KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Akhir Bahagia (END)


__ADS_3

"Kak Fathan!"


"Ada apa Faiq?" Sahut Fathan lirih, saat dia mendengar Faiq menyapanya.


Fathan tengah duduk di kantin perusahaan Prawira. Kantin tempat Rafa merasakan kehangatan cinta Hana. Pertemuan yang terus terulang dan meninggalkan kesan yang sangat mendalam. Kantin yang kini menjadi tempat favorit Fathan dan Faiq. Semenjak Hana menceritakan kisah hidupnya sebagai pelayan kantin perusahaan Prawira.


Memang kantin telah banyak berubah. Banyak perabotan yang mulai diganti dengan yang lebih canggih dan modern. Namun bagi Fathan dan Faiq, kantin tetap sama seperti puluhan tahun yang lalu. Tempat keringat sang mama menetes. Berjuang demi sesuap nasi dalam hidup sebatang kara Hana. Pengalaman yang membuat Fathan dan Faiq lebih menghargai orang lain, tanpa peduli akan status dan pekerjaan mereka. Dalam hati dan benak mereka tertanam dalam, jika Hana terlahir dengan kekurangan dan tumbuh dengan usaha serta kerja keras.


"Kak Fathan, aku harus kembali ke rumah sakit!"


"Kenapa?" Sahut Fathan kaget, sontak Fathan meletakkan ponsel pintarnya. Fathan tak peduli lagi dengan kesibukannya. Dia hanya ingin tahu alasan kemunduran Faiq.


Fathan menatap lekat Faiq, banyak pertanyaan dalam benaknya. Baru beberapa hari Faiq berada di perusahaan. Namun hari ini dia memutuskan untuk pergi. Fathan merasa terkejut, sebab kemampuan Faiq dalam dunia bisnis tidak bisa diragukan. Faiq memiliki potensi yang cukup hebat. Tidak seharusnya Fathan melepas Faiq begitu saja. Bagaimanapun Faiq harus bertanggungjawab pada perusahaan Prawira? Sebab Faiq salah satu pewaris keluarga Prawira.


"Ada apa Faiq? Kenapa kamu diam? Katakan masalahmu, agar aku bisa membantumu!" Ujar Fathan cemas, Faiq diam seraya menatap lekat Fathan. Banyak kata yang ingin dia utarakan, tapi entah kenapa semua tertahan di tenggorokan?


"Kak Fathan, perusahaan ini tidak butuh aku. Kakak jauh lebih berhak mengelolanya. Aku hanya seorang dokter, putra kedua di keluarga Prawira!" Ujar Faiq tegas, Fathan diam seolah bingung dengan perkataan Faiq.


"Apa yang ingin kamu katakan? Jangan terlalu memutar. Aku terlalu bodoh, untuk mengartikan arti perkataanmu!"


"Aku ingin mengembalikan perusahaan ini pada Kakak. Hanya kakak yang berhak atas perusahaan ini!"


"Kamu ingin keluar dari perusahaan, hanya kerena kamu pikir aku mengharapkan perusahaan Prawira. Katakan padaku, siapa orang yang membuatmu berpikir sedangkal itu?" Ujar Fathan emosi, Faiq diam seraya menggelengkan kepalanya pelan. Sebuah gelengan kepala, isyarat Faiq tak dipengaruhi oleh siapapun?


"Memang kakak yang pantas menggantikan papa. Sejak awal, kakak yang berjuang demi perusahaan ini. Jadi sangat pantas, bila kakak yang mewarisinya. Bukan aku yang tak pernah ikut andil dalam kesuksesaan perusahaan ini!"


"Faiq, tatap mataku!" Ujar Fathan dingin, sebuah perkataan yang bisa diartikan dengan banyak maksud. Kata yang bisa disebut perintah atau malah amarah seorang kakak.


Faiq menunduk bingung, dia tak mampu mengutarakan kegelisahannya. Sangat sulit baginya memulai mengatakan kecemasan yang ada di hatinya. Fathan menatap dingin Faiq, tatapan yang seakan marah dengan pendapat Faiq. Sebuah isyarat akan pertikaian yang sesungguhnya tak pernah ada.


"Faiq!" Ujar Fathan lantang, teriakan Fathan membuat Faiq tersentak. Fathan yang selalu tenang, mulai terlihat emosi.


"Sampai kapan kamu diam? Seorang laki-laki harus berani bertanggungjawab dengan perkataannya. Bukankah kamu yang memulai pembicaraan ini. Kenapa kamu diam seperti pengecut? Katakan atau aku takkan pernah melihatmu seumur hidupku!" Ujar Fathan dingin, Faiq mendongak seraya menggelengkan kepalanya pelan.


"Kakak, aku mohon jangan bicara seperti itu. Aku mungkin bukan adik terbaik, tapi aku tetap adikmu. Jangan pernah katakan hal yang menakutkan seperti itu!"

__ADS_1


"Kalau begitu, katakan siapa orang yang membuatmu berpikir dangkal? Orang yang ingin melihat celah diantara kita!" Ujar Fathan tegas, lagi dan lagi Faiq menggeleng. Fathan mulai risau melihat sikap Faiq.


Fathan tak pernah bisa memahami Faiq, tapi khusus saat ini Fathan seolah tak mengenal Faiq. Adik yang selalu tegas dan dingin, kini terlihat bimbang penuh keraguan. Saudara yang selalu menjaga jarak, entah kenapa kini jarak itu semakin nyata? Tidak mudah bagi Fathan mengerti Faiq, tapi dari gelisah Faiq. Fathan mulai berpikir, tidak ada orang lain dalam permasalahan ini. Nyata Faiq yang mulai meragukan Fathan.


"Lantas, apa yang membuatmu berpikir sebodoh itu? Jelas kamu tahu, diantara kita tidak pernah ada perdebatan. Siapa yang mampu dan tidak mampu? Siapa yang lebih berhak atau tidak berhak? Sebab kita ini sejatinya satu, meski jelas ada jarak dan perbedaan!"


"Pembicaraanmu dengan mama tadi pagi. Alasanku ingin mundur dari jabatan ini!" Sahut Faiq dingin, Fathan tersenyum simpul.


Fathan mulai memahami alasan kebodohan Faiq. Pembicaraannya dengan Hana yang mungkin didengar oleh Faiq. Membuat Faiq berpendapat bodoh dan dangkal. Fathan menyadari, bukan hanya Faiq. Mungkin orang lain akan berpikir sama. Sebab pembicaraan Fathan dengan Hana, nyata membuat orang lain salah mengartikan.


"Kamu mendengarnya!"


"Aku tidak hanya mendengarnya. Aku juga mengetahui, kalau kakak akan berangkat ke luar kota besok pagi!" Ujar Faiq tegas, Fathan mengangguk pelan.


"Faiq, apapun yang kamu dengar memang tidak salah. Hanya saja, cara kamu mengartikannya yang salah. Aku pergi ke luar kota, bukan karena perusahaan yang sedang kamu pimpin. Juga bukan karena aku iri melihatmu mampu melanjutkan proyekku!"


"Aku tahu itu, tapi alangkah baiknya. Jika kakak tetap berada di kota ini. Kakak ambil alih perusahaan Prawira. Aku kembali menjadi dokter. Jadi tidak perlu kakak pergi!" Cecar Faiq, Fathan menggeleng lemah.


"Aku harus pergi!"


Braaakkk


"Aku harus pergi demi ini!" Ujar Fathan, sesaat setelah dia memberikan berkas ke depan Faiq.


Dengan perlahan Faiq membuka lembar demi lembar berkas yang diberikan Fathan. Kedua bola mata Faiq membulat sempurna. Faiq terkejut, melihat isi berkas itu. Fathan mengangguk pelan, saat Faiq menatapnya. Fathan seakan tahu arti tatapan Faiq.


"Apa mama serius?" Ujar Faiq tak percaya, Fathan mengangguk pelan.


"Keseriusan mama, alasanku rela menjauh darinya. Proyek yang mama amanahkan padaku. Impian terbesar dalam hidupku. Selama ini mama selalu mempercayakan semuanya padamu. Hari ini, dengan tangannya sendiri. Mama meminta padaku, mengambil alih proyek impian masa mudanya!"


"Kakak setuju tanpa berpikir?"


"Faiq, impian mama tak lain impianku. Aku rasa itu juga menjadi impianmu. Tidak ada alasan bagi kita menolak permintaan mama. Seperti mama yang tak pernah menolak permintaan kita!"


"Kenapa kakak yang pergi? Kenapa bukan aku?"

__ADS_1


"Karena Davina butuh kamu. Persalinannya semakin dekat, dia butuh kamu disisinya!"


"Kak Annisa juga butuh kakak!" Sahut Faiq lantang, merasa alasan Fathan hanya mengada-ada.


"Annisa dan Gavi akan ikut denganku. Kami akan menetap disana. Sementara waktu, aku titip papa dan mama. Jaga mereka selama kakak pergi!" Ujar Fathan tegas, Faiq menunduk semakin dalam. Dia merasa Fathan sengaja menjauh darinya.


"Kenapa harus menetap?"


"Faiq, sejak lama aku merindukan kepercayaan mama. Tidak bisa dipungkiri, mama lebih menyayangimu daripada aku. Harta kekayaan keluarga Prawira tidaklah penting bagiku. Amanah dan impian mama, harapan dan harta terbesar dalam hidupku. Jika kamu merasa aku iri hanya karena harta keluarga Prawira. Kamu salah besar Faiq? Kasih sayang mama padamu yang membuatku iri padamu. Alasan terciptanya jarak diantara kita!"


"Kak Fathan, aku mohon tinggallah. Biarkan aku yang pergi!"


"Kamu ingin merebut kepercayaan mama dariku!" Sahut Fathan dingin.


"Bukan begitu, kakak lebih pantas tinggal di perusahaan Prawira. Proyek kecil mama, biarkan aku yang mengerjakan!" Ujar Faiq, Fathan menggeleng lemah.


"Aku tidak akan mengalah, pertama kalinya mama meminta sesuatu padaku. Meski kutukar dengan nyawaku, aku sanggup. Mama tak pernah mengeluh akan nakal dan sakit kita. Tidak pantas rasanya bila aku menolak, hanya karena permintaan mama yang kecil!" Ujar Fathan tegas.


"Kakak!" Ujar Faiq memelas, sembari menangkupkan tangan di depan dadanya. Fathan menggeleng dengan tegas.


"Faiq, bisa diam tidak. Kamu seperti anak kecil. Kakak yang akan pergi, kamu ambil alih perusahaan. Kakak hanya pergi, dua atau tiga bulan!" Ujar Fathan.


"Kak Fathan jelek!"


"Kalian memang putra Hana, sampai-sampai kalian berebut memenuhi amanahnya!" Sahut Rafa yang baru saja datang.


"Kami juga putramu, tapi permintaan mama ibarat perintah bagi kami. Tak pernah mama meminta, sekali dia meminta kami akan serahkan segalanya!" Ujar Faiq tegas.


"Hana sangat beruntung!" Ujar Rafa lirih.


"Karena mama tujuan hidup kita!" Ujar Fathan.


"Sebaliknya kalian segalanya dalam hidup mama. Semoga selamanya kebahagian ada bersama keluarga kita!" Ujar Hanna, Rafa mengangguk lalu memeluk Hanna.


"Aaaminnn!" Teriak Fathan dan Faiq lantang.

__ADS_1


"See yuo later readers! Happy reading!"


__ADS_2