
Berdiri seorang wanita muda di antara gedung-gedung tinggi pencakar langit. Dia tak lain Vania Aulia Azzahra. Dia sedang berada di kota. Aulia datang ke salah satu kota terbesar di negaranya bersama ayah dan bundanya. Vania datang ke kota ini untuk memenuhi undangan dari sahabat Rizal. Sebenarnya Vania datang sendiri. Sebab kedua orang tuanya sudah datang lebih dulu.
Vania berdiri diantara deretan gedung perkatoran. Dia tidak langsung menemui kedua orang tuanya di hotel. Melainkan Vania pergi mencari hadiah untuk sahabat ayahnya. Seorang sahabat yang tak lain calon mertuanya. Kedatangan Vania ke kota ini. Bukan hanya memenuhi undangan saja. Melainkan Vania akan bertemu dengan calon suaminya. Laki-laki yang tidak pernah di kenal.
Vania masuk ke dalam salah satu pusat perbelanjaan. Vania berkeliling lama sekali. Dia bingung ingin memberikan hadiah apa? Vania tidak ingin meninggalkan kesan buruk pada calon mertuanya. Lama Vania berjalan, akhirnya dia berhenti di salah satu toko khusus gamis. Vania masuk ke dalam toko yang dipenuhi berbagai macam gamis dan hijabnya. Vania memilih salah satu gamis yang mungkin cocok dengan calon mertuanya kelak.
Lagi dan lagi Vania bingung memilih warna dan model seperti apa yang bagus calon mertuanya. Vania terlalu fokus memilih, tanpa dia menyadari ada sepasang mata yang terus mengawasinya. Mata yang menatapnya dengan penuh kekaguman. Lama Vania memilih sampai dia merasa lelah dan putus asa.
Lalu tiba-tiba dari arah belakang. Dia melihat tangan kekar sedang memilih salah satu gamis di depannya. Laki-laki itu memberikan gamis pilihannya pada Vania. Sontak saja Vania terkejut, dia tidak menyangka akan ada laki-laki yang memilihkan gamis untuknya.
__ADS_1
"Jangan takut memilih jika hanya untuk hadiah. Orang yang menerima hadiahmu. Tidak akan melihat bentuk atau semahal apa hadiahmu. Namun niat tulus dan kasih sayangmu yang akan dia lihat. Jika kamu ingin memilih gamis untuk orang tua. Pilihlah yang sederhana dan tidak mencolok. Gamis yang baru saja aku pilihkan salah satu contoh. Jika kamu setuju, ambillah dan jika tidak pilihlah yang lain!" ujar Raihan lirih, Vania menunduk takut menatap wajah laki-laki yang tidak dikenalnya. Banyak alasan yang membuatnya harus tetap menunduk. Salah satunya mereka bukan mukhrim.
"Terima kasih!" sahut Vania lirih, lalu mengambil gamis pilihan laki-laki tersebut. Vania berjalan perlahan ke kasir. Sekilas Vania melihat laki-laki yang berbicara dengannya bukan orang biasa. Terlihat dia sebagai pengusaha sukses. Terbukti saat dia berjalan, banyak pengawal yang mengikutinya. Beberapa sekretaris juga mengikuti kemana langkahnya pergi. Bahkan saat berjalan hampir semua pegawai toko menunduk. Dalam hati Vania berpikir dia laki-laki yang luar biasa
Satu hal yang membuat Vania kagum. Dengan kesuksesan yang dia miliki. Laki-laki itu bersedia membantunya tanpa banyak berkata. Sikap ramah yang jauh dari kata sombong. Lama angan Vania berputar tentang Raihan. Lalu dengan cepat Vania menghapus semua pikiran-pikiran itu. Vania tidak pantas memikirkan laki-laki lain selain calon suaminya. Laki-laki yang akan Vania temui nanti malam untuk pertama kalinya. Entah laki-laki itu akan menerimanya atau menolaknya? Semua tergantung pertemuan nanti malam.
Vania meletakkan paper bag berisi gamis untuk calon mertuanya. Vania juga melepas sepatu miliknya, Vania memijat sedikit kakinya yang kelelahan. Meski merasa lelah Vania bahagia. Pertama kalinya dia melupakan kewajibannya. Dia membuat hatinya bahagia dengan cara-cara sederhana.
"Minumlah, kamu pasti lelah!" ujar Raihan pada Vania, seketika Vania mendongak terkejut. Saat dia melihat laki-laki yang sama. Laki-laki yang membantunya memilih gamis. Vania langsung menunduk, dengan lemah Vania menggeleng. Dia tidak mungkin menerima bantuan lagi dari laki-laki yang tidak dia kenal.
__ADS_1
"Terima kasih!" sahut Vania ramah, dia memakai sepatunya. Vania meninggalkan laki-laki yang berniat baik membantunya. Namun Vania tetap harus menjaga jarak. Selamanya tidak ada yang gratis di dunia ini. Vania berjalan dengan cepat, dia tidak ingin merepotkan orang lain.
"Maaf sebelumnya, mungkin anda terganggu dengan bantuan saya. Namun saya katakan dengan pasti. Saya tidak berniat jahat pada anda. Sebagai sesama muslim saya ingin membantu anda!" ujar Raihan lantang, Vania seketika menghentikan langkahnya. Ada rasa tidak enak hati, saat laki-laki tersebut mengatakan hal seperti itu. Dia tidak menyangka, jika laki-laki tersebut akan salah paham padanya. Vania menoleh, memutar tubuhnya 180° menghadap kearah Raihan.
"Maafkan sikap saya bila telah melukai anda. Namun sebagai seorang wanita, ada batasan saya menerima bantuan anda. Sesama muslim kita bisa saling tolong menolong. Namun sebagai seorang wanita, anda bukan mukhrim saya. Apalagi status saya, tidak mengijinkan saya mengenal laki-laki lain selain calon suami saya. Sekali lagi saya minta maaf bila menyinggung anda!" ujar Vania sembari menangkupkan tangan. Mengisyaratkan sebuah permintaan maaf. Vania berjalan menjauh, dia keluar dari pusat perbelanjaan. Vania merasa cukup bersenang-senang. Semaki lama dia di luar, hanya akan membuatnya terjerumus pada rasa yang tak pantas untuknya.
"Mata yang indah penuh dengan keteduhan ketulusan. Tutur kata yang sopan dan ramah membuat hatiku bergetar. Sikap sopan santunnya menyejukkan mataku. Seolah ingin mengatakan, bahwa kesempurnaan wanita ada padanya. Prinsip hidup yang dipegang teguh, membuatku percaya bahwa kesetiaan itu ada. Wanita yang kelak mampu menjaga kehormatan sang suami. Seandainya aku mengenalnya lebih dulu. Mungkin aku akan menjadi laki-laki yang sempurna. Siapapun laki-laki yang menjadi suaminya. Sungguh menjadi laki-laki yang paling beruntung. Meski aku tidak mengenalmu, aku berdoa demi kebahagianmu. Semoga hanya bahagia yang kamu dapatkan. Terima kasih telah mengajarkanku akan sebuah keteguhan akan prinsip dan kesetiaan!" batin Raihan Dia terus menatap Vania yang menghilang dalam keramaian pusat berbelanjaan.
"
__ADS_1