KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Memaafkan atau Meninggalkan


__ADS_3

Mentari bersinar menyambut pagi hari yang cerah. Suara burung pipit saling bersahutan menghadirkan lantunan nada kehidupan. Sinar hangat sang mentari memberikan semangat mrnjalani hari yang panjang. Secerah mentari pagi ini, seceria itu pula wajah sang gadis kecilku.


Semalam gadis kecilku telah kembali bersama langitnya. Annisa memutuskan tinggal bersama Naufal, tapi tidak dengan keluarga Wirawan. Pertama kalianya Naufal membuat keputusan besar. Dia memutuskan keluar dari rumah keluarga Wirawan. Naufal membeli rumah sederhana, untuk dia dan Annisa. Habungannya dengan Salsa semakin membaik. Naufal sudah menyatakan diri ingin menikah dengan Salsa. Namun dengan jujur Naufal mengatakan. Dia ingin menikah demi Salsa, tapi hatinya belum mampu menerima Salsa sepenuhnya.


Naufal berjanji akan belajar mencintai Salsa. Dengan kepercayaan penuh, Salsa akan menunggu cinta Naufal. Bukan menghiba cinta seorang laki-laki. Namun kasih sayangnya pada Annisa sudah terlalu besar dan dalam. Salsa tidak ingin terpisah dari Annisa. Semenjak Salsa dekat dengan Annisa, sejak itu pulan Annisa mulai tak bergantung pada Hana. Sebaliknya kondisi Hana semakin berubah-ubah.


Kehidupan ibarat sebuah mimpi dalam tidur panjang. Kita tidak akan pernah bisa bermimpi sama dengan orang lain. Sebab setiap orang memiliki jalan yang berbeda-beda. Garis tangan seseorang tidak akan sama, satu dengan yang lain. Semua sudah diataur sesuai dengan ketetapan-NYA, DIA sang pemilik hidup pemberi ketetapan yang paling adil.


Sebuah mimpi indah atau menakutkan, akan berakhir seiring kita terbangun dari mimpi. Begitu pula hidup kita. Bahagia dan silih berganti, akan menghilang seiring waktu yang berjalan. Sebagai hamba yang beriman, terkadang kita lupa akan nikmat yang telah kita dapat. Dengan santai dan meratap kita mengeluh akan ujian. Namun saat kita bahagia, terkadang kita lupa akan kata bersyukur. Sungguh harmoni kehidupan yang akan selalu berputar dan terus berputar. Akan berhenti saat raga tak lagi bernyawa.


Layaknya sebuah mimpi yang menakutkan. Hana mendengar sebuah kenyataan yang memutar kehidupannya 180°. Kebahagian yang pernah ada, seakan musnah tak berbekas. Rasa cinta yang bersemi dalam hati. Berganti dengan rasa kecewa dan amarah. Kenyataan yang merubah Hana penuh cinta, bimbang akan cinta dan hatinya. Sebuah fakta yang tertutup, seolah ingin menunjukkan dirinya. Mengatakan pada Hana, dia telah dipermainkan jodoh yang telah terpaut.


Hana seakan hancur tak bersisa. Semua musnah tak berbekas. Cinta yang indah menyisakkan sebuah luka dan keraguan yang nyata. Kasih sayang tulus berubah menjadi kekecewaan yang begitu dalam. Senyum diwajah Hana berganti dengan air mata. Semua kenangan manis, menghilang berganti ingatan akan darah orang tuanya yang mengalir.


Mentari yang cerah, berubah mendung menghiasi hati dan hidup Hana. Hari ini tepat dimana kedua orang tuanya meninggal? Hari yang sama pula Hana mengetahui sebuah kenyataan yang tersimpan rapat selama bertahun-tahun. Sebuah kenangan yang ingin Hana kubur bersama jasad kedua orang tuanya. Fakta yang sengaja ingin Hana lupakan, kini bermain indah dalam benaknya. Sembari menggenggam gundukan tanah tempat kedua orang tuanya bersemayam. Hana mengingat setiap kepingan perkataan Rafa dan Adrian. Sebuah Fakta yang digali oleh Rafa, yang tanpa sengaja menjadi bumerang bagi keluarganya.


FLASH BACK


Setelah makan malam sengaja Hana tidur lebih awal. Entah kenapa tiba-tiba kepalanya pusing? Napsu makan Hana jauh berkurang. Bahkan ASI untuk Fathan mulai tidak lancar. Melihat kondisi Hana yang mengalami penurunan. Hana mulai memberikan susu formula dan MPA, agar tumbuh kembang Fathan tidak terhambat.


Rafa sedikit gelisah melihat kondisi Hana yang semakin lama semakin lemah. Salsa selalu mencari cara, agar Hana bersedia makan. Rafa mulai membatasi gerak langkah Hana. Dia melarang Hana keluar dari rumah tanpa dirinya. Sesibuk apapun Rafa, dia akan ada saat Hana membutuhkan.

__ADS_1


Sekitar pukul 22.00 wib, Hana terbangun dan melihat Fathan tertidur nyeyak di sampingnya. Hana mengedarkan pandangannya, dia tidak melihat Rafa. Sebenarnya Hana ingin mengatakan sesuatu. Hana mencari Rafa, karena ingin mengajaknya ziarah ke makam orang tuanya.


"Rafa, kamu yakin ingin mengetahui kejadian kecelakaan yang menimpamu beberapa tahun yang lalu. Menurutku lebih baik kamu lupakan kejadian itu. Lagipula keluargamu sudah menyelesaikannya secara kekeluargaan. Bukankah mereka mengatakan, tidak ada korban jiwa!" tutur Adrian gelisah, Rafa bisa menangkap kegelisahan Adrian. Sorot mata yang ragu mengatakan sebuah kebenaran. Sebuah kenyataan yang ingin dia ketahui.


Bertahun-tahun Rafa berusaha mencari tahu tentang kecelakaan naas yang terjadi padanya. Kecelakaan terjadi beberapa hari setelah kematian ibunya. Saat itu Rafa emosi, tanpa pikir panjang dia mengemudikan mobil milik papanya. Naas bagi Rafa, dia lalai yang akhirnya menabrak sepeda motor. Kondisi Rafa juga tidak baik-baik saja. Setelah menabrak sepeda motor. Rafa membanting stir ke kiri. Mobilnya menabrak pembatas jalan. Rafa terluka cukup parah. Sekitar seminggu lebih Rafa tidak sadarkan diri. Saat sadar Rafa berniat menemui korban yang dia tabrak. Namun keluarganya melarang, semua sudah diselesaikan secara baik-baik. Keluarganya mengatakan tidak ada korban jiwa. Setelah kejadian itu Rafa berangkat menuju luar negeri untuk kuliah. Keluarganya sengaja menutupi fakta yang terjadi.


"Aku meminta kamu menyelidikinya, bukan memberikan pendapat. Aku hanya ingin memastikan, bahwa kakek mengatakan sebuah kejujuran. Aku ingin mengetahui keadaan yang sebenarnya. Sejujurnya aku ragu kalau mereka baik-baik saja. Keluarga Prawira menyembunyikan kebenaran dariku!" tutur Rafa lirih, Adrian semakin cemas mendengar perkataan Rafa. Beberapa hari yang lalu, Rafa menyuruh Adrian secara khusus mencari tahu kejadian yang menimpa Rafa. Besok batas waktu yang diberikan Rafa, tepat disaat kejadian itu terjadi.


"Mungkin mereka memang menyelesaikannya secara baik-baik. Semua ditutupi darimu, agar kamu tidak terpuruk dan cemas. Menurutku sesuatu yang sudah lama terkubur, tidak perlu kamu gali. Agar tak ada lagi hati yang tersakiti. Buktinya selama ini, tidak ada yang menuntut padamu atau keluarga Prawira!" ujar Adrian, Rafa menggeleng lemah. Semenjak menikah dengan Hana, Rafa seolah menjadi pribadi yang perasa. Dia tidak ingin menyakiti orang lain. Rafa menggali masa lalunya, agar dia bisa meminta maaf pada korban yang tanpa sengaja Rafa tabrak.


"Jika memang kamu tidak bisa menemukannya. Aku akan meminta orang lain mencari tahu. Sudah cukup aku diam menerima alasan yang sama setiap tahunnya. Aku harus mengetahui, siapa korban dan bagaimana kondisinya sekarang?" ujar Rafa tegas, Adrian menggeleng lemah. Dengan tangan bergetar, Adrian memberikan sebuah berkas. Rafa menatap lekat ke arah berkas yang diletakkan Adrian. Setelah diam beberapa saat, terdengar Adrian menarik napas panjang. Seakan yang ingin dikatakan sangat penting. Sesuatu yang akan membuat semuanya berubah.


"Rafa, apapun yang tertulis. Aku mohon sikapi semua dengan bijaksana. Kecelakaan itu terjadi tanpa kamu sengaja. Selama ini semua sudah terkubur, aku berharap semua tetap sama. Setelah kamu mengetahui kebenarannya. Aku mohon tetap diam, jangan mengungkitnya lagi. Terutama di depan Hana. Keluarga kalian sudah bahagia, jangan hancur karena masa lalu!" tutur Adrian lirih, Rafa menatap Adrian yang sangat cemas. Rafa membaca berkas yang diberikan Adrian. Dia ingin melihat keterkaitan Hana dengan kecelakaan yang pernah terjadi.


Adrian melihat sahabatnya hancur. Rafa menaruh kepalanya di atas meja. Dia marah dan kecewa pada dirinya sendiri. Rasa bersalah kini berganti dengan rasa takut kehilangan Hana untuk selamanya. Adrian berdiri menghampiri Rafa. Menepuk pelan punggungya, Adrian seakan ingin mengatakan semua akan baik-baik saja.


"Adrian, apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku ingin meminta maaf, tapi aku takut kehilangan Hana selamanya. Dia harta yang paling berharga dalam hidupku.Tapi justru aku yang merebut kebahagian dari hidupnya. Aku orang yang membuatnya hidup sebatang kara. Aku orang yang merebut kedua orang tuanya. Tangan ini, tangan yang menabrak kedua orang tuanya. Akulah orang yang membuat Hana menderita!" ujar Rafa lirih, tangannya mengepal. Adrian terus mendukung Rafa, mengatakan jika semua akan baik-baik saja.


Pyarrrrr


"Aku pembunuh, aku membunuh orang tua Hana. Aku orang yang merebut senyum di wajahnya. Aku....aaaaaaa!" teriak Rafa histeris, sesaat setelah Rafa melempar laptop di depannya. Seketika Adrian menarik tubuh Rafa, Adrian memeluk Rafa erat. Adrian tidak ingin Hana mendengar semua perkataan Rafa. Namun semua terlambat, tanpa mereka sadari Hana berada di balik pintu.

__ADS_1


Deg Deg Deg


Jantung Hana berdegub hebat, tubuhnya lemas dan jatuh. Bagai sebuah petir yang menghancurkan hati dan jiwanya. Tulang-tulang Hana remuk, tak mampu lagi berdiri. Sebuah kenyataan yang tak pernah ingin Hana ketahui. Air mata Hana jatuh bak hujan, badai besar menimpa hidup Hana. Tak lagi ada cahaya matahari yang menelisik dalam hatinya. Mata dan hatinya gelap, seirig petir yang menyambar tubuhnya. Hana memegang dadanya, sesak tak mampu lagi bernapas. Semua seolah sulit untuk Hana hidup. Bayangan darah yang mengalir dari tubuh orang tuanya. Air mata yang kala itu menetes. Seakan semua kebohongan, ketika Hana menyadari dia hidup penuh kemewahan dan bahagia dengan Rafa. Tawa yang tercipta seolah sebuah hinaan akan kepergian orang tuanya. Cinta yang dia berikan pada Rafa. Ibarat garam diatas lukanya, hanya perih yang terasa kini.


"Apa yang aku dengar hari ini? Kuharap semua ini hanya mimpi. Bukan kak Rafa orang yang menabrak ayah dan ibu. Bukan dia orang yang tanpa sengaja membuatku hidup sebatang kara. Apakah pernikahanku sebagai ganti kesendirianku? Mungkinkah kebahagianku sebuah ganti kesedihan dan air mata yang mengalir? Kenapa harus kak Rafa orang yang mengemudikan mobil itu? Kenapa harus dia yang kini menjadi suamiku? Kenapa Ya Allah? Hamba hanya wanita biasa, yang mampu membenci dan terluka. Mampukah kini aku memandang wajahnya? Jika dalam wajahnya aku mampu melihat darah orang tua! Setiap kali aku mendengar suaranya. Seakan aku mendengar rintihan rasa sakit kedua orang tuaku. Hembusan napasnya tak kan lagi membuatku nyaman. Napas yang mengingatkanku akan napas orang tuaku yang menghilang. Ya Allah, jika ini sebuah mimpi. Bangunkan hamba, sungguh dalam mimpi hamba tidak sanggup. Apalagi jika semua ini nyata, hamba benar-benar takkan mampu!" batin Hana pilu, bersandar pada pintu ruang kerja Rafa. Dengan langkah gontai, Hana mencoba berdiri dan menjauh dari Rafa. Dia berjalan perlahan menuju kamarnya. Berharap yang dia dengar hanya sebuah mimpi.


"Rafa, berhenti berteriak. Hana akan mendengar semuanya. Bukan hanya kamu yang akan terluka. Hana jauh lebih terluka daripada dirimu. Tenanglah, kita akan mengatakan pada Hana. Saat semua sudah tenang. Pikirkan Fathan, jangan biarkan keluargamu hancur. Dia tidak membutuhkan kalian berdua. Aku yakin Hana akan memaafkanmu. Demi Fathan putra kalian!" tutur Adrian tepat di telinga Rafa. Tubuh Rafa lemas, tulangnya remuk saat dia mengetahui kenyataan yang mengerikan. Jalan takdir seolah sedang menguji cinta mereka. Rafa jatuh ke lantai, Adrian segera menopang tubuh Rafa. Dia membawa Rafa menuju sofa, Adrian memberikan segelas air putih. Agar Rafa sedikit tenang.


"Aku yang menghancurkan hidup Hana. Kesepian dan kesendiriannya, semua karena diriku!" ujar Rafa lirih, Adrian menunduk menyesal mencari tahu tentang kecelakaan itu. Kini Rafa harus hidup dalam ketakutan, rasa takut kehilangan Hana bila dia mengetahui kebenarannya. Tiba-tiba Rafa berdiri, dia berlari menuju kamar. Rafa ingin meminta maaf pada Hana. Wanita yang dicintainya, tanpa sengaja hidup sebatang kara kareba kelalaiannya.


Tap Tap Tap


Terdengar suara langkah Rafa berlari menuju kamar. Seketika Hana menghapus air matanya. Hana langsung menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Hana menenggelamkan kepalanya di bawah guling. Agar Rafa tidak melihat air matanya.


Setibanya di kamar, Rafa duduk bersimpuh tepat di samping tempat tidur. Rafa menatap punggung Hana lekat. Punggung yang harus bekerja keras menjalani hidup sendiri tanpa orang tua. Tangan Rafa bergetar menyentuh tubuh Hana. Tubuh yang tanpa sengaja hidup dalam kesengsaraan akibat kelalaiannya di masa lalu. Hana yang merasakan sentuhan Rafa, tiba-tiba merasa sekujur tubuhnya kaku. Ingin rasanya Hana berlari menjauh dari sentuhan yang dulu terasa hangat untuknya.


"Sayang, maafkan aku. Bukan orang lain yang harus bertanggungjawab akan sepimu dan susahmu. Aku orang yanh seharusnya melindungi, menjadi alasan dukamu. Aku orang yang telah menghancurkan senyum di wajahmu. Aku orang yang membuatmu hidup penuh dengan air mata. Mampukak kini aku menatap wajahmu. Sedangkan dirikulah yang memberikan luka pada hatimu. Sanggupkah aku memelukmu. Sebaliknya diriku penyebab kepahitan dalam hidupmu. Aku memang salah, tapi bisakah aku mendapat kata maaf darimu. Setidaknya demi putra kita dan cinta yang ada diantara kita. Jika hidup bersamaku terlalu sulit sebagai seorang istri. Tetaplah di sisiku untuk membenciku, sebagai balasan atas kelalaianku. Kebencianmu jauh lebih baik, daripada aku harus kehilangan dirimu. Amarahmu akan menjadi angin segar dalam hidupku. Sebab jauhnya dirimu akan menjadi badai yang menghancurkanku. Maafkan aku, maafkan atas kelalaianku. Sayang, jika ini ujian dalam pernikahan kita. Aku jauh lebih baik kehilangan semua hartaku. Aku tidak sanggup bila diuji dengan kehilangan dirimu!" bisik Rafa lirih, Hana tertegun mendengar perkataan Rafa. Namun hati terlalu sakit. Hanya diam yang mampu Hana lakukan, membenci Rafa akan sulit, bersama Rafa seakan tidak mungkin.


FLASH BACK OFF


Hana menatap pilu dua nisan yang berjejer. Tak ada yang mampu Hana pikirkan. Hidup bersama Rafa, seolah dia bahagia akan kepergian orang tuanya. Menjauh dari Rafa, ibarat dia membunuh dirinya dan putranya. Cinta Rafa membuat Hana lemah sekaligus rapuh. Tak ada Hana yang kuat, berani menghadapi dunia. Hana seakan tak lagi mampu berdiri. Hana mencium dua nisan, tempat Hana berkeluh kesah.

__ADS_1


"Ayah...ibu...haruskah aku membenci orang yang membuat kalian jauh dariku. Ataukah aku memaafkannya demi cinta dan kasih sayangnya padaku. Sejujurnya kepergian kalian bukan sepenuhnya kesalahannya. Namun keadaan seolah ingin menempatkan dirinya dalam posisi itu. Aku tahu kepergian kalian sepenuhnya sebuah jalan takdir yang harus aku lalui. Namun tetap diam dan menganggap dia tidak bersalah, sangat mustahil kulakukan. Membencinya dan hidup dalam dendam, sungguh aku tidak bisa. Jalan manakah yang harus aku pilih? Memaafkan atau pergi meninggalkan!" batin Hana pilu.


__ADS_2