
"Sesil!" sapa Rafa dengan suara baritonya. Seketika Sesil menghentikan langkahnya. Dia memutar tubuhnya 180°. Sesil melihat Rafa berdiri tepat di depannya. Rafa bersandar tepat di samping mobilnya. Pagi ini Rafa sengaja datang ke rumah Sesil. Dia ingin bertemu dengan Sabrina. Sesil sangat terkejut, dia tidak menyangka akan melihat Rafa di depan rumahnya. Sesil mengingat kejadian di pusat perbelanjaan itu. Sesil mulai gelisah dengan kedatangan Rafa. Sekian tahun mereka tidak bertemu. Sekarang Rafa berdiri di depan rumahnya. Sengaja mendatanginya demi masalah yang dibuat Sabrina. Tanpa Rafa sadari, Sesil menelan ludahnya kasar. Meski Rafa tidak lagi berkuasa akan perusahaannya. Namun kharisma dan kemampuan Rafa masih bisa menghancurkan bisnis keluarga Sesil. Semenjak mengenal Hana. Rafa belajar bersikap tenang. Dia akan bicara dulu sebelum bertindak. Namun jika bicara tidak bisa menyelesaikan masalah. Rafa akan bertindak sesuai amarahnya.
"Rafa, sedang apa kamu disini? Silahkan masuk!" ujar Sesil gugup, Rafa menggeleng lema. Dengan tatapan tajam Rafa mengunci wajah Sesil. Ketakutan Sesil menjawab sekaligus mengiyakan kejadian di pusat perbelanjaan itu. Rafa melihat tubuh Sesil yang bergetar hebat. Jelas Sesil ketakutan menerima amarah Rafa. Meski sebenarnya, kedatangan Rafa hanya untuk bertemu dengan Sabrina. Rafa menyewa beberapa orang untuk mencari Sabrina. Rafa mendapat informasi, jika Sabrina tinggal bersama Sesil. Sebab itu Rafa datang menemui Sabrina di rumah Sesil.
"Dimana tante Sabrina? Katakan padanya, aku ingin bertemu. Dia harus menjelaskan sesuatu padaku. Aku selama ini diam menghadapinya. Hari ini akan kuselesaikan masalah diantara kami. Dia telah membuat Hana berpikir buruk tentangku. Aku tidak akan membiarkan semua ini terjadi. Dia harus mengerti kesalahannya!" tutur Rafa tenang tapi dengan nada emosi. Ketenangan yang seolah tidak terjadi apa-apa? Namun sesungguhnya ada amarah yang siap meledak. Rafa masih mengingat perkataan Hana. Dia tidak akan membiarkan Sabrina lolos begitu saja. Berkat perkataan Sabrina, Rafa melihat rasa kecewa Hana. Penyesalan Hana mencintai Rafa, tidak akan dengan mudah Rafa lupakan. Penyesalan yang disebabkan oleh Sabrina sang ibu sambung. Wanita yang selalu haus akan harta dan martabat.
"Rafa, aku bisa jelaskan apa yang terjadi? Aku sudah mencegah tante Sabrina. Entah kenapa dia masih terus saja berkata buruk pada Hana? Rafa aku tidak berbohong, aku sudah meminta tante Sabrina untuk diam. Namun sepertinya dia begitu marah pada Hana. Kehidupan yang dia jalani selama ini. Membuatnya selalu marah pada Hana. Tante Sabrina selalu menyalahkan Hana atas apa yang dia alami? Sikap kerasmu padanya dan pengusiran atas dirinya. Selalu dianggapnya sebagai kesalahan Hana. Tante Sabrina membenci Hana, karena Hana menjadi istrimu dan mendapat kehormatan menjadi menantu keluarga Prawira. Sedangkan dia harus hidup layaknya gelandangan setelah keluar dari rumah keluarga Prawira!" tutur Sesil menerangkan. Suaranya terdengar serak dan terbata-bata. Dia sangat takut menghadapi amarah Rafa. Cukup sekali keluarganya hancur, karena kekuatan dan kekuasaan Rafa. Jika sekarang dia harus hancur lagi. Sesil tidak mungkin sanggup untuk bangkit. Keluarga Prawira tetap menjadi pengusaha yang disegani. Tidak akan dia mampu melawan kekuasaan keluarga Prawira.
"Semua akan terjawab setelah aku bertemu tante Sabrina. Katakan padanya untuk keluar. Aku tidak punya banyak waktu. Segera suruh dia keluar atau aku akan melakukan sesuatu yang tidak akan pernah kamu sangka!" ujar Rafa sinis, Sesil terdiam sembari menunduk. Tatapan Rafa seolah ingin membunuhnya. Sesil mengenal benar, siapa Rafa Akbar Prawira? Dia mengenal Rafa sangat dekat. Bahkan dia mengetahui, seberapa menakutkannya Rafa bila marah.
"Sebaiknya kita masuk ke dalam rumah. Aku tidak ingin tetangga berpikiran buruk tentangku. Kita bisa bicara baik-baik!" pinta Sesil lirih, Rafa menggelengkan kepalanya. Dia tidak akan pernah bersedia masuk ke dalam rumah Sesil. Rafa tidak ingin kenangan diantara dirinya dan Sesil kembali teringat. Seandainya bukan karena ingin bertemu Sabrina. Rafa tidak akan pernah menemui Sesil. Sampai kapanpun Rafa tidak ingin melukai hati Hana dengan bertemu Sesil? Masa lalunya dengan Sesil tidak akan mudah terhapus. Selamanya akan membekas dalam hati Hana. Rafa menyadari, Hana masih mengingat masa lalunya bersama Sesil. Meski Hana tidak pernah mengatakan sakit hatinya. Sebagai laki-laki yang sangat menyayanginya. Rafa memahami hati dan batin Hana dengan sangat baik.
__ADS_1
"Aku tidak mungkin masuk ke dalam rumahmu. Jika kamu malu akan pendapat orang. Maka aku malu akan larangan Allah SWT yang aku langgar. Sangat tidak pantas bila aku bertamu di rumahmu. Saat Alvian tidak berada di rumah. Aku tidak ingin timbul fitnah, karena aku bertamu di rumahmu. Aku tidak ingin melukai Hana. Sekarang kamu panggil tante Sabrina atau aku anggap semua sudah jelas. Sehingga aku bisa mengambil keputusanku!" ujar Rafa tegas, Sesil menggeleng. Tanpa banyak berkata lagi. Sesil berjalan masuk ke dalam rumah. Dia tidak akan memaksa Rafa lagi. Jika tidak ingin melihat amarah Rafa.
Tak berapa lama setelah Sesil masuk ke dalam rumahnya. Terdengar suara mobil memasuki halaman rumah Sesil. Rafa mengenal mobil yang masuk ke dalam rumah Sesil. Namun Rafa tetap diam pada posisi semula. Sedikitpun dia tidak bergerak atau menghampiri mobil yang baru saja masuk.
"Rafa, kebetulan kamu datang kemari. Sebenarnya aku ada rencana datang ke rumahmu. Ada yang ingin aku tanyakan padamu. Lebih baik kita bicara di dalam. Setidaknya demi persahabatan yang pernah ada diantara kita!" ujar Alvian mencoba menyakinkan Rafa. Lama Rafa terdiam, dia datang bukan untuk bertemu Alvian atau Sesil. Hanya Sabrina yang menjadi fokus Rafa saat ini. Namun persahabatan yang pernah ada diantara dirinya dengan Alvian. Tidak serta merta harus terlupakan. Akhirnya demi persahabatan yang pernah terjalin. Rafa mengangguk setuju untuk masuk ke dalam rumah Alvian.
"Rafa, aku ingin menanyakan sesuatu. Kenapa perusahaanmu bisa memutuskan hubungan kerja sama diantara perusahaan kita? Padahal kontrak yang kita sepakati saling menguntungkan. Selama ini tidak pernah ada kesalahan yang terjadi. Aku tidak paham, kenapa semua bisa terjadi? Jika kerja sama diantara kita diakhiri. Maka akan terjadi kerugian yang tidak sedikit. Mungkin perusahaanmu mampu bangkit, tapi perusahaanku tidak akan mampu menutup kerugian yang akan terjadi!" tutur Alvian dengan nada lemah, Rafa diam seribu bahasa. Dia tidak percaya dengan kenyataan yang dia dengar. Rafa tidak pernah bertanya masalah perusahaan pada Fathan. Semenjak dia memutuskan berhenti dari dunia bisnis. Sepenuhnya keputusan perusahaan di pegang oleh Fathan. Saat Rafa diam tanpa memberikan jawaban. Terlihat Sabrina dan Sesil berjalan mendekat. Dengan tatapan tajam, Rafa mengunci sosok ibu sambungnya. Wanita yang beberapa hari lalu menghina Hana. Sabrina mendekat dengan santai tanpa ada rasa takut. Dia berpikir Rafa tidak akan bisa menyentuhnya lagi. Sebab Sabrina tidak lagi hidup dengan harta keluarga Prawira.
"Alvian, aku minta maaf atas apa yang terjadi pada perusahaanmu? Jika kamu bertanya alasan dibalik pemutusan hubungan kerja sama itu. Tanyakan pada istri dan ibu sambungku itu. Mereka mungkin mengetahui alasan yang mendasari keputusan besar itu. Semenjak aku mundur dari jabatanku. Aku tidak lagi ingin terlibat dengan urusan perusahaan. Hari ini aku datang ke rumahmu. Bukan untuk bertemu denganmu atau istrimu. Aku hanya ingin bertemu dengan tante Sabrina, mantan istri papaku. Namun sepertinya tidak perlu lagi aku bicara dengannya. Putraku sudah melakukan konsekuensi atas sikapnya!" ujar Rafa santai, Alvian menoleh ke arah Sesil dan Sabrina bergantian. Seolah ingin mengetahui jawaban dari perkataan Rafa. Sesil menunduk tanpa berani mengangakat wajahnya. Dia memang tidak bersalah akan hal ini. Namun membiarkan Sabrina bertemu dengan Hana. Membuatnya harus menanggung konsekuensi atas sikap kasar Sabrina pada Hana. Seandainya waktu bisa diputar. Tidak akan Sesil tinggal diam melihat Sabrina menghina Hana. Dia akan melakukan segala cara agar Sabrina menjauh dari Hana. Namun semua sudah terjadi, nasi sudah menjadi bubur. Alvian suaminya harus menanggung resiko akibat kelalaiannya.
"Jangan katakan, keputusan Fathan karena sikap anda pada Hana. Jika memang benar, jangan pikir aku akan bersedia menampung anda. Seharusnya anda bisa bersikap layaknya orang yang menumpang. Bukan malah membuatku hancur!" ujar Alvian marah, seketika Sesil diam membisu. Apa yang dia takutkan telah terjadi? Tidak akan mudah merubah semuanya. Sesuatu yang tidak akan kembali baik. Satu per satu kehancurannya dimulai. Kesalahan terbesarnya telah menerima Sabrina.
__ADS_1
"Itulah putraku, Fathan memang pendiam. Bahkan dia selalu bersikap tenang. Namun dalam tenang putraku Fathan ada amarah yang tidak akan sanggup kalian hadapi. Saat aku berpikir akan bicara baik-baik. Putraku Fathan telah mengambil keputusan yang sangat besar. Apa yang dikatakan tante Sabrina memang benar? Fathan bukan pembisnis yang baik, karena dia akan lebih memilih menjadi putra yang baik. Fathan ingin menunjukkan pada kalian. Harta dan martabat yang membuat mamanya terhina. Kini tidak berarti lagi, kalian lihat sendiri. Fathan ikhlas mengalami kerugian yang tidak sedikit, selama itu bisa membuktikan. Hana jauh lebih berharga dari harta keluarga Prawira!" tutur Rafa, seketika Sabrina terdiam. Alvian semakin marah mendengar alasan dibalik pembatalan kontrak perusahaannya. Apa yang dikatakan Rafa tidak salah? Fathan berhak melakukan semua itu. Bahkan Fathan memberikan kompensasi yang sesuai. Namun pembatalan kerja sama ini. Akan tetap berimbas sangat besar bagi perusahaannya.
"Rafa, bisakah kamu membujuk Fathan. Agar dia menarik kembali keputusannya. Meski yang dilakukan Fathan tidak salah. Namun sangat tidak adil bila semua orang harus menerima hukuman. Atas kesalahan tante Sabrina. Aku mohon bujuklah Fathan!" pinta Alvian memelas, Rafa menggeleng lemah. Sontak Alvian menghela napas panjang. Dia tidaj tahu lagi, cara agar Rafa bersedia membantunya.
"Alvian, bukan aku tidak ingin membantumu. Namun saat Fathan mengambil keputusan itu. Dia sudah memikirkan resiko yang akan dia tanggung. Ketenangan Fathan telah terusik. Kini hanya amarahnya yang terlihat. Kegelisahan Hana telah membuat Fathan cemas. Dia tidak akan dengan mudah luluh. Apalagi ini menyangkut Hana. Fathan dan Faiq memang putraku, tapi mereka siap melawan diriku demi Hana. Maafkan aku Alvian, aku tidak bisa membantumu. Putraku menunjukkan amarahnya, itu artinya semua tidak baik-baik saja. Jika kamu ingin semua kembali seperti semula. Mintalah Orang yang mengusik amarahnya meminta maaf. Mungkin Fathan bisa merubah keputusannya!" ujar Rafa, Alvian mengangguk mengerti.
"Aku akan menemui Hana. Aku akan memibta maaf padanya!" sahut Sesil, Sabrina terperangah mendengar perkataan Sesil. Dengan angkuh dan tanpa rasa bersalah Sabrina menggelengkan kepalanya. Dia tidak akan bersedia meminta maaf pada Hana. Kebenciannya pada Hana sudah sampai diubun-ubun.
"Aku tidak akan meminta maaf pada Hana. Lagipula aku bisa membantu Alvian. Aku akan minta Raihan, calon menantu Kiara untuk membantu Alvian. Jadi jangan sombong kamu Rafa!" sahut Sabrina, Rafa menggeleng lemah.
"Ternyata kamu sudah mengetahui calon cucu menantumu bukan orang biasa. Kini aku percaya, hidupmu hanya untuk harta dan martabat. Mintalah Raihan membantu Alvian. Kita lihat apa Vania akan tinggal diam? Kamu akan mengetahui, kasih sayang Hana juga bisa membuatmu kehilangan Vania!" ujar Rafa lalu berdiri. Alvian dan Sesil tidak bisa lagi berharap.
__ADS_1
"Tante Sabrina, pergilah dari rumahku sekarang. Sudah cukup masalah yang kamu timbulkan. Jika Sesil ingin bersamamu, silahkan saja. Kalian bisa pergi bersama!" ujar Alvian penuh amarah. Dia berdiri hendak mengejar Rafa. Bukan untuk meminta bantuanya. Alvian hanya ingin mengantar Rafa keluar rumahnya. Alvian tidak ingin persahabatan mereka hancur begitu saja.
"Aku tidak akan menikah dengan Raihan bila dia membantu nenek!" teriak Vania lantang.