KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Senyummu Kekuatanku


__ADS_3

Pertemuan Hana dengan Dilla sang pesaing berakhir dengan kemenangan telak bagi Hana. Sejak dulu sampai sekarang, Hana tidak pernah merasa bersaing dengan Dilla. Namun kesombongan Dilla seolah menantang Hana. Keraguan Dilla akan pernikahannya dan keimanan suaminya. Membuat Hana merasa marah dan ingin mengatakan yang sebenarnya.


Hana akan diam bila hanya dirinya yang terhina, tapi Hana akan melawan jika kehormatan suaminya dipertanyakan. Rafa terkejut sekaligus bahagia, saat melihat Hana membelanya tanpa mengenal kata takut. Rafa merasa berarti dalam hidup Hana. Cinta yang selama ini berusaha dibuktikan oleh Rafa telah bersambut. Meski semua orang meragukan ketulusan dan keteguhan cinta mereka. Namun Rafa dan Hana tidak bergeming. Mereka tidak menjelaskan atau mengatakan pada semua orang. Dengan kebersamaan dan kehangatan yang terlihat. Semua orang mampu menilai seberapa besar keteguhan cinta mereka.


Pernikahan yang terjadi tanpa sebuah cinta dan tuntutan. Kini telah menemukan jalan hidupnya. Cinta yang tak pernah terjalin. Dengan indah mulai terasa antara Hana dan Rafa. Keduanya belajar saling mengenal dan menerima. Sesuatu yang tak pernah mereka ketahui sebelum pernikahan. Sebuah pernikahan yang ingin dijalin tanpa takut akan ujian dan ketidaksamĂ an yang menghadang.


Rafa berusaha mengenal sikap keras dan prinsip yang selalu dipegang teguh oleh Hana. Tanpa sedikitpun mengeluh, Rafa menanti kata cinta dan pengertian dari Hana. Rafa mulai memahami cara Hana mencintainya. Cinta tulus dalam diam yang takkan pernah Rafa lihat dari wanita lain. Hanya Hana yang mencintai Rafa, tanpa berpikir ingin mengusai dan menjilat. Hanya cinta murni yang Hana berikan. Sebuah kemurnian yang takkan ternoda dengan masa lalu atau gelam dan hitam kehidupan Rafa.


Sebaliknya Hana selalu belajar menerima kesalahan demi kesalahan Rafa. Memaafkan tanpa berpikir lelah, agar cinta yang pernah ada tetap bersemi. Tanpa sedikitpun ragu untuk terluka. Hana selalu belajar menjadi pribadi yang mengerti dunia Rafa. Sampai Hana mulai mengerti arti dibalik cinta diantara dirinya dan Rafa. Pernikahannya dengan Rafa dan pertemuannya sebagai cara melupakan kesalahan masa lalu. Sebuah pengertian yang mudah, tapi sangat sulit dilakukan. Butuh pengorbanan yang tidak sedikit. Entah air mata atau rasa sakit, Hana mulai lupa bagaimana semua itu terasa? Hanya demi senyum Rafa dan Fathan, Hana mengubur semua dukanya.

__ADS_1


Pertemuannya dengan Dilla beberapa hari yang lalu terlupakan begitu saja oleh Hana. Rafa sempat mengatakan pada Hana ingin membatalkan kerjasama dengan Dilla. Dia tidak ingin Hana cemburu atau berpikir macam-macam tentang kedekatan Rafa dan Dilla. Namun dengan santai dan Tegas, Hana menolak semua itu. Hana tidak ingin ikut campur dengan bisnis Rafa. Seandainya Rafa ingin mengakhiri kontrak dengan Dilla. Semua itu murni karena menimbang untung dan rugi. Bukan karena persaingan yang pernah ada diantara Hana dan Dilla. Sekali lagi Rafa melihat kebijaksanaan Hana yang tak mencampuradukkan masalah pribadi dan bisnis. Rafa seakan melihat Hana yang dingin dan selalu percaya akan cintanya pada Hana.


Siang ini Hana dan Diana berjanji untuk makan siang di restoran milik Zyan. Hana merinduka makanan andalan restoran ini. Diana selalu siap menemani Hana kemanapun pergi? Kehamilan Hana yang mendekati HPL, membuat semua orang siaga. Tidak terkecuali Diana dan Salsa, dua orang yang siap memberikan waktunya untuk Hana.


"Hana, tidak terlalu banyak kamu memesan makanan. Sejak kapan napsu makanmu bertambah?" ujar Diana heran, Hana terus mengunyah tanpa menghiraukan Diana yang cemas. Tak pernah Diana melihat porsi makan Hana sebanyak ini. Sejak dulu Hana selalu memesan sedikit makanan. Jika dia ingin menambah baru Hana akan memesan lagi. Namun kali ini berbeda, Hana langsung memesan sebanyak itu. Hana tidak pernah membuang makanan, karena itu Diana takut Hana tidak bisa menghabiskan makanan dan akhirnya memaksa memakan semua makanan ini.


"Hana, apapun yang kamu katakan sangat tidak lucu!. Kamu jelas tahu, jika hari persalinanmu sudah sangat dekat. Kamu harus mengatur pola makan. Setidaknya kamu menahannya sampai bayimu terlahir. Aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu dan keponakanku!" ujar Diana lirih dengan penuh pengharapan. Hana menggenggam tangan Diana, lalu mengangguk pelan. Diana mendongak menatap Hana, dia melihat sahabatnya yang tegar menghadapi hari persalinan. Hana menepuk pelan punggung tangan Diana.


"Diana, aku dan bayiku akan selalu baik-baik saja. Doa dari kalian semua melindungiku dari bahaya. Tidak akan pernah aku takut menghadapi kemungkinan terburuk. Selama ada kamu disisiku. Aku akan selalu tersenyum. Agar senyum yang kulihat dari bibirmu terbalaskan. Jangan pernah takut menghadapi kemungkinan terburukku. Aku akan baik-baik saja, meski aku tak lagi ada diantara kalian. Diana, kenangan yang pernah ada diantara kita. Sudah cukup membuatku bahagia dan berarti. Bukan Rafa Akbar Prawira yang membuatku terus tegar dan kuat melawan dunia ini. Namun hadirnya dirimu dan senyummu. Seorang sahabat sejati Diana Larasati Permana yang akan menjadi jalan terang dalam gelap hidupku. Jangan pernah bersedih, air matamu terlalu berharga untuk menete. Tersenyumlah demi diriku, agar aku kuat menghadapi dunia ini!" tutur Hana lirih, Diana terperangah mendengar penuturan Hana. Sebuah kejujuran yang tak pernah ingin Diana dengar. Kegelisahan menyelimuti hati dan pikiran Diana. Dengan tangan yang bergetar Diana menggenggam erat tangan Hana. Diana memegang tangan Hana sekuat tenaga yang dimilikinya. Perkataan Hana ibarat isyarat akan kepergiannya. Sesuatu yang tak pernah ingin Diana dengar dan lihat.

__ADS_1


"Hana, seyakin dirimu akan diriku. Maka percayalah aku tidak akan membiarkan sesuatu terjadi padamu. Aku akan berusaha melawan kehendak-NYA. Namun jika kelak aku kalah, aku ingin menjadi pemenang yang penuh kebanggaan. Aku akan mengantarmu dengan senyum paling indah. Sebab aku akan menjadi perisai yang melindungimu selama napas masih melekat dalam diriku!" ujar Diana, Hana mengangguk pelan. Diana berdiri menghampiri Hana, dia menarik tubuh Hana ke dalam pekukannya. Dengan penuh kehangatan Diana mendekap tubuh Hana yang sedikit berisi. Diana mengelus perut buncit Hana.


"Hana, takkan pernah aku menyerah melawan kondisimu. Akan kupastikan kamu baik-baik saja. Kenangan kita masih belum terlalu banyak untuk diceritakan pada anak cucu kita!" ujar Diana lirih, Hana mengusap air mata Diana. Lalu dengan penuh keyakinan Hana mengangguk pelan. Dia menarik tubuh Diana yang sedang berjongkok di depannya. Hana menarik tubuh Diana ke dalam pelukannya.


"Kita akan berusaha bersama!" ujar Hana, Diana mengangguk dalam pelukan Hana. Pelukan dua sahabat yang tak pernah ingin terpisah. Kehangatan yang akan membuat orang lai merasa iri.


Tanpa Hana dan Diana sadari ada sepasang mata indah yang menatap ke arahnya. Diana dan Hana larut dalam pembicaraan yang sangat hangat. Dengan penuh kepedihan dua mata indah itu menatap persahabatan yang tak lekang di makan waktu.


"Dia mungkin hidup sebatang kara. Namun hadirnya Diana sudah cukup membuatnya bahagia dan berarti. Dia bukan wanita yang memiliki harta, tapi persahabatan yang dimilikinya mampu membuat semua orang iri. Sejak dulu keseserhanaannya menjadi alasan setiap orang menyukainya. Seandainya aku boleh memilih, ingin aku bertukar menjadi Hana. Pribadi yang miskin harta, tapi kaya akan hati yang indah. Jauh lebih baik Hana, satu sahabat sudah cukup membuat bahagia. Daripada puluhan teman tanpa ketulusan. Akan hadir disaat butuh, menjauh saat kita tak berguna. Sungguh aku iri pada keberhasilan Hana. Berhasil dalam persahabatan yang taka kalah oleh waktu dan zaman!" batin seseorang.

__ADS_1


__ADS_2