
Sebuah hotel bintang lima berubah menjadi tempat pesta yang megah. Demi acara malam ini, Raihan sengaja menyewa WO ternama di kota ini. Dia ingin pesta pernikahannya sangat meriah. Vania hanya bisa mengangguk meski hatinya tidak setuju. Raihan sudah setuju akad nikah dengan sederhana. Sebaliknya Vania harus setuju dengan pesta yang meriah.
Acara resepsi pernikahan Raihan dan Vania sangat megah dan meriah. Bukan ratusan undangan yang disebar Raihan. Bahkan ribuan undangan yang sengaja disebar Raihan. Dia ingin semua orang mengenal Vania istrinya. Satu-satunya wanita yang membuat Raihan jatuh cinta dan kehilangan akal. Raihan ingin menunjukkan Vania pada dunia yang selama ini dia geluti. Dari berbagai kota kolega Raihan yang diundang. Sebagai seorang pembisnis, Raihan mengenal banyak pengusaha. Secara otomatis banyak yang akan datang. Apalahi pernikahan Vania menjadi pernikahan pertama yang dirayakan dalam keluarga Prawira. Sehingga Rafa dan Hana sengaja menyiapkan pesta yang tidak tanggung-tanggung.
Vania dan Raihan menjadi raja dan ratu semalam. Keduanya terlihat menawan dengan pakaian pernikahan yang senada. Vania terlihat bersinar dengan gaun yang dibuat sesuai dengan karakternya. Raihan semakin tampan dengan jas yang senada dengan gaun Vania. Namun dibalik kemeriahan pesta malam ini. Ada rasa kesal yang menodainya.
Sejak pagi setelah ijab qobul, Raihan menjadi pendiam. Bahkan dia mengacuhkan Vania, Raihan seakan tidak peduli pada Vania. Sebaliknya Vania yang merasa sikap Raihan aneh. Mencoba mencairkan suasana dengan memberikan perhatian-perhatian kecil pada Raihan. Namun entaj kenapa Raihan bersikap dingin dan mengacuhkan Vania? Bahkan saat bersalaman dengan tamu undangan. Raihan sedikitpun tidak tersenyum. Vania dibuat kelabakan dengan sikap Raihan yang berubah. Vania bingung mencari cara agar Raihan kembali seperti semula.
Raihan diam bukan tanpa alasan. Dia merasa kesal saat Faiz yang menjadi penghulu dalam pernikahannya. Raihan merasa rendah diri di hadapan Faiz. Dalam harta Raihan bisa unggul dari Faiz. Namun dalam iman, Raihan jauh di bawah Faiz. Raihan merasakan apa yang dulu dirasakan Vania? Merasa tak pantas menyanding Vania, apalagi menjadi imam dunia akhirat Vania. Raihan merasa kesal pada dirinya. Ketika dia mengetahui, ada laki-laki lain yang mencintai Vania melebihi dirinya. Namun bukan dengan hasrat ingin memiliki. Tapi ketulusan yang tidak mengharapkan balasan. Raihan merasa cintanya hanya napsu ingin memiliki. Meski Raihan tulus mencintai Vania, entah kenapa Raihan terus larut dalam pikirannya sendiri? Dia merasa Faiz jauh lebih mencintai Vania daripada dirinya.
Vania semakin kesal melihat sikap diam Raihan. Jika bukan demi menjaga kehormatan keluarganya. Vania sudah kabur dari pelaminan. Dia tidak sanggup melihat sikap acuh Raihan padanya. Lebih baik bagi Vania pergi menjauh dari Raihan. Vania mulai terbiasa dengan sikap manja dan perhatian Raihan.
__ADS_1
"Aduh!" ringis Vania sembari memegang perutnya. Sontak Raihan kaget mendengar suara rintihan Vania. Dia menoleh ke arah Vania yang membungkuk sembari memegang perutnya yang sakit. Raihan seketika membungkuk melihat Vania yang kesakitan. Raihan merangkul tubuh Vania, dia menuntun Vania duduk di pelaminan. Para asisten Raihan menghentikan para tamu yang ingin bersalaman dengan Raihan dan Vania.
Raihan sangat cemas melihat Vania yang terus meringis kesakitan. Kedua orang tua Raihan panik melihat Vania memegang perutnya. Suasana pesta yang meriah menjadi panik. Kala sang pengantin wanita merasa kesakitan. Raihan berjongkok di depan Vania. Tangannya terus mengusap perut rata Vania. Desiran panas mengalir dalam tubuhnya. Pertama kali dia menyentuh Vania seintim ini. Hasrat Raihan bermain indah memenuhi benaknya. Namun semua tidak berarti, tatkala dia mendengar suara rintihan Vania.
"Sayang, mana yang sakit. Kita ke rumah sakit sekarang. Aku akan meminta kak Faiq mengantar kita ke rumah sakit!" ujar Raihan cemas, Vania menggeleng lemah. Hanya terdengar suara rintihan Vania. Raihan semakin cemas melihat Vania kesakitan. Raut wajah Raihan pucat, pertama kalinya dia mendengar Vania mengeluh. Raihan bingung harus melakukan apa? Tiba-tiba Faiq datang, dia memeriksa Vania. Raihan semakin cemas saat melihat keseriusan Faiq memeriksa Vania. Raihan takut terjadi sesuatu pada Vania. Jika sampai Vania kenapa-kenapa? Semua salah Raihan yang memaksakan pesta malam ini. Tanpa Raihan peduli akan kesehatan Vania.
"Vania, apa yang sedang kamu lakukan? Ini acara pernikahanmu. Jangan macam-macam kamu. Lihatlah semua orang panik, hentikan sekarang sebelum semuanya semakin panik!" bisik Faiq, Vania menggeleng lemah. Terdengar Faiq menghela napas panjang. Dia tidak bisa membujuk Vania menghentikan aksi koyolnya. Raihan semakin cemas menunggu Faiq yang memeriksa Vania. Kecemasan yang sebenarnya tidak perlu. Faiq berdiri menjauh dari Vania, dia menggeleng lemah ke arah Raihan. Tidak ada pilihan bagi Faiq selain mengikuti permainan Vania.
"Vania tidak apa-apa? Istirahat sebentar akan menghilangkan rasa sakitnya. Vania sudah biasa sakit seperti ini. Dia selalu telat makan bila sibuk. Akhirnya asam lambungnya naik!" ujar Faiq berbohong, vania menahan tawanya mendengar Faiq berbohong. Vania terus membungkuk sembari memegang perutnya. Seolah-olah perutnya terasa sangat sakit.
"Sayang, maafkan aku. Aku mohon mengangguklah, kita pergi ke rumah sakit. Aku tidak sanggup lagi!" ujar Raihan lirih memelas, Vania hanya menggeleng lemah. Dia teguh tidak ingin pergi ke rumah sakit. Vania terus merintih, semua tamu mulai panik. Rafa dan Hana melihat Raihan gusar memikirkan kondisi Vania.
__ADS_1
"Davina, berikan ini pada Vania. Mungkin bisa menghilangkan sedikit rasa sakit di perutnya. Setidaknya dia akan merasa sedikit hangat!" ujar Farah yang berdiri di belakang Davina. Seketika Davina menerima segelas air hangat dari tangan wanita bercadar. Davina bingung bagaimana bisa wanita ini mengenalnya? Setelah memberikannya pada Vania. Davina menoleh pada wanita itu. Davina terus menatap kedua mata indah yang sangat dikenalnya.
"Farah Nur Fitriya, kamu bercadar sekarang!" ujar Davina gembira, Farah mengangguk pelan. Mereka berdua saling berpelukan. Faiq dan Fathan terkejut melihat perubahan Farah sekarang. Lama menghilang, kini dia kembali dengan penampilan yang berbeda. Tak ada tubuh seksi yang terlihat. Semua tertutup sempurna dengan balutan gamis dan hijab panjangnya.
"Farah, lama aku tidak bertemu denganmu!" ujar Vania sembari memeluk Farah. Sontak Raihan terkejut melihat Vania yang tanpa biasa-biasa saja. Faiq hanya menggeleng lemah. Dia sudah menduga, Vania hanya pura-pura sakit. Entah kenapa Vania melakukan semua itu?
"Sayang, kamu baik-baik saja. Apa yang kamu lakukan barusan tidak lucu? Aku khawatir melihatmu sakit. Aku seperti kehilangan akal melihatmu seperti itu!" ujar Raihan, Vania menoleh seraya tersenyum. Dia memutar tubuhnya menghadap Raihan.
"Bagaimana rasanya khawatir melihatku sakit? Aku juga merasakan hal yang sama. Sejak tadi kamu mengacuhkanku. Aku bingung melihat sikapmu. Seandainya kepergianku tidak akan membuat malu keluargaku. Aku sudah kabur dari acara ini. Aku istrimu bukan patung yang bernapas. Sampai kamu tidak menganggap keberadaanku!" ujar Vania emosi, lalu menarik Farah dan Davina turun dari pelaminan. Vania meninggalkan Raihan galau melihat sikapnya. Faiq mendekat pada Raihan, dia memeluk tubuh adik iparnya.
"Raihan, dibalik kelembutannya. Vania memiliki watak yang keras dan nekat. Dia bisa berbuat lebih dari ini. Jangan simpan apapun darinya, katakan masalahmu sepahit apapun itu. Jika tidak, kamu akan melihat Vania yang berbeda!" bisik Faiq, lalu turun mengikuti Vania dan Davina. Faiq mengajak Faiz bergabung, sebenarnya saat Vania pura-pura sakit. Faiq sedang bicara berdua dengan Faiz.
__ADS_1
"Faiz, dia Farah sahabat Vania dan Davina. Jika kamu berkenan, ta'aruflah dengannya. Mungkin saja kalian berjodoh!" ujar Faiq santai, Faiz mengangguk pelan.
"Selama Farah bersedia aku khitbah!" sahut Faiz lantang.