
"Kak Hana, sedang apa malam-malam di dapur? Kalau perlu sesuatu, katakan saja. Nanti biar Salsa yang membuatkan!" ujar Salsa, Hana menaruh telunjuknya tepat di tengan bibirnya. Salsa langsung menutup mulutnya dengan tangan. Dia menyadari jika Hana memintanya untuk diam.
Beberapa hari sudah Salsa tinggal di rumah Hana. Kondisi Hana tiba-tiba mengalami penurunan. Sengaja Hana meminta bantuan Salsa untuk merawat Annisa. Sebab Annisa butuh pengawasan extra. Perawatan yang dijalani Annisa sudah memperlihatkan hasil. Kini Annisa sudah mampu merasakan sentuhan. Annisa juga sudah bisa menggerakkab kakinya pelan. Namun Annisa masih merasa ngilu setiap kali dipaksa berjalan.
Hampir setiap pagi Salsa menemani Annisa belajar berjalan. Salsa yang membantu Annisa terapi. Terkadang Naufal datang di saat Annisa sedang melakukan terapi. Hubungan antara Annisa dan Naufal semakin membaik. Begitu juga hubungan antara Naufal dan Salsa. Semakin lama semakin dekat, tapi baik Nuafal dan Salsa masih ragu mengatakan isi hati masing-masing. Terlihat dari cara mereka berbicara saat bertemu. Keduanya masih canggung satu dengan yang lain.
Hana tidak melarang hubungan Salsa dan Naufal. Namun dengan tegas Hana mengatakan, siapa dan bagaimana keluarga Naufal memperlakukan Hana? Seketika Salsa mulai ragu untuk mencintai Naufal. Namun kasih sayangnya pada Annisa sangat tulus. Salsa sudah menganggap Annisa layaknya putri kandung. Kini secara perlahan, Annisa mulai menyayangi Salsa. Semua tergantung dari jalan jodoh antara Salsa dan Naufal.
"Kamu jangan berisik, kak Rafa baru saja tidur. Jika dia sadar aku turun, dia pasti marah lagi seperti semalam. Aku tidak ingin ada keributan. Sejak tadi sore, aku ingin memak-an mie instan. Namun kak Rafa melarangku memakan mie. ART yang lain tidak ada yang berani membuatkannya untukku. Jadi terpaksa aku membuatnya sendiri!" tutur Hana lirih, Salsa menggeleng lemah. Salsa mendekat pada Hana, dia menarik tubuh Hana untuk duduk. Salsa sendiri yang akan membuatkan mie untuk kakaknya. Memang beberapa hari ini, tubuh Hana kurang fit. Dia kehilangan napsu makan. Rafa semakin cemas melihat kondisi istrinya. Hana hanya akan mengkonsumsi makanan yang dia katakan. Hana seolah tidak peduli sehat atau tidak. Baginya dia akan bahagia bila memakannya.
"Kak Hana, duduklah aku yang akan membuatkannya. Sekalian aku akan memanaskan susu untukmu. Aku tidak ingi kamu tidur dalam keadaan lapar!" ujar Salsa, Hana mengangguk. Dia duduk dengan tenang, sembari melihat Salsa membuatkannya mie. Hana seakan seperti anak Tk yang sedang menunggu waktu pulang. Tenang tanpa bersuara. Hana seolah kembali menjadi anak kecil, yang berharap semua keinginannya terkabul.
Setelah beberapa menit, mie instan pesanan Hana sudah siap. Salsa juga membuatkan Hana segelas susu hangat, sedangkan untuk dirinya Salsa membuat teh. Bahkan Salsa sempat mengupas satu buah apel untuk Hana. Sebenarnya Salsa khawatir bila Hana mengkonsumsi mie instan, tapi melihat betapa inginnya Hana memakan mie. Salsa menjadi tidak tega, untuk itu dia membuatkan susu dan mengupas buah. Agar Hana tidak hanya memakan mie, tapi juga makanan sehat lainnya.
Rafa melindungi Hana dengan sikap kerasnya. Melarang Hana atau ART membuatkan mie. Namun Salsa melindungi Hana dengan kasih sayang. Dia memenuhi keinginan Hana, sekaligus memberikan yang terbaik untuk Hana. Setidaknya dengan cara itu Hana bisa mengkonsumsi mie.
"Salsa sayang, terima kasih sudah membuatkan kak Hana mie. Sejak tadi kak Hana belum mengkonsumsi apa-apa? Saat makan malam, kak Hana sengaja tidur. Agar kak Rafa tidak tahu, kalau aku tidak bisa memakan makanan yang tidak aku inginkan!" ujar Hana, Salsa mengangguk pelan. Salsa melihar raut bahagia, saat Hana menerima semangkok mie instan. Salsa tidak pernah bisa membuat Hana bahagia. Selama ini Hana selalu melakukan apapun demi kebahagian orang lain. Salah satunya untuk Salsa. Hana melakukan yang terbaik untuk adik sepupunya itu. Kini Hanya dengan semangkok mie. Salsa membalas sedikit kebaikan Nora.
__ADS_1
"Kak Hana, makannya pelan-pelan. Aku tidak akan merebut makanan yang khusus dibuat untukmu. Aku akan buatkan lagi, jika kak Rafa mengizinka!" ujar Salsa, Hana mengangguk mengerti. Salsa terus menemani Hana mengkonsumsi mie. Dia memutuskan untuk tetap di samping Hana. Sampai Hana selesai memakan semua mie. Salsa melihat betapa lahapnya Hana memakan mie. Seolah hanya mie makanan terenak di dunia.
Setelah menghabiskan satu mangkok mie, Hana meminum segelas susu. Baru saja Hana selesai, terlihat Rafa sudah berdiri di belakang Hana. Rafa melihat betapa nikmatnya Hana memakan mie. Rafa juga baru mengetahui, jika Hana belum makan malam.
"Salsa, terima kasih sudah membuatkan kak Hana mie. Sekarang kak Hana bisa tidur dengan tenang!" ujar Hana, Salsa mengangguk. Hana sangat berterima kasih, sebab Salsa sudah membuatkan makan malam untuknya. Terlebih lagi Hana sangat menginginkan makanan itu. Salsa berdiri ingin meletakkan bekas mangkok yang kotor. Tanpa sengaja Salsa melihat Rafa. Saat ingin memberitahu Hana, Rafa meminta Salsa untuk diam. Rafa meletakkan telunjuk di depan mulutnya. Salsa mengangguk tanda mengerti.
"Kak, kenapa tidak mengatakan saja pada Kak Rafa? Kalau kakak memang tidak bisa makan malam, kecuali dengan mie instan. Aku yakin kak Rafa pasti mengizinkan. Tidak mungkin kak Rafa membiarkanmu tidur dalam keadaan lapar. Meskipun itu artinya dia harus mengizinkanmu mengkonsumsi mie!" ujar Salsa, Hana menggeleng. Hana menatap ke arah Salsa yang keheranan. Dia bingung harus mengatakan apa? Hana sedang berada dalam dilema yang begitu besar. Dia seolah bimbang ingin mengatakan keinginanya pada Rafa. Meski Hana sadar, Rafa akan selalu menurutinya. Salsa semakin heran melihat Hana diam. Rafa tetap diam bersandar di pintu. Rafa ingin mendengar isi hati Hana sebenarnya.
"Kak, kenapa malah diam? Apa yang sebenarnya terjadi? Jangan membuatku khawatir!" ujar Salsa cemas, Hana hanya tersenyum melihat raut wajah Salsa yang cemas. Hana menghambiskan segelas susunya. Tubuh Hana mulai terasa hangat.
"Memangnya sejak kapan kak Hana mengalami masalah pencernaan? Tidak mungkin hanya karena semangkok mie. Kak Hana akan sakit!" ujar Salsa heran, Hana menggeleng seraya mengutas senyum simpul. Wajah cantik Hana terlihat berseri saat dia tersenyum. Bukan bahagia mengingat dirinya akan sakit. Namun setiap kalia sakit, Rafa orang yang paling heboh dan cemas.
"Dulu hampir setiap hari kak Hana mengkonsumsi mie. Saat kak Hana hidup sendiri, hanya mie yang menjadi teman hidup kakak. Setelah menikah dengan kak Rafa, kebiasaan itu tetap ada. Puncaknya saat kak Hana akan melahirkan Fathan. Kak Hana harus menginap di rumah sakit. Kak Hana mengalami diare hebat. Sejak saat itu kak Rafa melarang, jika kak Hana harus mengkonsumsi mie. Apalagi beberapa hari ini kondisi kak Hana drop. Bukan masalah dirawat atau menjaga kak Hana. Kak Rafa tidak tega melihat kak Hana kesakitan. Baginya lebih baik dia yang kesakitan daripada kakak. Jadi bagaimana mungkin kak Hana memaksa meminta semangkok mie. Jika harus ditukar dengan wajah kecewanya!" tutur Hana, Salsa mengangguk mengerti. Rafa menggeleng seraya tersenyum mendengar perkataan Hana. Salsa melihat cinta yang begitu besar dimata Hana dan Rafa. Salsa berdoa dalam hati, gar tidak ada ujian dalam pernikahan mereka.
"Apa bedanya jika sebentar lagi kak Rafa mengetahui kak Hana mengkonsumsi mie? Pasti kak Rafa kesal!" goda Salsa, Hana mengangkat kedua bahunya. Salsa terkekeh melihat Hana kebingungan. Rafa melihat Han
"Setidaknya kak Hana sudah kenyang. Fathan butuh ASI, soal kak Rafa marah atau tidak lihat saja nanti! Sekarang kak Hana harus ke kamar, takut Fathan bangun. Sebenarnya kak Hana diam, agar tidak melihat wajah kesal kakak tampanmu. Sekarang meski kak Rafa kesal, aku tidak peduli!"
__ADS_1
"Sayang, aku kesal bukan karena marah. Kamu sendiri tahu. Aku tidak tega melihatmu sakit; tapi aku jauh lebih tidak tega melihatmu kelaparan. Lain kali jangan menahan lapar demi tidak melihat rasa kecewaku. Jangan buat dirimu susah. Kamu harus tahu, sedikit susahmu membuatku susah bernapas. Kamu segalanya untukku, apapun akan aku lakukan demi senyum di wajahmu. Maaf jika sikap kerasku tadi. Akhirnya membuatmu menahan lapar!" bisik Rafa tepat di telingan Hana, tangan kekarnya merangkul tubuh ramping Hana. Salsa menutup mata melihat kemesraan kedua kakaknya.
"Sejak kapan kak Rafa disini? Bukannya kak Rafa tidur pulas!" ujar Hana, Rafa menggeleng medengar perkataan Hana. Dia mencim pundak Hana.
"Aku tidak mungkin bisa tidur, tanpa mendengar suara dengkuranmu. Meski selelah apapun diriku, aku pasti terbangun. Tanpa kamu sadari, napas hangatmu ibarat aroma terapy untukku. Aku tenang setiap kali hembusan napasmu menyentuh wajahku. Aku tenang disampingmu, aku nyaman bersamamu!" ujar Rafa, Hana menunduk. Salsa mendengus kesal melihat Rafa dan Hana yang sedang berpelukan.
"Kalian jahat, kenapa berpelukan di depanku? Lebih baik aku tidur, melihat kalian berdua aku bisa kehilangan akal!" ujar Salsa kesal, lalu berjalan menjauh dari Hana dan Rafa.
"Minta Nuafal menikahimu, agar kamu merasakan hangat pelukan seorang suami!" goda Rafa, Hana memukul tangan Rafa pelan. Dia tidak ingin melihat Rafa menggoda Salsa. Sebaliknya Salsa terus berjalan mengacuhkan perkataan Rafa.
"Sudah kita ke kamar, Fathan pasti sudah bangun!"
"Sayang tunggu dulu, sikapmu aneh beberapa hari ini. Apa akan ada adik kecil untuk Fathan?" ujar Rafa santai, Hana terdiam lalu menggeleng.
"Fathan masih terlalu kecil!"
...☆☆☆☆☆...
__ADS_1