KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Aku Mencintaimu dengan Iman...


__ADS_3

Malam itu menjadi malam terindah dalam hiduo Raihan dan Vania. Di bawah langit malam yang indah. Keduanya saling mengungkapkan isi hati masing-masing. Raihan dan Vania mengakui rasa yang ada diantara mereka. Menepikan rasa marah dan benci sesaat. Mencoba memberikan kesempatan hati masing-masing. Mengenal hati yang telah mengikat dan terikat padanya. Raihan mengutarakan cinta dengan penuh keyakinan. Sebaliknya Vania mencoba jujur, bahwa Raihan laki-laki yanh membuatnya jatuh cinta.


Meski keduanya saling mengungkapkan rasa cinta. Namun Raihan harus bersabar menunggu cinta itu bersatu. Kesalahan Raihan yang melukai hati Vania belum selesai. Vania masih terlalu takut mengenal Raihan. Seandainya dirinya masih Vania yang sama. Bukan ingin terlihat hebat, tapi Vania ingin Raihan menyadari arti perkataannya. Bahwa setiap orang mampu sukses selama dia bersedia berusaha. Sedangkan Vania bukan wanita yang diam menerima nasib. Sebab itu Vania dan Raihan harus bersabar. Menanti hati Vania merasa pantas bersanding dengan Raihan. Membuktikan diri pada dunia. Jika bukan harta yang membuatnya bersatu dengan Raihan. Melainkan ketulusan dan keteguhan cinta yang telah Vania pertahankan sejak putih abu-abu.


Semenjak Vania mengungkapkan rasanya akan dirinya. Raihan memutuskan pindah ke kota yang sama dengan Vania. Kerjasama yang telaj disepakati antara perusahaan Raihan dengan Fathan. Membuat keduanya sering bertemu. Bahkan menjadi alasan yang tepat bagi Raihan datang ke kantor Vania. Layaknya siang ini, Raihan datang mencari Vania. Namun menggunakan alasan bekerja.


Sebagai seorang pembisnis, Raihan terkenal bertangan dingin. Kemampuannya setara dengan Fathan dan Rafa. Ketampanan ketiganya mampu menghipnotis mata kaum hawa. Anehnya ketiganya memiliki kisah cinta yang hampir sama. Mereka mencintai wanita yang tidak mudah. Sederhana tanpa ingin terlihat berlebih. Lemah tapi selalu ingin mandiri. Keteguhan hati yang tidak mudah mereka goyahkan. Sisi paling sempurna dari sebuah hubungan. Penuh dengan kepercayaan dan kesetiaan.


"Kak Fathan, aku izin pulang cepat hari ini!" teriak Vania lantang, sembari membuka pintu ruangan Fathan. Semua karyawan perusahaan Fathan sudah mengetahui. Jika Vania adik dari Fathan, tapi mereka tidak membedakan Vania. Mereka menganggap Vania layaknya karyawan yang lain. Baik Fathan dan Vania melarang mereka memperlakukan Vania istimewa. Sebab Vania selamanya akan menjadi karyawan biasa. Tanpa perbedaan status dengan yang lainnya.


Vania datang ke ruangan Fathan. Sebab dia ingun meminta izin pulang lebih dulu. Vania akan pulang ke pesantren selama beberapa hari. Orang tuanya baru saja menghubunginya. Mereka meminta Vania pulang. Ada sesuatu yang harus mereka katakan pada Vania. Saat Vania memasuki ruangan Fathan. Dia tidak tahu, jika Raihan sedang berada di dalam bersama Fathan. Keduanya sedang membahas sesuatu.

__ADS_1


"Ups, ada bos besar!" ujar Vania lagi, sesaat setelah dia melihat Raihan yang sedang rapat dengan Fathan. Sontak Vania panik, saat keduanya saling menatap. Semenjak kejadian malam itu. Vania sedikit menghindar dari Raihan. Dia tidak merasa malu dan canggung. Vania sangat malu setrlah menyadari dirinya telah dengan lantang mengatakan cinta pada Raihan. Entah kenapa Vania merasa kikuk bila bertemu dengan Raihan? Hampir seminggu Vania menghindar dari Raihan. Bahkan saat ada rapat dengan pihak Raihan. Vania mencoba mencari alasan. Dia tidak ingin bertemu dengan Raihan. Sedangkan Raihan seperti kehilangan akal. Setelah mendengar kata cinta dari Vania. Malah Raihan tidak pernah bertemu dengan Vania. Raihan ingin menghubunginya, sekadar ingin mendengar suara Vania. Namun Raihan tidak pernah meminta nomer ponsel Vania. Sebab itu hari ini Raihan mencari alasan untuk datang. Dia ingin melihat Vania walau hanya sekilas. Raihan menghargai sikap Vania yang menghindar darinya. Raihan akan lega setelah melihat wajah Vania. Dia tidak berharap lebih.


Vania berjalan mundur, dia berniat keluar dari ruangan Fathan. Dia tidak ingin bertemu Raihan dan mengganggu rapat Fathan. Vania memutar tubuhnya, membuka pintu lalu melangkah keluar. Tepat saat tangannya memegang ganggang pintu. Tangan Raihan menahan pintu, sontak Vania mendongak. Raiha tepat berada di belakangnya. Vania mencium harum tubuh Raihan. Hembusan napas Raihan yang hangat terasa menelisik ke seluruh tubuh Vania. Debaran jantung Raihan dan Vania terdengar jelas. Rasa cinta yang seolah ingin menyeruak. Kerinduan Raihan pada Vania yang tak lagi bisa dia kendalikan.


Lama keduanya larut dalam angan masing-masing. Vania melepas tanganya dari ganggang pintu. Raihan begitu dekat dengan Vania. Harum tubuh Vania membuat Raihan melayang. Desiran hangat mengalir deras dalam nadi darahnya. Sebagai seorang laki-laki Raihan seolah tak sanggup menahan hasrat ingin memiliki Vania. Rasa cintanya pada Vania seakan membenarkan bila Raihan memiliki Vania sepenuhnya. Namun rasa cinta Raihan suci bukan napsu semata. Bukan hanya memiliki Vania, Raihan ingin menjadi pelindung bukan perusak dalam hidup Vania.


"Kita harus bicara, aku merasa kamu menghindar dariku!" bisik Raihan lirih dan lembut. Vania mengangguk pelan, dia tidak sanggup menatap atau mengangkat kepalanya. Berada sedekat ini dengan Raihan. Membuat tubuhnya kaku, bibirnya kelu. Setelah mendapat jawaban Vania. Raihan berjalan menuju sofa. Vania mengikutinya dari belakang. Dia duduk tepat di samping Fathan. Berhadapan dengan Raihan yang terus menatap wajah Vania yang terus menunduk. Fathan terkekeh melihat kedua sejoli yang kikuk satu dengan yang lain.


"Kenapa?" ujar Fathan singkat, Vania mendongak menatap Raihan yang seolah kaget. Tidak ada maksud Vania menolak makan malam dengan keluarga Raihan. Namun Vania harus menolak, sebab dia sudah ada janji dengan orang lain. Vania harus pergi apapun yang terjadi. Fathan melihat jelas rasa kecewa Raihan. Dia bisa merasakan sakitnya penolakan Vania. Fathan berdiri menjauh, dia akan memberikan waktu keduanya untuk berbicara. Agar tidak ada kesalahpahaman diantara keduaya.


"Aku pergi dulu, kalian bicara saja berdua. Pintu akan kubiarkan terbuka. Ingat bicarakan semua yang mengganjal. Agar tidak ada lagi kesalahpahaman!" ujar Fathan, lalu berjalan keluar dari ruangannya tanpa menunggu jawaban keduanya. Raihan dan Vania sama-sama membisu. Mereka tidak mengerti harus memulai dari mana.

__ADS_1


"Maafkan aku yang membuatmu kecewa. Aku tidak tahu jika malam ini keluargamu akan ke rumah. Aku sudah berjanji pada seseorang untuk bertemu dengannya. Janji pertemanan yang tidak mungkin aku batalkan demi masalah pribadi!" ujar Vania lirih, Raihan terdiam. Jantungnya berdetak hebat. Ada rasa ngilu yang seakan menusuk jantungnya. Entah kenapa dia merasa Vania bertemu dengan orang yang spesial?


"Siapa?" ujar Raihan singkat, tak ada lagi yang mampu Raihan ucapkan lagi. Rasa cintanya membuat Raihan sangat-sangat takut kehilangan Vania. Dia tidak bisa mengatakan apapun. Hanya kejujuran Vania yang Raihan harapkan.


"Steven, kami berjanji bertemu bila dia datang ke kota ini. Dia sedang ada seminar, jadi aku dan dia akan bertemu untuk makan malam. Kak Faiq akan datang bersamaku!" ujar Vania lirih, sontak Raihan mendongak kaget. Dia tidak pernah menyangka kecemburuannya pada Steven nyata adanya. Raihan merasa ada yang salah dengan hubungan pertemanan keduanya.


"Steven, apa dia laki-laki yang pernah meminangmu? Demi dia kamu menolak makan malam dengan keluargaku. Apa maksud semua ini?" ujar Raihan lantang, Vania menatap kedua mata Raihan yang menyimpan amarah. Vania tersenyum dibalik cadarnya. Dia merasa sangat tidak percaya dengan yang dilihatnya. Raihan begitu emosi saat mendengar dirinya bertemu dengan Steven. Rasa tidak percaya yang kelak akan dengan mudah menghancurkan hubungannya.


"Sebuah hubungan bukan hanya didasari dengan cinta. Jika cintamu tidak memiliki rasa percaya. Selamanya rasa curiga akan mengusainya. Jika setia selalu diragukan, maka tidak akan pernah ada rasa percaya dalam hubungan itu. Seandainya kejujuran menjadi alasan pertengkaran. Tidak akan rasa pengertian dalam sebuah hubungan. Aku mencintaimu dengan kepercayaan penuh. Sehingga aku tidak pernah takut kehilangan dirimu. Kesetianku padamu sudah kujalani hampir 8 tahun lebih. Kejujuranku akan rasaku padamu. Membuatku selalu yakin kamu akan melakukan hal yang sama padaku. Jika kamu hanya mencintaiku tanpa kepercayaan atau kesetiaan serta kejujuran. Lebih baik mantapkan lagi hatimu. Akan banyak halangan dan rintangan yang tidak akan mudah kita lewati!" tutur Vania lalu berdiri meninggalkan Raihan yang tertunduk lesu.


"Steven memang laki-laki yang meminangku. Tapi aku menolaknya jauh sebelum melihat wajahmu. Sebab dalam hatiku hanya ada namamu bukan Steven. Hubunganku dengan Steven sebatas teman tidak lebih dan dia menghargai itu. Sedangkan hubunganmu denganku bukan hanya teman. Tapi kamu calon imamku, jauh sebelum aku bertemu dengan Steven. Maafkan aku yang melukai dirimu, tapi Steven dan kak Faiq yang mengajarkanku arti persaudaraan. Mereka yang mengenalkanku arti berbagi dan berarti untuk sesama. Bertemu mereka menjadikan hidupku bahagia. Melihat senyum orang-orang yang kami bantu. Sebab senyum di wajahmu terlalu mahal untuk aku lihat. Aku mencintaimu dengan iman, dalam sujud dan doa aku mengharapkan bersanding denganmu!" ujar Vania lirih, lalu berjalan cepat tanpa peduli lagi pada Raihan yang terus menunduk.

__ADS_1


__ADS_2