KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Semua Sudah Diatur...


__ADS_3

Sudah tiga hari Hana dirawat, kondisi ibu dan bayinya juga semakin membaik. Rafa harus bolak-balik rumah sakit dan rumah. Fathan terus memanggil mamanya, dengan terpaksa Rafa harus bolak-balik dari rumah sakit. Usia Fathan yang masih sangat kecil. Tidak memungkinkan untuk pergi ke rumah sakit.


Jadi selama Hana berada di rumah sakit, Rafa dan Kiara bergantian menjaga Hana. Jika Rafa pulang, Kiara yang akan menemani Hana di rumah sakit. Semua bergantian menjaga Hana. Dengan penuh keikhlasan Kiara membantu sang kakak merawat Hana. Rizal mengizinkan Kiara ikut menjaga Hana. Selama Kiara bisa membagi antara kewajibannya dan istirahatnya.


Seperti pagi ini, Kiara yang bertugas menjaga Hana. Rafa harus datang ke kantor. Ada rapat mendadak dengan salah satu investor. Suka tidak suka Rafa harus masuk ke kantor. Rafa sengaja membawa Fathan ke kantor. Agar Fathan tidak merasa sendirian di rumah. Alhasil semua pegawai heboh melihat kedatangan Fathan. Pangeran kecil yang menghipnotis semua mata yang memandang. Kaum hawa terpesona menatap ketampanan Fathan yang persis dengan Rafa. Pesona sang papa seolah melekat pada wajah Fathan.


Sekitar pukul 09.00 wib, Hana terbangun dari tidurnya. Setelah meminum obat, Hana merasa mengantuk. Sehingga Hana tertidur tanpa dia menyadari apa-apa? Selama di rumah sakit, Hana terus dipantau kondisi tekanan darahnya. Hana benar-benar harus memulihkan kondisinya. Agar bisa memberikan ASI pada pangeran kecilnya. Sementara menunggu Hana bisa memberikan ASI. Dengan terpaksa putranya harus mengkonsumsi susu formula. Sejujurnya Hana sudah tidak sabar memberikan ASI pada putra keduanya. Namun kondisi fisik Hana belum memungkinkan. Sehingga Hana harus lebih bersabar menanti saat yang tepat.


Hana terbangun dengan mata yang sangat berat. Pengaruh obat seolah membius hana untuk terus tertidur. Hana berusaha mengerjapkan kedua matanya. Dia mengedarkan padangannya ke seluruh penjuru ruangan. Telinga Hana tidak mendengar suara apapun? Kamar Hana sangat sepi, seakan tak berpenghuni. Sengaja Rafa membatasi jam kunjung untuk Hana. Bahkan Diana dan Salsa hanya boleh datang di jam tertentu. Rafa sangat tegas, dia ingin membuat Hana benar-benar istirahat.


Dalam kondisi setengah sadar, Hana menangkap satu sosok yang berdiri mematung di samping boks putranya. Hana berusaha membuka kedua matanya dengan sangat sempurna. Lama Hana mencoba melihat, akhirnya dia mampu melihat sosok yang berdiri tanpa bergeming dari boks putranya.


Sosok yang terlihat Hana tidak lain Kiara Putri Prawira. Hana melihat Kiara berdiri dengan tatapan sendu ke arah putranya. Hana menangkap isak tangis yang terdengar sangat lirih. Suara tangis yang memilukan, tangis yang tertahan dan sulit untuk dikeluarkan. Hana melihat jelas, Kiara berusaha menahan agar air matanya tidak terjatuh. Entah apa yang menjadi beban pikiran Kiara? Hana tidak bisa menebaknya. Pertama kalinya Hana melihat kerapuhan Kiara.


Kiara tidak jauh berbeda dengan Hana. Baginya sangat sulit mengungkit masalahnya di depan orang lain. Kiara tidak mudah bersandar pada pundak orang lain. Walaupun itu pundak kakaknya. Kiara selalu diam menyimpan semua suka dan dukanya dalam hati. Maka dari itu, saat ini Hana melihat tangis Kiara yang menetes tanpa berpikir ada yang melihatnya.


Lama Hana menatap pilu Kiara yang menangis sembari menatap putranya. Terlihat tubuh Kiara mulai bergetar, dengan perlahan Kiara memukul dadanya. Seakan ingin menunjukkan rasa sakit yang teramat. Hana hanya diam melihat kepedihan Kiara. Dia berharap Kiara bisa tetap tegar menghadapi semua permasalahan yang terjadi. Hana diam bukan tidak kasihan atau sedih melihat keadaan Kiara. Namun Hana ingin melihat seberapa besar duka itu. Sehingga dengan mudah Hana bisa mengobati atau setidaknya meringankan beban pikiran Hana.


Hampir setengah jam Hana melihat Kiara bersedih. Mungkin Kiara mulai merasa lelah, dengan perlahan Kiara membalikkan badan. Berpikir ingin memeriksa kondisi Hana yang sedang tertidur. Namun saat Kiara berbalik, dia melihat Hana sudah bangun dan menatap ke arahnya dengan penuh kecemasan. Sontak Kiara terkejut, kedua bola matanya membulat sempurna. Hampir saja Kiara menjerit, tapi dengan sisa kesadaran. Kiara menutup mulut dengan tangannya. Hana terkekeh melihat keterkejutan Kiara. Sejak awal Hana diam, bukan ingin mengagetkan Kiara. Namun tubuh Kiara yang sedang melamun membuatnya lupa akan kondisi sekitar.

__ADS_1


"Kiara, kenapa kamu terkejut? Kak Hana tidak melakukan apa-apa?" ujar Hana lirih, Kiara menggeleng seakan dia ingin menutupi kegelisahan hatinya yang terlanjur terlihat oleh Hana.


Dengan langkah gontai, Kiara mendekat pada Hana. Dia menghampiri Hana, memberikan segelas air putih. Kiara berusaha melupakan kejadian barusan. Kiara seakan ingin mengalihkan perhatian Hana. Berharap Hana tidak melihat atau mendengar isak tangisnya. Kiara berusaha menutupi kecemasannya dengan sangat sempurna.


Hana menerima segelas air yang diberikan Kiara. Namun tatapan Hana mengunci kedua mata Kiara yang terlihat sembab. Hana mendengar suara kepedihan Kiara untuk pertama kalinya. Kini dengan nyata dia melihat kedua mata indah Kiara. Berwarna merah dan penuh dengan air mata. Ingin Hana memeluk tubuh Kiara, tapi Hana berpikir semua akan ada waktunya. Kiara harus menceritakan sendiri semua pikirannya. Kiara harus merasa nyaman dengannya. Baru saat itu Hana akan mencari jalan terbaik untuk Kiara. Sesuatu yang mungkin bisa menghapus air matanya. Jalan yang akan merubah air mata Kiara menjadi sebuah senyuman yang nyata.


"Sejak kapan kak Hana terbangun? Seharusnya kakak memanggilku. Agar aku bisa membantumu duduk. Aku tidak mendengar saat kakak terbangun!" tutur Kiara lirih, Hana tersenyum simpul. Dia menepuk tempat tidurnya pelan. Isyarat meminta Kiara duduk si sampingnya. Kiara mengangguk mengerti isyarat yang dikatakan Hana. Dengan perlahan Kiara duduk tepat di sebelah Hana. Wajah Kiara terlihat sangat jelas oleh Hana. Sisa air mata masih nampak. Hana melihat kedua mata Kiara yang sayu. Akibat menangis yang terlalu lama.


Hana menarik tangan Kiara, dengan perlahan Hana mengusap lalu menepuknya. Hana memberikan dukungan pada Kiara. Berharap sang adik ipar bersedia membagi luka hatinya. Dengan lembut dan penuh kasih sayang. Hana menatap wajah Kiara. Lalu Hana mengeluarkan kegelisahannya.


"Katakanlah, apa yang sedang kamu pikirkan? Bagilah denganku seandainya kamu menganggapku sebagai kakak. Meski setelah kamu bercerita, aku tidak bisa membantu. Namun setidaknya beban hatimu sedikit berkurang. Memang sebagai seorang istri, kita memiliki batasan-batasan yang nyata. Kita tidak boleh membuka aib keluarga. Sebab setiap keluarga, memiliki masalah yang berbeda. Kiara, jika memang bisa katakanlah padaku. Aku hanya akan mendengarkan tanpa berpikir ingin mencampuri!" ujar Hana, Kiara menunduk lemah. Dia masih mencari dan menimbang. Pantaskah dia mengatakan semua kegelisahannya. Namun disisi lain, sanggupkah Kiara menyimpan luka hati yang membuatnya sesak.


Lama Hana menunggu kejujuran Kiara. Hana menyadari betapa berat beban pikiran Kiara. Sampai dia tidak mampu mengatakan pada Hana. Apa yang sebenarnya terjadi? Hana sempat berpikir, apakah kegelisahan Kiara berhubungan dengan momongan dalam rumah tangganya? Sempat Hana menangkap cara pandang Kiara yang berbeda pada putra kecilnya. Namun dengan cepat Hana membuang jauh pemikiran itu.


"Kak Hana, salahkah aku yang mengeluh? Ketika momongan tak kunjung hadir melengkapi pernikahanku. Tak pantaskah aku berharap? Agar diriku bisa menjadi wanita yang sempurna. Menjadi seorang ibu dari bayi yang mungil dan lucu. Melahirkan seorang putra, bukti cinta diantara aku dan kak Rizal. Tak layakkah aku menerima anugrah paling indah. Keajaiban yang tiada tara. Nyawa yang bersemayam dalam rahimku. Seorang bayi yang kelak memanggilku mama. Tak pantaskah aku?" ujar Kiara, Hana menggleng lemah. Dia menarik tubuh Kiara yang mulai bergetar. Suara isak tangis mulai terdengar dari bibir Kiara. Hana mencoba menenangkan Kiara. Dengan sabar Hana mengusap punggung Kiara. Hana mendekap Kiara dengan penuh cinta kasih. Kerapuhan seorang wanita dan hanya wanita pula yang bisa memahaminya. Kiara merasa tenang dan nyaman dalam dekapan Hana.


"Kiara sayang, katakanlah semua isi hatimu. Anggaplah aku selayaknya tempat sampah. Keluarkan semua pikiran kotor dari hati dan jiwamu. Jangan pernah sisakan apapun lagi. Bersihkan dirimu dari pikiran yang akan membebanimu. Luapkan semua amarahmu, rasa kecewa dan kepedihanmu. Kakak siap menjadi pendengar yang baik. Terkadang kita butuh orang lain untuk bersandar dan mengeluh. Meski sesungguhnya hanya pada-NYA kita bisa mengeluh dan berserah. Namun dengan membagi beban, kita bisa sedikit tenang. Agar kita tidak terpuruk menghadapi masalah. Katakanlah, luapkan semua keluhanmu!" tutur Hana, lalu mengusap kepala Kiara yang tertutup hijab. Dengan perlahan Hana meletakkan kepala Kiara menempel di dadanya.


"Kak Hana, aku tidak akan terlalu mengeluh. Seandainya kelemahanku hanya tidak bisa menjadi seorang ibu. Namun menjadi seorang menantu, aku seolah tak layak. Setelah beberapa bulan pernikahanku. Umi masih menolakku, dia seolah menganggap diriku tak layak menjadi seorang menantu. Umi mengharapkan seorang wanita dari kalangan pesantren. Aku bukan keturunan pesantren, malah aku terlahir dari rahim mantan wanita malam. Aku kotor kak, aku tak pantas untuk kak Rizal. Jangan-jangan masa laluku, yang membuatku tidak pantas menjadi ibu dan seorang menantu yang baik!" ujar Kiara, Hana menggeleng lemah. Dia menarik tubuh Kiara menghadap ke arahnya.

__ADS_1


Hana menatap wajah Kiara, lalu Hana menutup mulut Kiara dengan tangannya. Hana tidak berharap mendengar semua perkataan Kiara. Namun itulah isi hati Kiara saat ini. Suara hati yang merasa dirinya tidak berarti dan lemah. Seorang wanita yang merasa tak berharga, karena tak bisa memberikan momongan dalam keluarganya. Titik terendah seorang wanita yang merasa dirinya tak berharga dan lemah.


"Kiara, maafkan kak Hana. Sebagai seorang wanita, kak Hana tidak pernah berada di posisimu. Kakak juga tidak bisa membayangkan. Bagaimana sakitnya ditolak sekaligus diragukan? Namun sebagai seorang kakak, kak Hana tidak ingin melihatmu terpuruk. Apa yang kamu katakan barusan? Tidak pantas keluar dari mulut seseorang yang beriman. Mulut yang terus melantunkan ayat suci, tidak akan dengan mudah mengeluh dan meragukan ketetapan-NYA. Tubuh yang senantiasa melakukan sholat lima waktu. Takkan pernah merasa lelah menerima ujian dalam setiap langkah hidupnya. Hati dan jiwa yang telah tertanam iman dan ketakwaan. Tidak akan terisi dengan pikiran-pikiran yang kelak akan menjauhkannya dari iman. Kiara, kak Hana yakin kamu bukan pribadi yang lemah. Kepedihan yang kamu rasakan sekarang, ada dengan maknanya sendiri!" ujar Hana, Kiara mengangguk pelan. Kedua matanya menunjukkan keraguan dalam melangkah. Hana mengusap wajah Kiara pelan. Wajah yang terlihat cantik dan teduh. Hijab yang dipakainya, semakin membuatnya terlihat meneduhkan.


"Namun jika aku bisa berandai-andai. Ingin rasanya aku berharap. Bukan diriku yang menjadi istri kak Rizal. Agar hanya kebahagian yang ada, bukan kepedihan seperti sekarang!" tutur Kiara lirih, Hana menggeleng dengan senyum simpul.


Hana mengerti pergolakan batin Kiara. Tidak akan ada wanita yang tetap bahagia. Saat dirinya ditolak bahkan diragukan. Seorang wanita mampu berkorban bagi orang disayanginya. Meski air mata yang harus dia teteskan. Hana melihat jelas kesiapan Kiara melepas Rizal. Seandainya dengan perpisahan mampu membuat Rizal dan keluarganya bahagia. Kesiapan yang akan dibayar Kiara dengan air mata dan kehancuran hidupnya. Seorang istri hanya akan bahagia, bila suaminya bahagia. Banyak masalah dalam setiap rumah tangga, tapi anak menjadi masalah yang sangat kompleks. Sebab anak ada bukan atas kehendak kita, tapi atas kehendak-NYA. Anak adalah titipan dan anugrah terindah yang tak mampu ditolak dan tidak juga dipaksakan.


"Kiara, kak Hana pernah merasakan kesedihan saat diri ini tak dihargai dan ditolak. Ketika keteguhan cinta kak Hana diragukan. Kamu sendiri mengetahui, sekeji apa orang-orang yang berpikir tentang kak Hana? Menganggap kak Hana hanya ingin hidup nyaman.Ketika kaka Hana tetap menikah dengan kakakmu. Namun kak Hana tetap teguh akan cinta ini. Kak Hana yakin semua akan terlewati, selama kak Rafa selalu percaya dan menggenggam erat tanganku. Sama halnya dirimu yang merasa tak pantas untuk Rizal dan umi yang merasa kamu tak layak menjadi istri dari putranya. Kak Hana pernah merasa lelah dan menyerah akan pernikahan ini. Kak Hana tidak pernah menduga menikah dengan pewaris keluarga Prawira dan CEO hebat layaknya kakakmu. Namun rasa lelah kak Hana tak beralasan dan kalah akan ketetapan-NYA. Kak Hana terus terikat dengan pernikahan ini. Meski air mata dan kepedihan selalu mengiringi langkah hidupku. Kak Rafa jodoh yang tak bisa kak Hana tolak. Begitu juga Rizal yang menjadi jodohmu dengan segala ujian yang ada. Kiara, kita tidak pernah mengetahui akan tiga hal, sebab ketiganya menjadi ketetapan-NYA yang tak bisa ditawar. Kita tidak akan pernah tahu, siapa jodoh yang dipersiapkan untuk kita? Namun siapapun dia? Yakinlah dia yang terbaik, dari yang paling baik. Kapan kita meninggal? Sesuatu yang tak mungkin bisa kita tebak kapan datangnya? Hanya keimanan yang bisa membuat kita tetap tenang dan siap menunggu datangnya. Seberapa besar rejeki kita? Salah satunya anak yang takkan bisa kita paksa kehadirannya. Percayalah rejeki setiap orang sudah diatur dengan seadil-adilnya. Kamu jangan lupa, setiap anak yang terlahir akan bisa menjadi anak kita. Tidak harus kita melahirkan baru bisa dipanggil mama. Fathan dan adiknya juga anakmu. Mereka berhak menganggapmu sebagai mama mereka dan Rizal sebagai papanya. Jangan pernah meragukan kehendak-NYA. Sehingga kita lupa cara mengucap syukur!" tutur Hana, Kiara menunduk malu.


Kiara menyesal mengatakan semua keraguannya. Dengan menunduk Kiara menghela napas panjang. Namun kini Kiara menyadari kesalahannya. Kiara memahami semua sudah diatur, dia hanya bisa berusaha. Tawakal dan berserah jalan terakhir, bila ikhtiar belum menemui hasil.


"Kak Hana, maafkan Kiara yang meragukanmu dulu. Kini aku bisa merasakan betapa sakitnya hinaan dan cacian yang mama katakan padamu. Tak pernah terbayangkan, rasa sakit itu kini aku rasakan juga. Kak Hana bisa tetap diam menerima. Sedangkan aku mengeluh tiada habisnya!" ujar Kiara. Hana menepuk pelan tangan Kiara. Dia tersenyum membalas permintaan maaf Kiara.


"Diam kak Hana kala itu. Bukti kak Hana percaya, bahwa semua sudah diatur. Tidak ada yang bisa melawan kehendak-NYA. Kita harus yakin, ketetapan-NYA itu mutlak tidak bisa diganggu gugat. Hanya dengan doa dan ikhtiar kita akan bisa terus bersabar melewati semuanya. Tanamkan dalam hati dan pikiranmu. Semua akan baik-baik saja! Kelak umi akan bisa menerimamu dengan tangan terbuka. Beliau akan melihat ketulusanmu dan menyadari bahwa kebahagian Rizal hanya bersamamu. Mengenai momongan dalam pernikahan kalian. Kakak hanya bisa mendoakan, agar kamu cepat diberikan momongan." ujar Hana, Kiara menggeleng lemah.


"Umi tidak akan mudah menerimaku. Beliau menolakku karena masa lalu mama. Namun apapun akhir dari pernikahanku. Aku tidak akan menyalahkan mama. Dia ibu yang telah melahirkanku dengan menggadaikan nyawanya. Tidak akan pernah aku mampu membalas pengorbanan dan kasih sayangnya. Aku akan menerima jalan takdirku dengan ikhlas. Seperti perkataan kak Hana, semua sudah diatur kita hanya bisa menjalankan dengan tetap berusaha dan berdoa!" ujar Kiara mantap, Hana mengangguk senang. Kini Kiara mulai mengerti, semua ada dengan jalan masing-masing. Akan ada masa dimana semua akan baik-baik saja.


"Bersabar dan ikhlas, dua kata kunci keutuhan sebuah hubungan. Memang tidak mudah melakukan dua kata itu, tapi selama kamu yakin dan percaya Allah SWT selalu bersamamu. Semua itu akan mudah kamu lalui!" sahut Hana, Kiara tersenyum menatao wajah sang kakak ipar yang mampu menenangkan hatinya yang kalut.

__ADS_1


"Terima kasih!" ujar Kiara lirih, Hana mengangguk.


"Sayang!"


__ADS_2