KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Davina Nur Latifah


__ADS_3

Malam hari di kediaman keluarga Prawira. Sedang diadakan makan malam penyambutan kedatangan putra kedua Rafa dan Hana. Acara malam ini sengaja diadakan sangat sederhana. Hanya kerabat terdekat dan teman-teman dekat Fathan dan Faiq yang diundang. Acara makan malam kali ini sangat spesial. Setelah beberapa tahun, akhirnya kedua pewaris keluarga Prawira bisa duduk dalam satu meja. Kesederhanaan acara tidak lepas dari sifat Faiq yang tidak suka pesta. Fathan menyiapkan acara malam ini tanpa diketahui oleh Faiq.


Usia Fathan yang terlalu dekat dengan Faiq membuat keduanya sering bertengkar. Terkadang hanya karena masalah sepele. Mereka bisa ribut besar. Baik Hana atau Rafa tidak pernah ikut campur urusan mereka berdua. Terutama Hana yang percaya kedua putranya bisa menyelesaikan setiap perselisihan yang ada. Tidak akan ada persamaan, bila tidak ada perbedaan. Perselisihan menjadi jalan Fathan dan Faiq saling mengenal. Memahami satu sama lain dalam segala hal. Sejatinya seorang saudara akan merasakan rasa sakit dan senang saudaranya yang lain.


Kepergian Faiq ke luar negeri, menjadi titik balik kehidupan Fathan. Saat itulah dia menyadari, perselisihannya dengan Faiq sangat tidak penting. Fathan merasa kesepian, dia menyadari bahwa hanya Faiq saudara satu-satunya. Seorang adik yang seharusnya Fathan lindungi bukan dimusuhi. Semenjak itu Fathan berjanji akan selalu menjaga dan melindungi Faiq. Meski sebenarnya sikap Faiq jauh lebih bijaksana dari Fathan. Pemikiran Faiq selalu selangkah lebih maju. Faiq selalu memikirkan masa depannya, bukan ingin mengungguli Fathan. Namun sifatnya yang tenang, mampu memikirkan sesuatu yang tidak terpikir oleh orang lain.


Hari ini setelah kembalinya Faiq, Fathan menjadi kakak yang baik. Dia mendukung apapun keputusan Faiq. Termasuk bekerja sebagai dokter biasa. Meski sebenarnya Faiq bisa bekerja di rumah sakitnya sendiri. Rafa mampu membuatkan rumah sakit bila Faiq menginginkannya. Namun sifat Faiq yang mirip dengan Hana. Tidak akan pernah menerima bantuan dari siapapun? Termasuk Rafa sang papa atau Fathan sang kakak yang memiliki kemampuan tidak kalah hebat dari Rafa. Faiq selalu ingin terlihat sederhana. Dia tidak pernah menggunakan nama belakangnya sebagai salah satu pewaris keluarga Prawira. Faiq ingin menjadi pemenang dengan usaha dan kerja kerasnya sendiri.


Sekitar pukul 19.00 wib, semua tamu sudah hadir. Terlihat Diana datang bersama Adrian. Sedangkan putrinya sejak sore sudah datang. Putri Diana sudah menganggap Hana layaknya ibu. Sejujurnya Hana memang kehilangan Annisa. Namun disisi lain, dalam kepedihannya dia memiliki putri yang lain. Diana membiarkan Hana dekat dengan sang putri. Agar Hana sedikit melupakan Annisa. Persahabatan Hana dan Diana juga menurun pada Kedua putranya. Fathan dan putri Diana sangat dekat. Bahkan Fathan sudah menganggap putrinya Diana layaknya adik kandungnya sendiri. Namun sikap Fathan berbanding terbalik dengan Faiq. Dia bersikap dingin pada putri angkat Hana. Tidak ada yang pernah mengetahui alasan sikap dingin Faiq.


Sejak sore Davina sudah membantu Hana menyiapkan makan malam. Davina sudah sering datang ke rumah Hana. Terkadang Davina menginap bila Fathan dan Rafa sedang dinas ke luar kota. Meski Fathan menganggap Davina layaknya adik, tapi tetap saja Davina bukan mukhirm bagi Davina. Davina dan Fathan berteman dengan batas-batas yang sudah ada. Mereka tidak pernah bersikap melebihi batas.

__ADS_1


"Davina Nur Latifah!" panggil Fathan lirih, sontak Davina menoleh. Dia melihat Fathan berdiri tepat di belakangnya. Hana tersenyum melihat persahabatan Fathan dan Davina. Persahabatan yang mengingatkan dirinya akan hubungannya dengan Diana. Fathan sengaja datang ke dapur. Dia ingin mengambil minum, sekaligus menggoda Davina. Tanpa ada yang tahu Davina menyimpan rasa pada Faiq. Namun sikap acuh Faiq, membuat Davina mengubur rasanya sedalam mungkin.


"Kak Fathan, datang-datang mengagetkanku. Aku kira dia yang datang!" ujar Davina kesal, Fathan terkekeh mendengar kekesalan Davina. Fathan jelas mengetahui, jika Davina takut bertemu dengan Faiq. Apalagi dengan penampilannya yang berantakan.


Terlihat hijab yang dipakai Davina sudah tak berwarna. Minyak menempel dimana-mana? Gamis yang dipakainya lusuh penuh keringat. Davina membantu Hana dengan sepenuh hati. Tanpa dia memikirkan penampilannya lagi. Fathan menyadari jika Faiq melihat penampilan Davina. Tidak hanya Faiq akan bersikap dingin, dia mungkin akan malas melihat Davina lagi.


"Kenapa kaget? Apa kamu pikir Faiq yang datang? Lagipula sampai kapan kamu akan terus memasak. Semua tamu sudah datang, tante Diana dan om Adrian sudah datang. Apa kamu ingin diam di dapur terus? Yakin tidak ingin bertemu Faiq!" ujar Fathan, Davina menggeleng lemah. Dia sengaja berada di dapur, agar tidak ikut bagian dalam acara makan malam ini. Davina hanya ingin membantu di dapur. Davina tidak ingin bertemu dengan Faiq. Jika hanya tatapan dingin yang dia terima. Hana mendekat pada Davina. Dia menepuk lembut punggung Davina. Lalu mengedipkan kedua mata indahnya.


"Sayang, apa yang dikatakan Fathan benar? Sekarang bersiaplah, mama sudah membelikanmu gamis. Kamu bisa menemukannya di kamar tamu. Jika kamu tidak bersiap, mama juga tidak akan ikut acara malam ini!" ujar Hana lirih, Davina mengangguk pelan. Fathan tersenyum saat melihat Davina melepas celemek yang menempel di badannya. Dengan wajah malas, Davina berjalan menuju kamar tamu. Kamar dimana yang biasa dia pakai saat menginap?


"Aku tidak ingin dia melihat kecantikanku. Sesuatu yang hanya pantas dilihat oleh imamku. Aku tidak berharap bertemu Faiq. Dia dan aku sudah berbeda, kami bukan lagi anak-anak yang mengenal cinta monyet. Kami sama-sama dewasa, apa yang pantas dan tidak pantas kami sudah mengetahuinya. Jadi tidak akan ada rasa itu diantara kami!" sahut Davina dingin. Lalu berjalan menjauh, meninggalkan Fathan yang termenung. Dia melihat sikap dingin Davina. Fathan bisa melihat rasa itu masih ada, hanya saja Davina ingin membuangnya.

__ADS_1


Davina berjalan perlahan menuju kamar tamu. Dia berjalan menunduk, meski Davina tegas tidak berharap bertemu Faiq. Namun dalam hatinya dia takut bila rasa itu muncul kembali saat bertemu dengan Faiq. Bertahun-tahun Davina memperbaiki diri. Dia tidak ingin usahanya sia-sia. Dia tidak ingin terluka dan merasakan sakitnya penolakan Faiq.


Semenjak menimba ilmu di ponpes Davina mulai memahami batasan-batasan yang ada. Davina mulai menjaga pandangannya saat berbicara pada lawan jenis. Termasuk pada Fathan, Davina mulai menjaga jarak. Dia tidak sedekat dulu, ada jarak yang menyatakan dengan bahwa mereka bukan mukhrim.


BRUUUUKKKK


"Awwwsss!" ujar Davina lirih, sembari mengusap kepalanya. Jantung Davina berdegub hebat. Bukan karena sakit kepalanya yang tanpa sengaja menabrak seseorang. Harum tubuh serta kehangatan yang terasa. Membuat sekujur tubuhnya kaku. Davina bisa mengenali tubuh siapa yang dia tabrak. Meski dia tidak melihatnya.


"Kalau jalan gunakan kedua matamu. Jika bukan dirimu yang celaka. Tentu orang lain yang akan terluka. Memangnya dengan menunduk kamu akan menemukan sesuatu. Menjaga pandangan itu bila berbicara dengan yang bukan mukhrim. Bukan saat berjalan kamu menunduk. Seandainya bukan aku yang kamh tabrak. Mungkin kepalamu sudah bengkak!" ujar Faiq dingin dan ketus, Davina tetap menunduk tanpa berani menatap kedua mata Faiq. Sontak Davina mundur beberapa langkah. Dia sudah menduga bila yang dia tabrak Faiq. Entah kenapa Davina bisa merasakan keberadaan Faiq?


"Maaf!" sahut Davina lirih dan singkat. Davina minggir menjauh. Dia berniat memberikan jalan pada Faiq. Davina tidak ingin berhadapan terlalu lama dengan Faiq. Sejak bertabrakan jantung Davina berdetak hebat. Jika terus seperti ini, bisa-bisa Davina pingsan dan rasa yang telah menghilang akan muncul kembali.

__ADS_1


"Jika hanya meminta maaf bisa menyelesaikan masalah. Pasti akan banyak orang yang terus melakukan kesalahan. Sebaiknya kamu tanam dalam pikiranmu. Jangan buat dirimu atau orang lain celaka dengan sikapmu. Setidaknya kamu harus bisa menjaga dirimu sendiri. Agar tidak membuat orang lain cemas memikirkanmh!" ujar Faiq dingin, lalu pergi meninggalkan Davina. Fathan melihag dari jauh sikap dingin Faiq yang disertai rasa khawatir.


"Seandainya aku bisa, aku tidak ingin menabrak dirimu. Aku tidak pernah ingin mencelakai orang lain, terutama dirimu. Kenapa kita harus bertemu dalam kondisi yang buruk? Aku tahu kamu membenciku, bahkan kamu jijik padaku. Namun tidak bisakah kita berteman. Setelah bertahun-tahun kepergianmu. Aku bukan Davina yang dulu. Kini aku sudah berubah, aku hanya ingin berteman denganmu. Mesk rasaku tak terbalas, setidaknya aku bisa ada di dekatmu. Aku sudah memahami jika rasaku salah. Sebab hanya imam dunia akhiratku yang berhak aku pikirkan. Aku ingin uluran tangan persahabatan. Agar rasa yang pernah ada tidak menghantuiku. Aku hanya ingin berteman denganmu tidak lebih. Melihat senyumanmu bukan amarahmu. Merasakan kehangatan persahabatan bukan dinginnya kebencian. Muhammad Faiq Alhakim, sebijak namamu. Tidak bisakah kamu melupakan masa lalu. Memulai masa depan dengan uluran tangan persahabatan. Maafkan aku bila aku telah melukaimu!" batin Davina pilu.


__ADS_2