KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Bimbinglah Aku...


__ADS_3

Pagi hari disambut dengan semangat yang luar biasa. Suara ayam jantan betkokok beriringan dengan suara tangis putra kedua Rafa dan Hana. Sang mentari menyeruak dari ufuk timur, seakan menyinari bayi merah yang baru terlahir. Bayi yang dinanti penuh kecemasan oleh orang-orang yang menyayangi Hana. Bayi yang mungkin terlahir dari rahim Hana, tapi tumbuh dengan kasih sayang orang-orang yang mencintai Hana.


Bayi mungil menatap sang mentari dengan kedua mata yang masih tertutup. Seorang pangeran kecil terlahir kembali dari rahim Hana. Adik dari Fathan dan cahaya cinta Rafa dan Hana. Penguat tali pernikahan yang seakan terus mengalami masalah. Bayi yang lahir dari perjuangan Hana melawan penyakit yang dideritanya. Seorang bayi tampan yang mampu meluluhkan hati kaum hawa yang memandangnya. Wajah dan matanya sangat mirip dengan Hana. Ketampanan yang natural, manis tak membosankan. Seakan ingin menunjukkan jati dirinya sebagai bukti cinta Rafa pada Hana.


Setelah dibersihkan sang pangerang keci diberikan pada Rafa untuk diazani. Dengan tangan bergetar Rafa menggendong tubuh mungil sang putra. Suara Rafa bergetar, kelu seakan tak mampu mengatakan apa-apa? Kedua mata Rafa menatap kebesaran Allah SWT ada dalam gendongannya. Seorang bayi yang tercipta dari cintanya dengan Hana. Kehidupan yang hidup dan terlahir dari rahim istrinya. Rafa mematung menatap setiap inci wajah sang putra.


Rafa melihat jelas kedua mata hitam sang putra. Sangat mirip dengan Hana, sayu tapi tegas penuh kejernihan. Hana yang selalu tenang, tapi menakutkan bila terluka atau diragukan. Rafa menyentuh lembut bibir tipis sang putra. Bibir yang dimiliki Hana, seakan berpindah pada sang putra. Bibir yang kelak akan mengatakan pemikiran-pemikiran yang sama persis dengan sang ibu. Hanya hidung sang putra yang sama dengan dirinya. Terlihat mancung dan menawan, satu-satunya pesona Rafa yang menurun pada sang buah hati. Rafa menggenggam tangan mungilnya, hanya jari Rafa yang mampu digenggam. Seketika Rafa menangis, dia melihat anugrah yang begitu indah. Kini berada dalam dekapannya. Rafa mencium kening sang putra. air mata Rafa menetes membasahi pipi sang putra. Takkan ada kebahagian yang lebih indah dari ini.


Dengan suara bergetar Rafa mengazani dan iqomah. Rafa menyerukan suara azan dengan sangat merdu. Tepat dikedua telinga sang putra. Suara pertama yang terdengar ditelinga sang putra. Jika Fathan terlahir ketika iman Rafa jauh dari sempurna. Kini sang adik merasakan, betapa sang ayah mampu menjadi imam yang sesungguhnya. Rafa mengumandangkan azan penuh dengan penghayatan seakan ingin mengatakan seluruh artinya. Bukti kebesaran Allah SWT sebagai sang pencipta.


Setelah hampir 3 jam tak sadarkan diri. Akhirnya Hana membuka kedua mata indahnya di dalam salah satu ruang rumah sakit. Hana mengerjapkan kedua matanya, mengedarkan pandanganya kesegala penjuru ruangan. Hana melihat boks bayi tak jauh darinya. Hana tersenyum menyadari jika sang putra sudah terlahir. Hana mencoba untuk bangun, tapi tubuh Hana lemas tak bertenaga. Akhirnya Hana hanya menatap sang putra dengan sebuah senyuman. Kelegaan seorang Hana setelah sembilan bulan berjuang. Mempertahankan sang putra telah berakhir dan terbayar dengan sebuah kebahagian.

__ADS_1


Hana terus menatap boks bayi tempat sang putra tertidur lelap. Kebahagian yang sangat dinantikan, pelita dalam pernikahannya. Cahaya yang akan menerangi gelap dalam rumah tangganya. Hadiah terbaiknya untuk Rafa, bukti cinta Hana pada Rafa.


"Sayang!" sapa Rafa mengagetkan Hana. Seketika Hana menoleh, Rafa sudah berdiri tepat disampingnya. Hana menatap wajah Rafa yang sayu. Jelas terlihat Rafa tidak tidur semalam. Air wudhu membasahi wajah tampannya. Wajah tampan yang pernah membuatnya berada dalam kegelapan. Anugrah yang mampu membuatnya hancur.


Rafa membungkuk mendekatkan wajahnya pada Hana. Rafa melafalkan surat Al-Fatihah, lalu meniupkan pada ubun-ubun Hana. Rafa mencium kening Hana sangat lama dan lembut. Sengaja Rafa melafalkan surat Al-Fatihah, inti dari Al-Qur'an sebagai ungkapan rasa terima kasih pada Hana.


Rafa bersyukur telah mengenal Hana. Hadiah yang diberikan Hana sangat berkesan dan berarti bagi Rafa. Hanya sesuatu yaņg istimewa yang bisa menggantikannya. Bukan harta yang dimilikinya, tapi sesuatu yang sangat berharga. Hana menatap penuh keheranan, saat Rafa meniupkan surat Al-Fatihah. Hana terkejut saat Rafa melakukannya. Tak pernah Hana menyangka, Rafa mampu melakukan semua ini.


"Kenapa?" ujar Hana dengan suara serak dan lemas. Satu kata yang mampu mewakili keterkejutan Hana. Satu kata yang membutuhkan jawaban akan sikap aneh Rafa. Bukan Hana tidak menyukai, bahkan Hana sangat bahagia saat Rafa melakukannya. Bertahun-tahun Hana menunggu suara itu. Bukan ungkapan cinta padanya, tapi ungkapan cinta Rafa pada Allah SWT. Bukti kesungguhan Rafa yang mencintai Hana dengan iman.


Dalam keheranan dan keterkejutannya, tanpa sadar Hana menangis. Dia merasakan bahagia yang berlipat dalam satu waktu. Lahirnya sang putra, serta suara yang dirindukannya telah terdengar nyata ditelinganya. Rafa mengusap air mata Hana. Rafa membungkuk mencium kedua mata indah Hana.

__ADS_1


Dengan lembut Rafa menggenggam tangan Hana. Rafa mengusap lembut tangan yang tidak pernah lelah menggenggam jiwanya yang kosong. Tubuh yang setia menanti keimanan darinya. Istri yang setia menerima hinaan dan cacian, bukan demi hidup mewah bersamanya. Namun demi iman yang menghilang dari jiwanya dulu. Seorang wanita yang diam mencintainya, tanpa menuntut apapun. Hanya kesadaran diri dan keikhlasan Rafa yang dinantikannya. Hana Khairunnisa yang mencintai Rafa dengan iman dan islam. Bukan pada orang lain, Hana membuktikannya. Hanya pada Allah SWT, Hana membuktikan cinta dan baktinya. Bukan pada Rafa, Hana menuntut perubahan. Dengan sujud dan doanya Hana meminta Rafa berubah pada iman dam islamnya.


"Sayang, kamu mengetahui alasan aku melakukannya. Maafkan aku yang terlalu lama menyadari cintamu padaku. Cinta yang tidak membutuhkan bukti atau kehidupan mewah. Cinta yang selalu mendoakanku, agar aku kembali pada jalan-NYA. Sayang, aku sudah mendengar suara hatimu. Kerinduanmu akan suaraku yang melafalkan ayat suci. Harapan sederhana yang tak pernah kamu ungkapkan. Hanya demi sebuah kesadaran dan rasa hormatmu padaku. Aku mendengar semuanya, suaramu yang menangis berharap aku melafalkan Al-Fatihah saat kamu tertidur. Sebagai suara yang melindungimu. Aku melihat air mata yang menetes. Air mata suci yang merindukkan suaraku yang membaca ayat suci Al-Qur'an untuk keluarga kita. Maafkan diriku yang selalu menganggap harta segalanya. Aku tidak akan berjanji padamu. Namun harapanmu akan menjadi kenyataan. Sudah cukup kamu merindukkan imanku, sudah saatnya aku berubah. Bukan demi dirimu atau keluarga kita, tapi demi terus bersamamu dalam iman!" tutur Rafa, Hana mengedipkan kedua matanya. Mengiyakan perkataan Rafa, Hana tersenyum melihat suaminya yang tampan. Perkataan Rafa seakan angin segar dalam gersang hati Hana yang merindukkan bimbingan Rafa. Perkataan Rafa air yang menyejukkan dahaga cinta Hana akan iman. Hanya pada Rafa Hana mencari iman yang belum sempurna.


"Kapan?" ujar Hana, Rafa tersenyum simpul. Hana tak pernah menyadari, kapan Rafa melihat semua itu? Sebab Hana tak pernah mengatakan pada siapapun tentang harapannya? Hana selalu menyimpan sendiri semua keingiannya, termasuk menyembuyikan dari Diana. Hana tidak ingin orang lain mengetahui kelemahan sang suami.


"Setiap kali kamu menangis di depan Fathan, mengatakan keinginanmu agar aku bisa membimbingmu. Ingin rasanya saat itu aku menghapus air matamu. Agar kamu menyadari keberadaanku. Setiap kata yang kamu ucapkan, menjadi semangatku menjadi imam yang terbaik untuk keluarga kita. Air mata yang menetes kala itu. Tidak akan kubiarkan menetes kembali. Kini aku siap menjadi Rafa yang baru, dengan iman dan islam sebagai pondasi cintaku!" ujar Rafa, Hana mengangguk lalu mengusap pelan wajah Rafa.


"Lalu kenapa harus selama ini aku menunggumu? Apa yang membuatmu merasa tidak yakin membimbingku? Aku bukan istri yang sempurna? Keimananku sempurna saat suamiku sendiri yang menjadi imam sholatku. Aku menangis bukan karena kelemahan imanmu. Aku menangis meratapi diriku yang tak pernah kamu percaya. Kak Rafa selalu sholat malam sendiri tanpa mengajakku. Kamu mengaji di gelapnya malam, tanpa aku bisa mendengarkannya. Aku merindukan tanganmu yang mengajakku duduk di sampingmu. Aku makmummu, bukan wanita dengan iman yang kuat. Aku akan bersama dalam setiap langkahmu. Bukan untuk mengunggulimu, tapi aku akan selalu berada di bawahmu. Aku merindukan suara merdumu melantunkan ayat suci, tanpa aku harus sembunyi. Bukan ungkapan cinta yang dengan lantang kamu katakan. Kak Rafa, selamanya aku makmummu. Aku butuh bimbinganmu, putra kita butuh nasehatmu. Aku lemah tanpa dirimu, jangan berpikir aku lebih darimu. Selantang kamu mengatakan cinta padaku. Selantang itu pula ingin kudengar suara merdumu!" ujar Hana lirih, Rafa mengangguk pelan.


"Terima kasih, kamu sabar menungguku!" ujar Rafa, Hana menggeleng lemah.

__ADS_1


"Tubuhku takkan pernah lelah menunggumu. Aku akan sabar menunggu kamu mengimamiku. Aku makmumu, tuntunlah aku!" sahut Hana dengan mengutas senyum.


__ADS_2