KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Raditya Naufal Wirawan


__ADS_3

Rafa terdiam melihat Hana pergi tanpa dirinya. Lagi dan lagi Rafa hanya termenung melihat penolakan Hana. Dirinya tak lagi berharga dimata Hana. Luka yang terus dirasakan Hana, seakan isyarat takkan ada penyatuan antara Hana dan Rafa.


Tubuh Rafa lemas, pikirannya kacau tak berarah. Rafa tak mampu berdiri, hanya meratapi kebodohan demi kebodohan yang dia lakukan. Rafa ingin melindungi Hana malah yang terjadi sebaliknya. Luka dan air mata yang terus tercipta.


Adrian melihat Rafa yang kaku mematung. Tangannya mengepal menghantam tanah. Adrian bisa merasakan kekecewaan Rafa. Ketika melihat istri dan anaknya pergi bersama laki-laki lain. Adrian berjongkok disamping tubuh Rafa. Dia menepuk pundak Rafa pelan. Adrian memberikan semangat, jika semua akan baik-baik saja.


"Rafa, kita harus segera ke rumah sakit. Hana membutuhkanmu, kamu suami sahnya. Bayi yang dia kandung putramu. Tidak akan ada penanganan tanpa kehadiranmu. Semua butuh persetujuanmu!" bisik Adrian, Rafa menoleh menatap Adrian nanar. Hanya kesedihan yang terlihat dari mata indah Rafa. Tak ada lagi semangat untuk bangkit. Semua lenyap seiring penolakan Hana.


"Apa dia masih membutuhkan laki-laki jahat sepertiku? Keluargaku terus menghina dan menghina istriku. Mereka membenci putraku yang belum terlahir. Aku berada diantara orang yang berhati iblis. Hana tidak akan pernah sudi melihatku!" ujar Rafa dengan suara serak. Air mata Rafa jatuh membasahi tanah. Rafa menyadari penolakan Hana, imbas dari sikap keluarganya yang selalu menghina dan merendahkannya.


"Jangan pikirkan itu, hanya kamu wali Hana. Semua keputusan ada di tanganmu. Jika kita terlalu lama disini, tidak menutup kemungkinan. Kita bisa kehilangan salah satu atau keduanya!" ujar Adrian, Rafa mendongak menatap ke arah Sabrina dan Gunawan. Kedua mata indahnya merah karena air mata bercampur amarah. Rafa berdiri dengan tubuh yang sempoyongan.


Rafa menarik tubuh Sabrina kasar, seperti yang dilakukan Sabrina pada Hana. Rafa melempar tubuh Sabrina keras ke arah meja. Sabrina jatuh menabrak meja, piring dan gelas berjatuhan. Gunawan hendak menolong istrinya, tapi terhenti saat Rafa menunjuk ke arah wajahnya.


"Jika papa mendekat, aku pastikan wanita ini dan putrinya akan keluar dari rumah besok pagi!" ujar Rafa kasar, Gunawan mundur beberapa langkah. Dia takkan bisa membela istrinya yang memang benar-benar salah.


"Nyonya Sabrina Prawira yang terhormat, kamu sudah melakukan kesalahan yang sangat fatal. Bukan saja kamu akan membunuh putraku. Kamu juga membuat istriku semakin membenciku. Bersiaplah nyonya Sabrina, besok kamu akan membayar lunas air mata istriku. Putrimu akan merasakan sakit yang sekarang dirasakan putraku. Lari sejauh kamu mampu, jika tidak carilah lubang tikus. Agar kamu bisa bersembunyi!" ujar Rafa emosi, dia menarik tubuh Sabrina dengan satu tangan. Tak ada lagi sopan santun, semua musnah tak tersisa.


"Rafa, kamu kehilangan akal. Jika berita itu tersebar, bukan hanya aku yang malu. Keluarga Prawira akan hancur! Kita lihat siapa yang akan bertahan?" ujar Sabrina santai, Rafa tersenyum sinis. Sabrina merasa Rafa akan takut dengan ancamannya. Sayangnya dugaan Sabrina meleset.


"Kamu lupa atau hilang ingatan. Aku yang mampu membawa keluarga Prawira dari ambang kehancuran. Jadi sangat mudah untukku menghancurkanmu, tanpa melibatkan keluargaku. Kamu akan merasakan tatapan jijik suami dan putrimu. Kamu perlu merasakan hidup jauh dari suamimu!" ujar Rafa sinis, Sabrina ketakutan. Tubuhnya mulai bergetar, air mata mulai menetes dari kedua matanya. Dengan kasar Rafa melempar Sabrina.

__ADS_1


"Kamu tunggu saja nyonya Sabrina, harga diri yang anda banggakan. Akan musnah dalam semalam. Nikmati sisa waktumu sebagai wanita terhormat. Sebelum semua orang memandang hina dirimu!" ujar Rafa kasar, Sabrina terdiam. Amarah Rafa sudah tak bisa dibendung. Tubuh Sabrina lemas, bayangan akan masa lalunya yang kelam bermain indah dalam pikirannya. Rafa meninggalkan Sabrina, dia melesat ke rumah sakit bersama Adrian.


Rafa tak bisa membiarkan Hana berjuang sendiri tanpa dirinya. Apapun yang terjadi, Rafa harus berada di samping Hana. Meski ribuan kali Hana menolak, ribuan kali juga Rafa akan berusaha. Dengan kecepatan tinggi Rafa melesat menuju rumah sakit terbesar di kota ini.


...☆☆☆☆☆...


Hana langsung mendapatkan pertolongan saat tiba di rumah sakit. Kondisi Hana sudah menjadi prioritas rumah sakit. Dengan arahan dokter Cintya, dokter yang menangani Hana selama ini. Dokter jaga rumah sakit mampu menyelamatkan ibu dan bayinya. Namun fisik Hana masih sangat lemah.


Diana tidak henti-hentinya menangis. Diana mengingat tatapan sendu Hana, saat meminta dirinya menyelamatkan bayi yang dikandung Hana. Diana lemah tak berdaya, saat tubuh Hana pingsan dipangkuannya. Dunia seakan menimpa Diana, tak ada lagi tempat baginya untuk berlindung.


"Diana, dimana Hana? Bagaimana kondisinya?" ujar Rafa cemas, Diana hanya mampu menggeleng. Bibirnya seolah kelu, air matanya terkuras habis. Adrian melihat kerapuhan Diana, dibalik sikap kasarnya. Adrian melihat Diana yang tak berdaya melihat sahabatnya terluka.


"Rafa tenang dulu, kita tunggu dokter. Percuma kamu bertanya pada Diana. Dia terpukul sama seperti dirimu!" ujar Adrian, Rafa mengusap wajahnya kasar. Gelisah memikirkan istri dan putranya berjuang sendiri tanpa dirinya.


"Dokter Naufal, bagaimana kondisi Hana?" ujar Diana, dokter Naufal tersenyum. Sebaliknya Rafa dan Adrian memasang wajah heran. Saat melihat Diana begitu akrab dengan dokter Raditya Naufal Wirawan.


"Dia baik-baik saja, tapi dia belum bisa pulang. Kondisi janinnya masih beresiko untuk gugur!"


"Tuan Rafa, kondisi Hana sudah stabil. Anda tidak perlu cemas. Bersabarlah menghadapi Hana, dia mungkin keras tapi sangat rapuh. Tidak mudah masuk ke dalam hatinya, sesulit dia mengulurkan tangannya untukmu!" ujar Naufal. Rafa terperangah mendengar Naufal mengenal Hana melebihi dirinya.


"Anda mengenal istri saya! Siapa anda sebenarnya? Ada hubungan apa anda dengan Hana?" cecar Rafa, Naufal menggeleng seraya tersenyum.

__ADS_1


"Siapapun diriku? Semua itu tidak penting, tunggulah Hana menceritakan siapa diriku? Jangan pernah meragukan Hana, jika tidak ingij kehilangan Hana untuk kedua kali!" ujar Naufal sembari menepuk pundak Rafa. Naufal meninggalkan Rafa, dia menghampiri Diana.


"Diana, kita ke kantin. Aku tahu kamu belum sempat makan malam!"


"Tapi Hana!"


"Tidak perlu khawatir, Hana akan istirahat. Aku sudah meminta suster menjaga 24 jam. Jadi kamu bisa istirahat sebentar!" ujar Naufal, Diana mengangguk pelan. Adrian marah melihat Diana pergi dengan Naufal.


"Tunggu Diana, kemana kamu akan pergi? Kamu belum mengenalnya?" ujar Adrian marah, tangannya menahan Diana untuk pergi.


"Jangan sentuh diriku dengan tangan kotormu. Aku dan Hana jauh lebih mengenal dirinya, daripada mengenal kalian berdua. Dokter Naufal berarti dalam hidup Hana!" ujar Diana kesal, dia menghempaskan tangan Adrian kasar.


Deg Deg Deg


Jantung Rafa berdetak begitu hebat. Bak petir menyambar di siang hari. Hati Rafa hancur saat telinganya mendengar Naufal laki-laki yang berarti dalam hidup Hana.


"Aku melepas tanganmu, ketika aku cemburu melihatmu tertawa bersama Rama. Dengan kebodohanku, aku harus kehilangan dirimu. Sekarang aku harus mendengar Naufal, tak lain laki-laki yang berarti dalam hidupmu. Aku tak pernah mengenal Naufal, tapi dengan sangat jelas dia mengenalmu. Akankah kisah kita berakhir! Hana Khairunnissa, jika aku melepas tanganmu karena Rama. Naufalkah laki-laki yang akan membawamu pergi jauh dariku. Hidupkah diriku tanpa dirimu kelak! Sanggupkah aku melihat dirimu menatap penuh kagum pada Naufal! Relakah aku mendengar suaramu memanggil Naufal dengan mesra! Mampukah hatiku mengetahui Naufal laki-laki yang kamu rindukan! Hana, aku tak sanggup. Aku takkan pernah sanggup. Anak papa sayang, bantu papa mendapatkan mama. Satukan kami, kembalikan mama pada papa. Kamu harapan terakhir papa!" batin Rafa pilu, sesaat setelah Rafa mendengar perkataan Diana. Rafa tidak hanya hancur, semua dunia Rafa seakan runtuh.


"Rafa, kamu harus kuat. Siapapun laki-laki itu dia masa lalu Hana? Diana hanya emosi, jangan dengarkan dia!"


"Adrian, semua yang terjadi hanya karena statusku sebagai keluarga Prawira. Besok akan kubuat Keluarga Prawira tahu, apa itu harga diri? Sabrina Prawira orang pertama yang akan aku hancurkan!"

__ADS_1


...☆☆☆☆☆...


TERIMA KASIH😊😊😊


__ADS_2