KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Rapat


__ADS_3

Hampir satu jam, Raihan mengemudikan mobilnya. Akhirnya mereka sampai di sebuah gedung pencakar langit. Sejak masuk ke dalam mobil Raihan. Tak sepatah katapun keluar dari bibir Vania. Dia tidak berbicara atau menoleh pada Raihan. Kekesalannya masih berlanjut, meski dia telah bersedia ikut dengan Raihan. Namun Vania masih sangat kesal pada Raihan. Dengan tubuh enggan dan setengah hati. Vania ikut dengan Raihan. Selama ini Vania tidak pernah peduli atau sekadar bertanya apa pekerjaan Raihan? Vania seolah tak peduli pada pekerjaan Raihan. Bahkan terkesan acuh akan kerja keras Raihan selama ini.


Pertama kalinya setelah menikah Vania ikut Raihan berkerja. Meski Vania sedikit banyak mengerti bidang usaha yang digeluti Raihan. Namun entah kenapa Vania seolah tak peduli akan semua itu? Terkadang Raihan merasa tak berarti di depan Vania. Ketika Vania tak peduli pada dirinya.


Tak berapa lama, asisten Raihan datang membuka pintu mobil, untuk sang majikan. Namun saat ingin membuka pintu satunya. Pintu mobil terlanjur terbuka, Vania turun dengan kekesalan yang sama. Raihan bingung menghadapi sikap diam dan dingin Vania. Memang sejak dulu Vania selalu dingin, tapi kali ini berbeda. Dalam dingin Vania tersimpan amarah yang tak dapat diartikan. Raihan benar-benar kewalahan menghadapi kecemburuan Vania. Meski semua ini disebabkan hormon yang tidak stabil. Raihan tetap saja bingung dan stres bila melihat sikap dingin Vania.


Raihan hanya bisa diam mengikuti amarah Vania. Satu kali saja Raihan menyangkal, bukan selesai perselisihan mereka. Namun akan ada lagi dan lagi kesalahpahaman yang terjadi. Jadi jauh lebih baik bagi Raihan untuk tetap diam. Setidaknya sampai amarah Vania mereda. Kesabaran Raihan benar-benar diuji saat Vania bersikap seperti ini.


Raihan berjalan menuju ruang rapat. Beberapa asistennya mengekor di belakangnya. Sedangkan Vania berjalan tepat di sampingnya. Namun dengan posisi sedikit menjauh dari Raihan. Vania menolak saat Raihan menarik tangannya. Vania menepis tangan Raihan, saat Raihan mencoba memeluknya. Lagi dan lagi Raihan hanya bisa pasrah. Melihat sikap Vania yang jauh dari pribadinya yang lemah lembut. Vania masih marah, jika dia bisa memilih. Vania tidak ingin datang ke tempat ini. Jika bukan Faiq yang memintanya. Vania tidak akan ikut dengan Raihan.


"Raihan, apa kabar kamu? Akhirnya setelah sekian lama, kita bisa bertemu. Apalagi kita bisa melakukan kerjasama ini!" cecar Sovia, sembari memeluk Raihan erat. Vania menatap keduanya dengan tatapan tajam.


Raihan berusaha meronta, tapi terlambat bagi Raihan. Vania terlanjur marah dan cemburu. Kini tidak ada lagi jalan Raihan berdamai dengan Vania. Sofia seolah memercikkan api di atas bensin. Seketika Vania berjalan menjauh dari Raihan dan Sofia. Raihan semakin frustasj melihat Vania yang terus diam dan semakin dingin.


Sovia tidak memberikan waktu Raihan melepaskan diri. Setidaknya dia mengenalkan orang yang sedang bersamanya. Raihan menoleh melihat Vania, dengan rasa takut yang teramat. Raihan meronta melepaskan pelukan Sovia. Namun usahanya seakan tak berhasil. Ketika Sofia semakin mengeratkan pelukannya. Bisa saja Raihan memberontak, tapi Sofia hanyalah wanita yang tidak pantas diperlakukan kasar.


Raihan melepaskan diri sekuat tenaga, bahkan Sovia sampai mundur beberapa langkah. Raihan benar-benar kalut melihat tatapan membunuh Vania. Bukan tanpa sebab Raihan kalut. Kondisi Vania yang tengah hamil, bisa membahayakan ibu dan janinnya. Bila Vania terus-terusan stres dan marah tanpa alasan. Vania mungkin pribadi yang mandiri. Namun dia tidak mudah dibujuk ketika dia sedang marah. Kecemburuan Vania seolah benar dengan melihat sikap genit Sofia. Raihan mengusap wajahnya kasar. Dia bingung harus bersikap seperti apa? Vania yang sedang cemburu buta. Sebaliknya Sofia yang seolah sedang jatuh cinta kembali pada Raihan. Dua wanita dengan karakter yang berbeda.


"Sovia, jangan seperti ini. Banyak orang yang melihat ke arah kita. Aku ingin mengenalkan dia!" ujar Raihan terpotong, saat Sovia menarik tangan Raihan. Sofia seolah enggan mengenal Vania. Sebab dia mengetahui kalau Vania istrinya. Hanya saja Sofia mencoba membohongi dirinya sendiri. Dengan berpura-pura tidak mengenal Vania. Sofia seolah menutup kedua matanya. Menganggap Vania tidak pernah ada di depannya.


Vania diam menatap suaminya berjalan bergandengan tangan dengan Sovia. Secara penampilan Sovia lebih tepat dikatakan seksi daripada anggun. Kecantikan Sovia tak lebih dari make-up tebal yang dipakainya. Sedangkan Vania selalu terlihat teduh meski tanpa make up. Kecantikan Vania hanya bisa dinikmati oleh Raihan. Tanpa ada laki-laki lain yang bisa melihatnya. Dalam hidup Vania hanya Raihan satu-satunya laki-laki yang dikenalnya. Tidak pernah Vania berusaha mengenal laki-laki selain Raihan. Meski dulu Vania hanya mengenal namanya tanpa melihat orangnya.

__ADS_1


"Aku tahu, dia asistenmu bukan! Kamu memang hebat, bahkan wanita bercadar bisa menjadi asistenmu. Biasanya mereka fanatik dan berpikir kalau laki-laki bukan mukhirmnya. Jadi dia tidak akan bekerja dengan laki-laki yang bukan suaminya!" ujar Sovia dengan nada sinis.


Sofia seolah menang setelah mengatakan hal yang tidak benar. Raihan terdiam mendengar perkataan Sofia. Dia sangat terkejut sekaligus marah mendengar Sofia berpikir Vania tidak lebih hanya asisten Raihan. Sebaliknya Vania sontak cemberut mendengar perkataan Vania. Dia sangat marah dan tidak terima. Namun marah dan bersikap kasar. Hanya akan membuat Sofia benar dengan sikapnya.


Dengan sangat kesal, Vania menginjak lantai sangat keras. Dia bukan hanya kesal, tapi juga marah melihat diam Raihan yang seolah nyaman dipeluk Sovia. Vania tidak bisa menahan amarahnya. Raihan tidak bisa bersikap tegas pada Sofia. Sebab itu Vania harus bisa bertindak. Jika tidak Sofia akan semakin bersikap keterlaluan.


Bruuuukkk


Vania sengaja menabrakkan diri tepat di tengah-tengah Raihan dan Sovia. Kerasnya benturan membuat Sovia dan Raihan terpental ke samping. Vania menoleh ke arah Raihan dan Sovia bergantian. Dia diam menatap sejenak Raihan dan Sovia yang tersungkur. Vanoa tersenyum sinis melihat Raihan dan Sofia yang jatuh. Meski Vania harus merasakan sakit. Itu jauh lebih baik. Daripada Vania diam melihat Sofia dan Raihan terus bergandeng tangan. Dengan rasa puas yang memenuhi hatinya. Vania menoleh bergantian ke arah Raihan dan Sofia.


"Maaf aku tidak sengaja, tadi saya tersandung gamis. Satu hal lagi, nona salah bila menganggap aku asisten tuan Raihan. Aku hanya pembantu di rumahnya. Kebetulan hari ini aku tidak ada pekerjaan. Sehingga aku ikut tuan Raihan ke kantor!" ujar Vania dengan nada kesal. Sofia melongo mendengar perkataan Vania. Dia tidak menyangka Vania mengaku sebagai pembantu Raihan. Bukan istri sah layaknya status yang memang disandangnya.


Sontak Raihan menepuk jidatnya pelan. Dia semakin gusar menerima kekesalan Vania. Bukan hanya diam dan bersikap dingin. Sekarang Vania mengaku hanya seorang pembantu tidak lebih. Status yang sengaja dikatakan Vania. Demi menunjukkan kekesalannya. Rasa cemburu dan kesal Vania belum mereda. Sekarang Sofia menambah deretan alasan amarah Vania. Raihan semakin pusing melihat Vania dan Sofia.


Kedua mata indah Vania seakan ingin membunuh Sofia. Namun sikap tenang Vania jauh lebih membunuh daripada sekadar kekerasan. Vania diam menahan napas sejenak. Dia menatap Sofia dari atas sampai kaki. Vania meneliti setiap inci tubuh seksi Sofia yang mungkin akan membuat Raihan terpikat kembali.


"Aku mungkin kampungan, tapi aku tidak murahan. Penampilan seksimu sengaja kamu tunjukkan, hanya demi tatapan haus Raihan. Laki-laki yang tak lain suamiku. Aku memang pembantunya, tapi bukan hanya di rumah. Aku pembantunya dalam segala hal, termasuk membantunya menghalau wanita-wanita sepertimu!" tutur Vania kesal, kedua bola mata Sovia membulat sempurna tak percaya. Lalu Sovia menoleh pada Raihan. Seolah ingin bertanya kebenaran yang baru saja dia dengar. Kebenaran yang sejak awal Sofia ketahui. Namun sengaja dia berpura-pura diam. Dengan harapan Raihan akan menyangkalnya dan kembali merajut asa bersamanya.


Raihan mengangguk pelan sebagai jawaban final dari keterkejutan Sovia. Lalu Vania berjalan menghampiri Raihan. Kedua bola mata yang meneduhkan, berubah penuh amarah akan rasa cemburu. Raihan menelan ludahnya kasar. Bukan takut pada Vania, dia khawatir akan kondisi Vania bila terus marah. Raihan tidak ingin melihat kondisi Raihan semakin memburuk. Hanya kesehatan Vania yang menjadi prioritas Raihan saat ini. Tidak peduli dia akan kehilangan pekerjaan atau tidak. Selama Vania baik-baik saja, Raihan akan menanggung segala resikonya.


"Sayang!" sapa Raihan lembut, Vania mengacuhkan panggilan sayang Raihan. Vania semakin mendekat ke arah wajah Raihan. Lalu dengan lembut Vania mengusap wajah tampan Raihan. Vania meniup pelan kedua mata Raihan. Kelembutan Vania bak kehangatan sebelum badai dalam rumah tangganya dengan Raihan. Vania menunjukkan kasih sayang yang seolah tak nyata dalam dingin sikapnya. Raihan menelan ludahnya kasar. Dia tidak sanggup menerima kehangatan bila akhirnya ada badai yang menerjangnya.

__ADS_1


"Jangan pikir aku mengaku sebagai istrimu. Akan membuat pertengkaran kita selesai. Disini aku akan menjaga kehormatanmu. Tapi bila di rumah, aku tidak peduli akan kehormatan. Aku jauh lebih peduli pada rasa sakitku!" ujar Vania ketus, Raihan mengangguk pasrah.


Vania telah mengambil keputusan yang seolah benar menurutnya. Raihan sudah menduga akan mendengar perkataan Vania yang kesal dan marah padanya. Vania seolah gunung es yang membeku. Dinginnya mampu membunuh Raihan. Tidak ada alasan Raihan membenarkan diri. Pertemuannya dengan Sofia seolah salah dan selamanya salah di mata Vania.


Tak ada lagi yang bisa merubah pola pikir Vania. Hanya Faiq yang bisa mengendalikan Vania. Cukup satu kata dari Faiq. Vania diam tidak berkutik. Sebagai seorang istri, Vania berhak marah melihat suaminya berhubungan dengan wanita lain yang bukan mukhrimnya. Sebagai laki-laki normal, kelak Raihan akan tertarik dan khilaf melihat sikap berani Sofia. Tidak ada laki-laki normal yang bisa menahan hasrat untuk tidak mengenal Sofia lebih dekat.


"Sayang, aku sudah menolaknya. Kamu lihat sendiri dia yang terus menempelku!" ujar Raihan membela diri. Vania menggeleng seraya tersenyum sinis.


Memang benar Raihan terus menolaknya, tapi Raihan tidak pernah melihat Raihan melarang Sofia mendekatinya. Batasan yang sejak awal harus Raihan jaga sejak pertama mereka bertemu. Batasan yang bisa membuat cela akan sebuah pengkhianatan. Raihan menolak dalam diam yang membuat Sofia berpikir dengan sikap tak pantasnya.


"Dia yang menempel, tapi kamu yang menikmati. Sekarang dimana ruang rapatnya? Jika masih lama, aku akan pulang naik taxi. Malas melihat pasangan yang CLBK ( Cinta Lama Belum Kelar? diantara kalian berdua!" ujar Vania, Raihan menggeleng lemah. Vania mengatakan apa yang seharusnya dikatakan? Vania tidak ingin marah dengan bersikap kasar. Dengan sikap dingin dan diamnya. Dia sudah bisa membuat Raihan merasa bersalah. Raihan terlalu takut melihat diam Vania. Sikap yang tak pernah ingin Raihan lihat.


Dia menatap punggung Vania yang berjalan menjauh. Sovia mengekor langkah kaki Raihan. Dia masih tidak percaya wanita bercadar di depannya. Tak lain istri dari Raihan.


"Sayang, anak papa yang tampan atau cantik. Jangan terlalu lama di rahim mama. Bantu papa menghadapi kekesalan mamanu. Sehari saja papa menghadapi mama. Papa merasa sudah tidak sanggup. Kekesalan mama membuat papa frustasi. Bingung harus bersikap seperti apa? Papa berharap kamu baik-baik saja dalam kandungan mama. Agar mama tidak melampiaskan pada papa. Cepat lahir sayang, agar papa memiliki teman menghadapi mama. Papa akan menerima amarah mama, semua demi dirimu. Papa menyayangimu dan mama!" batin Raihan sendu.


Akhirnya rapat berlangsung dengan tenang. Tak ada kekesalan Vania. Raihan merasa aneh melihat sikap Vania yang tiba-tiba berubah. Sejak masuk ke dalam ruang rapat. Raihan melihat Vania terlalu sibuk dengan ponselnya. Ada rasa aneh di hati Raihan. Setiap kali melihat Vania tersenyum, sesaat setelah membaca pesan di ponselnya. Rasa penasaran Raihan berubah menjadi cemburu yang tidak jelas. Ketika Vania semakin larut dengan ponselnya. Seolah dia tidak peduli akan pertemuan Sovia dengan Raihan.


Raihan terus berusaha menahan rasa penasarannya, lebih tepatnya rasa cemburu yang belum sepenuhnya Raihan sadari. Setelah rapat selesai dan mencapai kata sepakat dari kedua belah pihak. Raihan langsung menghampiri Vania yang terus sibuk dengan ponselnya. Entah siapa yang sedang mengirim pesan pada Vania? Namun satu hal yang pasti. Dia membuat Vania lupa akan sekelilingnya.


"Sayang, sudah selesai. Sekarang kita bisa pulang!" ujar Raihan selembut mungkin, dia takut menyinggung perasaan Vania yang akan memicu kekesalan Vania lagi. Dengan santai Vania mengangguk, lalu berdiri mengikuti langkah kaki Raihan. Sikap manis Vania semakin membuat Raihan penasaran.

__ADS_1


"Sayang, siapa yang sejak tadi mengirim pesan padamu?" ujar Raihan, Vania menoleh seraya tersenyum.


"Kenapa bertanya? Kamu penasaran atau cemburu! Lain kali jangan meremehkan rasa cemburuku. Sekarang merasakan sendiri sakit dan bingungnya rasa cemburu. Satu hal lagi yang harus kamu ingat. Memang cemburu bukan tolak ukur rasa cinta seseorang. Namun rasa takut tersisih dan kehilangan terkadang mendominasi. Sehingga rasa cemburu itu ada. Rasa cemburu bukan sebuah keraguan semata, tapi kewaspadaan yang berdasarkan kepercayaan. Jadi wajar bila cemburu ada, ketika hati mulai takut terganti dan tersisih!" tutur Vania lalu berjalan meninggalkan Raihan.


__ADS_2