KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Masuk Rumah Sakit


__ADS_3

Beberapa hari terakhrir Hana tidak masuk kerja. Tiga hari yang lalu Hana kehujanan. Dia pulang dalam kondisi basah kuyub. Biasanya Hana akan baik-baik saja. Namun kondisi fisiknya mengalami penurunan semenjak kejadian malam itu. Hana tidak pernah kepikiran Rafa. Namun entah kenapa Rafa mulai mengusai pikirannya? Hana merasa bersalah telah mengusirnya malam itu.


Hana tidak bisa fokus dalam bekerja. Napsu makannya menghilang. Rasa bersalahnya pada Rafa menghantui Hana. Puncaknya malam itu tanpa Hana sadari. Dia menerobos lebatnya hujan tanpa menggunakan jas hujan. Hana merasa kuat, tanpa berpikir akan tumbang oleh hujan.


Tok Tok Tok


"Permisi!" sapa seseorang dari luar rumah Hana. Kebetulan Hana sedang berada di ruang tengah. Wajah Hana sangat pucat, tubuhnya menggigil. Tidak ada satu sendok makanan yang bisa masuk ke dalam mulutnya. Semua makanan terasa pahit. Dengan tertatih Hana berjalan membuka pintu rumahnya.


"Iya!" sahut Hana, terlihat seorang pengawal pribadi berseragam hitam sedang berdiri di depan rumah Hana. Rasa takut menghinggapi Hana, dia mundur beberapa langkah. Hana tidak pernah merasa memiliki atau mengenal orang ini.


"Hana, tidak perlu takut. Dia pengawal pribadiku!" ujar seseorang yang tak lain tuan Ardi. Dia khusus meminta seseorang mengawasi Hana. Dia ingin mengetahui tempat tinggal Hana. Saat mendapat laporan, jika Hana tidak masuk kerja. Tuan Ardi resah, dia sudah menganggap Hana seperti cucunya sendiri. Kesantunan Hana mengetuk pintu hati tuan Ardi. Dia tidak ingin melihat Hana terluka.


"Anda, tuan Ardi bukan! Darimana anda mengetahui rumah saya! Silahkan masuk, maaf rumah saya kecil!" ujar Hana sopan, tuan Ardi tersenyum. Dia masuk ke dalam rumah Hana. Rumah yang telah menjadi bagian hidup cucunya Rafa. Sangat mudah bagi tuan Ardi menemukan rumah Hana. Semudah mengetahui pernikahan tersembunyi Hana dengan Rafa. Sikap Rafa yang mudah marah beberapa hari ini. Menambah kecurigaan tuan Ardi. Jika Hana dan Rafa sedang bertengkar.


"Aku hanya ingin mengunjungimu. Zyan mengatakan kamu tidak masuk kerja. Jadi aku putuskan menemuimu. Aku hanya ingin melihat keadaanmu. Apa kamu baik-baik saja?" ujar tuan Ardi cemas, Hana mengangguk dengan lemah. Hanya untuk mengangguk Hana harus berusaha. Kepalanya terasa sangat berat, suhu tubuhnya masih sangat panas. Namun dia paksakan menemui tuan Ardi.


"Terima kasih tuan sudah mencemaskan saya. Alhamdulillah saya baik-baik saja. Mungkin saya kelelahan, sehingga saya sakit dan perlu istirahat. Anda tidak perlu cemas!" ujar Hana ramah. Tuan Ardi melihat kondisi Hana tidak baik-baik saja. Dia menyembuyikan kondisinya, mungkin karena tidak ingin merepotkan tuan Ardi.


"Hana, sejauh apa hubunganmu dengan cucuku? Tak perlu ada yang ditutupi, aku sudah mengetahui semuanya! Hanya kejujuran yang aku ingin dengar!" ujar tuan Ardi tegas, Hana membisu mendengar perkataan tuan Ardi. Ada keraguan di hati Hana untuk mengatakan semuanya. Kenyataan jika pernikahannya dilandasi oleh rasa terpaksa. Tuan Ardi menatap Hana tajam. Messki usianya sudah tidak muda lagi. Namun jiwa kepemimpinannya sebelas dua belas dengan Rafa. Wabawanya jelas nyata terlihat. Ardi Prawira, pengusaha yang disegani pada masanya.

__ADS_1


"Maaf tuan, bukan maksud saya ingin berbohong pada anda. Namun hubungan saya dengan cucu anda hanya sebatas teman tidak lebih. Jika anda butuh sebuah kejujuran, semua itu hanya akan anda dapatkan dari tuan Rafa. Tidak ada hak wanita pelayan ini menjawab pertanyaan anda!"


"Hana, asal kamu tahu! Wanita pelayan yang kamu maksud telah membuat Rafa frustasi. Aku sudah lama tidak melihat Rafa yang pemarah. Namun beberapa terakhir, dia kembali menjadi Rafa yang pemarah. Hanya masalah kecil, dia mampu memecat seorang pelayan. Aku tidak mengetahui, ada masalah apa diantara kalian? Sehingga Rafa kembali seperti dulu!" ujar tuan Ardi, Hana diam mendengarkan. Hana tidak pernah merasa dirinya berharga untuk Rafa. Malah Hana merasa tidak layak untuk Rafa.


"Anda mungkin salah paham. Bukan aku wanita yang ada di hati tuan Rafa. Jika memang anda mengetahui pernikahan kami. Aku akan katakan, jika pernikahan kami jauh dari harapan anda. Semua tak seindah dan tak sebahagia bayangan anda. Jadi bisa saya katakan, jika hubungan kami hanya sebatas teman sejauh ini. Meski semua berada di atas landasan pernikahan suci!"


"Aku tidak mengerti, ada rahasia apa diantara kalian? Namun dugaanku tidak akan salah. Kamu wanita yang membuat Rafa gelisah!" ujar tuan Ardi, Hana menggeleng tidak percaya. Hana hanya akan percaya, seandainya Rafa sendiri yang mengatakan pada Hana.


"Maaf, saya lupa membuatkan anda minuman. Kita terlalu sibuk berbicara. Mohon tunggu sebentar, saya akan buatkan anda secangkir teh!" ujar Hana Ramah, tuan Ardi mengangguk lemah. Hana berdiri tertatih, tubuh Hana terhuyung ke samping. Seketika Hana berpegangan pada kursi rumahnya. Tuan Ardi cemas melihat Hana yang hamir terjatuh. Sontak saja tuan Ardi berdiri, dia ingin menopang tubuh Hana. Namun ditolak dengan halus oleh Hana.


"Hana, lebih baik kamu duduk. Aku juga harus pamit pulang. Kamu bisa istirahat dengan tenang!" ujar tuan Ardi, Hana mengantar tuan Ardi keluar dari rumah. Dengan tertatih Hana mengantar tuan Ardi pulang. Tubuh Hana benar-benar lemas. Seolah tulangnya tak kuat menopang tubuhnya. Tubuh Hana sangat lemah.


Tubuh Hana ambruk menabrak lantai rumahnya. Tuan Ardi yang baru saja masuk mobil. Histeris melihat tubuh Hana jatuh. Seketika tuan Ardi berlari menghampiri Hana, dia meminta pengawal pribadinya menghubungi ambulans. Tuan Ardi menopang kepala Hana. Dia mencoba membangunkan Hana.


"Hana, bangun jangan pingsan. Aku mohon sadarlah!" ujar tuan Ardi cemas, dia melihat wajah Hana sangat pucat. Tubuh Hana dingin seperti es. Tuan Ardi cemas memikirkan kondisi Hana.


...☆☆☆...


"Hana!" teriak Rafa histeris. Dia segera datang setelah tuan Ardi menghubunginya. Rafa meninggalkan rapat segera setelah mendapat kabar Hana terbaring di rumah sakit. Tuan Ardi membawa Hana menuju rumah sakit. Dia tidak ingin terjadi sesuatu pada Hana. Tuan Ardi cemas saat melihat Hana pingsan.

__ADS_1


"Kakek, apa yang terjadi pada Hana? Kenapa bisa kakek membawa Hana kemari?" ujar Rafa cemas, tuan Ardi melihat kecemasan yang berbeda dari Rafa. Sebaliknya Rafa tidak menyadari, jika kakeknya telah mengetahui pernikahannya. Rafa mendekat pada Hana yang terbaring lemah. Dia melihat istrinya lemah tak berdaya.


"Hana, apa yang terjadi? Sebenci itukah kamu, sampai menyimpan rasa sakit ini sendirian. Aku selalu ada untukmu. Kenapa kamu teguh menolak bantuanku? Aku suamimu!" ujar Rafa lirih, dia menggenggam erat tangan Hana. Rafa mencium lembut tangan Hana. Dia meluapkan kerinduan yang selama ini disimpan. Sudah berhari-hari Rafa tidak melihat wajah Hana.


"Rafa, Hana hanya kelelahan. Dia butuh istirahat total. Jika kamu sibuk, biar perawat yang menjaganya. Kamu bisa pulang istirahat!" ujar tuan Ardi memancing reaksi Rafa. Dengan tegas Rafa menggeleng, Rafa tidak akan membiarkan orang lain merawat Hana. Dia sendiri yang akan merawat Hana.


"Tidak perlu kakek, Rafa sendiri yang akan merawat Hana. Rafa tidak butuh bantuan orang lain. Sebentar lagi Adrian dan Diana datang. Dia akan membawakanku baju ganti!"


"Rafa, setelah Hana sembuh! Bawa dia menemui kakek, ada yang harus kalian jelaskan pada kakek!" ujar tuan Ardi, Rafa menoleh pada tuan Ardi. Dia baru tersadar dengan rahasia yang tanpa sengaja terkuak. Rafa kikuk melihat tuan Ardi.


"Kakek, aku dan Hana hanya!" ujar Rafa terpotong, bersamaan dengan tepukan halus tuan Ardi pada pundak Rafa.


"Kakek bukan orang lain. Dengan mudah kakek bisa merasakan posisi Hana di hatimu. Tidak perlu bicara sekarang. Datanglah bersama Hana, aku ingin mengenal Hana sebagai cucu menantuku. Sekarang lebih baik fokus pada kesehatannya!"


"Baik!"


...☆☆☆☆☆...


TERIMA KASIH😊😊😊

__ADS_1


__ADS_2