
"Semoga kalian bahagia!" ujar Vania singkat lalu berjalan menjauh dari Amalia. Raihan menatap punggung sang kekasih yang berjalan menjauh. Sontak dia teringat akan amarah Vania yang sulit dikendalikan. Dia tidak akan sanggup bila amarah Vania terlihat. Rasa khawatir yang tiba-tiba menyeruak. Membuat Raihan tidak akan mungkin melanjutkan sandiwara ini.
Amalia Putri Adijaya, bukan orang lain bagi keluarga Raihan. Mereka sudah mengenal sejak kecil dan tumbuh bersama. Meski bukan saudara, Raihan menganggap Amalia layaknya adik kandung sendiri. Mereka dulunya bertetangga, rumah mereka saling berhadapa. Namun semenjak Amalia pindah ke kota ini. Mereka jarang bertemu, tapi komunikasi kedua orang tuanya masih terus berlanjut.
Tanpa sengaja beberapa hari yang lalu mereka bertemu. Saat mereka makan siang bersama. Amalia menceritakan keinginannya membalas Vania. Dia ingin menghina dan membuat Vania sakit hati. Amalia meminta Raihan berpura-pura menjadi calon suaminya. Agar Vania rendah diri dan terhina. Sebab dia melihat Amalia akan menikah dengan salah satu pengusaha hebat. Awalnya Raihan menolak permintaan Amalia. Dia tidak ingin ambil bagian dalam sakit hati orang lain. Namun saat dia tahu, jika wanita itu Amalia. Seketika Raihan mengangguk setuju. Raihan ingin melihat kecemburuan Vania. Dia ingin melihat amarah Vania. Saat dia mengetahui, Raihan sedang dekat dengan wanita lain. Raihan ingin melihat cinta Vania padanya.
Namun sepertinya pemikiran Raihan salah. Bukan kecemburuan yang terlihat dari Vania. Raihan mendapatkan ucapan selamat dari Vania. Kata selamat yang seketika membuat dia terperangah. Dengan lantang dan tegas, Vania mengatakan ucapan itu. Tidak ada air mata yang menetes. Tidak ada kesedihan yang nampak dari raut wajahnya. Hanya rasa ikhlas yang seolah ingin Vania perlihatkan. Sebuah keihlasan akan rasa cinta yang harus berakhir. Ketulusannya harus menerima sebuah pengkhianatan yang tak pantas untuk ditangisi.
Ketegaran Vania membuat Raihan ketakutan. Diam Vania mampu membuat Raihan kehilangan Vania selamanya. Dengan cepat Raihan melepas rangkulan Amalia. Dia berlari mengejar Vania yang semakin menjauh. Amalia yang tidak pernah mengetahui. Jika Vania wanita yang dicintai Raihan. Hanya bisa pasrah, dia terdiam melihat Raihan mengejar Vania. Lagi dan lagi Amalia harus menelan kekecewaan. Laki-laki yang dia cintai mengejar dan mungkin mencintai Vania. Kebahagiannya hanya sebentar saja. Saat dia melihat raut kesedihan di wajah Vania. Amalia berpikir Vania merasa rendah diri dan iri melihat dirinya bersama Raihan.
__ADS_1
Faiq hanya diam sembari menahan tawanya. Sebenarnya Faiq dan Davina sudah mengetahui rencana Raihan. Bukan tanpa alasan Raihan mengatakan semuanya pada Faiq. Dia tidak ingin demi rasa cemburu Vania. Dirinya harus melihat amarah Faiq. Sebab Faiq kakak yang akan siap melakukan apapun demi sang adik? Jika Fathan mungkin Raihan akan tetap diam. Namun Faiq bukan Fathan yang selalu bersikap tenang. Faiq tidak mudah untuk diluluhkan bila sudah terluka.
"Tunggu kita harus bicara!" ujar Raihan gelisah, Vania terus saja berjalan menjauh. Dia berjalan semakin cepat. Vania tidak ingin Raihan melihat air matanya yang mulai menetes. Vania terus berjalan bahkan dia berlari. Agar Raihan tidak bisa mendekat padanya. Vania berjalan ke luar area cafe. Dia berjalan ke arah jalan besar untuk mencari taxi. Vania sudah tidak sanggup lagi berdiri. Dadanya terasa sangat sesak. Penantiannya selama ini harus berakhir dengan pengkhianatan. Cintanya harus kandas dan tak terbalas. Raihan berlari sekuat tenaganya. Dia tidak akan memaafkan dirinya sendiri. Bila kebodohannya membuatnya harus kehilangan Vania. Dia tidak akan pernah rela, seandainya Vania benar-benar pergi dari hidupnya.
"Sayang, kita harus bicara! Aku mohon berhentilah, jangan berlari terus nanti kamu terjatuh!" teriak Raihan, Vania tidak peduli dengan teriakan Raihan. Dia terus berlari dan berlari. Amalia tertegun melihat Raihan mengejar Vania. Dia tidak pernah melihat Raihan mengejar seorang wanita. Malah Raihan yang selalu dikejar para wanita. Namun dengan mata kepalanya sendiri. Dia melihat Raihan berusaha mengejar Vania. Sedetik ada rasa ngilu di hati Amalia. Dia tidak menyangka, Vania mengalahkannya lagi.
"Sayang, kita bicara di mobil. Aku dan Amalia tidak memiliki hubungan apapun. Dia sudah seperti adik bagiku. Aku melakukan semua ini, agar kamu cemburu. Aku ingin melihatmu marah dan mengatakan pada semua orang. Bahwa aku calon imammu. Aku ingin melihatmu memperjuangkan cinta kita. Aku ingin semua orang mengetahui. Cintaku hanya untukmu, sebaliknya cintamu hanya untukku. Aku tidak pernah ingin mendengar doa bahagia darimu. Bila bukan dirimu yang ada disampingku. Sayang, aku mohon dengarkan aku!" tutur Raihan cemas, sembari menahan tangan Vania. Sejenak Vania diam mematung. Air mata yang tak lagi bisa ditahan. Telah jatuh membasari cadarnya. Kedua matanya tak lagi putih, air mata membuatnya memerah. Dengan perlahan Vania memukul dadanya yang terasa sesak. Raihan melihat Vania yang terluka, karena kebodohannya yang ingin melihat rasa cemburu Vania. Lama Vania terdiam, dia tidak menoleh atau mengatakan sesuatu rasa kecewanya. Raihan lemah tak berdaya, diam Vania bagai air cuka yang meremukkan tulangnya. Raihan seakan tak mampu berdiri membayangkan air mata Vania menetes.
Terdengar suara langit bertasbih, kilatan cahaya putih petir menerangi langit yang gelap. Raihan dan Vania terdiam tanpa ada yang bicara. Vania tidak bergeming atau menangkis tangan Raihan yang memegangnya erat. Raihan melihat tubuh Vania mulai bergetar. Ketabahan Vania telah luluh. Dia tidak lagi bisa tegar di depan Raihan. Jika ada yang mengatakan dirinya cemburu. Semua itu memang nyata adanya. Rasa cemburu yang dirasakan Vania. Bagai tali yang menjerat lehernya, sesak dan tak bisa bernapas. Raihan hanya bisa diam membisu melihat Vania yang menangis. Kebodohan yang akan dia sesali seumur hidupnya.
__ADS_1
Jedddeeerrr Jeddddeeeerrr
Terdengar suara langit yang terus bertasbih. Cahaya putih yang saling bersahutan bergantian menghiasi langit. Setitik air mulai turun membasahi hijab Vania. Setitik air yang turun bersamaan dengan air mata Vania. Gerimis yang seolah ingin menutupi air mata Vania yang menetes. Raihan hanya bisa menunduk lesu. Melihat wanita yang sangat dicintainya terluka.
"Sedingin itukah aku dimatamu, sampai kamu menguji kehangatan rasaku. Selemah itukah rasa percayamu, sehingga kamu perlu keyakinan untuk mengakui cintaku. Sekeras apa hatiku? Sampai kamu ingin menghancurkannya. Mungkin aku bukan wanita yang sempurna, tapi selama ini cintaku sempurna untukmu. Aku menjaga kesucian rasaku, bukan demi keraguan ini. Jika rasa cemburu yang ingin kamu lihat. Bisa mengatakan berapa besar rasa sayangku padamu? Haruskah seorang istri menangis dan tersakiti. Hanya agar suaminya merasakan cinta istrinya. Apa semua akan terasa benar? Bila suami berkhianat, ketika sang istri terlalu percaya padanya. Aku tidak tahu, apa yang kamu pikirkan tentang diriku? Satu hal yang pasti, cintaku padamu telah kuserahkan sepenuhnya pada Allah SWT. Jadi jangan berpikir diamku, tanpa ada rasa cemburu. Aku tidak pernah ragu, jika kamu satu-satunya imam yang tercipta untukku. Aku selalu percaya, kamu yang terbaik untukku. Jangan pernah berharap, aku akan marah bila melihatmu bersama wanita lain. Sebab cintaku padamu sebuah kesucian yang penuh kepercayaan dan kesetiaanku. Jika kamu ingin melihat rasa cemburuku. Demi meyakinkan hatimu, maafkan aku bila aku harus menjauh. Rasa sakit ini, membuatku menyadari. Betapa kamu berarti dalam hidupku!" tutur Vania, Raihan diam membisu. Cinta Vania yang begitu besar membungkam mulutnya. Hujan telah membasahi tubuh keduanya. Vania mulai menggigil, tapi dia tetap bertahan agar tak terlihat rapuh.
"Aku memang salah, maafkan aku yang berharap rasa cemburumu. Agar aku yakin, diriku berharga dalam hidupmu!" ujar Raihan lirih, lalu menarik tangan Vania. Raihan membawa Vania masuk ke dalam mobilnya. Vania tidak melawan atau menolak, dingin air hujan membuat hati dan tubuhnya beku. Tidak ingin Vania berdebat lagi. Faiq dan Davina diam melihat dua sejoli yang sedang dilema.
"Mencintaimu orang seperti kalian, harus butuh kekuatan hati. Baik kak Faiq dan Vania, memiliki cinta yang begitu besar. Namun entah kenapa terlalu sulit untuk terucap? Terkadang kami merasa tak dihargai, malah tak pernah merasa dicintai. Sehingga kami selalu merasa sakit yang sesungguhnya tak harus ada. Hanya keteguhan cinta yang membuat kami bisa bertahan mencintai orang seperti kalian!" ujar Davina lirih dan santai, Faiq terperangah mendengar celetukan Davina.
__ADS_1
"Sayang, jangan mulai lagi!" ujar Faiq.