
Rafa sengaja membawa Hana ke kantor. Dia masih tidak tenang meninggalkan Hana sendirian di rumah bersama ibu sambungnya. Mungkin Sabrina takut pada kekuasaan Rafa, tapi dengan kelicikannya dia bisa mencelakai Hana tanpa ada yang menyadari. Rafa tidak ingin mengambil resiko dengan meninggalkan Hana di rumahnya.
Sebenarnya Hana tidak ingin ikut dengan Rafa. Namun ancaman Rafa yang ingin memecat Diana. Sedikit membuat nyali Hana menciut. Akhirnya dengan berat hati Hana mengikuti Rafa pergi ke kantor. Dengan syarat Rafa sedikit menjauh dan tidak terlalu mengumbar kemesraan di depan para karyawannya. Rafa menyetujui syarat yang diajukan Hana. Rafa dan Hana pasangan dengan cinta suci, tapi seolah tertutup oleh ego semata.
Sekitar setengah jam lebih, mobil mewah Rafa menelusuri jalan kota yang padat. Rafa dan Hana sampai di depan gedung tinggi perusahaan Prawira. Jika dulu Hana datang sebagai pelayan kantin. Kini dia datang sebagai istri CEO perusahaan ini. Sebuah misteri hidup yang tak pernah kita tahu.
Jantung Hana berdegub sangat kencang. Dia gugup saat ingin melangkahkan kakinya masuk ke dalam kantor perusahaan Prawira. Hana tidak terlalu percaya diri untuk menjadi istri seorang Rafa Akbar Prawira. Penampilan Hana selalu sederhana dan terkesan acuh. Anehnya Rafa tidak pernah peduli dengan penampilan Hana yang selalu sederhana. Rafa tidak pernah berkomentar atau sekadar meminta Hana membeli pakaian yang jauh lebih layak. Tentu saja dengan harga yang sangat mahal.
Rafa selalu bangga dengan penampilan Hana yang sederhana. Seolah hanya Hana yang terlihat cantik di mata Rafa. Mungkin ini yang dinamakan cinta. Semua terasa indah dipandang mata. Meski terkadang orang lain berpendapat berbeda.
Hana berjalan perlahan, menampakkan kaki kanannya terlebih dahulu. Satpam perusahaan yang biasa bercanda dengan Hana membungkuk memberi hormat padanya. Tanpa Hana sadari, berita tentang dirinya yang telah menikah dengan Rafa sudah tersebar di seluruh gedung. Tak ada karyawan yang akan menganggap Hana remeh. Sebab Rafa sudah mengatakan dengan jelas. Siapapun yang berniat meremehkan Hana? Itu artinya dia meremehkan Rafa.
"Bismillahhirrohmannirrohim!" batin Hana sembari melangkah masuk dengan kaki kanan.
Rafa berjalan di samping kanan Hana. Mereka berjalan beriringan tanpa saling bergandeng tangan. Sebab Hana tidak ingin mengumbar kemesraan di depan karyawan kantor. Sebenarnya Rafa sudah sangat gatal, ingin menggandeng tangan Hana. Namun dia tahan agar Hana tetap bersedia masuk ke dalam kantornya. Lagipula setelah di dalam ruangan, Hana hanya miliknya seorang. Jadi Rafa akan sabar menanti sampai masuk ke dalam ruangannya.
Selama berjalan menuju ruangan Rafa, tak pernah sedikitpun Hana berhenti tersenyum. Setiap sapaan karyawan Rafa, selalu dibalas dengan senyuman. Pribadi Hana yang selalu ramah pada orang, baik laki-laki atau perempuan. Sedikit banyak membuat Rafa marah dan cemburu.
"Diana!" teriak Hana sembari setengah berlari. Hana memeluk Diana yang berdiri tidak jauh darinya. Hana meluapkan kerinduannya pada Diana. Sebaliknya Diana begitu senang melihat Hana yang kembali dalam kondisi baik-baik saja. Mereka berdua berpelukan seolah tidak pernah bertemu.
"Sayang, jangan terlalu erat memeluk Diana. Kasihan bayi kita, dia bisa kesakitan. Lihatlah tubuh Diana besar, pasti bayi kita menangis di dalam sana!" ujar Rafa kesal, Hana tidak peduli dengan perkataan Rafa. Sedangkan Diana hanya bisa menggerutu dalam hati. Jika dia berani bersuara, akan tamat riwayatnya bekerja di perusahaan Prawira.
__ADS_1
"Rafa, bayimu masih terlalu kecil. Jadi tidak perlu cemas, dia tidak akan merasa kesakitan. Apalagi Hana akan menjaganya dengan baik!" sahut Adrian sembari tersenyum. Dia melihat sikap Rafa yang terlalu over protektif pada Hana. Malah terlihat sangat konyol dan menggelikan.
"Kenapa kamu membela Diana? Kamu menyukainya!" sahut Rafa kesal, Adrian melongo lalu menggeleng. Hana melirik Diana yang tersipu malu. Hana sudah menduga pertengkaran diantara mereka. Pasti akan membawa mereka pada cinta yang tak pernah disadari.
Rafa berjalan menuju ruangannya, disusul Adrian di belakangnya. Hana memutuskan untuk mengekor Rafa. Kedatangannya kemari bukan untuk mengganggu pekerjaan Diana. Jadi Hana akan menjadi istri yang penurut. Dengan tetap berada di dalam ruangan Rafa tanpa bersuara.
Hana duduk di sofa yang terletak di samping meja kerja Rafa. Ruangan Rafa tertata dengan sangat rapi. Ada satu benda yang menarik pandangan Hana. Sebuah foto mini yang terbingkai indah. Sebuah foto pernikahan dirinya dan Rafa. Entah sejak kapan Rafa memilikinya? Namun bagi Hana semua itu bukan menjadi masalah, yang terpenting Rafa menyimpan kenangan akan dirinya dengan sangat baik.
Hana sengaja membawa buku dari rumah. Agar dia tidak bosan saat menemani Rafa. Sebaliknya Rafa selalu menatap raut wajah Hana dengan penuh rasa cinta. Rafa merasakan betapa bahagianya dia bisa bekerja ditemani oleh Hana istrinya. Jika tidak ada Adrian di ruangan ini. Mungkin Rafa sudah berlari memeluk Hana. Mencium seluruh wajah Hana. Tidur dipangkuan Hana sekadar ingin menenangkan pikiran yang penuh dengan beban pekerjaan yang tak pernah ada hentinya.
"Rafa, kita harus segera menyelesaikan proposal ini. Pihak penyelenggara meminta kita segera membuat susunan acara sesuai dana mereka. Jika tidak kita akan kehilangan kerja sama yang sudah berjalan. Sebenarnya mereka hanya ingin melihat kita bisa mengadakan acara dengan dana yang minim. Sebagai bentuk tanggungjawab rekan dalam kerjasama!" ujar Adrian cemas, Rafa memijit pelipisnya. Dia dibuat pusing dengan acara yang akan diadakan dua hari lagi. Namun belum ada kesepakatan dengan pihak penyelenggara.
"Sekarang minta Diana dan tim perencana memikirkannya. Aku sudah menyerah, tidak mungkin ada acara dengan dana seminim itu. Apalagi acara harus diadakan dengan semeriah mungkin!" ujar Rafa seraya menggeleng. Adrian dan Rafa sama-sama bingung. Hana melihat kedua bos perusahaan Prawira sedang kalut. Hana berjalan mendekat, lalu dia mengambil berkas yang dipegang Adrian. Hana tersenyum setelah melihat perincian dalam berkas tersebut.
"Kak Rafa tampan, jika aku bisa menyelesaikan berkas ini. Apa kak Rafa akan memenuhi permintaanku? Sebagai imbalan atas kerja kerasku!" ujar Hana santai, sontak Rafa berdiri mendekat pada Hana. Dia memegang kedua bahu Hana. Rafa tidak percaya Hana baru saja memujinya.
"Tunggu sayang, jika kamu memujiku lalu menjauhiku. Lebih baik jangan pernah mengatakan hal yang baik!" ujar Rafa tidak percaya, Adrian terkekeh melihat Rafa yang begitu tergila-gila pada Hana.
"Rafa kamu benar-benar luluh di depan Hana!" goda Adrian, Hana menatap tajam ke arah Adrian.
"Bagaimana kak Rafa? Apa kamu menerima tantanganku? Akan kubantu kak Rafa mengerjakan semua ini. Dengan syarat kak Rafa akan memenuhi keinginanku!"
__ADS_1
"Aku akan penuhi apapun itu, meski tanpa kamu membantuku. Asalkan bukan permintaan yang ingin meninggalkanku!" ujar Rafa lirih, Hana mengangguk pelan. Dia memberikan jari kelingkingnya, mengaitkan dengan jari kelingking Rafa. Hana menarik napas sedalam mungkin.
"Kak Rafa sayangku, suamiku yang baik hati. Jawaban dari kegelisahanmu ini sederhana. Kamu hanya tinggal meminta pak Zyan merubah restorannya menjadi tempat acara yang megah. Sedangkan untuk makanannya, kak Rafa percayakan semuanya pada koki restoran. Makanan di restoran sangan lezat, menu mereka beragam. Kebanyakan menu mereka asli indonesia dengan harga yang sangat terjangkau. Jadi tidak perlu kak Rafa menyewa hotel bintang lima dan mendatangkan koki internasional. Jika di dekat kak Rafa ada yang jauh lebih berbakat. Aku yakin dana yang ada jauh lebih dari cukup. Pasti acaranya juga meriah!"
Cup Cup
"Terima kasih!" ujar Rafa sesaat setelah mencium Hana. Adrian hanya menonton, jiwa jomblonya merana melihat kebahagian Rafa.
"Jangan lupa penuhi janjimu. Aku akan mengatakannya setelah acaranya berhasil!" ujar Hana santai. Rafa menelan ludahnya kasar. Dia takut jika permintaan Hana sebuah kata pisah.
"Sayang, kamu sudah berjanji. Bukan perpisahan!"
"Kita lihat saja nanti!"
"Sayang, jangan bercanda!"
"Hmmmm!" sahut Hana santai, seraya duduk di tempat semula.
"Kalian pasangan yang unik! Selalu saja ada alasan untuk berdebat!" ujar Adrian sembari menggelengkan kepala.
"Diam, jangan berisik!" ujar Rafa kesal.
__ADS_1
...☆☆☆☆...
TERIMA KASIH😊😊😊