
Jam terus berputar, tak terasa seminggu sudah Vania tidak sadarkan diri. Selama seminggu pula Raihan tak datang ke kantor. Waktu dan hidupnya hanya untuk menemani Vania. Sekarang Vania tak lagi di ruang rawat khusus. Faiq telah memindahkannya ke ruang rawat biasa, tapi dengan pengawasan 24 jam perawat khusus.
Bagi Faiq menyiapkan perawatan khusus untuk Vania sangatlah mudah. Sebagai pemimpin sekaligus pemilik rumah sakit. Sangat mudah Faiq mengatur perawatan terbaik untuk Vania adik perempuannya. Bahkan Faiq sendiri yang menangani Vania. Dia dan Annisa menjadi tim dokter khusus yang menangani Vania. Sebenarnya ada satu dokter yang sangat kompeten bagi Vania. Namun dia menolak dengan alasan yang tak pernah bisa dia katakan.
Pagi ini Raihan terpaksa meninggalkan Vania. Dia harus pergi ke kantor. Ada beberapa berkas yang harus dia selesaikan. Seandainya dia bisa memilih. Raihan akan tetap berada di rumah sakit. Menemani Vania jauh lebih penting, mereka harta paling berharga yang dimiliki Raihan. Namun sebagai pemimpin, Raihan tidak bisa bersikap seenaknya sendiri. Dia memiliki tanggungjawab yang tidak mudah. Ada ratusan karyawan yang bekerja padanya. Banyak keluarga yang bergantung padanya. Demi tanggungjawab itu Raihan harus bersedia meletakkan sejenak kepentingan pribadinya.
Raihan sudah berpamitan dengan Faiq dan Annisa. Raihan menitipkan Vania pada mereka berdua. Kemungkinan Raihan akan pergi selama satu hari penuh. Dia harus menyelesaikan pekerjaan yang selama seminggu ini terbengkalai.
Salah satunya proyek impian Vania yang dikerjakan bersama Farah dan Sovia. Proyek pembangunan yang menjadi asa Vania selama ini. Raihan mengingat perkataan Rafa. Jika Raihan ingin menjadi bagian dari impian Vania. Hanya dengan satu cara. Percepat pembangunan senja impian Vania. Sebab itu Raihan akan memfokuskan pikirannya pada proyek impian Vania. Raihan akan mempercepat pembangunan mega proyek harapan dan impian Vania Aulia Azzarah. Istri tercinta sekaligus calon ibu dari dua buah hatinya.
LOKASI PEMBANGUNAN, PUKUL: 09.00 WIB.
Setelah mengemudikan mobilnya selama hampir dua jam. Raihan tiba di lokasi proyek pembangunan. Tepat pukul 09.00 WIB, Raihan sudah ada di lokasi. Farah dan Sovia belum terlihat ada di lokasi. Kebetulan hari ini akan ada peletakkan batu pertama pembanguna. Sovia sempat menghubungi Raihan. Dia ingin pergi bersama dengan Raihan. Namun dengan banyak alasan, akhirnya Raihan bisa menolak permintaan Sovia. Dia tidak ingin memberi kesempatan Sovia mendekatinya.
Raihan turun dari mobil sport milik Vania. Sengaja dia menggunakan barang-barang milik Vania. Raihan ingin selalu merasa ada Vania di sampingnya. Meski sebenarnya Vania selalu ada di hatinya. Vania tidak akan pernah meninggalkan Raihan meski sedetik. Cinta Vania selalu ada dalam setiap napas Raihan. Bahkan Raihan membawa boneka mini berbentuk Teddy Bear milik Vania. Boneka kesayangan Vania yang selalu ada di dalam tas Vania. Boneka yang entah pemberian siapa? Namun seolah boneka itu begitu berharga bagi Vania.
Tepat ketika pintu mobil Raihan terbuka, satu kaki Raihan turun dari mobil. Ada satu kejadian yang menggetarkan Raihan. Tanpa ada aba-aba, bahkan Raihan yang tak siap. Ada sepasang tangan mungil yang memeluk erat kakinya. Tubuh pendek sang bocah yang tak mampu menggapai perut Raihan. Akhirnya dia memaksa memeluk kaki Raihan. Sontak Raihan terkejut, ketika Raihan merasakan ada tangan yang memeluk kakinya.
Raihan menunduk sembari mengelus kepala sang bocah dengan lembut. Raihan menarik mundur sang bocah. Dia lalu berjongkok di depan tubuh mungil sang bocah. Raihan tertegun menatap wajah sang bocah yang begitu teduh. Raihan melihat dua mata yang jernih, seakan tak pernah ada air mata yang menetes. Raihan mengusap rambut ikal sang bocah yang terasa lembut di telapak tangan Raihan. Pipi gembul sang bocah mengusik jari jemari Raihan, untuk mencubitnya. Dengan gemas Raihan mencubit pipi gembul sang bocah.
Terdengar jeritan lirih sang bocah, meski tidak terasa sakit. Tapi sang bocah merasa kaget dengan cubitan tangan Raihan. Sontak suara sang bocah menelisik jauh ke dalam hati kosong Raihan. Hati yang beberapa hari ini menjauh dari Vania pemiliknya. Raihan menarik tubuh sang bocah. Raihan memeluk erat tubuh bocah yang mungkin berusia 4 atau 5 tahun. Raihan menangis dalam pelukan sang bocah. Entah kenapa Raihan merasa sedang memeluk Vania? Mungkin sang bocah menghampiri Raihan. Sebab bocah itu pikir, Vania yang datang.
__ADS_1
"Sayang, entah siapa bocah ini? Kenapa saat aku menciumnya? Aku meras pipimu yang sedang kucium. Ketika telingaku mendengar suara detak jantungnya. Aku meras suara merdumu yang memanggilku. Tubuh mungil yang kupeluk ini. Seakan menyimpan kehangatan tubuhmu. Sayang, nyatakah yang kurasakan ini? Ataukah rinduku sudah berubah menjadi kegilaan yang nyata. Sayang, aku mohon bangunlah dari tidur panjangmu. Aku merindukan suara riangmu. Tawa dan candamu, cemburu dan sikap manjamu. Dekapan hangatmu menjadi candu yang tak mudah kuhilangkan. Lihatlah sayang, pagi ini aku berada di atas tanah impianmu. Aku datang mewujudkan harapanmu. Jangan biarkan asaku melemah akan dirimu. Bangun dan lihatlah impianmu akan menjadi senja untum orang lain. Mungkin juga untuk bocah yang kupeluk ini!" batin Raihan sembari memeluk erat sang bocah.
Raihan melepaskan pelukannya, dia menatap kembali wajah sang bocah. Kerinduan akan Vania terbayar sudah. Entah kenapa sosok bocah ini begitu mirip dengan Vania? Ada rasa aneh menelisik dalam hatinya. Ada rasa curiga yang sekilas muncul dalam benaknya. Namun dengan cepat Raihan melupakan pikiran itu. Hanya bertanya pada sang bocah, Raihan akan menemukan jawabannya.
"Siapa kamu? Kenapa memeluk om Raihan?" ujar Raihan lirih, sembari tangan Raihan menyentuh lengan bocah itu. Hanya diam yang terlihat oleh Raihan. Entah kenapa sang bocah hanya diam?
"Kenapa kamu diam? Jawab pertanyaan om Raihan. Atau kamu memeluk om Raihan, karena mengira om Raihan itu tante Vania!" ujar Raihan lirih, sontak sang bocah mengangguk tegas. Raihan terkesima mendengar jawaban sang bocah, lalu mengangguk perlahan.
Raihan mulai memahami, kenapa bocah ini datang memeluk kakinya? Jelas sang bocah mengira, Vania yang turun dari mobil. Dia mengira Vania yang datang ke tempat ini. Raihan mengusap wajah sang bocah lembut. Kemudian Raihan mencium kening sang bocah lembut.
"Maafkan om Raihan sayang, tanpa sengaja om Raihan yang membuatmu jauh dari tante Vania. Om Raihan yang melarang tante Vania datang kemari. Kini om Raihan merasakan kerinduan yang kamu rasakan. Jelas kamu merindukan tante Vania. Maafkan om Raihan sayang, Maaf!" ujar Raihan lirih, sang bocah hanya mengedipkan kedua matanya.
Raihan merasa heran dengan sikap sang bocah. Meski Raihan terus bicara, tak ada satu katapun yang terucap dari bibir mungilnya. Seolah bocah itu tidak menghargai Raihan. Setiap kali Raihan bertanya, selalu dengan isyarat tubuhnya atau kedipan mata. Raihan mulai merasa ada yang salah dengan bocah tampan di depannya.
"Dia Muhammad Malik Fajar, putra angkat Vania. Dia mengalami masalah interaksi sosial. Fajar tidak mudah berbicara atau bermain dengan teman sebayanya. Hanya dengan Vania dia bersedia bicara. Kedekatan yang terjalin semenjak Fajar lahir. Sebab tangan Vania yang menggendongnya pertama kali!" sahut Farah tegas, Raihan menoleh ke arah Farah.
Sang bocah langsung memeluk Farah, sesaat setelah melihat Farah merentangkan tangannya. Farah berjongkok menunggu tubuh mungil Fajar menghampirinya. Gamis dan hijab Farah kotor setelah menyentuh tanah. Namun semua tak berarti lagi. Ketika pelukan hangat Fajar mendekap tubuhnya.
Seketika Farah terenyuh melihat sikap Fajar padanya. Sikap yang sebenarnya diberikan pada Vania. Setidaknya Farah bisa meluapkan kerinduan akan Vania pada Fajar. Raihan terdiam melihat sikap hangat Fajar pada Farah. Entah kenapa Farah bisa begitu hangat dan dekat pada Fajar?
"Farah, siapa Fahar sebenarnya? Perkataanmu tadi seolah mengatakan hubungan Fajar dengan Vania sangat dekat. Katakan sejujurnya, apa hubungan Vania dengan Fajar? Mungkinkah Fajar putra Vania istriku!" ujar Raihan lirih, sembari menggelengkan kepala. Sontak Farah berdiri menatap Raihan lekat.
__ADS_1
Amarah Farah seketika memuncak. Ada rasa tidak terima, ketika dengan mudahnya Raihan menuduh Vania. Sebagai sahabat Farah mengetahui, siapa sosok Vania yang sebenarnya? Tidak akan pernah Farah diam melihat Raihan meragukan kesucian Vania. Kehormatan Vania tidak akan pernah bisa dipertanyakan. Selama masih ada Farah.
"Tutup mulutmu, cukup kamu pernah meragukan cinta Vania. Namun jangan pernah mempertanyakan kehormatan Vania. Sebelum kamu merenggut kesuciannya, sampai saat itu Vania masih suci dan murni. Fajar bukan anak yang lahir dari Rahim Vania. Namun Fajar lahir dari kasih sayang Vania!" ujar Farah dengan emosi yang mengusai hati dan pikirannya.
"Maksudmu!" ujar Raihan, Farah menatap wajah sang bocah. Farah meminta Fajar menjauh darinya. Farah meminta bantuan asistennya untuk mengantar Fajar pulang ke tempat tinggalnya.
Terdengar Farah menghela napas panjang. Entah beban apa yang begitu berat? Seolah-olah Farah sulit mengatakan pada Raihan kebenaran yang pernah terjadi. Sama halnya Farah, Raihan juga menghela napas panjang. Dia terlalu takut mendengar kebenaran tentang Fajar. Raihan tidak ingin mendengar sesuatu yang akan menyakiti hatinya
Farah menatap Raihan yang terlihat sangat gusar. Farah bisa merasakan kegusaran Raihan yang mengira Fajar mungkin putra Vania. Namun dugaan Raihan salah besar. Fajar bukan putra Vania. Dia hanya terlahir sebagai putra Vania. Meski dia tumbuh bukan di dalam rahim Vania. Farah menceritakan siapa sebenarnya Fajar pada Raihan?
FLASH BACK
Lima tahun yang lalu, ketika Vania dan Farah datang ke kampung ini. Suasana kampung masih sangat asri dan tenang. Penduduk kampung sangat ramah dan sopan. Vania dan Farah merasa berada di dalam lingkungan keluarganya sendiri. Mereka datang sebagai salah satu relawan korban bencana banjir di kota itu. Tepat saat itu keduanya masih sangat muda. Tidak memiliki pengalaman hidup yang mapan.
Kebetulan Vania dan Farah kebagian tugas di kampung ini. Kampung tempat impian Vania harus terwujud. Kampung tempat Fajar terlahir dengan bantuan Vania. Kampung dimana Farah dan Vania menjadi pahlawan. Sekaligus mendapatkan pengalaman yang takkan pernah bisa dilupakan.
Malam itu ada seorang ibu hamil yang berada di tenda pengungsian tempat Vania dan Farah bertugas. Kebetulan usia kandungannya sudah masuk 9 bulan. Kalut dan bingung mulai dirasakan Vania dan Farah. Saat melihat ibu hamil itu mengalami kontraksi. Apalagi dia melihat tak ada dokter atau tenaga medis yang bisa membantunya. Sempat Vania merasa tidak yakin dan percaya akan membantu persalinan sang ibu.
Setelah berusaha, Vania akhirnya bisa meyelamatkan bayi dan ibunya. Vania didaulat memberikan nama sang bayi dengan nama Fajar. Layaknya matahari pagi ini yang terus menyinari bumi. Vania membawa Fajar dalam gendongannya. Fajar lahir bersamaan dengan matahari pagi yang menyeruak. Sebab itu Fajar menjadi anak angkat Vania. Serta kampung ini yang akan menjadi senja untuk orang lain. Putra yang terlahir, tapi bukan putra dari rahimnya.
FLASH BACK END
__ADS_1
"Sekarang aku harap, kamu tidak cemburu lagi pada Vania dan Fajar. Mereka ibu dan anak yang tak memiliki hubungan darah!" ujar Farah lirih.