
Malam hari ini ada acara makan malam di rumah Hana. Keluarga besar Raihan akan datang membicarakan hari pernikahan Vania dan Raihan. Sejak pagi terjadi keributan di dapur. Semua orang sibuk menyiapkan acara malam ini. Sebab nanti malam akan diadakan acara lamaran. Raihan tidak akan datang sendirian. Akan banyak kerabat yang ikut serta ingin melihat calon pengantin Raihan. Tidak terkecuali Amalia yang khusus diundang oleh ibu Raihan.
Setelah malam ini, besok tepat pukul 09.00 wib. Akan dilaksanakan akad nikah yang dilakukan di kantor KUA. Sengaja Vania melakukan ijab qobul di KUA. Sebab Vania ingin melangsungkan akad nikah dengan sederhana. Raihan menyetujui permintaan Vania dengan catatan pesta pernikahannya harus tetap dilangsungkan. Raihan ingin memberikan pesta yang berkesan bagi Vania. Dia tidak ingin acara pernikahannya sederhana. Bukan ingin berpesta, tapi dia ingin memberikan kebahagian yang sepatutnya dirasakan oleh Vania.
Setelah perdebatan yang cukup sengit antara keduanya. Akhirnya diputuskan ijab kobul akan dilakukan di KUA. Sedangkan pesta akan berlangsung di salah satu hotel yang dikelola Raihan. Suka tidak suka, Vania harus mengikuti keinginan Raihan. Kelak Raihan imam yang langkahnya harus selalu diikuti Vania. Meski setengah hati dan dengan berbagai macam syarat. Raihan dan Vania akan menikah dengan acara yang lumayan meriah. Pesta pernikahan pertama kali dalam keluarga Prawira yang dilaksanakan dengan meriah.
Setelah semua kehebohan yang terjadi. Akhirnya malam pun tiba, tepat pukul 19.30 wib. Keluarga besar Raihan datang dengan para kerabatnya. Mereka datang menggunakan beberapa mobil mewah. Vania mengintip dari balkon kamarnya. Sempat dia melirik keramaian yang terjadi. Dia melihat Raihan menggunakan mobil sport kesayangannya. Raihan tidak mengemudikan mobilnya sendiri. Khusus malam ini dia membawa supir pribadinya.
"Raihan, kamu terlihat tampan malam ini. Aku sudah mulai mencium harum pengantin. Sepenuhnya aku percaya, jika kamu akan menjadi adik iparku. Vania kecilku akan menjadi istrimu. Kamu telah berhasil meruntuhkan gunung es. Kamu sangat hebat, aku bangga padamu!" tutur Fathan lirih, sembari memeluk Raihan. Fathan berdiri di depan menyambut para tamu. Dia orang pertama yang mengucapkan kata selamat pada Raihan. Sedangkan Raihan tersenyum penuh kebahagian mendengar perkataan Fathan. Kurang sehari dia akan memiliki Vania seutuhnya. Cintanya pada Vania akan benar-benar suci.
"Aku berharap adik kecilmu tidak mengundurkan diri di saat terakhir. Bukan aku takut akan rasa malu, tapi kehilangan Vania akan membuatku kehilangan akal. Aku harus bisa menikahinya. Jika tidak aku bisa benar-benar gila. Adikmu membuatku candu!" bisik Raihan, Fathan terkekeh mendengar perkataan Raihan. Dia tidak menyangka Raihan benar-benar mencintai Vania. Sebuah rasa cinta yang tak bisa diragukan lagi.
"Aku percaya kamu bisa membahagiakan Vania!" balas Fathan, Raihan mengangguk pelan. Faiq melihat interaksi antara Fathan dan Raihan. Faiq bisa menebak apa yang sedang mereka bicarakan? Akhirnya Faiq menghampiri mereka. Dia membisikkan sesuatu yang membuat Raihan langsung bergegas masuk. Fathan penasaran dengan apa yang dikatakan Faiq pada Raihan. Saat dia menanyakan pada Faiq, bukan menjawab pertanyaan Fathan. Faiq malah mengangkat kedua bahunya. Seakan dia tidak tahu jawaban pertanyaan Fathan?
__ADS_1
Setelah semua tamu masuk ke dalam. Vania keluar dari kamarnya. Vania menggunakan gamis maroon motif bunga. Hijab dan cadar yang senada dengan gamisnya membuat Vania terlihat sempurna. Vania datang diapit kedua kakak iparnya, Annisa dan Davina. Penampilan kedua menantu Hana sangat sempurna. Perut buncit Annisa membuatnya terlihat menawan. Hari persalinan Annisa semakin dekat. Sebab itu Annisa hanya membantu sebisanya.
"Vania, angkat kepalamu! Lihatlah Raihan sangat sempurna. Dia menggunakan kemeja yang kamu pilihkan kemarin. Kalian terlihat sangat serasi!" bisik Davina, Vania tersenyum sembari menyikut perut Davina pelan. Vania malu saat Davina menyinggung kemeja yang sengaja dia belikan untuk Raihan kemarin. Bagaimana Vania tidak malu mengingat moment saat dirinya membeli kemeja itu. Hampir dua jam Vania mengelilingi pusat perbelanjaan. Hanya demi sebuah kemeja yang pasti akan disukai Raihan. Namun Vania takut bila kemeja yang dia pilihkan membuat penampilan Raihan buruk. Davina sampai kesal melihat Vania bolak-balik masuk toko. Namun selalu keluar dengan tangan kosong.
"Kak Davina, jangan diungkit lagi. Aku malu mengingatnya. Kakak sudah janji tidak akan membicarakannya lagi!" pinta Vania memelas, Davina mengangguk sembari menahan tawa. Davina merasa sangat lucu saat melihat raut wajah Vania yang cemberut. Sungguh Davina tidak akan melupakan kenangan itu.
Vania duduk tepat di depan Raihan. Vania sempat melirik wajah Raihan yang melongo. Raihan benar-benar terkesima melihat penampilan Vania. Sederhana tapi sangat menawan. Akhirnya semua acara terlaksana tanpa ada halangan. Raihan memberikan sebuah cincin sebagai tanda pertunangan. Cincin dengan satu mata berlian, tersemat indah di jari Vania. Acara berlanjut dengan makan malam bersama. Raihan dan Vania duduk berjejer. Lalu tanpa Vania sadari, Amalia mendekat padanya. Vania tidak pernah dendam atau marah pada Amalia.
"Tak pernah kusangka, wanita sepertimu menjadi istri kak Raihan. Aku harus kalah dengan wanita culun sepertimu. Entah apa yang kak Raihan lihat darimu? Satu hal yang pasti, kelak dia akan menyesal telah memilihmu. Aku merasa tepat menjauh darimu. Sebab dirimu sahabat yang tidak pernah ingin melihatku bahagia!" ujar Amalia ketus dan sinis, Vania menggeleng lemah. Entah kenapa Amalia tidak pernah bisa memaafkan Vania? Meski bukan salah Vania, seandainya banyak laki-laki yang menyukainya. Terlebih laki-laki yang dicintai Amalia. Berkali-kali Vania meminta maaf, berusaha menjelaskan masalah yang sebenarnya. Mengatakan pada Amalia, bahwa dia tidak pernah memiliki rasa pada laki-laki yang dia taksir.
"Jangan banyak bicara kamu!" ujar Amalia marah, tangannya siap melayang ke wajah Vania. Seketika Raihan menahan tangan Amalia. Dia marah saat Amalia hendak menampar Vania. Sontak Raihan menghempaskan tangan Amalia kasar.
"Jangan berani menyentuhnya, jika kamu tidak ingin melihat amarahku. Aku menghargaimu karena persahabatan orang tua kita. Jangan buat aku menyesal pernah menganggapmu adik. Vania segalanya untukku. Demi dia aku bisa melakukan sesuatu yang tidak akan pernah kamu bayangkan!" ujar Raihan marah, raut wajah Raihan merah menahan amarah.
__ADS_1
"Kak Raihan dia tidak pantas menerima cintamu. Dia hanya wanita rendah dan kampungan. Vania hanya akan membuatmu malu!" ujar Amalia ketus, Raihan semakin marah. Dengan penuh emosi Raihan mengangkat tangannya. Dia hendak menampar Amalia.
"Jangan angkat tanganmu pada wanita. Ingatlah kamu terlahir dari seorang wanita. Hargai Amalia layaknya kamu menghargai bunda Salma. Aku tidak akan ikhlas digenggam oleh tangan yang mudah terangkat pada wanita. Amalia terluka akan kebersamaan kita. Namun tidak sepantasnya kamu marah padanya. Ketampananmu membuat wanita terpesona pada dirimu. Tidak selamanya kekerasan akan menyelesaikan masalah. Malah akan membuat masalah baru. Biarkan Amalia pergi, aku ingin tanganmu menuntunku. Wajahku yang kelak halal menerima tamparanmu. Seandainya aku makmum yang layak menerima tamparan. Setiap perlakuan kasarmu akan menjadi pahalaku. Jangan buat aku menyesal mencintaimu!" tutur Vania lirih, dia menahan tangan Raihan yang hendak menampar Amalia.
Vania menarik tangan Raihan, menggenggam tangan Raihan erat. Tak ada batasan yang menghalangi Vania melakukan itu. Vania mencium punggung tangan Raihan. Lalu menempelkan tangan Raihan di pipinya. Air mata Vania menetes di balik cadarnya. Raihan merasakan tangannya basah. Raihan terenyuh merasakan air mata Vania yang menetes. Hati Raihan terasa sakit, menyadari sikapnya melukai hati Vania.
"Maaf!" ujar Raihan lirih, Vania diam sembari tetap menempelkan tangan Raihan di pipinya yang terhalang hijab. Amalia terdiam melihat sikap tenang Vania. Bukan amarah, tapi Vania malah menahan tangan Raihan demi dirinya.
"Jangan pernah menyakiti seseorang demi diriku. Aku tidak ingin membuatmu bersikap jahat dan melakukan hal yang salah. Seandainya semua terjadi, aku akan menyesal seumur hidupku. Aku berharap tangan ini hanya menggenggam tanganku. Bukan terangkat hanya karena emosi!" ujar Vania, lalu melepaskan tangan Raihan. Vania menoleh pada Amalia. Dia menangkupkan kedua tangan di depan dadanya. Kedua bola mata Amalia membulat sempurna. Dia tidak menyangka jika Vania akan melakukan hal itu. Jelas dirinya yang menyakiti Vania. Malah Vania yang seolah meminta maaf padanya.
"Amalia, maafkan Raihan. Dia melakukan semua itu demi diriku. Dia terlalu mencintaiku sehingga membuatnya gelap mata. Satu hal yang aku pinta padamu. Jangan pernah menyakiti diriku di depan Raihan. Aku tidak ingin melihat amarahnya atau luka hatinya. Aku mampu tiada bila melihat air matanya. Aku mohon padamu!" ujar Vania lirih, Raihan menunduk melihat sikap tenang Vania. Sebaliknya Amalia melangkah mundur beberapa langkah. Dia tidak pernah menyangka, Vania melakukan semua itu. Sebuah cinta yang tidak akan pernah bisa dia berikan.
"Amalia, dia mungkin wanita biasa. Tapi Vania makmum yang tepat untukku. Dia tidak ingin melihatku berbuat salah. Dia mengingatkan diriku akan sikap menghargai seorang wanita. Terima kasih membuatku melihat cinta Vania untukku. Air mata Vania, menyadarkan diriku cinta kami akan kuat. Tak akan goyah oleh angin ribut darimu atau orang lain. Vania wanita sempurna dalam hidupku. Dia pelita dalam gelap mata hatiku. Wanita yang menghargai cintaku, karena cinta itu menghargai bukan memaksa!" ujar Raihan tegas.
__ADS_1
"Sayang, aku mencintaimu. Jika mungkin, bisakah aku menikahimu malam ini. Menunggumu sampai besok pagi, sungguh aku tidak akan bisa!" bisik Raihan, Vania menggeleng lemah seraya menunduk.