KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Hari Pertunangan


__ADS_3

Nanti malam akan digelas acara pertunangan Naufal dan Salsa. Rafa sengaja mengadakan acara dengan meriah. Namun masih bisa dikatakan sederhana, untuk acara yang digelar oleh orang sekelas Rafa. Hana melarang Rafa mengadakan acara terlalu meriah. Hana membiarkan Rafa mengadakan acara, sebab Rafa ingin menjadi kakak yang baik untuk Salsa. Hal yang sama akan Rafa lakukan, untuk Kiara dan Lisa. Khusus acara ini Rafa hanya mengundang beberapa kerabat dan rekan kerja yang paling dekat.


Bahkan Rafa sengaja mengundang Rizal dan keluarganya datang. Kiara juga dijemput oleh Rafa. Malam ini akan ada pertemuan dua pasangan yang akan menempuh hidup bahagia. Rafa ingin menjadi seorang kakak yang baik bagi ketiga adiknya. Rafa memberikan porsi kasih sayang yang sama untuk ketiga adiknya. Malam ini Lisa juga akan hadir. Sudah sejak seminggu lalu Lisa berada di kota ini. Namun Rafa menyembuyikan kedatangan Lisa pada Hana. Bukan ingin membohongi Hana, tapi dia tidak ingin melihat Hana tertekan. Kehamilan Hana sedikit bermasalah. Hormon yang naik turun membuat Hana mudah marah dan cemburu. Rafa hanya menjaga agar kondisi ketenangan Hana tetap terjaga.


Acara malam ini akan sangat meriah penuh dengan kehangatan sebuah keluargaku. Rafa banyak memberikan kejutan untuk Hana malam ini. Kedatangan Kiara yang tidak diketahui Hana. Kedatangan Lisa sebagai adik yang lain bagi Rafa. Sebenarnya kondisi Hana melemah sejak semalam. Jika memang bisa Hana berniat tidak mengikuti acara nanti malam. Kehamilannya kali ini sangat-sangat manja. Dengan terpaksa Hana memutuskan untuk tinggal di rumah bersama Fathan. Diana akan menamani Hana di rumah. Sebagai gantinya Rafa akan datang sebagai kakak untuk Salsa.


Malam harinya saat semua bersiap pergi ke acara pertunangan Salsa. Hana satu-satunya orang yang kesal. Banyak alasan yang membuatnya marah. Keinginannya untuk menemani Salsa gagal. Melihat ketampanan Rara yang pasti akan membuat semua mata hawa memandangnya. Diana mengerti kekecewaan sahabatnya. Demi menemani Hana, dia memutuskan untuk tinggal mencoba menyenangkan hati Hana.


"Sabrina, kamu merasa ada yang aneh tidak. Sejak tadi aku tidak melihat Hana wanita kampung. Aku hanya melihat adiknya, lihatlah Rafa berdiri sendiri!" bisik Mira, Sabrina mengangguk pelan. Keduanya duduk tak jauh dari Rafa. Memang terlihat Rafa berdiri sendiri, tanpa didampingi Hana. Salsa terlihat sangat cantik dengan gamis motif bunga, dipadukan dengan hijab polos warna senada. Naufal tampak gagah dengan setelan jas yang dipakainya. Bukan jas putih kedokteran yang selalu melekat pada tubuhnya. Annisa terlihat cantik dengan gaun yang dipakainya. Semua terlihat sempurna dengan penampilan yang senada.


"Aku baru menyadari Rafa berdiri sendiri. Dimana wanita kampung itu? Apa dia sudah menyadari? Kalau dia tidak pantas berada di acara seperti ini. Satu wanita kampung sudah cukup membuatku enggan berada disini!" bisik Sabrina balik, Mira menoleh seraya tersenyum sinis. Acara berlangsung tanpa hambatan. Pertunangan berlangsung sangat khidmat dan tenang.


Tak berapa lama terlihat Rizal datang bersama Mila. Abi dan umi tidak bisa ikut, perjalanan jauh sudah tidak mungkin mereka tempuh. Penampilan Rizal terlihat lebih mempesona. Dia menggunakan hem lengan panjang, bukan baju koko seperti biasa. Rizal jauh terlihat lebih tampan. Mila jauh lebih cantik dengan make up tipis. Semua orang terlihat menawan dengan penampilan mereka masing-masing. Hanya Hana yang tak terlihat batang hidungnya. Kecerian dalam pesta berbanding terbalik dengan kesepian yang dialami Hana.


"Sabrina, Kiara putrimu dimana? Aku dengar dia pulang dari pesantren. Kenapa dia tidak datang bersamu?" tanya Mira santai, Sabrina mrngangkat kedua bahunya. Seakan dia tidak mengetahui keberadaan Kiara. Kedatangan Kiara memang tidak diketahui oleh siapapun? Rafa sengaja menyembuyikan kedatangan Kiara. Bahkan Sabrina dan Gunawan tidak pernah tahu akan kedatangan Kiara.

__ADS_1


"Aku tidak tahu dia dimana? Rafa tidak mengatakan pada kami Kiara tinggal dimana? Dia hanya mengatakan, akan ada masalah penting yang dibahas. Semua itu tentang Kiara!" ujar Sabrina lirih, Mira mengangguk setuju. Dua wanita kelas atas yang selalu mencari kesalahan orang lain. Baik Sabrinaa dan Mira tidak pernah berpikir, untuk sekali saja membuka mata. Melihat sisi baik Hana ataupun Salsa. Seolah status yang berbeda jauh lebih berharga, daripada kebahagian putra-putra mereka.


Setelah semua proses selesai, semua undangan duduk di tempat yang telah disediakan. Keluarga Wirawan duduk bersama dengan Adrian dan Salsa. Sedangkan Rizal dan Mila akan duduk satu meja dengan keluarga Prawira. Rafa sengaja mengatur semua ini. Rafa akan mengenalkan Rizal dan Lisa pada keluarga besar Prawira. Sudah saatnya mereka semua saling mengenal.


"Papa, ada dua orang yang khusus aku ingin perkenalkan pada keluarga Prawira. Dua orang yang akan menjadi bagian keluarga Prawira. Aku berharap pertemuan kali ini. Langkah awal yang baik, untuk hubungan yang baik!" tutur Rafa, Gunawan menatap wajah sang putra. Sudah lama dia tidak mendengar panggilan papa darinya.


Hubungan yang sempat membaik, kini terasa hambar tanpa kehangatan. Rafa tidak pernah menjauh, tapi mendekat pada Gunawan seolah sulit terjadi. Dengan anggukan kepala, Gunawan membalas perkataan Rafa. Sabrina diam membisu, menunggu gilirannya bicara. Semenjak kejadian di rumah sakit. Sabrina terlalu takut untuk banyak bicara. Gunawan mengancam akan menceraikan Sabrina. Jika dia terlalu banyak bicara. Ancaman Gunawan berhasil, Sabrina mulai mengendalikan perkataannya. Setidaknya di depan Gunawan suaminya.


"Siapa yang ingin kamu kenalkan pada kami?Lantas kenapa kami harus mengenalnya? Ada hubungan apa dia dengan keluarga Prawira?" sahut Gunawan lirih, Rafa melirik pada Rizal yang duduk berjejer dengan Mila. Rafa tersenyum ke arahnya, seakan memberikan isyarat agar Rizal mengenalkan diri. Kiara belum datang, dia masih berada di hotel tak jauh dari restoran milik Zyan. Tuan Ardi tidak hadir, kondisinya mulai menurun. Kini Gunawan menjadi satu-satunya kepala keluarga. Sebab itu Gunawan mulai bersikap tegas pada Sabrina.


"Papa, dia sahabatku di pesantren dulu. Dia kini menjadi guru bagi Kiara. Sekaligus dia calon menantumu, imam untuk Kiara. Sengaja dia aku undang, aku ingin dia mengenal keluarga kita. Rizal secara khusus mengkhitbah Kiara padaku. Namun aku belum memutuskan, baik Kiara atau aku masih menunggu jawaban dari papa sebagai wali Kiara. Kami tidak ingin mendahuluimu, tapi Rafa bisa yakinkan. Jika Rizal pemuda yang baik!" ujar Rafa tegas, Gunawan dan Sabrina saling menoleh. Tatapan keduanya mengunci sosok Rizal. Sabrina menunjukkan sikap yang tidak suka. Sebaliknya Gunawan tersenyum bahagia, dia merasa Kiara menemukan jodoh yang tepat.


"Tidak perlu sungkan, kamu sahabat Rafa. Jadi kamu selayaknya putraku sendiri. Malam ini secara tak langsung, kamu ingin meminang putriku. Sungguh beruntung putriku menemukan jodoh yang baik. Seseorang yang mampu membimbingnya dunia akhrit!" ujar Gunawan seraya tersenyum. Rafa mengangguk mengiyakan perkataan Gunawan. Rizal mendekat pada Gunawan. Dengan sopan dan lembut Rizal mencium punggung tangan Gunawan. Dengan spontan Gunawan menarik tubuh Rizal, seolah bahagia akan pilihan putrinya. Rizal menangkupkan tangan pada Sabrina, tapi bukan sebuah senyum yang dia dapat. Sabrina malah mengacuhkan Rizal. Rafa geram melihat sikap Sabrina, tapi Rafa menahan amarahnya. Dia tidak ingin menimbulkan keributan.


"Percuma dia memiliki iman yang kuat. Pernikahan tidak hanya butuh cinta dan iman. Seorang laki-laki harus bisa mandiri dalam segala hal. Dia harus bisa membahagiakan istrinya, baik lahir dan batin. Sebuah kebahagian tidak tergantung. Seberapa besar cinta itu, tapi sebanyak apa yang bisa dia berikan untuk kebahagian putriku? Menjadi putra pemilik pesantren, tidak lantas membuatnya pantas bersanding dengan Kiara. Setidaknya dia harus bisa membuat putriku bahagia. Dia hidup dalam kemewahan sejak kecil, tidak pantas jika setelah menikah. Dia harus hidup serba kekurangan!" sindir Sabrina telak, Rizal dan Mila menelan ludahnya kasar. Rizal seakan teringat akan perkataan Kiara. Bagaimana ibunya akan menilai Rizal? Sungguh kepribadian yang bertolak belakang antara Kiara dan Sabrina. Gunawan meradang mendengar perkataan Sabrina. Dia menatap tajam ke arah Sabrina. Sebaliknya Rafa yang mengetahui, siapa sebenarnya Rizal hanya diam? Rafa ingin melihat ibu sambungnya malu dengan sikapnya.

__ADS_1


"Jaga mulutmu, apa kamu lupa akan perkataanku? Kamu harus sadar, tidak semua harus kamu nilai dengan harta. Rafa dan Hana kini bahagia dengan keluarga kecilnya. Kamu lihat pernikahan Naufal keponakanmu. Berantakan hanya karena sifatmu dan Mira yang sama. Mengedapankan harta dan menganggap kebahagian akan ada dengan hidup mewah!" tutur Gunawan emosi, Rafa dan Rizal menunduk melihat Gunawan marah. Sebenarnya ada rasa tidak tega, tapi Rizal ingin diterima dengan kesederhanaan bukan kemewahan.


"Aku akan diam, selama itu tidak berhubungan dengan putriku. Namun yang terjadi malam ini, menyangkut kebahagian putriku. Aku tidak ingin dia menderita. Aku ibu yang mengandung, melahirkan dan membesarkannya. Sudah sepantasnya aku mencemaskan kebahagiannya. Aku tidak akan mengalah bila menyangkut Kiara putriku!" ujar Sabrina seolah membenarkan perkataannya. Rizal mengangguk setuju, dia melihat kasih sayang seorang ibu. Sabrina hanya mencemaskan kondisi putrinya. Bukan ingin menghina, meski sebenarnya perkataannya sangat tidak pantas. Gunawan dan Rafa akhirnya membiarkan Sabrina berbicara. Lagipula hasil akhir, hanya jalan jodoh antara Rizal dan Kiara.


"Anda tidak salah, setiap ibu ingin melihat putrinya bahagia. Sikap yang sama akan diambil oleh orang tuaku. Saat ada yang meminang saudaraku Mila. Namun dalam sikap seperti itu. Seharusnya sebagai orang tua anda bertanya pada Kiara. Sekiranya bahagiakah dia bersamaku atau akan menderita. Anda juga harus mendengar pendapatnya. Pantaskah aku menjadi imamnya kelak! Namun dibalik semua itu, aku pastikan akan membahagiakan Kiara dengan cara apapun! Sebab Kiara wanita yang membuat saya yakin dan teguh akan rasa ini. Bersamanya saya yakin mampu meraih kebahagian dunia dan akhirat!" ujar Rizal tegas, Rafa mengancungkan jempol ke arahnya. Mila menepuk pundak sang kakak pelan. Seakan bahagia mendengar perkataannya. Gunawan manggut-manggut, dia bangga mendengar penuturan Rizal.


"Dengan apa kamu akan membahagiakan putriku? Sedangkan sampai sekarang kamu hidup bergantung pada kedua orang tuamu. Gaji sebagai seorang guru ngaji, tidak sebanding dengan uang jajan putriku. Meski keluargamu memiliki pesantren, aku rasa tidak sekaya keluarga Prawira!" ujar Sabrina sinis, Rafa seketika menatap tajam Sabrina. Dia marah mendengar perkataan Sabrina yang semakin jauh dan tak pantas.


"Tidak harus dengan harta dia membahagiakanku. Sebab aku butuh iman dan islam. Harta tidak akan membuatku bahagia. Bertahun-tahun aku hidup dengan kemewahan. Tak pernah aku merasakan kekurangan, tapi tak pernah aku merasa tenang dan damai. Aku merasa kesepian, saat aku melihat mama sibuk pergi arisan dengan teman-teman mama. Aku merindukan kehangatan keluarga. Namun yang aku lihat hanya sikap angkuh mama yang selalu memperlakukan papa rendah. Dia mungkin tidak berharta, tapi dia berhati mulia. Dia laki-laki yang menganggap putrimu suci. Dia laki-laki pertama yang yakin padaku. Disaat semua orang memandang sebelah mata akan diriku. Semua orang menghina dan mencaci, saat tahu siapa sebenarnya mama? Namun dia orang yang mendekat padaku. Mengacuhkan masa laluku, berpikir dia akan hidup dengan baik dan burukku. Mama harta yang kamu banggakan, membutakan kedua mata hatimu. Sadarlah sebelum kami semua menjauh darimu!" sahut Kiaral lirih, sejak awal dia mendengar perkataan Sabrina. Sesuatu yang sangat tidak diinginkan Kiara. Pertemuan Rizal dan Sabrina yang membuat Kiara takut harus kehilangan salah satunya.


"Kiara, berani sekali kamu membantah perkataan mama. Sejak kapan kamu berhak menasehati mama?" sahut Sabrina kesal, Kiara menggeleng lemah.


"Aku tidak pernah ingin menasehati mama. Aku mengatakan sesuatu yang seharusnya dikatakan papa puluhan tahun yang lalu. Namun cinta papa, penghargaan papa akan mama terlalu besar. Sehingga dia takut untuk mengatakan semua kenyataan ini. Sejujurnya aku malu mengetahui ibuku seorang mantan wanita malam. Namun saat aku di pesantren aku mengetahui, betapa besar jasa mama padaku. Meski aku menangis dengan air mata darah. Aku tidak akan pernah sanggup membalas kebaikanmu. Mama segalanya dalam hidupku, tapi ustad Rizal imam yang aku rindukan. Aku tidak ingin mama semakin jauh. Sudah saatnya mama menyadari. Jika ada Allah SWT yang selalu menanti taubatmu!" unar Kiara lirih, lalu mendekat pada Sabrina dan Gunawan. Mencium punggung tangan mereka. Air mata Kiara menetes membasahi punggung tangan orang tuanya. Sabrina menatap putri yang dibesarkan penuh kasih sayang dan kemewahan. Kini tak lagi mampu dia kenal.


"Mama, jangan pernah menghina ustad Rizal akan kelemahannya. Dia terlalu berharga untuk terhina. Takkan pernah ada pernikahan antara aku dan ustad Rizal. Jika mama tidak merestuinya. Aku lebih ikhlas melihatnya bersama wanita lain. Daripada aku harus melihatnya terhina oleh perkataan mama. Dia imam yang aku rindukan dalam setiap malamku. Namanya yang ada dalam doa dan sujudku. Berharap dia penyempurna agamaku. Namun dia juga lemahku, jadi jangan pernah meremehkan dia. Sebab melihat dia terluka membuatku marah. Aku tidak ingin membenci mama, demi mencintainya. Aku juga tidak ingin mencintainya tapi menyakiti mama. Kiara akan tetap di tengah, menjadi Kiara Putri Prawira. Aku akan mendoakan kebahagian kalian berdua. Mama yang melahirkanku dan imam yang menuntunku. Kalian berdua surga di dunia dan akhiratku!" tutur Kiara lirih, lalu menghampiri Rafa serta memeluk kakak tercintanya. Rafa menerima pelukan Kiara dengan hangat. Semua orang terdiam sesaat setelah mendengar perkataan Kiara. Rizal menatap bahagian ke arah Kiara. Pembelaan dan isi hati Kiara, membuat Rizal mantap mempertahankan Kiara.

__ADS_1


"Kakak bangga padamu!" ujar Rafa, sembari memeluk Kiara. Rizal terharu melihat kedekatan kakak beradik di depannya. Kiara mendongak menatap ke arah Rafa dengan senyum semanis mungkin.


"Dengarlah Sabrina, Kiara meletakkan kebahagiannya dengan membiarkan dirinya terluka. Masihkah kamu bersikap angkuh, dengan tetap berpikir harta di atas segalanya!" ujar Gunawan, Sabrina menunduk terdiam.


__ADS_2