KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Siapa Dia???


__ADS_3

Angin dingin pagi menyentuh wajah sang dokter muda. Dia berdiri dengan membawa tas punggung yang berisi alat-alat medis dan obat-obatan. Muhammad Faiq Alhakim, pemuda tampan perebut hati seluruh warga desa. Bukan hanya karena ketampanannya, tapi juga sikap ramah dan tangan dinginnya. Faiq merawat warga desa dengan telaten dan penuh tanggungjawab. Faiq tidak pernah membedakan mereka satu dengan yang lain. Dia memperlakukan warga desa sama rata. Tanpa membedakan si kaya dan si miskin. Hanya pada wanita yang ingin menarik perhatiannya. Faiq bersikap dingin dan acuh. Bukan Faiq sombong, tapi dia tidak ingin melukai hati wanita lagi. Sebab Faiq tidak akan pernah bisa mencintai wanita lain, kecuali Davina Nur Latifah putri sahabat kedua orang tuanya.


Pagi ini Faiq berangkat sangat pagi. Sang Fajar baru saja menampakkan wajahnya. Sinar terangnya masih belum terlalu panas. Angin pagi yang sangat dingin menembus tulang belulang Faiq. Embun pagi masih jelas terlihat, menghalangi pandangan. Harmoni pagi yang begitu nyata, dingin dan segar tanpa polusi udara. Suasana pedesaan yang jauh dari keramaian, menyimpan keindahan yang tak terjamah. Faiq berdiri tepat di depan gubuk tempatnya tinggal sementara. Merasakan dan mengagumi keindahan alam pagi hari. Faiq merasakan udara pagi yang bersih tanpa polusi. Faiq merasa nyaman dengan suasana pedesaan. Pikirannya tenang tanpa beban sedikitpun. Pilihan yang tepat Faiq pergi ke desa. Agar luka hatinya sedikit terobati.


Hampir dua minggu Faiq berada di daerah terpencil. Jauh dari keramaian dan fasilitas mewah yang selalu dia gunakan. Desa yang terletak di luar kota. Berjarak ratusan kilometer dari kotanya, butuh waktu berjam-jam untuk sampai ke desa ini. Jauh dan lamanya perjalanan untuk sampai ke desa. Sedikitpun tidak menyurutkan keinginan Faiq menjadi relawan. Membantu sesama saat tertimpa musibah. Bahkan Faiq harus hidup dengan fasilatas yang sangat minim. Sekadar ponsel pintar, Faiq tidak bisa menggunakannnya.


Rumah tempat Faiq tinggal jauh dari kata layak. Besarnya hanya separuh dari kamarnya. Tidak ada kursi atau barang mewah lainnya. Faiq harus tidur di lantai beralaskan tikar. Kamar mandi bukan layaknya kamar mandi di rumahnya. Hanya ruangan kecil tanpa atap yang disekat dengan dinding bambu. Terletak di belakang rumah yang Faiq tempati. Air bukan berasal dari kran, tapi sumur yang berada tepat di samping kamar mandi. Semua sangat jauh dari layak. Namun tidak ada rasa menyesal dalam diri Faiq. Dia merasa nyaman berada di desa ini.


Keramahan warga desa dan suasana sejuk desa membuat Faiq merasa betah. Warga desa yang buta huruf, tidak mengerti perkembangan zaman dan tidak berpendidikan. Menyimpan hati yang tulus dan penuh dengan keikhlasan. Faiq melihat kebodohan yang terbalut dengan kepolosan. Tanpa berpikir dan mampu berpikir buruk tentang orang lain. Hidup berdampingan tanpa ingin bersaing. Bukan tidak ingin berubah menjadi lebih baik. Namun rasa persaudaraan menjadi prinsip hidup yang dijunjung tinggi. Gotong royong menjadi salah satu cara hidup berdampingan. Faiq merasa menemukan keluarga baru di desa ini. Dia merasa hangat dan nyaman. Jauh dari rasa khawatir dan gelisah.


"Dokter Faiq!" sapa Zahra, Faiq menoleh seraya mengutas senyum simpul. Terlihat seorang gadis desa, usianya terpaut sedikit dengan Faiq. Dia putri kepala desa yang melanjutkan kuliah di kota. Dia kembali ke desa setelah lulus, untuk menjadi seorang guru. Berharap bisa membuat anak-anak di desanya maju demi perkembangan desa. Pemikiran mulia yang takkan pernah ada dalam benak remaja saat ini. Zahra putri tunggal kepala desa. Dia menempuh pendidikan untuk menjadi guru matematika. Dia kembali dengan harapan yang sangat tinggi. Menjadi seorang remaja pertama yang membuat desanya maju dan berkembang. Dia ingin melihat desanya meninggalkan kebodohan dan ketertinggalan. Agar semua anak di desanya bisa sekolah tanpa harus pergi ke kota dengan biaya yang mahal.


"Ada apa? Saya harus segera berangkat. Hari ini saya akan memeriksa warga yang ada di sisi atas. Saya sudah membuat janji dengan Fahmi, tapi sampai sekarang di belum juga datang!" ujar Faiq dingin tanpa senyum, Zahra menunduk malu. Sikap dingin Faiq membuat Zahra merasa bersalah dan Malu. Zahra tidak menyangka, jika Faiq akan bersikap dingin padanya. Selama seminggu Zahra mengenal Faiq, dia berpikir bisa menjadi teman yang bisa dekat dengan Faiq. Namun sepertinya pemikirannya salah. Faiq tetap bersikap dingin pada wanita yang berharap cinta dan perhatiannya.


Zahra merasa kikuk melihat sikap dingin Faiq. Zahra berpikir perkenalannya selama lebih dari seminggu. Akan membuat hubungan keduanya lebih akrab. Tak jarang Faiq dan Zahra menuju tempat terdampak bersama. Bahkan Faiq tinggal di sebelah rumahnya. Namun semua kedekatan itu tidak serta merta membuat sikap Faiq menghangat padanya. Faiq mungkin hangat pada warga desa, tapi akan sangat dingin pada wanita yang berharap akan cintanya. Sebab cintanya telah sepenuhnya Faiq berikan pada wanita yang tak mungkin menjadi miliknya.


"Dokter Faiq, Fahmi tidak bisa ikut denganmu. Dia dan ayah harus segera ke batas desa. Akan ada bantuan yang datang untuk desa. Mereka menyambut para tamu yang datang. Fahmi diminta siaga, agar para tamu tidak kecewa. Sebenarnya saya datang, ingin menawarkan diri. Menemani dokter Faiq pergi ke atas. Sekaligus saya akan memberikan pengarahan untuk anak-anak yang belum sekolah!" tutur Zahra lirih dan sopan. Faiq diam membisu, dia berpikir keras menolak atau menerima penawaran Zahra. Faiq tidak mungkin pergi bersama Zahra yang bukan mukhrimnya. Dia tidak ingin ada kesalapahaman yang terjadi.


Tempat yang akan Faiq tuju sangat jauh dan jalannya terjal. Jika membawa Zahra, tentu Faiq harus memboncengnya. Namun jika dia datang sendiri, Faiq pasti kewalahan. Sedangkan rekan sesama dokter sibuk di tenda-tenda darurat. Sebagian besar dari mereka menolak menuju ke sana. Faiq terdiam melamun, menimbang baik dan buruknya. Pergi berdua dengan putri kepala desa akan menimbulkan pergunjingan. Lama Faiq berpikir, akhirnya Faiq memutuskan untuk pergi sendiri. Pergi bersama Zahra hanya akan membawa masalah baru baginya. Lebih baik Faiq pergi sendir jauh lebih aman dan tenang.


"Terima kasih, lebih baik saya pergi sendiri. Tidak baik kalau kita pergi berdua. Maaf sebelumnya, bukan ingin menolak tawaranmu atau bermaksud menghinamu. Selain bukan mukhrim, statusmu yang seorang putri kepala desa. Akan terpengaruh bila kita pergi berdua. Alangkah lebih baik kita menghindar dari fitnah yang hanya akan merugikan. Percayalah saya bisa sendiri!" ujaf Faiq menolak tawaran Zahra, Faiq meninggalkan Zahra berjalan perlahan menuju sepeda motornya. Zahra tertegun mendengar kesopanan Faiq. Satu dari sekian laki-laki yang menghormati seorang wanita. Bukan ingin melecehkan, malah dengan sepenuh hati melindungi kehormatan wanita. Sikap jantan seorang laki-laki yang tidak mengambil kesempatan dalam kesempitan. Satu hal lagi yang membuat Zahra terpesona dengan Faiq. Selain ketampanan dan kepintarannya, Faiq mampu bersikap sopan terhadap lawan jenisnya. Tidak pernah berpikir ingin melecehkan.


"Tunggu dokter Faiq, aku mengetahui jika anda pasti menolak. Sesungguhnya aku menawarkan diri dengan persiapan yang matang. Pemikiran anda benar, akan tidak baik bila kita pergi berdua dengan berboncengan sepeda motor. Dengan alasan yang sama, aku telah menyiapkan sepeda motor sendiri. Aku akan mengendarainya sendiri. Jadi kita tidak akan berboncengan. Kekhawatiran anda akan pemikiran warga desa tidak perlu terjadi!" ujar Zahra, sontak Faiq menggeleng. Dia tetap menolak tawaran Zahra. Faiq tidak ingin terjadi sesuatu pada Zahra. Sangat tidak mungkin Faiq membiarkan Zahra mengendarai sepedanya sendiri. Jalan yang akan mereka lewati tidaklah mudah. Faiq tidak ingin mengambil resiki yang tidak perlu.

__ADS_1


Perjalanan menuju atas sangat beresiko. Jalan yang terjal serta menanjak. Tidak akan mudah dilewati, meski dia laki-laki belum tentu bisa melewatinya. Apalagi bagi Zahra, seorang wanita yang anggun. Tidak akan sesuai sepeda yang digunakannya, dengan hijab dan gamis panjangnya. Bukan meremehkan penampilan Zahra, tapi Faiq lebih menghargai keanggunan Zahra dan tidak ingin menyusahkan Zahra. Faiq dengan tegas menolak tawaran Zahra dan tidak bisa ditawar lagi. Faiq tidak akan pernah menerima, bila harus menyusahkan Zahra.


"Dokter Faiq, biarkan saja Zahra ikut denganmu. Bapak mengetahui, jika dokter Faiq khawatir akan keselamatan Zahra bila nekat mengendarai sepeda motor sendiri. Mungkin dokter Faiq lupa, Zahra lahir dan besar di desa ini. Jalanan ini bukan sekadar jalan terjal yang sulit dilewati, tapi jalan ini sudah menjadi bagian dalam hidup Zahra. Jadi dokter Faiq tidak perlu cemas. Bapak percaya, tidak akan terjadi apa-apa pada Zahra. Apalagi niat kalian baik, demi membantu sesama. Sekarang pergilah, hari sudah semakin siang. Takutnya nanti kalian kembalinya terlalu malam!" ujar pak Ikhsan, ayah Zahra sekaligus kepala desa. Sebagai seorang ayah pak Ikhsan bisa melihat perubahan sikap Zahra. Raut wajah Zahra berseri ketika berbicara pada Faiq. Pak Ikhsan melihat jelas sikap berbeda Zahra pada Faiq. Hanya Faiq laki-laki yang ingin didekati oleh Zahra. Tidak pernah sekalipun Zahra mengajak atau berteman dengan lawan jenis selain Faiq.


Bukan hanya Zahra yang kagum akan sosok Faiq. Sebagai orang tua, pak Ikhsan menyukai sikap dan tata krama Faiq. Baginya akan sangat bahagia bila Faiq menjadi menantunya. Impian sederhana yang mungkin terwujud atau bahkan hanya akan menjadi mimpi semata. Melihat cara Faiq bersikap pada Zahra, semua itu seolah sangat tidak mungkin.


Akhirnya Faiq dan Zahra berangkat bersama. Mereka pergi dengan menggunakan dua motor. Selama perjalanan Faiq memilih berada di belakang Zahra. Dia tidak ingin terjadi sesuatu pada Zahra. Meski jalan ini sering dilalui Zahra. Namun musibah bisa datang kapan saja? Faiq bertanggungjawab penuh akan keselamatan Zahra. Dia tidak boleh lengah akan keselamatan Zahra. Dia datang bersama Zahra, maka dia harus pulang bersama Zahra.


...☆☆☆☆☆...


Sekitar pukul 19.00 wib, Faiq dan Zahra belum juga kembali. Banyaknya warga desa yang membutuhkan perawatan Faiq. Membuat Faiq kewalahan, waktu seakan tak cukup menangani warga desa. Belum lagi keramahan warga desa yang menjamu Faiq. Meski sederhana dan tanpa kemewahan, Faiq merasa masakan yang disajikan sangatlah nikmat. Sebab dibuat dengan ketulusan dan rasa terima kasih. Faiq baru bisa turun kembali setelah sholat isya. Warga desa merasa berat melepas Faiq pulang. Namun Faiq tetap harus kembali menuju rumah yang ditempatinya. Meski sudah larut malam dan jalanan yang gelap. Faiq dan Zahra tetap harus pulang. Faiq terus menjaga Zahra, bagaimanapun Zahra menjadi tanggungjawabnya?


Pukul 21.00 wib, Faiq dan Zahra tiba di rumah kepala desa. Suasana rumah Zahra masih sangat terang. Terlihat sebuah mobil dan satu mobil boks terparkir manis di halaman depan rumah Zahra. Halaman rumah yang tidak begitu terang. Membuat Faiq tidak bisa mengenali mobil siapa? Dia tidak bisa melihat jelas mobil yang berada di halaman rumah kepala desa.


Kebersamaan Faiq dan Zahra membuat keduanya lupa akan sekitarnya. Faiq tidak menyadari banyak pasang mata yang sedang mengawasi. Semua orang melihat tawa tulus Faiq saat bercanda dengan Zahra. Faiq berubah menjadi pribadi yang sangat hangat. Faiq mengagumi sifat lembut dan penyayang Zahra. Faiq melihat dengan rasa keibuan, Zahra merangkul anak-anak desa yang putus sekolah. Cita-cita mulia dari seorang gadis yang mengenal dunia luar. Namun memutuskan kembali ke desa. Mengabdikan diri demi kemajuan desanya, tempat dia terlahir dan tumbuh besar selama ini. Pemikiran mulia yang juga tengah Faiq perjuangkan. Faiq mencoba membuat semua orang sehat dengan menjadi dokter. Faiq tidak berharap ada yang kesulitan mendapatkan pengobatan hanya karena biaya. Cita-cita Faiq semenjak dia kecil, kemuliaan hati yang dia terima dari sang mama.


Lama Faiq dan Zahra saling bicara, angin malam mulai terasa dingin menusuk tulang keduanya. Faiq berjalan menuju rumah tempatnya tinggal sementara. Tanpa sengaja kedua matanya bertemu dengan tatapan tajam milik Davina. Seketika Faiq terkejut, dia tidak menduga akan melihat Davina di sini. Bukan hanya Davina, Faiq juga melihat Fathan, Annisa dan Rey. Entah apa yang membawa mereka datang kemari? Satu hal yang pasti, kedatangan mereka membuat Faiq spot jantung. Apalagi tatapan tajam Davina, mampu membuat jantung Faiq serasa ingin melompat. Dia melihat jelas kecemburuan Davina. Satu-satunya wanita yang ada dalam hatinya.


"Faiq, kamu baru pulang!" sapa Fathan, Faiq mengangguk lemah. Faiq menghampiri Fathan, Annisa berdiri berdampingan dengan Rey dan Davina. Kepala desa merasa heran, kenapa tamunya bisa mengenal Faiq? Dia tidak pernah menyadari. Jika dokter yang bertugas di desanya tak lain putra pengusaha sukses.


"Maaf tuan Fathan, anda mengenal dokter Faiq. Beliau dokter yang membantu kami dengan tulus, tanpa pamrih. Adakah hubungan diantara kalian!" ujar pak Ikhsan, Fathan mengangguk pelan. Zahra mengangguk menyapa para tamu, dia lalu berjalan masuk ke dalam rumah. Zahra tidak menyadari tatapan penuh cemburu Davina. Dengan seutas senyum keduanya saling menyapa. Kepala desa menatap ke arah Faiq dan Fathan bergantian. Sekilas dia merasa keduanya mirip. Namun pemikiran itu segera di buang. Sangat tidak mungkin dokter yang kaya, bisa tinggal dalam gubuk kecil jauh dari kata mewah.


"Dia adik kandung saya!" sahut Fathan singkat, kepala desa terkejut. Dia tidak menyangka jika dokter penuh kesederhanaan. Tak lain putra salah satu orang kaya. Memang Faiq datang menggunakan mobil mewah. Namun Faiq berdalih itu mobil dinas dari rumah sakit. Bahkan Faiq menolak, saat akan disewakan hotel dengan menggunakan dana desa. Faiq memilih tidur di rumah sederhana ini. Dia tidak menginginkan fasilitas apapun. Sikap sederhana Faiq yang seketika merebut hati warga desa.

__ADS_1


"Maaf tuan Fathan, kami telah memperlakukan adik anda dengan tidak sopan!" ujar pak Ikhsan lirih, Fathan menggeleng lemah. Sedangkan Faiq terus menatap Davina yang menunduk. Faiq merasa ada yang salah dengan tatapan Davina tadi. Dia memang tidak peduli akan perhatian Davina dan cenderung dingin. Namun Faiq tidak akan pernah bisa bila melihat Davina bersedih. Dia frustasi bila sampai air mata Davina menetes. Faiq tidak bisa melihat duka Davina.


"Dia memang adik saya, tapi dia tidak pernah bangga akan harta keluarga kami. Dia selalu hidup dengan kesederhanaannya. Jadi anda tidak perlu meminta maaf. Faiq akan merasa nyaman, bila dia tidak diistimewakan!" ujar Fathan, Pak Ikhsan menunduk. Lalu menoleh pada Faiq, Fathan sempat melihat tatapan Faiq yang mengunci Davina lekat. Dia melihat cinta Faiq pada Davina. Namun entah alasan apa yang membuat Faiq tidak ingin mengakui cintanya itu?


"Dokter Faiq, makan malam sudah siap. Silahkan di tunggu di dalam. Saya akan meminta Zahra menyajikannya!" ujar kepala desa, Faiq menggeleng lemah. Pak Ikhsan terkejut melihat gelengan kepala Faiq. Dia dan Zahra sudah makan malam di rumah warga. Mereka mendapat perjamuan yang istimewa.


"Saya dan Zahra sudah makan malam. Saya akan membersihkan diri. Sementara waktu saya titip kakak!" ujar Faiq, lalu meninggalkan Fathan dan Davina yang merasa sesak. Sikap hangat Faiq pada putri kepala desa mengusik batin Davina. Ada rasa perih yang teramat. Davina seakan tak mampu lagi menahan rasa sakit itu.


Davina menunduk bukan tanpa alasan. Dia sedang menyembuyikan air mata yang tak pernah dia harapkan. Air matanya menetes tanpa permisi. Tatkala kedua matanya melihat Faiq tertawa bersama wanita yang begitu anggun dan dewasa. Dia seakan tersisih dan tak berarti dimata Faiq. Laki-laki yang mengusik batin dan pikirannya. Tengah asyik bercanda dengan wanita lain. Wanita yang lebih dewasa dan berpendidikan. Wanita yang mungkin bisa meluluhkan hati beku Faiq.


Davina merasa sesak, saat telinganya mendengar suara tawa Faiq. Senyum yang begitu tulus tanpa paksaan, bagai garam yang tertabur sempurna dihatinya. Kecewa dan terluka sangat terasa, sampai membuat dirinya lemah tak bertulang. Davina merasa dunianya runtuh. Harapannya bertemu dengan Faiq, membuatnya harus ikhlas melihat kebersamaan Faiq dengan wanita lain. Sedari awal Davina berharap akan bahagia saat bertemu Faiq. Namun dia harus menelan kenyataan pahit. Bahwa Davina harus melihat Faiq bahagia bersama Zahra.


"Seandainya aku bisa berharap, ingin rasanya aku berharap yang kulihat hanyalah mimpi. Seandainya aku bisa meminta, ingin rasanya aku memohon agar dirimu tersenyum hanya padaku. Muhammad Faiq Alhakim, kamu sangatlah kejam dan tak berhati. Kamu mampu tertawa bersama wanita lain, tapi kamu kesal bila berada di dekatku. Kamu begitu hangat saat bicara dengannya. Namun begitu dingin saat bicara denganku. Seandainya sikap dinginmu, sebanding dengan kepedulianmu. Sungguh aku akan ikhlas menerimanya. Kenapa hanya padaku kamu bersikap kejam? Jika ini yang dinamakan cinta. Aku akan berusaha menerimanya, meski hati dan tubuhku serasa hancur tak bersisa. Kenapa aku harus terluka dan sakit? Apa ini cemburu? Sungguh sakit, aku tidak sanggup!" batin Davina serasa ingin menjerit. Dia duduk termenung sendiri di teras. Davina menatap langit malam. Sedangkan Fathan dan Annisa meninggalkan Davina sendiri.


"Kenapa melamun? Apa kedatanganmu kemari hanya untuk melamun. Masuklah ke dalam rumah. Angin malam tidak bagus untukmu!" ujar Faiq acuh, lalu berjalan melewati Davina. Tanpa berpikir Davina cemburu melihat kedekatannya dengan Zahra. Davina mendongak sesaat melihat Faiq yang berjalan melewatinya. Dia merasakan perhatian sekaligus amarah Faiq.


"Siapa wanita yang bersamamu? Kenapa tawamu terdengar begitu tulus? Aku melihat kehangatan yang tak pernah ada untuk wanita lain. Berartikah dia bagimu, diakah tangan yang akan kamu genggam. Apa dia wanita yang mampu menyentuh hatimu?" ujar Davina lirih, lalu menunduk menopang wajahnya. Faiq menghampiri Davina, mendekatkan wajahnya. Jarak keduanya sangat dekat, hembusan napas keduanya terasa beriringan. Faiq dan Davina mampu merasakan hembusan napaa masing-masing.


"Davina Nur Latifah, dengarkan aku baik-baik. Aku bukan pecinta, aku seorang dokter yang berhubungan dengan banyak orang. Seandainya kamu ingin bersamaku, maka kamu harus siap melihatku bersama orang lain. Namun seandainya kamu tidak sanggup, berhenti dan lupakan aku. Satu hal lagi, cemburu hanya bagi orang yang tidak percaya. Tidak percaya akan cinta dan kesetiaan pasangannya. Jadi sebelum mencintai laki-laki sepertiku, pahamilah cara berpikirku. Lagipula melihat cemburumu, membuatku merasa berarti!" ujar Faiq, Davina mendongak. Faiq dan Davina saling menatap lekat. Hanyut dalam cinta tanpa kata. Davina mendengar kata cinta, tapi dalam sekejap dia merasakan amarah Faiq. Semua terasa campur tanpa arti. Sungguh sesuatu yang sulit diartikan.


"Kak Faiq, kamu dingin dan tak berhati!" ujar Davina lirih. Faiq menghampiri Davina. Dengan dingin dia manatap Davina. Wanita yang dia cintai, tapi sengaja dia sakiti.


"Sebelum merasakan cinta dan kehangatan sikapku. Kamu harus bisa menerima amarah dan sikap dinginku. Aku tidak butuh wanita manja, aku butuh wanita yang bisa menopangku dikala lemah. Jika aku mencintaimu, itu artinya aku percaya dan yakin kamu wanita yang kuat. Wanita yang akan hidup bersamaku dalam suka dan duka. Jika kamu merasa tidak mampu, lebih baik mundur. Air matamu terlalu berharga bila menangis demi cintaku. Aku tidak sehebat dan sesempurna itu. Mungkin Fathan lebih baik dariku!" tutur Faiq, Davina menggeleng lemah.

__ADS_1


"Selamanya kak Fathan akan menjadi kakakku. Cemburumu pada kak Fathan tidak beralasan. Kini aku menyadari, bukan aku yang tak percaya akan cinta kita. Namun kamu yang berpikir, kak Fathan yang ada diantara kita!"


__ADS_2