KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Kenangan masa lalu


__ADS_3

Dalam sebuah taman hotel berbintang. Beratabkan langit malam yang indah. Beralaskan rumput hijau taman hotel. Acara resepsi pernikahan Faiz dan Farah dilaksanakan. Malam ini secara resmi Farah telah menjadi istri Faiz. Dengan izin Allah SWT dan disaksikan langsung oleh orang tua Farah. Secara tegas Faiz mengucapkan ijab Qobul pernikahan. Hanya dengan satu tarikan napas. Faiz mengucapkan semua itu. Dia resmi menjadi imam dunia akhirat Farah.


Acara digelar lumayan meriah, terlihat dari banyaknya tamu undangan. Rafa datang bersama seluruh anggota keluarganya. Hanya Fathan yang tidak ikut. Dia harus menjaga Annisa dan bayinya. Tidak mungkin Fathan meninggalkan mereka sendirian di rumah. Sebab itu Fathan yang menemabi Annisa. Ketika semua orang pergi menghadiri undangan pernikahan Faiz dan Farah. Lagipula Fathan tidak terlalu mengenal Faiz. Meski dia dan Farah dulu berteman dengan baik.


Banyak yang terjadi malam ini. Kenangan masa lalu antara Rafa dan Sesil, terkuak tanpa bisa dihindari. Setelah sekian tahun, akhirnya Rafa bertemu dengan Sesil. Tak ada amarah atau rasa cemburu di hati Hana. Semua musnah tak bersisa seiring pertemuannya dengan Sesil dulu. Hana teringat malam dimana dia bertemu Sesil? Malam dimana Sesil menyerahkan cintanya pada Rafa dan memilih cinta Alfian suaminya saat ini.


"Apa kabar Rafa Akbar Prawira?" sapa Sesil sembari mengulurkan tangan. Rafa menerima uluran tangan Sesil. Jabat tangan yang terjadi setelah sekian tahun lamanya. Pertemuan yang tak pernah ada. Selama bertahun-tahun akhirnya malam ini terjadi.


"Kamu tetap cantik Sesil, semoga kamu dan Alfian selalu bahagia. Selamat akhirnya kamu menggelar pesta pernikahan putrimu!" ujar Rafa hangat, Sesil mengangguk tersenyum.


"Sepertinya ada yang sedang melepas rindu!" ujar Hana ramah, Sesil dan Rafa menoleh serempak. Mereka melihat Hana berdiri tak jauh dari tempat Rafa dan sesil. Sontak keduanya kikuk, seakan sedang terpergok melakukan kesalahan. Hana tersenyum simpul melihat Rafa dan Sesil terkejut. Padahal dia hanya bercanda. Agar suasana tak lagi canggung.


"Tenang saja, aku tidak akan cemburu. Kita bukan anak belasan tahun yang akan cemburu tidak jelas. Malam ini pernikahan putri kita, jadi tidak pantas para orang tua mengingat masa lalu. Apalagi kalian yang sudah berumur!" goda Hana, seketika Rafa dan Sesil tersenyum penuh kelegaan. Mereka takut Hana salah paham dan marah pada Rafa dan Sesil. Padahal semenjak malam itu, Hana secara tulus telah menganggap Sesil saudaranya. Malam dimana Sesil menyerahkan cintanya untuk Rafa.


FLASH BACK

__ADS_1


"Maafkan aku yang datang diantara kalian. Sejujurnya aku pernah mundur dari pernikahan ini. Aku meminta kak Rafa memilihmu, saat itu aku menyadari cinta yang begitu besar diantara kalian. Namun dengan tegas kak Rafa memilihku, meski tak ada cinta diantara kami. Sungguh aku tak pernah ingin menjadi yang kedua diantara kalian. Jika dulu aku mungkin bisa mengalah, tapi hari ini aku tidak mungkin sanggup. Kak Rafa segalanya dalam hidupku. Aku sangat mencintainya. Napasku berhembus seiring kedua mataku melihat wajahnya. Maaf jika aku harus tega melihat air matamu yang mengalir!" sahut Hana lirih.


Sesil tersenyum tipis. Dia menyadari cintanya pada Rafa tidak akan pernah terbalaskan. Rafa dengan tegas dan yakin memilih Hana sebagai pasangan hidupnya. Rafa tidak akan pernah menerima Sesil, meski Sesil menghiba dan bersujud di kaki Rafa. Takkan pernah ada wanita lain dalam hidup Rafa. Hanya akan ada satu nama, sekarang dan selamanya. Nama sederhana dari wanita tanpa kelebihan, Hana Khairunnisa.


"Aku mengatakan semua ini padamu. Bukan berharap belas kasihanmu atau ingin menghiba kembali cinta Rafa. Aku menyadari takkan pernah ada nama Sesil dalam hidup Rafa. Meski kamu hadir atau tidak diantara kami. Rafa tetap akan menjauh dariku. Selamanya dia akan membenciku. Rafa terlanjur terluka dan terhina akan diriku. Aku datang kemari, bukan berharap Rafa iba dan kembali padaku. Aku sengaja datang kemari. Sekadar untuk meluapkan gelisahku. Aku sudah belajar melupakan Rafa. Meski aku sadari sampai detik ini nama Rafa masih melekat dalam benakku. Tempat ini selalu Rafa datangi saat dia gelisah. Aku ingin membuang semua kenangan Rafa. Laut akan membuang semua kenangan Rafa. Angin akan menghembuskan nama Rafa jauh, sampai telingaku tak lagi mendengarnya!" ujar Sesil lirih.


Hana terdiam melihat laut dan langit yang tenggelam dalam gelap dan sepinya malam. Hana mendengar betapa besar cinta Sesil. Rafa sengaja membiarkan Hana dan Sesil saling bicara. Sudah saatnya Hana mengetahui, sejauh mana hubungan Rafa dan Sesil berakhir.


"Aku tidak pernah mengetahui alasan perpisahan kalian. Sebab aku tak memiliki hak apapun untuk mengetahuinya. Satu hal yang ingin aku katakan. Jika memang kamu ingin melupakan kak Rafa. Mulailah membuka diri, lihatlah di sampingmu ada seseorang yang mencintaimu. Jangan abaikan hati tulus orang lain, hanya karena hati kita yang terluka. Percayalah dia mungkin laki-laki yang bisa membuatmu bahagia. Terlihat jelas dari tatapannya yang penuh kecemasan!" ujar Hana.


"Dia memang orang yang selalu ada dalam setiap suka dan dukaku. Meski aku selalu mengacuhkannya, tapi tak pernah dia lelah berada di sampingku. Dia alasanku melupakan Rafa, aku semakin yakin saat aku mendengar betapa baiknya dirimu. Rafa pantas bahagia bersamamu. Aku takkan ada diantara kalian berdua. Malam ini terakhir aku mengingat nama Rafa Akbar Prawira dalam hidupku. Aku akan mencoba hidup kembali. Mengejar kebahagian yang telah lama kuabaikan. Namun ada satu hal yang masih mengganggu pikiranku. Rafa selalu tenang saat berada di sini. Padahal aku tak melihat sesuatu yang bisa membuat kita menjadi tenang. Rafa seakan lupa dunia, ketika berada disini!" ujar Sesil heran, Hana mengangguk. Kedua matanya memandang gelap yang tak pernah berujung. Menelan semua keindahan dalam rasa takut dan sepi.


"Aku memang wanita yang tak pantas untuk Rafa. Hana dengan mudah kamu memahami Rafa saat itu. Apa yang kamu katakan memang benar? Cahaya cintaku kalah oleh gelap hati Rafa. Bintang kecil ini tak mampu mengalahkan gelapnya malam. Sampai akhirnya bintang kecil ini memilih menghilang, mencari langit yang lain. Aku yang meninggalkan Rafa, aku mengkhianati langit gelap yang ingin aku terangi. Namun langit gelapku tak lagi gelap, dia sudah menemukan bulan yang mampu menyinari gelap hatinya. Rafa kini telah menjadi langitmu yang selalu terang dengan cintamu!" ujar Sesil, Hana mengangguk pelan.


Sesil mengangguk ke arah Alfian, seakan memintanya mendekat. Alfian berjalan perlahan menghampiri Hana dan Sesil. Alfian melihat dua wanita yang mengagumi satu laki-laki. Perbedaannya diantara keduanya, hanya satu yang dicintai Rafa.

__ADS_1


FLASH BACK OFF


"Sayang, kamu tidak cemburu. Aku baru saja memuji Sesil. Apa kamu lupa hubungan diantara kami?" ujar Rafa, Hana menggeleng lemah. Rafa hanya bisa pasrah melihat diam dan dingin Hana. Terkadang Rafa merasa, Hana tidak pernah mencintainya.


"Cemburuku bukan untuk wanita yang tulus mencintaimu. Tanpa berpikir ingin merebutmu dariku!" tutur Hana, Rafa mengangguk mengerti. Rafa sudah menduga jawaban Hana akan seperti itu.


"Kalian berdua, bersyukurlah bila Vania dan Davina cemburu melihat kalian bersama wanita lain. Sebagai seorang laki-laki, kecemburuan wanita akan membuat kalian merasa bahagia. Sebab dengan cemburu, kalka bisa melihat besar cinta mereka!" ujar Rafa pada Faiq dan Raihan, sontak keduanya melongo mendengar perkataan Rafa.


"Papa sedang bercanda!" sahut Faiq, Rafa menggeleng. Hana tersenyum melihat Rafa yang sedang berkeluh kesah pada Faiq.


"Lantas kenapa papa bicara seperti itu?" sahut Raihan.


"Jangan pernah sepertiku yang tak pernah melihat rasa cemburu Hana. Bahkan malam ini saat aku bertemu mantan terindah. Hana hanya tersenyum tanpa berpikir cemburu. Sungguh aku merasa dicintai, tapi tak dihargai!" ujar Rafa sembari menggelengkan kepala.


"Tapi terkadang para laki-laki merasa. Kecemburuan istrinya hanya omong kosong dan amarah yang tidak jelas. Mereka selalu menyepelekan cemburu seorang istri. Hanya demi harga diri dan nama baik!" sahut Vania ketus. Seketika Raihan menoleh, dia menelan ludahnya kasar. Amarah Vania belum reda sepenuhnya. Malam ini sengaja Rafa menyalahkan amarah yang mulai padam.

__ADS_1


"Sayang!" ujar Raihan, Vania diam mengacuhkan Raihan.


__ADS_2