KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Wahai Makmumku...


__ADS_3

Berita kedatangan Rafa membuat pengurus pesantren sibuk. Bukan untuk mengagungkan kedatangan Rafa, tapi kebaikan yang akan dilakukan Rafa. Membuat para pengurus berantusias, bahkan ada beberapa alumni yang akan datang. Sekadar untuk bertemu dan membantu Rafa. Mereka sangat antusias mendengar berita kedatangan salah satu santri pesantren yang sukses dalam bisnis.


Semua pengurus memiliki tugas masing-masing untuk menyambut kedatangan Rafa dan tim yang akan melakukan pembangunan proyek pondok pesantren. Hampir semua penghuni ponpes mengetahui berita kedatangan sang donatur. Berita tersebar dengan cepat, tapi ada satu orang yang merasa kedatangan Rafa sebagai sebuah petanda baik. Rizal merasa kedatangan Rafa sebagai sebuah isyarat untuk hubungan baiknya dengan Kiara.


"Assalammualaikum!" sapa Rizal di kelas 2 IPA 1. Semua santriwati terkejut melihat kedatangan ustad Idola masuk ke dalam kelasnya. Semua mata menatap dengan lekat sang idola. Namun ada sepasang mata yang enggan menatap sang idola. Jangankan menatap, melihat sekilas saja tidak. Rizal dengan mata elangnya mencari sang pengetuk pintu hati. Kedua bola matanya mengunci sosok Kiara yang terus menunduk.


"Waalaikumsalam!" sapa para santriwati serempak. Rizal tersenyum dengan semanis mungkin. Memang baru kali ini dia masuk ke dalam kelas para santriwati. Terlihat beberapa santriwati menopang dagu di atas meja. Menatap wajah Rizal tanpa berkedip.


"Sudahlah masih pagi, jangan melamun. Saya datang hanya mengisi jam pertama dan kedua. Saya menggantikan ustadzah Mila yang masih sibuk. Jadi fokus kembali pada pelajaran!" tutur Rizal lirih, para murid serentak mengangguk. Rizal mengambil lembaran kertas yang sengaja disiapkan Mila. Sebab hari ini Mila mendapat tugas membantu di dapur. Dia yang diminta langsung membantu persiapan penyambutan untuk Rafa dan timnya.


"Ini ada kertas ulangan dari ustadzah Mila. Kalian kerjakan tanpa berisik, saya akan mengawasi kalian. Siapa yang selesai dulu? Kumpulkan ke depan, lalu kalian bebas. Dengan catatan kalian dapat nilai baik!" tutur Rizal tegas, seketika ketampanan Rizal berubah menjadi sikap bijaksana. semua murid melihat sosok yang berbeda.


"Ustad Rizal, sekali mengajar kami. Kenapa harus ulangan?" sahut salah satu murid, Rizal mengangkat kedua bahunya. Sembari tersenyum dia membagikan kertas ujian. Saat tiba di bangku Kiara dan Salwa, Rizal melihat Kiara yang mengacuhkan dirinya. Sebaliknya Salwa terus memandang dengan senyum semanis mungkin ke arah Rizal.


"Ustadzah Mila sengaja memberikan kalian ulangan. Agar selama dua jam ke depan, kalian tidak sibuk melihat saya. Kalian harus ingat, ulangan kali ini akan masuk dalam rapor!" ujar Rizal tegas, mereka mengangguk serempak. Setelah selesai membagikan kertas ulangan. Rizal duduk di depan kelas, sembari mengawasi para santriwati.


Terlihat mereka mengerjakan dengan tenang. Rizal mengawasi dari depan kelas, sembari mengerjakan soal yang sama. Setelah beberapa menit, Rizal selesai mengerjakan. Lalu tiba-tiba dia teringat akan kejadian semalam. Pembicaraannya mengenai rencana mengkhitbah Kiara. Perdebatan sempat terjadi yang berakhir dengan syarat. Pertemuan antara Kiara dengan ayahnya. Abi Malik ingin menemui Kiara secara langsung. Beliau ingin bertanya pada Kiara secara pribadi.


FLASH BACK


"Ada apa Rizal, kenapa wajahmu gugup? Seakan ada yang ingin kamu katakan. Bicaralah abi akan mendengarkan!" ujar abi Malik, Rizal mengangguk lemah. Dengan sedikit gugup Rizal mulai berbicara. Mila melihat sikap kakaknya berbeda, tidak ada sikap tenang yang terlihat. Rizal bukan takut mengatakan pada ayahnya tentang rencananya. Namun dia takut orang tuanya menentang dan mengungkit masa lalu Kiara.


"Rizal ingin mengutarakan sebuah niat. Rizal ingin mengkhitbah salah satu santriwati. Rizal ingin meminta izin dari abi!" ujar Rizal lirih dan sopan, abi Malik melihat raut wajah Rizal yang serius. Umi Fatimah mendekat dengan membawa nampan berisi makanan ringan dan minuman untuk suami dan putranya, serta Mila keponakannya. Rizal satu-satunya putra keluarga dalem.

__ADS_1


"Siapa santriwati yang kamu maksud? Apa abi dan umi mengenalnya? Lagipula kamu tidak mungkin bisa menikah dengan orang lain. Sebelum kamu bisa menemukan putri sahabat umi yang dulu dijodohkan denganmu!" tutur umi lembut dan ramah, suaranya lirih dan menenangkan. Seketika wajah Rizal sedih, mendengar perkataan ibunya. Dia tidak pernah menyangka, orang tuanya akan menentang keinginanya. Pertama kalinya dia menyukai seseorang, tapi dia harus menelan kepahitan dan tidak direstui.


"Umi, perjodohan itu tidak mengikat. Kita tidak perlu memaksakan sesuatu yang belum tentu terjadi. Sudah bertahun-tahun kita kehilangan kontak dengan mereka. Bahkan kita tidak pernah tahu, apakah anak perempuan mereka masih lajang dan belum menikah. Biarkan Rizal mengutarakan niatnya. Pertama kali aku melihat keseriusan putra kita. Aku yakin Rizal sangat mendambakan dia menjadi makmumnya. Kita sebagai orang tua hanya mengingatkan, bukan mencampuri. Rizal sudah dewasa, abi yakin dia bisa memilah yang benar dan salah!" tutur abi Malik bijak, umi Fatimah menunduk merasa bersalah. Raut wajah Rizal kembali ceria, setidaknya ada sedikit harapan untuknya bersanding dengan Kiara.


"Sebelumnya Rizal meminta maaf, seandainya pilihan Rizal tidak sesuai dengan keinginan dan harapan abi atau umi. Rizal ingin mengkhitbah Kiara Putri Prawira, adik sambung sahabatku Rafa Akbar Prawira!" ujar Rizal lirih seraya menunduk, abi Malik tersenyum. Sebaliknya umi Fatimah terkejut, raut wajahnya jelas menunjukkan rasa tidak suka. Semua pengurus pesantren mengetahui seluk beluk Kiara. Rafa tidak menyembuyikan apapun pada mereka. Bukan ingin mengumbar aib ibu sambungnya. Namun Rafa tidak ingin ada yang menyesal telah menerima Kiara.


"Rizal, kamu kehilangan akal. Kiara yang ingin kamu khitbah, tidak ada lagi santriwati yang lebih baik dari dia. Kenapa harus dia? Apa Rafa yang menginginkannya?" tutur umi Fatimah sinis, abi Malik menggelengkan kepala. Menyangkan sikap istrinya yang berlebihan. Rizal menunduk pasrah, dia tidak mungkin menentang orang tuanya.


"Fatimah, jaga bicaramu. Seseorang yang mengerti agama tidak akan semudah itu merendahkan orang lain. Kamu jangan menghina orang lain, belum tentu dirimu lebih baik darinya. Bahkan terhadap orang kafir, kita tidak boleh mencela. Takutnya suatu saat kita yang berubah menjadi kafir. Semua yang ada dibumi berlaku sesuai ketetapan-NYA. Apa kamu lupa akan hal itu?" tutur abi Malik, umi Fatimah menunduk. Rizal dan Mila terdiam melihat kemarahan abi Malik. Sejak dulu belaiu selalu terkenal dengan aifat tegasnya. Beliau sangat menghormati orang lain. Itu sebabnya beliau sangat disegani dikalangan pemimpin pondok. Sekaligus lingkungan sekitar.


"Rizal, lupakan semua perkataan umi. Abi ingin bertanya sesuatu padamu. Mengkhitbah itu bukan sebuah permainan. Sekali kamu memiliki niat, itu artinya kamu sudah yakin untuk menikah dengannya!" ujar abi Malik, Rizal mengangguk pelan. Sikap bijaksana abi Malik yang senantiasa menjadi panutan Rizal sampai saat ini.


"Apa kamu tahu siapa Kiara? Latar belakang keluarga Kiara. Dia bukan hanya adik dari sahabatmu, masa lalu ibunya sedikit banyak akan berimbas pada kehidupan kalian kelak!" ujar abi Malik, Rizal mengangguk dengan sangat yakin. Abi Malik tersenyum melihat ketegasan dan keyakinan Rizal.


"Kiara bukan wanita sholeha yang sejajar denganmu. Dia memiliki masa lalu yang rumit. Mungkin Rafa banyak membantu kita, tapi tidak semestinya kita membalas dengan pernikahanmu dengan Kiara!"


"Setiap pemuda sholeh mendambakan istri yang sholeha. Laki-laki baik-baik menginginkan wanita yang baik pula. Jika semua yang sempurna ingin bersanding dengan yang sempurna. Lalu siapa yang akan mendampibgi yang tak sempurna? Kiara mungkin tidak sholeha, sebab aku orang yang akan membimbingnya. Bersamaku Kiara tidak hanya akan mengenal agama, aku akan membawanya menuju Jannah. Kiara tak perlu sempurna, sebab sempurna tidak pernah ada. Aku berharap sempurnanya Kiara jika dia bersamaku. Sejatinya makmum ada untuk mengikuti langkah imam. Jika makmum mampu berjalan lebih dulu dari imam. Lalu dimana imam mampu dihormarti. Masa lalu Ibu Kiara bukan menjadi alasanku menolak berhubungan dengannya. Seorang anak terlahir tanpa mampu memilih, siapa orang tua yang akan membesarkannya? Seorang anak tak mampu memilih, siapa surga yang akan mrlahirkanya? Sehina-hinanya seorang wanita, ditelapak kakinya terdapat surga bagi seorang anak laki-laki. Kiara tidak mampu merubah, jika dia terlahir dari rahim ibu seperti itu. Namun bersamaku akan kubuat Kiara terhormat secara akhlak dan agama!"


"Rizal, apa kamu tahu Kiara masih terlalu muda untuk menikah? Dia datang kemari, karena ingin menuntut ilmu dan menjadi pribadi yang lebih baik!" ujar abi Malik lagi, Rizal mengangguk pelan.


"Abi aku mencintainya dalam setiap sujud. Aku tidak berpikir memilikinya dengan menghancurkan kebahagiannya. Salah jika aku mengkhitbah untuk segera memilikinya. Aku mengkhitbahnya, agar tak ada yang mengambil mutiara hatiku. Kiara jawaban dalam doaku. Semua yang ada pada Kiara, masa lalu atau masa depannya tidak akan menjadi alasan kami terpisah. Namun menjadi alasan kami saling memahami dan melengkapi. Aku tidak ingin kehilangan Kiara. Dia makmum yang aku dambakan. Seorang gadis yang berharap menjadi selimut untuk suaminya. Seorang gadis yang menganggap suaminya surganya kelak. Jika dia bisa menjadikanku surganya. Takkan pernah dia melangkah tanpa izin dan restuku!" tutur Rizal mantap, abi mengangguk pelan. Mila dan umi Fatimah hanya mendengarkan. Tak ada hak untuk mereka ikut campur.


"Katakan pada abi, pesan Kiara yang membuatmu yakin akan dirinya!" ujar abi Malik, Rizal menggeleng lemah.

__ADS_1


"Katakanlah!" ujar abi, Rizal mengangguk pelan.


"Wahai sang imam dunia akhiratku, akankah diriku pantas menjadi makmumu! Dimanakah letak surga untuk istri yang setia padamu? Wahai pemuda sholehku, pantaskah diriku mencium tanganmu yang selalu basah akan wudhu. Layakkah diriku menatap wajah yang selalu berseri kala selesai bersujud. Bisakah telingaku mendengar lantunan ayat suci dengan suara merdumu. Wahai imam dunia akhirat, dambaan setiap hawa. Diriku mungkin tak suci, tapi kelak aku akan menjaga kesucian hatiku untukmu. Tanganku mungkin telah ternoda, tapi akan kupastikan kelak hanya tanganmu yang menggenggamnya. Wahai senja yang indah, jadilah saksi penantian seorang hamba. Akan imam dunia akhiratnya. Wahai suamiku surgaku!"


"Abi akan menemui Kiara secara pribadi. Besok malam ajak dia datang menemui abi. Kita akan mendengar pendapatnya tentangmu. Kamu begitu mendambakan dia. Akankah kamu surga yang dinantikannya!" ujar abi final, Rizal mengangguk dengan seutas senyum. Mila mengacungkan jempol, dia bangga pada Rizal kakaknya yang berani mengungkapkan niatnya pada orang tuanya.


FLASH BACK OFF


"Ustad Rizal, saya sudah selasai!" ujar Kiara sembari memberikan kertas ulangan. Rizal mendongak kaget melihat Kiara yang sudah ada di depannya. Rizal tersenyum melihat Kiara yang sedang menunduk.


"Baiklah, tunggu sebentar aku akan memeriksa hasil ulanganmu. Jika kamu benar, silahkan keluar lebih dulu!" ujar Rizal tegas, Kiara mengangguk pelan. Dengan cekatan Rizal memeriksa nomer demi nomer soal. Rizal tersenyum simpul melihat hasil ulangan Kiara.


"Ternyata kamu memang idaman para suami. Selain kamu cantik, kamu juga pintar dalam hal pelajaran. Ulanganmu hampir sempurna, meski ulangan diadakan secara mendadak!"


"Terima kasih, bisa saya keluar dari kelas!" sahut Kiara, Rizal menggeleng lemah. Dia memberikan secarik kertas.


"Bacalah, itu undangan khusus dari abi untukmu. Calon makmumku!" ujar Rizal singkat, Kiara menerima kertas tanpa menatap Rizal. Saat Kiara akan menjauh, tiba-tiba Kiara menoleh ke arah Rizal.


"Aku mungkin pintar dalam pelajaran, tapi aku bodoh dalam hal Agama. Jangan pernah berpikir aku layak menjadi makmum untukmu. Ada makmum yang jauh lebih sempurna untukmu!" ujar Kiara lirih, Rizal tersenyum simpul.


"Aku tidak butuh makmum yang pintar, sebab aku sendiri yang akan membimbingnya. Sempurnanya bersamaku dan kebahagianku bersamanya. Jadi tidak ada alasan untukmu terus menolak. Jika itu menyangkut iman, sebab kita akan sama-sama belajar mengerti iman dan islam!" sahut Rizal lirih


"Terserah anda!"

__ADS_1


...☆☆☆☆☆...


__ADS_2