KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Janji


__ADS_3

"Sayang!" sapa Rizal, Kiara mendongak menatap wajah Rizal suaminya. Terlihat Rizal masuk ke dalam kamar. Kebetulan Kiara sedang membaca buku seperti biasa. Kiara duduk di sofa, Rizal melihat Kiara sedang termenung. Meski Rizal menyapa Kiara secara perlahan. Tetap saja Kiara terkejut ketika melihat Rizal datang.


"Kak Rizal, kapan datang? Maaf Kiara tidak menyadari kedatangamu. Aku sedang asyik membaca buku. Sampai aku tidak mengetahui kedatanganmu!" ujar Kiara lirih, Rizal menggeleng seraya tersenyum. Dia membaringkan tubuhnya di sofa. Rizal tidur di pangkuan Kiara. Dengan lembut Kiara membelai rambut hitam legam milik Rizal.


Sebaliknya Rizal mendongak, menatap wajah Kiara dari bawah. Dengan jelas Rizal melihat guratan-guratan halus di wajah Kiara. Sesuatu yang membuat Kiara terlihat cantik dan sempurna sebagai seorang wanita. Kecantikan yang disadari Rizal setelah pernikahan. Sebab sejatinya pernikahan Rizal berawal dari kekagumannya akan prinsip hidup Kiara.


Seandainya Rizal datang dengan suara. Dia tidak akan pernah melihat kekhawatiran Kiara. Sesuatu yang tersimpan rapat dalam setiap senyum Kiara. Rizal akhirnya melihat jelas kegelisahan Kiara yang tak pernah diutarakan. Setelah melihat Kecemasan sang istri. Rizal bertekad ingin mendekati Kiara. Agar mereka bisa saling berbagi satu dengan yang lain. Tanpa berpikir ingin menutupi satu dengan yang lain.


"Sayang, kamu tidak akan menyadari kedatanganku. Sebab kamu sedang larut dalam lamunan yang aku sendiri tidak mengetahuinya. Aku bukan Rizal ustadmu dulu. Kini aku suamimu yang seharusnya menjadi orang pertama yang mengenal dirimu. Seseorang yang melindungi dan menjagamu. Tanganku yang seharusnya menghapus air mata yang menetes dari kedua matamu. Jadi biarkan aku melihat kesedihanmu. Izinkan aku menampung semua dukamu!" ujar Rizal, lalu menarik tangan Kiara yang sedang mengelus rambutnya. Rizal mencium lembut punggung tangan Kiara. Dengan penuh kehangatan Rizal mendekap tangan Kiara. Meletakkannya tepat di dadanya, sebaliknya Kiara terperangah mendengar penuturan Rizal. Dia tidak menduga bila Rizal menyadari kecemasan dalam hatinya.

__ADS_1


"Aku sedang membaca buku. Siapa yang mengatakan aku sedang banyak pikiran? Kak Rizal sedang bercanda. Aku baik-baik saja!" ujar Kiara mencoba menutupi. Rizal menggeleng lalu menutup kedua matanya. Dia mendengar hembusan napas Kiara yang memburu. Rizal bisa melihat jelas kegelisahan Kiara.


"Sayang, berbohong pada suami itu dosa. Kamu jangan lupa, bukan hanya tubuh kita yang menyatu. Namun hati dan jiwa kita telah menjadi satu setelah pernikahan. Katakan semua kegelisahanmu. Sepahit apapun itu atau serumit apapun masalah itu. Kita akan bersama mencari jalan keluarnya!" ujar Rizal, Kiara menunduk lemah. Tanpa sengaja Kiara telah melakukan kesalahan dengan membohongi Rizal suaminya. Kiara menyesal telah melukai hati suaminya.


"Kak Rizal, aku sedang memikirkan perkataan umi semalam. Beliau menghubungiku dan memintaku untuk menyampaikan padamu. Umi menyalahkanku karena kita tidak pernah mengunjungi pesantren. Aku kecewa setelah mendengar perkataan umi. Bukankah sejak awal aku sudah meminta kak Rizal untuk pulang ke pesantren. Aku takut umi membenciku dan berpikir aku ingin menjauhkanmu dari mereka. Aku tidak pernah berpikir ingin menjadi menantu yang durhaka!" tutur Kiara lirih, sontak Rizal bangun dari tidurnya. Dia duduk tepat di samping Kiara. Dengan tersenyum Rizal menggenggam tangan Kiara. Lalu menarik tubuh Kiara ke dalam dekapannya. Kini Rizal mengetahui alasan kegelisahan Kiara. Hubungan yang mendingin antara Kiara dan ibunya membuat Rizal.harus bersikap adil. Dua wanita yang terpenting dalam hidupnya. Masih belum bisa menyatu dan saling mengenal.


"Kiara, maafkan aku yang belum bisa membuat hubunganmu dengan umi membaik. Aku belum bisa menjadi tali penyatu diantara kalian. Kesalahpahaman yang ada sejak pertama kita menikah. Belum mampu aku selesaikan. Umi masih berpikir pernikahan kita salah. Maafkan aku yang gagal menerangkan pada umi. Jika kamu pilihan terbaikku. Dalam pikirannya aku salah memilih pasangan hidup. Namun selama kamu yakin padaku, kita akan melewati semua ini. Apapun yang umi katakan, hanya bentuk kekecewaannya padaku. Bukan kebenciannya padamu, sebagai seorang anak aku belum bisa berbakti!"


Umi Rizal tidak pernah ingin melihatnya meninggalkan pesantren. Bahkan uminya selalu menjodohkan Rizal dengan putri pemilik pesantren, dengan harapan Rizal bisa menjadi pemimpin pesantren milik keluarganya. Sebab itu ada penolakan dari umi saat Rizal menikah dengan Kiara. Umi ingin memiliki menantu dari kalangan yang sama. Namun Abi menyetujui permintaan Rizal menikah dengan Kiara. Sebab Abi merasa Kiara wanita yang pantas mendampingi Rizal. Semenjak itu ada jarak antara mertua dan menantu. Dinginnya hubungan yang jelas terasa.

__ADS_1


Sejak awal menikah, Kiara meminta Rizal kembali ke pesantren. Dia ingin meneruskan pelajarannya, tapi selalu mendapatkan penolakan dari Rizal. Akhirnya Kiara diam dan memutuskan tinggal bersama Rafa dan Hana. Rizal tidak ingin kembali menuju pesantren. Bukan tidak ingin berbakti pada orang tuanya. Namun Rizal tidak ingin membuat Kiara tersakiti. Rizal takut umi mencari kesalahan Kiara yang akhirnya membuat pernikahannya berakhir.


"Sayang, aku sudah memutuskan untuk keluar dari pesantren. Keputusanku didukung olah abi dan semua ini bukan karena dirimu. Umi terlalu terobsesi padaku. Dia ingin melihatku menikah dengan putri kyai besar. Umi ingin aku memimpin pesantren milik keluarga. Bukan aku tidak ingin berbakti. Aku bekerja sepenuhnya untuk keluargaku. Semua jerih payahku kuberikan untuk perkembangan pesantren. Namun untuk menjadi pengasuhnya, aku tidak pernah siap. Apapun yang dikatakan umi, jangan kamu jadikan beban. Percayalah aku akan membuat umi menerimamu dengan sepenuh hati. Akan kubuat umi melihat ketulusanmu, tapi selama aku belum bisa menyakinkan umi. Bersediakah kamu menunggu restu itu dengan sabar!" ujar Rizal, Kiara mengangguk. Kiara mendengar jelas detak jantung Rizal. Meski tidak akan mudah menerima kebencian sang mertua. Namun demi sebuah keyakinan Rizal, Kiara akan berusaha menerima. Baginya yang paling penting, Rizal mengerti niat baik Kiara yang menganggap orang tuanya. Kiara tidak pernah ingin menjauhkan putra dari kedua orang tuanya.


"Kiara, aku akan menepati janjiku. Aku meminta kesabaranmu menunggu semua itu terpenuhi. Tetaplah disampingku meski semua ini terasa sulit. Tidak akan lama lagi, umi mengenal kebaikan hatimu. Tidak akan wanita yang bisa menggantikan dirimu. Bersabarlah menerima kebencian umi demi cinta kita. Saatnya tiba umi akan mengerti obsesinya salah. Abi tidak pernah berniat menyerahkan pesantren padaku. Abi tidak ingin melihatku terbenani. Pernikahan Mila akan menjadi jawaban semua kegelisahanmu!" ujar Rizal, lalu mengecup kening Kiara. Rizal merasakan kegelisahan Kiara, menjadi seorang menantu yang selalu disalahkan.


"Aku membuatmu jauh dari pesantren!" ujar Kiara lirih, Rizal menggeleng lemah. Dia mengakat wajah Kiara. Kedua bola matanya menatap wajah Kiara lekat. Kedua tangannya menangkup pipi gimbul Kiara.


"Kiara Putri Prawira, kamu tidak menjauhkanku dari pesantren. Namun mengenalmu membuatku dekat dengan kesempurnaan iman. Cinta yang kurasakan padamu, menjadikanku manusia yang bersyukur. Sebab pertemuan kita dan rasa cinta ini menjadi anugrah terindah dan terbaik dalam hidupku. Aku menyakini bahwa Allah SWT selalu memberikan yang terbaik untuk hamba-NYA yang beriman, bukan yang kita harapkan. Sebab sesuatu yang kita harapkan belum tentu yang terbaik untuk kita. Jangan pernah meragukan takdir yang tertulis. Akan ada hikmah di setiap jalan yang tertulis. Aku butuh keteguhan cinta kita dan yakinlah semua akan baik-baik saja. Semulusnya jalan akan ada kerikil yang menusuk telapak kaki. Begitupula pernikahan kita, sebahagia apapun pernikahan kita akan tetap ada air mata yang menetes. Sejatinya setiap kita menginginkan sesuatu, kita harus siap bekorban. Termasuk cinta dan kebahagian kita yang harus bersabar menghadapi obsesi umi. Ingatlah semua butuh pengorbanan, agar kita bisa bersyukur saat kebahagian tergapai!" tutur Rizal, Kiara mengangguk dalam dekapan Rizal.

__ADS_1


"Terima kasih telah mencintaiku dan membuatku merasa bahagia karena dicintai!"


__ADS_2