
"Aku menyayanginya, bahkan setelah bertahun-tahun aku menjauh. Hatiku tidak hanya sakit, tapi hancur bila melihatnya bersama laki-laki lain. Namun diamku bukan rasa takut atau lemahku. Tapi diamku cara menyayanginya. Aku menyayanginnya, tanpa aku berharap memilikinya. Aku mencintainya, tanpa rasa takut kehilangan dirinya. Sebab dia selalu ada dalam hatiku, menemani setiap langkahku. Dia bukan barang yang pantas aku perebutkan. Karena Dia jauh lebih berharga dari diriku sendiri. Dia tidak perlu diperjuangkan, karena rasaku tulus tanpa berharap bisa bersamanya. Aku menghargainya dengan segenap hatiku. Sebab itu hanya pada kak Fathan aku mempercayakan dirinya!" tutur Faiq, Annisa mengangguk mengerti.
"Tapi aku ingin kamu perjuangkan!" ujar Davina lirih, dia berdiri tak jauh dari Annisa dan Faiq duduk. Sejak awal Davina mendengar permbicaraan kedua dokter muda berbakat tersebut. Sengaja Davina tetap diam, agar dia bisa mendengar suara hati Faiq. Kejujuran Faiq akan rasa cinta padanya. Ketulusan hati Faiq akan dirinya. Sesuatu yang tersimpan rapat dalam dingin sikap dan hati Faiq. Davina merasa Faiq mencintainya, tapi dia melepas cintanya demi kebahagian sang mama. Faiq tidak ingin melihat Hana terluka, tapi merasa benar dengan melukai hati Davina.
"Davina, kamu kenapa diam disitu? Mendekatlah kemari, aku sudah selesai bicara dengan dokter Faiq!" ujar Annisa lirih, Davina diam mematung. Tatapannya mengunci wajah Faiq. Davina berharap bukan Annisa yang memintanya mendekat, tapi Muhammad Faiq Alhakim. Sosok yang selalu dia impikan dalam tidur. Wajah yang selalu terbayang dalam sujud. Nama yang ada dalam doa malam Davina. Sosok yang selalu Davina dambakan menjadi imam dunia akhiratnya.
Davina termangu menatap Faiq yang terus diam tanpa menoleh padanya. Faiq seakan tak melihat atau mendengar suara Davina. Sikap dingin yang selalu Davina terima. Namun sikap dinginnya, tak sesakit ucapan selamat Faiq padanya. Ucapan selamat atas perjodohannya dengan Fathan. Sebuah ucapan yang seolah ingin mengatakan pada dunia. Bahwa Faiq tidak pernah mencintainya. Rasa sakit yang tidak akan pernah bisa Davina lupakan dengan mudah. Seandainya Faiq tidak menunjukkan rasa bahagianya atas perjodohan ini. Mungkin Davina tidak akan merasa sesakit ini.
"Aku mungkin tidak berhak duduk disana. Dia tidak berharap aku duduk disampingnya. Mungkin dalam hatinya dia tidak pernah berharap bertemu denganku. Bukankah dokter Annisa mendengar sendiri. Dia laki-laki yang mencintaiku, tapi dia juga yang memintaku hidup bersama laki-laki lain. Dia merasa keputusannya paling benar dan akan membuat semua orang bahagia. Namun dia lupa, cinta itu anugrah yang ada dihati setiap insan. Bukan kita yang memilih cinta itu ada untuk siapa? Hanya hati yang memutuskan pada hati yang mana cinta akan mengikat. Namun teman anda dengan mudahnya menyerahkan cintanya. Tanpa ingin memperjuangkan diriku. Dia menganggap aku lebih berharga darinya, tapi dia menghinaku dengan sikapnya. Aku tidak lebih dari sebuah barang yang bisa dia berikan pada orang yang dia kehendaki!" ujar Davina lirih penuh emosi kesedihan. Annisa menunduk memahami setiap perkataan Davina. Sebuah pemikiran yang berasal dari hati. Sebuah luka yang teekuak dalam amarah. Annisa bisa mengerti rasa sakit Davina.
Seketika berkas yang dia pegang terjatuh. Tubuh Davina mulai bergetar, kedua matanya terasa panas. Air mata yang tersimpan rapat. Memaksa untuk keluar. Berharap semua bisa selesai dengan air mata yang jatuh. Davina mulai sesegukan. Dia merasa hatinya sangat perih, dadanya terasa sesak. Tatapan Davina mengunci Faiq yang tetap diam mematung. Tak ada simpati yang Davina lihat. Hanya sosok dingin tak berhati yang mengacuhkan rasa cintanya.
Annisa menghampiri Davina. Dia memeluk tubuh wanita mungil berhijab. Davina layaknya adik bagi Annisa. Dengan hangat Annisa memeluk tubuh Davina. Memberikan semangat dan kehangatan seorang kakak. Annisa menuntun Davina duduk tepat disamping Faiq.
"Davina, apapun pikiranmu tentang dokter Faiq tidak salah dan juga tidak benar. Dia memutuskan melupakan rasanya untukmu. Bukan semata karena sikap egoisnya. Namun ada keinginannya untuk melihatmu bahagia. Dia bukan menyerah akan rasanya padamu. Dokter Faiq menyerahkan semua yang terjadi pada kehendak-NYA. Jika memang kamu ingin bicara dengan dokter Faiq. Bicaralah dengan pikiran tenang. Posisikan dirimu dengan cara pikirnya. Saat itu kamu akan memahami perhatiannya dan sayangnya padamu. Aku akan pergi, aku harus bertemu yang lain untuk berpamitan!" ujar Annisa, Faiq menoleh dengan mengangguk pelan. Davina melihat wajah Faiq dari dekat. Pandangan yang sejak tadi ingin dilihatnya, tapi Faiq tidak menoleh sedikitpun padanya. Davina menunduk lesu, dia sudah tak mampu lagi mengerti Faiq. Dia benar-benar tidak mengerti cara Faiq mencintainya. Hanya rasa sakit yang Davina rasakan. Tidak ada bahagia meski hanya sekejap. Faiq menghancurkan harapan dan kebahagiaannya. Dia merasa tak pantas menjadi bagian hidup Faiq.
__ADS_1
"Minumlah, agar kamu tenang. Hapus air matamu, aku tidak ingin orang lain berpikir aku yang menyakitimu. Lagipula kamu sudah dewasa, menangis hanya untuk anak kecil yang kehilangan mainannya. Sedangkan aku bukan mainan yang pantas kamu tangisi!" ujar Faiq dingin dan santai. Tak ada beban atau rasa bersalah dari wajah Faiq. Davina menerima botol air mineral yang diberikan Faiq. Dengan sesegukan Davina meminum air mineral yang Faiq berikan. Suara serak Davina seakan menandakan rasa sakit yang ditorehkan Faiq. Entah kenapa hati Faiq begitu dingin? Dia tidak peduli akan tangis Davina. Faiq seolah robot tak berhati. Davina tak mampu lagi menghiba. Hanya dengan tangis, Davina ingin mengatakan pada Faiq. Selamanya cinta Davina hanya untuk Faiq.
"Muhammad Faiq Alhakim, kenapa hatimu keras seperti batu? Aku menangis karena dirimu. Hatiku sakit melihat sikapmu, tapi sekarang dengan santainya tanpa rasa bersalah. Kamu malah memintaku diam, seolah kamu tidak pernah menyakitiku. Sungguh tega kamu, hatimu dingin dan beku. Sedikitpun kamu tidak memikirkan diriku. Aku menangisi dirimu, bukan karena kamu mainan untukku. Aku menangisimu, karena aku tidak rela tubuhku disentuh dan bersanding dengan laki-laki lain. Aku hanya ingin dirimu pemilik hati dan tubuhku. Kenapa kamu begitu tidak berhati? Aku memohon padamu, berjuanglah mempertahankan diriku. Kebahagianku hanya bersamamu, aku mohon!" ujar Davina lirih sembari sesegukan. Faiq menghela napas panjang, dia bingung memikirkan jalan yang terbaik untuk rasa cintanya. Dia tidak mungkin menentang Hana. Seandainya Hana yang membatalkan perjodohan diantara Fathan dan Davina. Mungkin Faiq akan berjuang mendapatakan Davina. Faiq tidak akan selemah ini, jika bukan Fathan laki-laki yang dijodohkan dengan Davina.
"Davina, dengarkan aku baik-baik. Setelah itu terserah padamu. Akan terus bersamaku atau kubur jauh-jauh harapanmu bersamaku!" ujar Faiq lirih, Davina menoleh pada Faiq. Dia melihat sikap Faiq yang tiba-tiba menghangat. Davina mendengar suara Faiq jauh lebih lembut dan penuh kasih sayang. Sedikit Davina merasa Faiq menyayanginya.
"Katakanlah, setidaknya aku akan mengetahui isi hatimu. Dengan begitu aku bisa menilai, kamu mencintaiku atau hanya ingin mempermainkanku!" sahut Davina tegas, Faiq mengangguk pelan. Faiq berdiri tak jauh dari Davina. Faiq melihat taman rumah sakit yang mulai penuh dengan pengunjung. Davina hanya bisa melihat punggung sang pujaan hati. Tanpa berpikir ingin memeluk atau memilikinya. Perjodohan antara dirinya dengan Fathan membuat semua impiannya berakhir.
"Davina, gadis berhijab peneduh pandanganku yang kuharapkan menjadi penyempurna agamaku. Aku memutuskan menyerah akan rasa cinta ini. Semata bukan untuk melukaimu dan juga bukan karena aku ragu akan dirimu. Namun aku mengakhiri semua rasa ini. Hanya agar aku bisa memahami. Sejauh mana rasa ini ada untukmu. Sekuat apa cintaku mengikat hatimu? Aku memutuskan pergi menjauh berharap, semua rasa musnah saat aku kembali. Agar tak ada lagi kebimbangan yang akan aku rasakan. Namun aku salah, cinta ini terlalu kuat. Sampai saat aku kembali, hatiku masih terpaut padamu. Aku terus diam berharap semua ini berakhir, tapi dalam diamku ada doa yang terus menyebut namamu. Berharap perjodohanmu dengan Fathan berakhir. Tanpa aku harus menyakiti mama atau Fathan. Jika memang kamu yakin aku imam terbaik untukmu. Maka percayalah semua akan baik-baik saja. Aku bukan laki-laki yang hangat dan romantis. Namun aku bukan laki-laki pendusta yang akan mempermaikan hati seorang wanita. Meski bukan dirimu makmumku, aku tetap menyimpan namamu dalam lubuk hatiku. Sebab dirimu wanita yang membuatku merasa bahagia dan berarti!" ujar Faiq, Davina tertunduk lemah. Dia sudah menduga Faiq akan tetap teguh menyimpan rasanya.
"Kapan kamu akan berjuang demi diriku?"
"Aku akan menunggu jawaban atas keyakinan dan ketulusan cintaku. Meski kamu bukan laki-laki hangat dan romantis. Namum hati dan jiwaku merasa hangat saat bersamamu. Kamu imam yang terbaik. Jangan pernah tersenyum pada orang lain. Sebab semyum itu hanya untukku, termasuk dokter Annisa!" sahut Davina kesal, Faiq menoleh dengan raut wajah heran.
"Sudah kukatakan cemburu hanya untuk orang yang tidak percaya. Dan aku paling tidak suka bila diragukan!" ujar Faiq dingin, Davina menangkupkan kedua tangannya memohon maaf. Dia tidak berharap hubungan yang menghangat kembali membeku.
__ADS_1
"Faiq, jika memang kamu bersedia menikah dengan Davina. Menikahlah dengannya, bahagiakan dia. Mama akan merestui hubungan kalian. Namun dengan syarat, Fathan harus menikah lebih dulu darimu. Jadi kalian harus bersabar atau membantu Fathan menemukan jodohnya!" ujar Hana, Faiq dan Davina menoleh. Mereka melihat Annisa berdiri berjejer dengan Hana. Faiq tersenyum lalu menghampiri Hana. Dia memeluk Hana erat, sebagai ungkaoan rasa terima kasih. Sebab penantiannya telah berakhir.
"Kak Fathan tidak perlu mencari, sebab ada dokter Annisa disini. Namun kak Fathan harus berjuang keras dan cepat. Dokter Annisa akan pergi malam ini. Kemungkinan dia tidak akan kembali!" sahut Davina dengan senyum sangat manis.
"Annisa, kenapa pergi lagi? Apa salah mama? Sampai kamu akan pergi meninggalkan mama!" ujar Hana lirih, Annisa mendekat pada Hana.
"Annisa harus pergi, sebab tidak ada alasan Annisa untuk tetap tinggal. Rumah Annisa bukan disini, semua sudah berjalan sangat baik tanpa Annisa. Jadi biarkan Annisa pergi!" ujarnya lirih, Hana terdiam menatap wajah sang putri. Dia harus bisa merelakan Annisa pergi. Bukan haknya mencegah Annisa untuk tidak pergi.
"Kamu tidak akan pergi. Sebab aku alasanmu tinggal. Aku menagih janji yang kamu ucapkan malam itu. Kita akan pergi ke masjid itu dengan status sebagai suami istri!" sahut Fathan, Annisa menggeleng lemah.
"Kita berbeda, kamu pantas mendapatkan yang lebih baik dariku!" ujar Annisa, Fathan mendekat pada Annisa dan Hana.
"Annisa tidak ada yang berbeda diantara kita. Aku bukan laki-laki sempurna tanpa makmum sepertimu. Aku tidak bisa menjanjikan kebahagian, tapi denganmu aku bisa bahagia. Setiap alasanmu tidak berarti untukku. Sebab kelemahanmu akan membuatku merasa dibutuhkan. Kita akan saling melengkapi, kecuali kamu tidak bisa menerimaku. Maka dengan hati lapang aku akan mundur!"
"Maafkan aku Fathan, sungguh aku tidak bisa bersamamu. Kita tidak akan sama dan selamanya kita berbeda!" ujar Annisa, Fathan mengangguk mengerti. Annisa berjalan menjauh, hijab panjangnya melambai tertiup angain. Fathan tertegun menatap punggung sang pemilik hati.
__ADS_1
"Tidak mudah mendapatkan wanita seperti mamamu. Butuh kesabaran dan hati yang sangat luas, karena itu berjuanglah demi mendapatkannya. Ketahuilah, papa dan mama tidak bertemu untuk terpisah. Maka dari itu, papa berjuang demi bisa bersamanya. Berjuanglah, kamu pantas mendapatkan Annisa!" bisik Rafa pada Fathan, Hana dan Faiq tersenyum. Sebuah keluarga yang saling mendukung jelas terasa. Rafa selalu ingin melihat kedua putranya berjuang untuk cinta. Rafa akan mendukung, pada siapa cinta putranya berlabuh? Rafa tidak akan menghalangi, walau cinta itu ada untuk wanita biasa.
"Annisa Maulida Zahro, menjauhlah sekuat langkah kakimu. Aku akan terus mengejarmu. Bukan ingin memaksa, tapi demi keyakinan hatiku. Jika kamu makmum yang tercipta untukmu. Aku percaya hatimu akan terketuk dengan perjuanganku. Aku tidak akan meminta cinta padamu. Aku akan meminta restu dari Allah SWT. Sebab DIA yang berhak akan dirimu. Aku tidak akan meminta izin darimu, tapi aku akan mengemis pada om Naufal. Sebab dia wali di dunia untukku. Annisa, aku bukan laki-laki yang terbaik. Namun aku bisa memastikan cintaku untukmu yang paling tulus. Aku akan datang pada keluargamu. Aku buktikan kesungguhan cintaku. Aku akan menjadikanmu milikku seutuhnya. Aku berjanji, kita akan sholat berjamaah ketika kita bersatu dalam katan suci pernikahan!" batin Fathan, tubuh Annisa sudah tidak terlihat. Namun keyakinan dan kepercayaan Fathan sangat nyata dan kuat.