
Rafa dan Hana memutuskan pulang lebih cepat. Meski abi Malika berat melepas kepulangan Rafa. Namun disisi lain, abi Malik harus mengizinkan Rafa pulang lebih cepat. Sebab Rafa dengan jelas mengatakan alasan kepulangannya. Abi Malik bisa menerima alasan dipercepatnya Rafa pulang.
Rafa menjelaskan dengan sangat jelas alasan kepulangannya. Agar tidak ada yang berpikir macam-macam. Rafa selalu terbuka dengan abi Malik. Bahkan secara pribadi beliau meminta maaf pada Rafa. Dengan sangat bijak Rafa mengatakan. Tidak ada yang salah, sudah seharusnya Hana mengetahui semua kebenaran. Satu hal yang paling penting, kebenaran itu tidak membuat hubungan Hana dan Rafa memburuk.
Abi Malik mengerti ketakutan Rafa, tapi melihat teguhnya cinta Rafa dan Hana. Abi Malik yakin sekuat apapun badai, akan mampu dihadang. Selama tangan mereka masih terus berpegangan. Abi Malik melihat hubungan Rafa dan Hana bukan hanya atas dasar sebuah cinta. Melainkan juga rasa percaya dan saling menghargai.
Setelah berpamitan dengan semua orang terutama Kiara. Rafa dan Hana melanjutkan perjalana pulang. Kiara sedih harus berpisah dengan saudaranya. Setidaknya kedatangan Rafa, sedikit mengobati kerinduan Kiara akan kedua orang tuanya. Bahkan tanpa basa-basi Rafa secara khusus menitipkan Kiara pada Rizal. Sontak perkataan Rafa membuat Kiara salah tingkah.
Perjalanan yang ditempuh Rafa dan Hana lumayan jauh. Butuh waktu beberapa jam. Sebenarnya kota kecil ini tempat kelahiran ibu kandung Rafa. Namun sengaja Rafa tidak menceritakan pada Hana. Agar Hana tidak berpikir untuk mengunjungi saudara ibunya. Sebab sudah lama Rafa tidak bertemu dengan mereka. Bukan Rafa ingin melupakan, tapi status yang berbeda membuat jurang pemisah yang tak terlihat.
"Kak Rafa, bukankah mama Ainun lahir di kota ini. Kenapa kita tidak berkunjung ke rumah saudara mama Ainun? Mumpung kita masih disini!" ujar Hana, Rafa menggeleng lemah. Selama Rafa tinggal di pesantren. Tidak sekalipun Ainun mengajak Rafa bertemu saudaranya. Rafa tidak pernah mengetahui asal-usul ibu kandungnya. Hanya satu yang Rafa tahu, ibunya hidup sebatang kara. Kedua orang tuanya sudah meninggal. Sedangkan tempat tinggal ibunya, jauh dari kota. Masuk ke pelosok desa. Jauh dari keramaian kota.
"Sayang, mama memang lahir di kota ini. Namun aku tidak pernah bertemu dengan keluarga mama. Lagipula rumah mama Ainun jauh dari kota. Aku dengar berada di pelosok kota. Mama Ainun pernah cerita, beliau datang ke kota untuk bekerja. Kakek Ardi menyukainya lalu menikahkannya dengan papa!" tutur Rafa, Hana mengangguk pelan. Hana sangat antusia ingin mengenal keluarga Ainun. Hana memaksa Rafa untuk mengunjungi mereka. Awalnya Rafa menolak, dengan manja Hana memohon. Akhirnya Rafa menghubungi tuan Ardi, meminta alamat keluarga mama Ainun.
"Sayang, menurut geogle map rumahnya sangat jauh. Kita akan sampai disana petang. Wilayahnya jauh dari kota, sangat terpencil. Aku takut kamu dan Fathan tidak nyaman!" tutur Rafa, Hana menggeleng lemah. Dia menyadarkan kepalanya pada bahu Rafa.
__ADS_1
"Kak Rafa, dimanapun aku berada? Aku akan selalu merasa nyaman dan tenang bila bersamamu!" ujar Hana, Rafa menoleh mengecup kepala Hana yang sedang bersandar. Rafa selalu tersentuh dengan satu kata Hana. Meski sederhana dan biasa, tapi akan mampu membuat Rafa melayang. Seakan dia menjadi satu-satunya laki-laki yang paling bahagia.
"Sayang, aku akan secepatnya sampai kesana. Jika kita tidak bisa menemukan keluarga mama. Jadi kita bisa kembali ke kota sebelum larut malam. Aku tidak ingin kamu dan Fathan tidur di mobil!" ujar Rafa, Hana mengangguk Fathan sudah tidur dalam dekapan Hana. Rafa mengusap pipi gimbul Fathan. Putra kecilnya semakin besar dan sehat.
Selama perjalanan menuju tempat kelahiran Ainun. Kedua mata Hana disuguhi pemandangan yang sangat indah. Sepanjang perjalanan nampak laut yang tak pernah putus. Jalanan sudah sangat baik, sehingga Rafa mampu mengemudikan mobilnya dengan cepat tanpa halangan. Selama perjalanan Rafa fokus mengemudi, sedangkan Hana sibuk menatap pemandangan yang indah dan tak tertandingi.
Setelah hampir dua jam lebih, Rafa mengemudikan mobilnya. Melewati hamparan laut yang luas dan tak putus. Rafa dan Hana sampai di sebuah perkampungan kecil nelayan. Sebuah desa yang dekat dengan laut. Namun Hana juga melihat hamparan sawah. Itu artinya penduduk asli bukan nelayan, melainkan petani. Perkampungan yang masih asri, jauh dari pembangunan dan polusi.
Rafa dan Hana turun di depan sebuah mushola. Perkiraan Rafa benar, dia akan sampai saat petang. Sengaja Rafa dan Hana berhenti di depan mushola. Mereka ingin menumpang sholat sekalian bertanya. Mungkin ada yang mengenal keluarga Ainun. Saat mobil mewah Rafa berhenti, warga sekitar yang kebetulan baru pulang dari sawah terheran-heran. Tidak pernah ada mobil masuk ke desa mereka. Jangankan mobil mewah, angkutan umum saja tidak pernah masuk sampai ke desa.
"Waalaikumsalam, anak berdua siapa? Sepertinya belum pernah ke desa ini. Sedang mencari seseorang!" ujar sang pria paruh baya, Rafa dan Hana mengangguk secara bersamaan.
Seorang pria yang berusia kira-kira 70 tahun lebih. Dengan tubuh rentanya dia masih membersihkan mushola. Terlihat tulang-tulangnya yang mulai keriput termakan usia. Namun dia tetap kuat dalam usia setua ini. Menunjukkan selama hidupnya dia seorang pekerja keras. Pria itu bernama Ali Khasan, seseorang yang disegani di kampungnya. Dia imam sekaligus takmir mushola di desa.
"Saya Rafa, ini istri saya Hana. Kami sedang mencari keluarga mama saya. Dia berasal dari desa ini. Namun saya tidak pernah datang kemari. Ini pertama kalinya saya datang kemari!" ujar Rafa ramah, beliau mengangguk pelan. Hana tersenyum melihat pak Ali.
__ADS_1
"Saya Ali, kebetulan saya lahir dan besar di desa ini. Setiap orang di desa ini saya pasti mengenalnya. Silahkan katakan siapa yang kalian cari? Insyaallah saya akan membantu!" ujar pak Ali, Rafa terdiam sejenak. Dia ragu ingin menunjukkan foto almarhumah Ainun. Rafa takut penolakan akan keluarga Ainun padanya.
"Ini foto almarhumah mama saya!" ujar Rafa, pak Ali menerima foto yang diberikan Rafa. Tangan lemahnya bergetar menerima foto yang diberikan Rafa. Bibirnya tiba-tiba kelu, air mata menetes tanpa terasa.
Rafa menatap wajah sang kakek yang tiba-tiba berubah sedih. Hana melihat raut wajah yang hampir sama dengan Rafa. Ada rasa curiga Hana melihat keterkejutan kakek Ali.
"Ainun Rohmawati!"
"Kakek mengenal mama saya. Jika berkenan tolong tunjukkan dimana rumah orang tua mama saya!" ujar Rafa antusias, pak Ali mengangguk pelan. Sayub terdengar kumandang adzan. Pak Ali harus melakukan tugasnya. Mengumandangkan adzan, memanggil orang-orang untuk datang berjamaah.
"Sudah adzan magrib, saya harus mengumandangkan adzan magrib. Setelah sholat magrib, saya sendiri yang akan mengantarkan anda bertemu dengan orang tua Ainun. Seandainya mereka tidak berkenan bertemu dengan kalian. Ikutlah ke rumahku, sekarang kita sholat magrib dulu!" tutur pak Ali, Rafa mengangguk Ragu.
"Mama, hari ini aku berdiri di desa kelahiranmu. Selangkah lagi aku bisa bertemu dengan keluargamu. Entahlah aku merasa ada rahasia yang tersembunyi di desa ini. Mama, izinkan aku mengenal keluargamu. Sekadar untuk meminta maaf, atas kekhilafan keluarga Prawira. Meski mereka akan mengusirku, aku akan terima. Asalkan sekali saja aku bertemu dengan mereka. Itu sudah cukup, mama aku akan berterima kasih pada mereka. Orang tua yang telah melahirkan dan membesarkanmu. Sehingga aku bisa menjadi putra yang terlahir dari wanita hebat sepertimu. Terima kasih, mama aku merindukanmu!" ujar Rafa lirih sesaat setelah mendengar perkataan pak Ali. Ada secercah harapan untuk Rafa. Bertemu dengan keluarga ibu kandungnya.
"Kak Rafa, semua akan baik-baik saja!"
__ADS_1
...☆☆☆☆☆...