KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Pertengkaran...


__ADS_3

"Kak Faiq, barusan kamu juga mendengar bukan. Dia malah menganggap aku cemburu tidak jelas. Padahal dia memang sedang selingkuh. Dia jahat telah membohongiku!" ujar Vania kesal, Raihan menggelengkan kepala. Seolah mengatakan semua perkataan Vania tidak penting.


Lama Faiq mendengar pasangan suami istri ini bertengkar. Bak melihat dua anak kecil yang sedang berebut makanan. Raihan dan Vania sama-sama tidak ingin kalah atau menhalah. Keduanya merasa benar dengan sikap dan pembenaran mereka. Faiq memijat pelipisnya pelan. Ketika suara Vania dan Raihan yang mulai membuatnya merasa pusing. Faiq tidak pernah berharap ada diantara Raihan dan Vania. Mereka dua anak kecil yang tidak mengetahui salah dan benar.


Faiq seakan obat nyamuk yang tak berguna dan tak dianggap. Faiq merasa Raihan dan Vania hanya salah paham. Keduanya merasa benar dengan sikap masing-masing. Vania merasa benar, jika perselingkuhan Raihan memang terjadi. Sebaliknya Raihan merasa benar dengan sikapnya. Sebab Raihan memang tidak pernah berselingkuh. Jangankan melakukannya, memikirkannya saja. Raihan tidak sanggup, malah sekarang dia menerima tuduhan perselingkuhan yang jelas tidak pernah Raihan lakukan. Meski dia menyadari sikap Vania hanya pengaruh hormon. Namun Raihan tetap tidak ingin melihat Vania menuduhnya berselingkuh.


"Kalian diam, jangan buat pusing kepalaku dengan cinta kalian. Sekarang lebih baik Vania pergi bertemu Faiz. Sedangkan Raihan bertemu wanita itu. Agar kalian bisa menghargai satu dengan yang lain. Raihan akan merasakan cemburu pada Faiz. Sehingga dia tidak akan menganggap cemburumu itu tidak jelas dan tidak wajar. Sebaliknya Raihan akan. pergi bertemu wanita itu, agar Raihan menyadari arti dirimu. Satu hal lagi, agar kamu merasakan cemburu yang sebenarnya!" ujar Faiq santai tanpa beban. Vania dan Raihan menoleh pada Faiq bersamaan.


Begitu mudahnya Faiq memberikan ide yang sangat tidak masuk akal. Faiq membuat pertengkaran Vania dan Raihan. Seolah sebuah lelucon yang tidak perlu dibahas. Faiq menganggap permasalahan Vania dan Raihan hanya bisa diselesaikan dengan menukar posisi keduanya. Raihan merasakan yang Vania pikirkan. Sebaliknya Vania harus berada pada posisi Raihan yang terus disalahkan.


Terlihat raut wajah terkejut dari keduanya. Tidak pernah mereka menyangka Faiq akan memberi ide gila seperti itu. Bukan menenangkan Raihan dan Vania. Faiq malah membuat keduanya semakin marah. Meski sesungguhnya Faiq tidak ingin, Raihan dan Vania bertengkar hanya karena kesalahpahaman. Sebab itu Faiq menyarankan, agar mereka merasakan arti cemburu yang sesungguhnya. Sebuah rasa yang dengan mudah menghancurkan atau membunuh seseorang. Cemburu bukan tolak ukur rasa sayang. Namun terkadang cemburu dibutuhkan, agar seseorang memahami arti menghargai dan dihargai.


Vania mengangguk setuju, sedangkan Raihan menggeleng tak setuju. Vania mengangkat jempol ke arah Faiq. Sebaliknya Raihan menunduk lesu. Davina keluar dari kamarnya, dengan perlahan dia memukul punggung Faiq. Seolah tak setuju dengan ide gila Faiq. Davina menatap Faiq tajam. Dia sangat tidak setuju dengan ide konyolnya. Bukan mendamaikan Raihan dan Vania. Faiq bisa membuat keduanya semakin jauh.


"Kak Faiq, jangan berkata seperti itu. Kalau Vania benar-benar melakukannya. Apa kak Faiq bersedia menerima resikonya? Kak Faiq seperti tidak mengenal Vania. Dia kalau nekat, bisa melakukan apapun. Meski itu salah!" ujar Davina, Vania mengangguk setuju dengan perkataan Davina. Raihan sontak menoleh ke arah Vania. Dia pernah sekali melihat kenekatan Vania. Jika kali ini dia melihat Vania nekat bertemu Faiz. Entah apa yang akan terjadi padanya?


Vania menghampiri Davina lalu memeluknya. Faiq mengangguk setuju, tapi tidak merubah ide gilanya. Sebaliknya Raihan semakin panik mendengar perkataan Davina. Dia mengingat keusilan Vania pada saat pernikahan mereka. Sikap yang jarang terlihat dari Vania. Sikap yang bisa membuat Raihan frustasi. Sungguh Faiq tak lebih dari kakak yang menghancurkan pernikahan adiknya.


"Sayang, sumpah aku dan dia hanya rekan kerja. Memang kami dulunya teman, soal foto-foto itu. Aku dan dia memang pernah dekat, tapi dulu saat sekolah. Bukankah semua remaja merasakan cinta monyet!" ujar Raihan memelas dan membela diri. Faiq menepuk jidatnya pelan, menyesalkan kejujuran Raihan pada Vania yang pasti akan berakibat fatal.


Sebaliknya Vania semakin kesal mendengar hubungan diantara Raihan dan wanita itu. Dengan tegas Raihan mengaku pernah mencintai wanita itu. Kejujuran yang membuat Vania semakin marah. Raihan tak akan mampu menahan amarah Vania kali ini.


"Kalian dengar, dia pernah berhubungan dengan wanita itu. Sekarang dia membenarkan diri, dengan mengatakan semua remaja pernah merasakan cinta monyet!" ujar Vania kesal, Raihan diam merutuki kebodohannya. Faiq dan Davina terkekeh melihat sikap jujur Raihan yang tanpa pertimbangan.


Berniat jujur agar Vania melunak. Malah sekarang dia melihat Vania meledak-ledak. Sungguh sikap jantan yang tanpa pertimbangan. Akhirnya Raihan hanya bisa menunduk lesu. Menunggu eksekusi dari Vania. Akankah Vania semakin marah? Atau dia kembali tenang dengan amarah yang sebenarnya tidak diperlukan.


"Sayang, jangan marah lagi!" ujar Raihan memelas, sembari menangkupkan kedua tangannya. Vania mengacuhkan Raihan, dia menoleh pada Faiq yang sedang memeluk Davina.

__ADS_1


Vania semakin kesal dibuatnya, Faiq malah sibuk bermesraan ketika dirinya sedang bertengkar. Dalam hati Vania marah pada Faiq yang seolah sedang mengejeknya. Davina melihat raut wajah Vania yang memerah. Jelas Vania menahan amarah melihat Faiq dan dirinya bermesraan.


"Kak Faiq jahat, aku sedang bertengkar. Kamu malah sibuk memeluk kak Davina. Katakan padanya, jika merasakan cinta monyet hanya menjadi kebiasaannya bukan kita!" ujar Vania kesal, Faiq dan Davina hanya tersenyum mendengar kekesalan Vania yang tersisipi rasa sayang yang teramat. Faiq melihat rasa takut kehilangan Raihan yang tersimpan dalam kemarahan Vania.


Pribadi Vania tidak akan mudah mengutarakan isi hatinya. Hanya dengan diam atau amarah. Vania meluapkan segala kekesalan dan amarahnya. Faiq dan Vania memiliki karakter yang sama. Sebab itu Faiq mengetahui cara menyelesaikan dan menenangkan amarah Vania. Bagi Faiq hanya perlu meyelami hati Vania, agar bisa melihat isi hati Vania yang sesungguhnya.


Vania berjalan masuk ke dalam kamar Faiq. Dia menarik selimut yang ada di kamar Faiq. Dengan santai dan tanpa permisi, Vania membawa selimut itu turun. Vania berjalan melewati Raihan tanpa sedikitpun menoleh. Faiq dan Davina yang mengenal pribadi Vania. Hanya diam mengikuti alur yang mengalir. Banyak bicara hanya akan membuat sikap keras dan manja Vania semakin tak terkendali.


Raihan mengejar Vania yang terlihat sangat kesal. Raihan dibuat kewalahan dengan sikap pencemburu Vania. Sejujurnya Raihan bahagia melihat Vania cemburu. Raihan merasa berarti dalam hidup Vania. Namun disisi lain dia tidak bisa terus melihat amarah dan kekesalan Vania. Jika akhirnya rasa cemburunya membuat mereka menjauh.


"Raihan, ada apa dengan Vania?" ujar Hana lembut, sesaat setelah melihat Vania tidur di sofa sembari memakai selimut. Hana melihat raut wajah kesal Vania. Tanpa Raihan menjawab, Hana sudah bisa menduga bila ada masalah yang terjadi.


Vania meringkuk di balik selimut Faiq. Raihan diam mendengar pertanyaan Hana. Dia merasa malu bila Hana mengetahui akar permasalahan diantara mereka. Faiq dan Davina turun menuju meja makan. Fathan dan Rafa menatap Faiq. Seakan bertanya, apa yang terjadi pada Raihan dan Vania? Pernikahan yang baru beberapa bulan, masih terlalu rawan bila terus bertengkar.


"Vania marah mendengar Raihan bertemu rekan kerjanya. Maklum hormon Vania lagi naik turun. Biarkan saja mereka seperti itu, setidaknya shok sebelum kabar baik bagus untuk Raihan!" ujar Faiq lirih, Davina tersenyum mendengar perkataan Faiq. Sebab dia mengerti arti perkataan Faiq. Tadi Faiq sempat mengatakan alasan kemarahan Vania dibalik kabar gembira yang masih tersimpan rapat.


"Papa, lihat sikap Faiq. Aku yakin dia tidak mendamaikan mereka. Malah Faiq yang membuat mereka semakin bertengkar!" ujar Fathan kesal, Faiq mengangguk setuju. Rafa hanya bisa menggeleng melihat hubungan Fathan dan Faiq yang tak sejalan.


Sebaliknya Hana tersenyum bahagia melihat Faiq dan Fathan yang selalu berdebat. Namun tak pernah ada kata marah dalam hubungan mereka. Meski jarak ada tak terlihat, tapi baik Fathan dan Faiq selalu mencoba untuk sejalan. Semua demi rasa bahagia Hana dan Rafa.


"Kak Fathan tidak perlu cemas. Kita nikmati saja pertengkaran diantara mereka. Kapan lagi kita melihat raut wajah cemas Raihan? Sekali-kali kita buat Raihan gagal mencapai kesuksesan. Melihat sikap keras Vania, aku yakin Raihan harus memilih antara Vania atau bisnisnya!" ujar Faiq santai, sembari terus mengunyah makanan. Faiq benar-benar tidak peduli akan pertengkaran Raihan dan Vania.


Rafa dan Fathan menggeleng tidak mengerti maksud Faiq. Mereka melihat Raihan yang terus mencoba membujuk Vania. Namun semua sia-sia, Vania masih tetap meringkuk dibalik selimut. Terlihat Raihan gusar, dia mengusap wajahnya kasar. Tidak tahu bagaimana cara membuat Vania tidak marah padanya? Raihan benar-benar kalah oleh sikap Vania yang seperti ini.


Hana berjalan menghampiri Raihan. Dia memberikan secangkir teh dan membawakan jus jeruk untuk Vania. Hana membuatkan beberapa roti kesukaan vania. Sikap keras Vania tidak mudah dibujuk. Hanya dengan sikap tenang dan sabar, akan bisa menaklukkan hati beku Vania. Hana duduk di samping Vania, dia mengelus lembut kepala Vania. Raihan duduk tidak jauh dari Vania. Hana meminta Raihan meminum secangkir teh. Meski Hana menyadari Raihan cemas memikirkan Vania. Namun dengan kedipan mata, Hana menenangkan Raihan. Hana seakan mengatakan, semua akan baik-baik saja!


"Vania sayang, mama sudah membuatkanmu jus jeruk dan roti isi coklat. Makanlah dulu setelah itu lanjutkan marahmu. Tidak baik bersikap keras, bila mengorbankan sesuatu yang akan kamu sesali. Sekarang makanlah, setelah itu Vania bisa marah sepuasnya!" ujar Hana, Vania mengangguk di balik selimut. Raihan sempat heran, melihat betapa mudahnya Hana atau Faiq meluluhkan keras hati Vania.

__ADS_1


Dia lalu duduk di atas sofa sembari bersila. Vania menatap Raihan tajam. Tatapan penuh kekesalan dan amarah. Raihan mulai pasrah melihat amarah Vania. Dia akan mengikuti apapun keinginan Vania. Meski Raihan harus melepas proyek yang menjadi awal kemarahan Vania.


Vania melepas cadarnya, agar lebih mudah memakan roti yang dibuatkan Hana. Raihan menunduk mengelus dada. Meski sudah beberapa bulan mereka menikah. Raihan masih kagum akan kecantikan Vania. Kecantikan yang mampu membuat Raihan lupa akan segalanya. Demi kesempurnaan Vania, Raihan mampu mengorbankan segalanya.


Vania memakan roti yang dibuatkan Hana dengan lahap. Bukan hanya satu potong, tapi Vania menghabiskan semua roti yang dibuat Hana. Setelah itu dia meneguk jus jeruk yang dibuat Hana tanpa jeda. Hana mengelus kepala Vania lembut, lalu mencium puncak kepala Vania. Kasih sayang yang tulus terlihat oleh Raihan. Kasih sayang yang takkan bisa dibeli dengan apapun


"Vania sayang, semarah apapun dirimu. Jangan pernah korbankan dia, sekarang Vania memiliki tanggungjawab yang lain. Belajar lebih dewasa demi dia. Kelak dia akan tumbuh besar dengan didikanmu, bukan dengan sikap kekanak-kanakanmu!" ujar Hana lirih, sembari mengelus perut Vania pelan. Raihan melihat tangan Hana yang mengelus perut rata Vania.


Seketika Raihan menoleh pada Hana dan Vania. Dia tidak mengerti arah perkataan Hana. Sebaliknya Vania mengangguk mengerti maksud perkataan Hana. Sebuah kenyataan yang belum diketahui Raihan.


Tiba-tiba asisten Raihan datang mengingatkan rapat yang menjadi alasan kecemburuan Vania. Sontak Vania kembali pada amarahnya, Raihan hanya bisa menggeleng lemah melihat kemarahan Vania yang kembali meluap. Kali ini Vania benar-benar marah. Amarahnya meluap kembali ketika mendengar Raihan akan bertemu wanita itu. Wanita yang membuatnya cemburu.


"Baru saja aku tenang, sekarang aku harus melihat amarahnya lagi!" gerutu Raihan.


"Vania, sudahlah tidak perlu marah. Tidak baik untuk kamdunganmu. Ikut saja dengan Raihan, tidak mungkin dia membatalkan kontrak dengan wanita itu. Jangan bersikap seperti anak kecil. Kamu akan menjadi seorang ibu. Bangun sekarang, basuh mukamu lalu ikut Raihan. Sudah cukup cemburumu!" ujar Faiq lantang, Vania mengangguk pelan. Dengan langkah gontai Vania berjalan melewati Raihan yang sedang shock mendengar kabar kehamilan Vania. Tanpa menoleh pada Raihan, Vania berjalan menuju kamar mandi.


"Tutup mulutmu, jangan biarkan lalat masuk ke dalam mulutmu. Vania sudah hamil beberapa minggu. Hormon kehamilannya masih naik turun. Dia ingin mengatakan padamu, tepat di hari ulang tahunmu. Namun rapat pagi ini memicu amarahnya. Hari ini aku bisa membantumu, tapi tidak lain hari. Vania akan semakin marah tidak jelas, jadi bersabarlah!" ujar Faiq lantang. Raihan mengangguk tak sadar, dia masih tidak percaya Vania sedang hamil. Faiq mencium kening Davina, lalu pamit berangkat menuju rumah sakit.


"Kenapa tidak sejak tadi kamu melakukan semua itu? Aku sampai cemas melihat pertengkaran mereka. Aku heran, kenapa Vania begitu takut padamu?" ujar Fathan, Faiq tersenyum lalu mengangkat kedua bahunya pelan. Seakan tidak peduli pada rasa penasaran Fathan.


"Sayang, kamu sedang hamil?" ujar Raihan dengan penuh kebahagian. Tepat saat melihat Vania keluar dari kamar mandi.


"Hemmm!" sahut Vania dingin tanpa ekspresi. Vania berpamitan pada Hana dan Rafa. Lalu berjalan keluar menuju mobil Raihan.


"Kita jadi berangkat atau tidak!" teriak Vania lantang dan ketus. Raihan berlari mengejar Vania.


"Sabar Raihan, kamu pasti bisa demi putramu!" batin Raihan sembari mengelus dadanya pelan.

__ADS_1


__ADS_2