suka dan duka yang selalu berjalan beriringan. Saling berganti mengisi hati manusia.
"Aku mencintaimu dengan sepenuh hati. Aku tidak butuh rasa terima kasih darimu. Meski kamu mengacuhkanku, aku tidak akan menjauh darimu. Sebab cintaku tidak butuh balasan, cintaku ketulusan tanpa paksaan" ujar Rafa lirih, Hana mengangguk dalam pelukan Rafa. Lalu dia melepaskan pelukan Rafa. Hana melihat air yang mengalir deras. Sawah terbentang luas di depannya. Hana melihat betapa alam ada dengan keseimbanganya. Setiap yang ada memiliki makna dan keterkaitan satu dengan yang lain. Sungai ada untuk mengari sawah. Sedangkan sawah ada sebagai ladang kehidupan manusia. Layaknya dirinya yang diciptakan untuk mengenal dan bersama dengan Rafa Akbar Prawira. Menerima segala kekurangan dan kelebihannya sang suami dengan sepenuh hati.
"Aku tak pernah berpikir atau membayangkan bisa merasakan kebahagian ini. Aku seolah menjadi wanita paling beruntung. Ketika para wanita berlomba ingin menjadi bagian dari hidupmu. Malah kak Rafa mengacuhkan mereka dan memlihku. Wanita sederhana penuh lika-liku hidup. Terima kasih selalu bersabar menghadapi sikap kerasku. Sikap yang didasari rasa kecewa dan terluka akan masa lalunya. Kamu selalu sabar dan mengalah, dengan penuh pengertian kamu menempatkan diriku di atas semua keinginanmu. Maafkan aku yang selalu dan selalu menempatkan dirimu pada posisi yang sulit!" ujar Hana lalu sekilas menoleh pada Rafa yang kebingungan. Rafa mengikuti arah mata Hana, memang tak dapat dipungkiri. Keindahan alam yang tersaji mampu membuat hati dan pikiran kita tenang. Keputusan yang tepat untuk mencari ketenangan di tempat ini. Rafa menatap Hana, bergumam dalam hati. Betapa sederhana mencari kebahagian untuk Hana. Bukan pergi jalan-jalan ke luar negeri. Atau sekadar belaja ke pusat perbelajaan. Cukup duduk diam mengagumi keindahan alam. Sudah mampu membuat Hana bahagia dan tenang.
"Bukan dirimu yang salah, tapi cintaku yang belum mampu memahami dirimu. Terkadang rasa angkuh mengusai hatiku. Saat aku merasa kamu selalu keras dan dingin melihat cintaku yang terlalu besar. Sejujurnya aku pernah merasa, benarkah kamu mencintaiku? Ataukah kamu bersamaku hanya demi Fathan dan bayi ini. Diam dan dinginmu membuatku merasa tak pernah memiliki hatimu. Mungkin tubuhmu bersamaku, tapi hatimu seolah bersama hati yang lain. Saat-saat itulah aku merasa sulit bernapas, aku lemah saat membayangkan tak ada cinta untukku darimu. Secara pernikahan kita terpaksa dan hanya aku yang mencintaimu saat itu. Namun sifat egoisku selalu memaksa untuk memilikimu. Dengan cinta atau tidak darimu, selama kamu ada di sampingku. Aku percaya kelak cinta itu akan ada. Àlasan yang sama aku menginginkan bayi ini. Aku ingin membuktikan cintaku, meluluhkan dinginnya hatimu dengan perhatian-perhatian kecil saat kehamilanmu. Sebab saat kehamilan Fathan, hanya air mata yang aku berikan padamu!" tutur Rafa, lalu menarik tubuh Hana dalam dekapannya. Suasana pagi hari yang damai, menambah kemesraan dua insan yang sedang jatuh cinta dan akan selalu jatuh cinta. Rafa merasakan harum tubuh Hana, dengan lembut Rafa mengelus perut Hana. Kepala Hana bersandar pada dada bidang Rafa. Tangan Rafa merasakan sentuhan sang buah hati. Perasaan bahagian yang tak mampu terlukiskan dengan kata-kata. Seorang putra akan terlahir ditengah-tengah pernikahan mereka. Sungguh sesuatu yang tak mampu dilukiskan. Kebahagian Rafa terasa sangat lengkap dengan hadirnya sang buah hati.
"Semua terasa berat dan menyesakkan. Sempat aku ingin mengakhiri pernikahan ini. Aku terlalu lelah dengan masalah yang selalu ada. Sikap dinginku yang akan terus menyakitimu. Sikap hangatmu yang kelak akan kalah oleh dinginnya sikapku. Namun saat kupikir kembali apa yang terjadi? Aku baru menyadari hidup bukan hanya senyum, tapi ada air mata yang harus menetes. Takkan selamanya kita bahagia, sebab akan ada saatnya sedih itu hadir. Bukan pesimis atau marah akan jalan yang tertulis. Namun semua rasa sedih ada untuk mengingatkan kita bersyukur kala bahagia menyapa. Air mata yang mengalir. Mengajarkan kita untuk menghargai sebuah senyuman yang sulit terutas, ketika hati terluka. Semua masalah yang ada, kujadikan pembelajaran menuju kedewasaan!" ujar Hana dalam dekapan Rafa. Hana mampu merasakan dekapan hangat Rafa. Sebaliknya Rafa semakin erat mendekap Hana. Terlalu banyak yang tak pernah bisa dikatakan dalam hubungan mereka. Baik Rafa dan Hana selalu hidup dalam pemikiran mereka. Memutuskan yang baik untuk pasangan, tapi tak pernah menyadari jika ada jurang kesalapahaman yang siap menghancurkan.
"Kondisiku tidak mungkin mengikutimu. Perjalanan jauh sangat beresiko untuk bayi kita. Seandainya aku boleh meminta, izinkan aku tetap di sini. Setelah kak Rafa pulang, aku akan ikut denganmu ke rumah kita!" ujar Hana, Rafa menunduk lemah. Penolakan Hana seakan sinar cahaya yang meredup. Rafa merasa dunianya kembali gelap, layaknya langit malan yang sunyi dan sepi. Meski jawaban Hana sudah bisa ditebak, tapi Rafa masih berharap lebih. Sungguh dia tidak ingin terpisah dari Hana meski hanya seminggu. Perpisahan akan sangat menyiksa Rafa.
__ADS_1
"Kamu tidak takut aku mengkhianatimu. Dalam waktu seminggu sangat mudah bagiku mendapatkan pasangan. Jadi aku mohon ikutlah, agar aku tidak berpikir yang bukan-bukan!" pinta Rafa memelas, Hana tetap menggeleng. Seketika Hana mendongak mengutas senyum pada Rafa. Seolah mengisyaratkan dirinya sama sekali tak ada masalah Rafa pergi ke luar pulau tanpa dirinya. Hana percaya Rafa akan tetap setia padanya. Meski Rafa akan jauh darinya, seandainya Rafa mengkhianatinya, Hana masih memiliki sang putra yang akan membawa Rafa kembali ke dalam perlukannya.
"Kak Rafa ketampanan yang ada sejak lahir. Tidak butuh waktu seminggu untuk menarik perhatian wanita. Hanya dalam hitungan menit, jika kamu berkenan. Seorang wanita akan takluk padamu. Kekayaan yang kamu miliki, dengan mudah membuat seorang wanita terlena. Kedudukanmu sebagai seorang CEO muda berbakat perusahaan Prawira. Akan dengan mudah membuat wanita mengangguk setuju hidup bersamamu. Menikah dengamu sebuah keberuntungan sekaligus kerugian. Bukan ingin mengeluh, tapi aku mulai terbiasa melihat tatapan kaum hawa yang seakan ingin merebutmu dariku. Namun aku percaya, hati dan tubuh ini masih memilihku. Jadi aku tidak akan takut kehilangan dirimu. Seandainya aku harus kehilangan dirimu, aku masih memiliki Fathan dalam dekapanku!" tutur Hana santai, sembari meletakkan tangannya tepat di dada Rafa. Sebaliknya Rafa mengeryitkan alis tak mengerti, kanapa Hana merasa merugi menikah dengannya? Setipa wanita akan merasa beruntung tanpa merasa merugi hidup bersamanya. Sungguh Hana sangatlah unik, dia mampu mengaduk perasaan Rafa.
"Sayang, aku mencintaimu sepenuh hati. Lantas kenapa kamu merasa menikah denganku sebuah kerugian? Kamu tega!" ujar Rafa lirih, Hana tersenyum lalu bangkit. Dia berjalan perlahan meninggalkan Rafa, lalu tak berapa lama Hana menoleh. Terilhat Rafa yang masih termangu mendengar perkataan Hana. Lalu Hana mengutas senyum simpul. Berharap Rafa ikut tersenyum dalam kebingungannya.
"Aku selalu merasa bahagia bila bersamamu. Namun disisi lain, aku takut kehilanganmu. Tatapan para wanita yang menganggumimu. Membuatku sesak napas, sampai terkadang aku ingin menyimpanmu di dalam rumah. Agar tak ada mata indah wanita lain, yang menatapmu seakan ingin melahapmu. Saat itulah aku merasa rugi menikah dengan orang setampan dan sehebat dirimu. Setiap saat aku harus ikhlas berbagi dengan tatapan lapar wanita lain!" ujar Hana santai, lalu berjalan meninggalkan Rafa. Tanpa menoleh pada Rafa, Hana terus berjalan menjauh dari Rafa. Sebaliknya Rafa tersenyum dan mulai memahami arti merugi yang dikatakan Hana. Rafa bahagia setelah Hana mengatakan isi hatinya. Sesuatu yang akan sulit didengar oleh Rafa.
"Sayang, bukan hanya kamu yang merasa sesak. Aku jauh lebih tersiksa melihat perhatian Naufal atau Rama padamu. Mereka laki-laki yang ada dalam hidupmu sebelum aku. Meski aku tahu, hanya aku yang ada dalam hatimu kini. Terkadang aku ingin memutar waktu, berharap hanya aku laki-laki yang ada dalam hidupmu setelah almarhum ayah!" bisik Rafa sembari memeluk Hana erat. Rafa mendekap Hana dengan sangat erat. Penuh kehangatan dan kebahagian.
...☆☆☆☆☆...
__ADS_1
...TERIMA KASIH dan MAAF...
.