KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Amarah Sesil


__ADS_3

"Pagi Rafa!" sapa Adrian, seorang sahabat yang selalu ada dikala terpuruk Rafa. Orang yang tak pernah berpikir meninggalkan Rafa sendirian dalam setiap kesulitan. Baik urusan pribadi atau pekerjaan.


"Pagi, ada apa? kenapa sepagi ini datang? Ada masalah penting?" ujar Rafa, Adrian mengangguk. Hana masih berada di dapur, dia menyiapkan sarapan untuk Rafa sebelum dia pergi ke ruko. Meski Hana kembali tinggal bersama Rafa. Dia masih akan meneruskan bisnisnya bersama Diana.


"Rafa, hari ini akan ada pembahasan tentang kerja sama yang diajukan om Gunawan dan Sesil. Namun dari berkas yang mereka ajukan, banyak kekurangan yang mungkin akan membuat kita merugi! Kamu harus putuskan dengan bijak, agar kita tidak merugi!" ujar Adrian mengingatkan, Rafa mengangguk seraya mengutas senyum. Adrian tidak berharap Rafa mengambil keputusan yang salah. Meski Adrian tahu cara kerja Rafa berbeda. Rafa bukan pribadi yang mencampur adukkan masalah pribadi dengan pekerjaan.


"Kamu tenang saja, semalam aku sudah mengatakan pada papa. Aku memintanya untuk merevisi kontrak kerjanya. Baru setelah itu aku akan menandatanganinya. Aku meminta papa untuk tidak datang pada rapat nanti. Aku tak mungkin membiarkan papa malu di depan stafku!" ujar Rafa, Adrian mengangguk mengerti. Tanpa sengaja Hana mendengar pembicaraan mereka berdua. Namun Hana memilih untuk tetap diam dan tidak ikut campur.


"Aku pikir kamu membenci om Gunawan, karena dia telah mencampakkan tante Ainun. Demi tante Sabrina, om Gunawan mengacuhkan keberadaan tante Ainun hingga napas terakhirnya. Kenapa aku merasa kamu berbeda? Seolah kamu memaafkan mereka!" ujar Adrian, Rafa menutup kedua matanya.


Dia mengingat hari dimana? Tangannya memeluk tubuh lemah ibunya. Pakaian yang digunakannya berlumuran darah. Dalam pelukannya ibunya menghembuskan napas terakhirnya. Dalam rasa sakit yang teramat, Rafa masih sanggup mendengar. Ibunya menyebut nama papanya. Dengan sisa napas yang ada, ibunya meminta sebuah janji. Menjaga dan melindungi papanya.


Keteguhan cinta seorang istri yang tak pernah dianggap. Istri yang tersisih hanya karena wanita malam. Seorang ibu yang pergi selamanya meninggalkan putranya, dengan menitipkan tanggung jawab menjaga sang papa. Rafa kini mengerti apa arti cinta ibunya untuk papanya? Beliau mencintai tanpa berharap ingin memiliki. Sebuah cinta yang kini Rafa rasakan untuk Hana.


"Mungkin aku membenci papa, karena dia tak pernah mencintai atau menganggap ibuku ada. Dengan kedua mataku, sering aku melihat mama menangis sendiri. Duduk menanti papa di meja makan, tapi tak pernah papa pulang sekadar untuk makan malam. Dinginnya makanan sedingin hati papa pada mama. Namun aku melihat cinta mama begitu besar. Dia teguh memegang cintanya untuk papa hingga napas terakhirnya. Mama alasanku tetap hidup dalam keluarga Prawira!" ujar Rafa lirih, Adrian menepuk pundak Rafa pelan.


"Maaf Rafa, aku membuatmu bersedih. Namun anehnya kenapa aku selalu bersikap dingin pada om Gunawan? Tatapan yang kamu berikan, seakan kamu tak pernah menganggapnya ada!"


"Aku hanya ingin melihat papa sadar, bahwa dia seorang kepala rumah tangga. Aku lelah melihatnya diremehkan oleh Sabrina. Hanya karena papa terlalu mencintainya. Sikap dinginku agar papa bisa mandiri. Membuktikan pada Sabrina bahwa papa layak dihargai sebagai seorang suami. Agar papa tidak terhina , karena cintanya yang suci dan tulus!" ujar Rafa.


"Aku yakin om Gunawan berpikir kamu membencinya!"


"Aku takkan pernah mampu membenci papa. Mama teguh mencintai papa, sebaliknya papa teguh mencintai wanita malam itu. Aku tidak ingin kelak putraku membenciku. Jika aku melakukan kesalahan. Hati tak pernah salah, cinta sebuah anugrah yang tak pernah mampu dinalar. Seperti cintaku pada Hana mampu membuatku kalut. Bahkan melupakan siapa diriku sebelum bertemu dengannya? Cinta itu yang membuat papa mengacuhkan mama. Cinta itu pula yang membuat mama tegar dan teguh!" tutur Rafa, Adrian mengangguk pelan. Rafa bukan manusia berhati dingin, kini dalam hatinya penuh dengan cinta. Hana mengajarkan apa itu cinta? Arti mencinta? Bahkan Hana mengajarkan pada Rafa bijak dalam mencinta?


"Tapi tak seharusnya cinta membuat kita semakin salah. Jadikan cinta alasan kita menjadi pribadi yang lebih baik. Sebab cinta itu indah, penuh dengan makna. Landaskan cintamu karena ALLAH SWT. Agar kita merasakan indahnya cinta, tanpa takut terpuruk dalam pahitnya cinta!" sahut Hana, Rafa dan Adrian menoleh bersama. Mereka terkejut mengetahui Hana sudah ada berdiri di dekat mereka.


"Sayang!"


"Maaf, aku mendengar semuanya. Tapi aku pastikan mata, telinga dan mulutku tertutup rapat. Aku akan menganggap tak pernah mendengar semua itu!" ujar Hana santai, sembari menyajikan sarapan untuk Rafa dan Adrian.


"Pak Adrian, kapan ingin melamar Diana? Jangan terlalu lama, takutnya Diana akan menjadi mamanya Annisa. Secara sejak SMP, Diana mengagumi kak Naufal!"


"Uhhhuuuukkk"

__ADS_1


Sontak saja Adrian tersedak, dia kaget saat Hana berkata seperti itu. Jangankan melamar Diana, mengatakan cintanya saja Adrian masih takut. Diana bukan wanita yang mudah dihadapi.


"Aku belum kepikiran!" sahut Adrian, sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Hana tersenyum pada Adrian


"Sayang, jangan tersenyum pada Adrian seperti itu! Aku bisa cemburu, jangan lupa Adrian pernah menyukaimu!" ujar Rafa kesal, Adrian terkekeh mendengar perkataan Rafa.


...☆☆☆☆☆...


"Hana, bagaimana kesan pertama tinggal di rumah baru? Kamu tidak ingin menawariku menginap! Aku yakin rumahmu, pasti seperti istana!" ujar Diana antusias, Hana mengangkat kedua bahunya.


"Hmmm, biasa saja! Jika kamu berminat menginap, datang saja. Aku tidak akan melarang. Kebetulan pagi tadi kak Rafa mendadak ke luar kota. Kamu bisa menginap di rumahku!" ujar Hana santai, Diana mengangguk berkali-kali. Dia memang ingin melihat rumah baru Hana. Bayangan Diana rumah Hana pasti sangat besar. Diana pernah melihat foto rumah keluarga Prawira yang sangat besar. Jadi kemungkinan rumah Hana juga sebesar itu.


Hana dan Diana sedang beristirahat. Mereka makan siang bersama dengan para pegawai yang lain. Hana selalu mengutamakan makan tepat waktu. Bagi Hana pegawainya sudah seperti saudara, tidak ada yang perlu dibeda-bedakan.


Kreeekkk


Terdengar suara pintu dibuka. Hana dan Diana menoleh bersamaan. Mereka berdua terkejut melihat tamu yang datang. Seketika tangan Diana mengepal geram. Dengan cepat Hana memegang tangan Diana. Meminta Diana mengendalikan emosinya.


Hana tersenyum menyapa wanita yang baru saja masuk ke dalam rukonya. Hana tak pernah berpikir untuk marah atau dendam padanya. Wanita itu tak lain, Sesilia Anastsya. Mantan wanita yang berarti dalam hidup Rafa suaminya.


"Terima kasih Hana, bisa kita bicara sebentar!" ujar Sesil lirih, Hana mengangguk pelan.


Hana mengajak Sesil masuk ke dalam ruangan Diana. Hana melihat keraguan dimata Sesil. Seakan takut mengatakan sesuatu, tapi hatinya ingin mengatakannya. Dengan penuh senyum Hana mempersilahkan Sesil duduk. Hana menyuguhkan secangkir teh untuk Sesil dan dirinya.


"Silahkan diminum, hanya secangkir teh!" ujar Hana ramah, Sesil tersenyum seraya mengangguk. Hana menyeruput teh miliknya, begitu juga Sesil.


"Hana, maafkan aku sebelumnya. Aku ingin meminta sesuatu darimu. Mungkin yang kukatakan akan membuatmu membenci Rafa. Aku mengatakan semua ini, karena aku sudah tidak bisa menahan cintaku pada Rafa!" ujar Sesil, Hana terdiam membisu.


Sebenarnya Hana sudah pernah memikirkan semua ini. Suatu hari Sesil akan menemuinya, mengatakan semua aib suaminya. Seberapa jauh hubungan diantara keduanya. Namun Hana tidak pernah menduga. Jika semua akan terjadi hari ini. Disaat hatinya mulai menerima Rafa kembali.


"Katakanlah nona Sesil, aku akan mendengarkannya. Sepahit apapun kenyataan itu, aku siap mendengarnya. Mengenai keputusanku, membenci atau menerima kak Rafa. Bukan hakmu memutuskan, karena dia suamiku dan aku masih istrinya!" tutur Hana lirih, Sesil tersenyum sinis.


Dengan penuh kebanggaan Sesil menceritakan semua yang terjadi antaraa dirinya dengan Rafa. Indahnya malam-malam yang pernah mereka lewati bersama. Hari-hari yang mereka lalui penuh dengan cinta. Hubungan yang didasari sebuah cinta yang salah. Sesil mengatakan semua kenangan-kenangan yang menurutnya indah dan penuh cinta.

__ADS_1


Sesil mengatakannya tanpa merasa malu. Baginya yang dilakukan dengan Rafa sebuah ikatan penuh cinta. Dengan angkuhnya Sesil menghancurkan hati Hana. Kesombongannya seakan ingin mengatakan, dirinya yang pantas bersama Rafa. Semua perkataan Sesil bak sebilah belati yang mengiris tipis hati Hana.


Tak lagi Hana mampu menangis, air matanya kering. Ketika dia menyadari, kelamnya masa lalu Rafa bagai matinya sinar dalam hidupnya. Pahitnya kenyataan yang didengar Hana, meruntuhkan pertahanan yang sengaja dibangun Hana dengan sangat kokoh. Hana ingin menjerit, tapi suaranya menghilang bersama dengan air mata yang enggan menetes.


"Hana, aku mohon kembalikan Rafa padaku. Tinggalkan dia demi masa lalu yang pernah kami lalui. Kamu sebagai seorang wanita, tentu merasakan betapa tak berharganya diriku sekarang. Aku hanya bisa menikah dengan Rafa, aku hanya mencintai Rafa!"


Deg Deg Deg


Jantung Hana berdetak cukup kencang. Disaat telingannya mendengar seorang wanita meminta suaminya tanpa sedikitpun merasa bersalah. Hana mengusap lembut perut buncitnya. Buah hati saksi cintanya dengan Rafa.


"Nona Sesil, anda salah bila meminta kak Rafa padaku. Seharusnya anda datang pada kak Rafa. Mintalah pertanggungjawabnnya, jika memang anda menginginkannya. Sampai kapanpun? Aku tidak akan mengembalikan kak Rafa padamu. Aku tak pernah merasa mengambil kak Rafa dari siapapun? Kak Rafa suamiku seutuhnya, ayah dari bayi yang aku kandung. Lagipula takkan pernah ada seorang istri yang rela kehilangan suami yang dicintainya!" ujar Hana tegas, Sesil meradang. Awalnya dia berpikir Hana akan jijik pada Rafa. Namun dugaannya salah, Hana tetap teguh pada cintanya.


"Aku tahu Hana, kamu bertahan dengan Rafa. Sebab kamu takut hidup miskin. Kamu takut kehilangan harta Rafa! Apa kamu tidak malu? Hidup bersama laki-laki yang penuh dosa!" ujar Sesil marah, tapi Hana menanggapinya dengan tenang.


"Nona Sesil, anda seharusnya menyadari sesuatu. Semua yang terjadi diantara kalian, bukan hanya karena sikap buruk suamiku. Namun anda pribadi yang tak pernah bisa menjaga diri. Anda menyerahkan mahkota berharga seorang wanita pada laki-laki yang belum tentu suami anda. Aku mengatakan semua ini, bukan ingin membenarkan sikap suamiku. Dia salah, sangat salah dan hina. Namun masa lalunya tidak lantas bisa merusak pernikahan kami. Masa depan yang mulai kami rajut bersama. Jadi percuma anda menuntut pada saya. Selesaikan masa lalu kalian berdua. Masa lalu kak Rafa bukan menjadi tanggungjawabku, aku hanya ingin mengukir masa depan bersama kak Rafa dan buah hati kami!" ujar Hana tenang, Sesil meradang.


Braaakkk


"Kamu kejam Hana, kamu egois tak peduli pada perasaanku!" ujar Sesil sembari menggebrak meja. Hana menyentuh dadanya yang berdetak hebat. Dia terkejut sekaligus takut melihat amarah Sesil. Hana melihat tangan Sesil terangkat, Hana berdiri dengan sigap menahan tangan Sesil yang ingin menamparnya.


"Nona Sesil, kelakuan anda mencerminkan orang yang tidak berpendidikan. Anda orang terhormat, sebaiknya jaga sikap anda!" ujar Hana sembari menghempaskan tangan Sesil kasar.


"Hana kamu!"


"Jangan pernah berani menyentuh Hana dengan tangan kotormu. Seharusnya kamu malu sebagai seorang wanita. Kamu datang kemari meminta suami wanita lain. Dengan bangga mengatakan aib masa lalu kalian. Dimana harga dirimu sebagai seorang wanita? Sampai menghancurkan hati seorang istri. Jika ada yang harus bertanggungjawab atas hinanya dirimu. Bukan Hana orangnya, tapi kamu dan Rafa! Jadi pergilah sana, mintalah dia menikahimu. Berikan kehangatan yang pernah kamu tawarkan padanya dulu!" ujar Diana kasar. Sesil meninggalkan Hana dan Diana dengan penuh amarah.


"Sayang, mungkin papa bukan laki-laki terbaik. Tapi mama yakin, papa bisa menjadi suami dan ayah yang baik. Kita harus bisa menjadi orang yang mendukungnya sepenuh hati. Masa lalu papa mungkin kelam, tapi kita bisa membuat masa depan papa terang. Mama berharap dengan hadirnya dirimu, mampu meneguhkan cinta mama dan papa. Cinta yang berdiri di atas masa lalu yang penuh dengan kesuraman. Semoga lahirnya dirimu, membawa kebahagian sebagai ganti kesedihan dan air mata mama!" batin Hana sembari mengusap lembut perutnya.


"Hana, kamu baik-baik saja!" ujar Diana cemas, Hana mengangguk.


"Aku tidak akan tumbang hanya karena masa lalu!"


...☆☆☆☆☆...

__ADS_1


TERIMA KASIH😊😊😊


__ADS_2