KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Nyaman dan Cinta itu Beda


__ADS_3

Dua hari sudah Hana dan Rafa di pesantren. Selama disana mereka banyak melakukan kegiatan. Khusus hari ini akan ada pertemuan para alumni santri yang dulu satu angkatann dengan Rafa. Mereka sebagian yang masih aktif mengunjungi pesantren dan kebetulan masih kontak dengan Rizal atau Mila. Sengaja diadakan pertemuan hari ini, sebab kebetulan ada Rafa.


Pertemuan akan diadakan di aula pesantren. Sebagian dari mereka ada yang belum pernah mengunjungi pesantren. Meski mereka mengenal Rafa melalui mejalah atau media sosial lainnya. Mereka tidak bisa menyapa atau menghampiri Rafa. Pribadi Rafa yang tertutup, membuat mereka hanya sekadar mengetahui nama tanpa bisa mengenal lebih jauh. Hari ini saat sebagian mendengar akan ada perbaikan pesantren yang sebagian besar ditanggung Rafa. Para alumni antusias ingin bertemu Rafa, sekadar ingin menyapa.


"Sayang, kamu sudah siap. Mungkin anak-anak sudah banyak yang datang. Kita berangkat sekarang!" ujar Rafa, Hana menggeleng lemah. Entah kenapa Hana merasa rendah diri diantara para penghuni pesantren? Ada rasa yang tak biasa, seolah ada sepasang mata yang selalu mengawasi semua gerak-geriknya. Hana merasa tak nyaman ditengah lingkungan yang tak pernah dia tempati.


Hana bukan seorang santri, tapi orang tuanya mendidik Hana dengan agama. Semenjak kepergian orang tuanya. Hana kehilangan pegangan, ada kekosongan yang begitu besar dalam hidupnya. Jika biasanya ayah sendiri yang mengajari dia mengaji. Seketika semua berakhir, terenggut dari tangannya. Belaian kasih sayang sang ibu yang selalu menemani hari-harinya. Semua musnah dalam sekejap mata. Menjauh dan hilang dari hidupnya. Suratan takdir mengambil kedua orang tuanya dalam satu waktu. Hari dimana Hana kehilangan orang tuanya. Menjadi hari yang takkan pernah mampu dia lupakan.


Hari ini akan diadakan pertemuan para santri. Sebagian besar mereka memiliki pengertian ilmu agama diatas dirinya. Sebagai seorang manusia biasa, Hana merasa rendah diri. Hana seakan tak mampu berdiri diantara orang-orang yang mengerti agama. Termasuk Rafa yang sangat memahami agama jauh diatasnya. Kebimbangan Hana tak pernah diketahui Rafa. Hana menutup kegelisahannya dengan sangat baik. Tak pernah Hana berpikir ingin membuat Rafa cemas.


"Kak Rafa, berangkat lebih dulu. Aku akan menyusul bersama Fathan. Takutnya aku masih lama bersiap. Aku tidak ingin kak Rafa terlambat. Setelah sekian tahun tidak bertemu, tentu banyak yang ingin kalian bicarakan. Sebaiknya kak Rafa berangkat sekarang!" ujar Hana lirih, Rafa mendekat pada Hana. Dia menarik tubuh Hana, kedua mata mereka bertemu di udara. Rafa menatap wajah Hana lekat. Mencari kegelisahan Hana yang tersimpan dalam penolakannya. Rafa menangkup wajah Hana dengan kedua tangannya. Seketika Hana melepaskan tangan Rafa. Dia tidak ingin Rafa mengetahui kegelisahannya.


"Sayang, apa yang sedang kamu pikirkan? Katakan padaku, sejak semalam sikapmu aneh. Jika kamu merasa tidak nyaman disini. Sekarang juga kita pulang, aku akan berpamitan pada Rizal dan abi Malik. Aku merasa kamu sedang gelisah, ada yang mengganggu pikiranmu!" ujar Rafa, dia berjalan menjauh dari Hana. Sontak Hana menahan tangan Rafa, Hana menggeleng lemah. Hati Rafa semakin gelisah melihat Hana yang bersikap aneh. Hana mungkin pendiam, tapi dia bukan tipe pribadi yang mampu menyimpan sebuah rahasia. Kegelisahan Hana mampu ditangkap Rafa dengan mudah.


Rafa menarik tubuh Hana ke dalam pelukannya. Rafa mencium puncak kepala Hana lembut. Dia mendekap Hana, menyandarkan kepala Hana pada dada bidangnya. Rafa mengusap kepala Hana berkali-kali dengan lembut. Seakan ingin menghilangkan kegelisahan hati Hana. Sebaliknya Hana menerima setiap perlakuan Rafa dengan dingin. Hana terdiam tanpa berpikir ingin membalas pelukan Rafa. Hana menutup mata merasakan dekapan hangat Rafa.


Kecurigaan Rafa semakin besar. Sikap Hana berbeda saat kemarin pagi. Entah apa yang membuat Han cemas? Rafa sendiri seolah tidak pernah mengerti. Kegelisahan Hana ibarat sebilah pisau yang mengiri hati Rafa. Gurat rasa cemas Hana, ibarat garam di atas lukanya. Meninggalkan rasa perih, yang tak mampu Rafa katakan. Seperti itulah hati Rafa kini, dia merasakan sakit tapi tak mampu mengatakan sesakit apa hatinya?


"Sayang, kita pulang sekarang. Apapun yang kamu rasakan sekarang? Aku sudah tidak sanggup melihatnya. Aku yang salah telah membawamu kemari. Seharusnya aku sadar, hidup dilingkungan yang tak pernah kita tahu itu tidak mudah. Meski hanya beberapa hari, semua akan terasa sulit bila sedari awal ada rasa nyaman!" tutur Rafa, Hana menggeleng lemah. Dia mendongak menatap Rafa, wajah sang suami yang terlihat tampan dan meneduhkan. Ketenangan yang dimiliki Rafa yang sangat diharapkan oleh seseorang. Rasa cemburu mungkin salah, tapi naluri seorang wanita yang perasa. Seakan jalan sebuah rasa rendah diri dan cemburu menguasai hati dan pikirannya.


"Kak Rafa, aku baik-baik saja. Pergilah lebih dulu, aku akan menyusul bersama Fathan. Mereka datang untuk bertemu denganmu. Jangan menjadi pribadi yang sombong. Mengacuhkan mereka bukan sikap yang sopan. Temuilah, aku akan datang!" ujar Hana seraya mengedipkan mata, tanda dirinya baik-baik saja. Rafa mengangguk ragu, jauh dilubuk hati Rafa. Dia tidak ingin meninggalkan Hana sendirian. Pesantren bukan tempat tumbuh Hana. Suasana asing jelas dirasakan Hana. Rafa cemas ada sesuatu yang mengganjal hati.


"Baiklah aku pergi, jika kamu tidak datang. Aku akan kembali, kita langsung pulang!" ujar Rafa tegas, Hana mengangguk lemah. Rafa meninggalkan Hana bersama Fathan di kamar. Hana menatap punggung Rafa yang mulai menjauh.

__ADS_1


"Betapa beruntungnya diriku menjadi istrimu. Disaat wanita lain berharap menjadi makmummu. Dengan tegas kamu menolak dan yakin menggenggam tanganku. Kamu memahamiku dengan hati. Kamu mencintaiku dengan hati. Kamu melindungiku dengan hati. Sebuah hati yang tersemat namaku di dalamnya. Sebuah hati yang sepenuhnya memilihku. Sebuah hati yang tak ingin aku menjauh. Sebuah hati yang mencintaiku dengan tulus. Terima kasih telah mencintaiku, hati dan cintamu anugrah terindah untukku. Terima kasih!" batin Hana.


Setelah Rafa pergi, Hana mulai bersiap. Dia akan tetap pergi meski merasa tidak nyaman. Hana akan mampu merasa nyaman selama ada Rafa disampingnya. Rasa nyaman Hana hanya ada dalam dekapan sang suami. Kegelisahan Hana hari ini bukan tanpa alasan. Semua berawal dari permbicaraan umi Salwa dan Mila yang tanpa sengaja didengar Hana. Fakta yang kini jelas diketahui Hana.


Hana duduk disamping tempat tidur, menatap Fathan yang terlelap. Tiba-tiba Fathan menangis, Hana memberikan Fathan ASI. Hana tidur di samping Fathan, sembari mengingat pembicaraan umi Salwa dan Mila. Pembicaraan akan keraguan dirinya sebagai istri Rafa Akbar Prawira.


FLASH BACK


"Mila, suara merdu Rafa tidak berubah. Suara adzan yang mempu membuat seseorang menangis. Suara yang menggetarkan hati, mengajak kita untuk datang ke masjid untuk berjamaah!" ujar umi Salwa, Mila mengangguk pelan. Terdengar suara adzan dari speker masjid, suara seorang Rafa Akbar Prawira. Suara yang menggetarkan hati bagi yang mendengarnya. Hana tak pernah menyangka jkka itu suara Rafa. Awalnya dia berpikir itu suara salah satu santri. Sampai saat Hana tanpa sengaja mendengar pembicaraan umi Salwa dan Mila. Saat itu Hana baru sadar, jika itu suara Rafa.


"Iya umi, suara yang sama dan nada yang sama. Tidak berubah meski sudah bertahun-tahun. Seruan untuk mendekatkan diri yang begitu menggetarkan hati. Mampu menenangkan jiwa yang mendengarnya!" ujar Mila, umi Salwa mengangguk sembari menepuk tangan Mila. Suara adzan yang membuat hati Mila terpaut. Inilah hati yang memilih karena Allah SWT.


"Mila, seandainya saat itu umi dan abi menerima pinangan Rafa untukmu. Tentu hari bukan Hana yang menjadi istrinya, tapi kamu yang akan menjadi makmumnya. Umi dulu berpikir usia kalian masih muda. Jadi tidak akan ada masa depan dalam pernikahan kalian. Maafkan keputusan umi yang akhirnya membuatmu terluka melihat kebahagian Rafa!" tutur umi Salwa, Mila menggeleng lemah. Mila tersenyum memandang umi Salwa. Seorang bibi yang sudah seperti ibu kandungnya. Mila sudah sebatangkara sejak kecil. Dia diasuh oleh orang tua Rizal sejak kecil.


"Umi Salwa semua itu hanya masa lalu. Hana wanita yang baik, dia pantas bersanding dengan kak Rafa. Mereka pasangan yang saling melengkapi, tidak ada alasanku untuk kecewa melihat kebahagian kak Rafa. Aku masih bisa mendengarkan suara adzan kak Rafa sudah lebih dari cukup. Suara adzan kak Rafa yang membuatku terpaut. Maka kelak akan ada suara adzan lain yang mampu menggetarkan hatiku. Umi Salwa doakan Mila, agar kelak aku bahagia bersama orang lain!" ujar Mila, umi Salwa mengangguk pelan.


"Mungkin Hana orang yang baik dan taat, tapi ilmu agama Hana jauh dibawah Rafa. Meski Rafa pernah khilaf, tapi selama 6 tahun disini. Rafa menjadi santri terbaik, semua orang mengakui kepintarannya diatas semua santri. Termasuk Rizal putra umi sendiri. Sekali lagi maafkan umi Salwa yang tanpa sengaja menjauhkanmu dari kebahagian!" ujar umi Salwa, Mila tersenyum simpul. Jantung Hana berdetak hebat mendengar kata per kata dari umi Salwa. Perkataan yang membuka mata hatinya, bahwa Hana seolah tak pantas untuk Rafa.


Detik itu juga Hana merasa rendah berada diantara orang berilmu. Jika itu ilmu dunia, mungkin Hana akan merasa biasa. Namun mereka orang-orang yang mengerti agama. Hana terdiam terkejut mendengar pendapat umi Salwa tentangnya. Namun seperti apapun pendapat orang. Pernikahan Rafa dan Hana bukan tergantung perkataan mereka. Namun semua tergantun cinta diantara keduanya. Saling pengertian dan saling menghormati.


"Umi, kak Rafa sangat mencintai Hana. Kebahagian kak Rafa hanya bersama Hana dan putranya. Sangat tidak pantas kalau kita meragukan kesungguhan kak Rafa. Kita harus memahami, jodoh sudah diatur. Tidak akan tertukar, setiap insan memiliki jodoh. Jadi jangan sampai umi membenci Hana, karena melihatnya bahagia bersama kak Rafa. Hana alasan kak Rafa bahagia!" ujar Mila, umi Salwa mengangguk mengerti. Dengan kedua matanya dia melihat kebahagian Rafa dan Hana. Di depan semua orang, Rafa dan Hana tidak malu menunjukkan kedekatan mereka. Apa yang dikatakan Mila sangat benar. Sungguh tidak pantas, jika ada yang meragukan Hana untuk Rafa.


FLASH BACK OFF

__ADS_1


"Sayang, siang ini kita pulang. Aku sudah berpamitan pada Rizal dan abi. Apapun yang kamu dengar, aku tidak akan memaksamu mengatakannya. Aku sudah bisa mendengarnya dari tatapan dan kegelisahanmu. Satu getaran tanganmu saat memegangku tadi. Sudah mampu membuatku melihat kecemasan dalam hati dan pikiranmu!" bisik Rafa sembari memeluk Hana dari belakang. Rafa berbaring tepat disamping Hana. Tangan kekarnya memeluk Hana dan Fathan sekaligus. Hana yang semula terpenjam, terkejut saat merasakan ada tangan yang sedang memeluknya.


"Kak Rafa, kenapa kembali kemari? Aku akan datang, tapi Fathan menangis. Sungguh aku tidak berbohong!" ujar Hana, Rafa mengangguk sembari menempelkan kepalanya pada tengkuk Hana. Rafa mampu mencium harum rambut Hana, meski terhalang hijab. Desiran hangat mengalir dalam nadi Rafa. Gemetar tangan Hana sudah tidak terasa oleh Rafa. Artinya dugaannya benar, ada yang sengaja disembuyikan Hana darinya.


"Sayang, bersiaplah kita akan pulang. Tugasku sudah selesai, tidak ada alasanku untuk tetap berada disini. Aku tidak ingin melihatmu tersiksa akan kondisi ini. Aku hidup disini selama 6 tahun. Kulalui hari-hariku bersama Rizal dan Mila. Setiap sudut pesantren ini menyimpan kenangan kami bertiga. Sebuah kenangan yang takkan mampu aku hilangkan. Salahku yang membawamu datang kemari, yang pada akhirnya akan membuatmu cemburu!" tutur Rafa, Hana diam membisu. Bukan membenarkan atau menyalahkan perkataan Rafa. Hana sedang mencari letak kesedihan, yang Hana sendiri tidak tahu.


"Kak Rafa, bolehkah aku bertanya!"


"Hmmm!"


"Keyakinan apa yang ada padamu? Saat diusia remaja kamu berpikir ingin menikah dengan Mila. Sebuah keputusan besar sekali seumur hidup, dengan memilih Mila sebagai pasangan hidupmu!" tutur Hana lirih, Rafa membalik badannya. Dia menarik tubuh Hana dalam dekapannya. Rafa menjadikan tangannya sebagai bantal untuk Hana. Sebaliknya Hana merangkul tubuh Rafa. Meletakkan kepalanya tepat di dada sang suami. Hana mampu mendengar suara detak jantung Rafa. Suara detak jantung yang indah untuk Hana.


"Dugaanku benar, ada yang sedang mengganjal pikiranmu. Baru saja kamu mengatakan dengan jelas kegelisahanmu. Ternyata ada yang mengungkit pinanganku pada Mila dulu. Aku akan jujur padamu sayang, aku tidak akan membiarkan pikiranmu semakin liar. Akan kutegaskan, posisi Mila dulu dan sekarang dihatiku!" batin Rafa sesaat setelah mendengar pertanyaan Hana.


"Sayang, aku sudah mengatakan selama disini. Aku menghabiskan hari-hariku bersama Rizal dan Mila. Tak ada waktu yang terlewat tanpa mereka. Semua orang yang ada di keluarga abi Malik menganggapku sudah seperti saudara. Ada rasa nyaman yang kurasakan setiap kali bersama Mila. Pribadi Mila yang tangguh membuatku kagum. Hidupnya yang sebatang kara, membuatku berpikir ingin melindunginya. Aku meminangnyq dengan dua alasan itu. Nyaman dan rasa tanggungjawab, anehnya semua rasa itu hambar saat keluarganya menolak pinanganku. Saat itu aku sadar, yang kurasakan pada Mila. Hanya sebuah rasa nyaman dan mungkin sebuah tanggungjawab sebagai seorang kakak. Tak ada rasa cinta seperti yang kurasakan padamu!"


"Kak Rafa, maaf aku sempat meragukanmu!"


"Aku mencintaimu sejak pertama melihatmu. Wanita berhijabku yang sederhana! Lagipula nyaman dan cinta itu beda, tidak akan pernah sama." ujar Rafa mencium erat puncak kepala Hana. Rafa mendekap erat Hana, sedangkan Hana menenggelamkan kepalanya pada Rafa.


"Sayang, apa sekarang Fathan sudah bisa memiliki adik?"


"Kak Rafa!" teriak Hana kesal, Rafa terkekeh mendengar kekesalan Hana.

__ADS_1


...☆☆☆☆☆...


__ADS_2