KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Tumbangnya sang Pewaris


__ADS_3

Langit malam yang cerah berubah menjadi mendung. Tak ada lagi bintang yang berbaburan, bulan seolah enggan menampakkan wajahnya. Tak ada lagi malam indah bagi hidup Rafa dan Hana. Keduanya saling mencintai, tapi harus terpisah hanya karena rasa cemburu.


Rafa terpuruk tanpa Hana disampingnya. Hana tidak ingin mendekat pada Rafa. Tak ada kata maaf yang keluar dari bibir Hana. Bukan tak ingin memaafkan atau membenci Rafa. Hanya saja Hana tak ingin terluka dengan harapan palsu. Bagi Hana sudah cukup terluka, dia tak ingin terluka yang akan berakibat fatal pada kandungannya. Resiko keguguran sangat besar, Hana pernah mengalami pendarahan akibat stres yang dialami Hana.


Malam ini Hana harus menguatkan hati dan jiwanya. Hana harus bersedia menemui Rafa. Demi permintaan seorang kakek yang mengkhawatirkan kondisi cucunya. Beberapa hari yang lalu, Hana kedatanga tamu. Beliau tak lain tuan besar Ardi Prawira.


Tuan Ardi datang dengan menengadahkan tangan pada Hana. Beliau menghiba belas kasihan Hana. Tuan Ardi sengaja menemui Hana, untuk meminta Hana menjenguk Rafa. Pewaris keluarga Prawira tumbang. Rafa terbaring tak berdaya.


Perpisahan dengan Hana menyiksa fisik dan hati Rafa. Demi melupakan semua kenangan bersama Hana. Rafa menghabiskan seluruh waktunya dengan bekerja. Hari-harinya dilalui hanya dengan kerja tanpa henti. Namun semua itu tidak Rafa seimbangkan dengan pola makan yang benar. Rafa malah cenderung ingin menyiksa tubuhnya. Seakan Rafa tidak ingin hidup. Rafa benar-benar terpuruk.


FLASH BACK


"Hana, bisa kita bicara. Setidaknya sebagai orang yang pernah saling mengenal!" Hana mengangguk, dia duduk di depan tuan Ardi.


"Silahkan katakan, apa kepeluan tuan datang menemui saya? Jika ini mengenai pernikahan saya dengan tuan Rafa. Maaf sebelumnya, saya tidak ingin membahas itu sekarang. Saya masih butuh waktu untuk menenangkan diri!" ujar Hana sopan, tuan Ardi mengangguk mengerti. Sebagai orang tua beliau mengerti teguhnya keputusan Hana. Apa yang dikatakan Rafa memang sangat keterlaluan? Siapapun yang berada pada posisi Hana akan marah?


"Sudah dua hari Rafa dirawat di rumah sakit. Dia pingsan saat memimpin rapat. Semenjak kepergianmu Rafa kehilangan semangat hidupnya. Dia memforsir tubuhnya untuk terus bekerja, tapi dia enggan untuk makan teratur. Rafa menghancurkan dirinya sendiri!" tutur tuan Ardi lirih, Hana terdiam membisu. Ada rasa sedih dihati Hana. Saat dia mendengar kondisi Rafa saat ini. Sejujurnya kondisi Hana tidak jauh beda dengan Rafa. Namun Hana harus tetap kuat demi buah hati yang tumbuh dalam rahimnya.


"Lalu apa yang anda inginkan dari saya? Bukankan tuan Rafa sudah mendapat perawatan selama di rumah sakit. Aku yakin dia akan segera sembuh!" ujar Hana santai, tuan Ardi menunduk cemas. Rafa tidak akan baik-baik saja selama Hana tidak memaafkannya.


"Hana, tidak bisakah kamu memaafkan Rafa. Dia hancur setelah malam itu. Aku tahu apa yang dikatakan Rafa sangat keterlaluan? Rafa mengatakannya dalam kondisi tidak sadar. Setidaknya kamu bisa memberi kesempatan dia untuk berubah. Bukan demi dirimu, tapi demi buah hati kalian. Kamu merasakan susahnya hidup tanpa orang tua. Akankah kamu tega melihat buah hatimu tumbuh tanpa kasih sayang yang sempurna!" tutur tuan Ardi, Hana menggeleng lemah. Tuan Ardi menghela napas, dia sudah menduga jawaban Hana. Hati Hana benar-benar terluka.


"Tuan Ardi, sebenarnya saya tidak ingin membahas masalah ini. Namun sepertinya anda sangat mengkhawatirkan kondisi tuan Rafa. Sejujurnya saya memang terluka, lebih tepatnya saya terhina. Tak ada harga diri yang bisa saya banggakan di depan tuan Rafa. Dia suami saya, imam dunia akhirat. Pendapatnya yang paling berpengaruh dalam hidup saya. Malam itu bukan hanya dia meragukan keteguhan cintaku, dia meruntuhkan pondasi pernikahan kami. Pernikahan dengan perbedaan yang pernah kami yakini takkan mampu memisahkan kami. Saya tidak berniat membencinya, tapi untuk dekat dengannya hati saya masih sangat takut. Tuan Rafa tidak akan pernah terpuruk, selama ada anda dan keluarganya yang lengkap. Sedangkan saya hanya memiliki dua nisan tempat untuk berkeluh kesah. Jadi sudah sepantasnya saya membentengi diri agar tidak terluka lagi. Lagipula tidak akan pernah ada kata sempurna. Anakku akan tumbuh dengan limpahan kasih sayang!"


"Hana, maafkan Rafa yang begitu dalam melukaimu!"


"Anda tidak perlu minta maaf, semua sudah terjadi. Mungkin kami memang jauh lebih baik seperti ini. Hidup dalam dunia masing-masing!"


"Tapi Rafa tidak baik-baik saja. Jika memang kamu tidak bisa memaafkannya. Tolong kunjungi Rafa, minta dia bangkit kembali. Tubuh tua ini sudah tak sanggup melihat Rafa hancur. Yakinkan dia bahwa semua akan baik-baik saja!" tutur tuan Ardi menghiba, Hana diam membisu. Dia belum siap untuk bertemu Rafa. Tuan Ardi melihat keraguan di kedua mata indah Hana. Tuan Ardi meninggalkan sebuah kertas yang bertuliskan tempat dan ruangan Rafa di rawat. Dengan resah tuan Ardi keluar dari rumah Hana. Tak ada harapan Hana akan datang mengunjungi Rafa.


FLASH BACK OFF


Malam ini gemiris turun tanpa henti, membasahi bumi yang panas dan gersang. Dengan membawa payung Hana berjalan masuk ke sebuah rumah sakit terbesar di kota ini. Hana memantapkan hatinya untuk sekadar mengunjungi Rafa sebagai bentuk peduli pada sesama


Dengan langkah pelan tapi pasti Hana berjalan menuju ruangan Rafa dirawat. Hana membawakan makanan kesukaan Rafa. Berharap Rafa bersedia untuk memakannya. Kehamilan Hana sudah melewati trimester pertama. Perutnya sedikit membuncit, tapi tertutup sempurna akan hijab panjangnya.


Tok Tok Tok


"Masuk!" sahut seseorang dari dalam. Hana membuka pelan pintu ruangan Rafa. Adrian berdiri, dia terkejut melihat Hana datang. Sebaliknya Hana melihat Sesil sedang duduk di tempat tidur Rafa. Terlihat dia membawa piring, membujuk Rafa untuk makan.

__ADS_1


"Hana!" sapa Adrian lirih, sontak Rafa dan Sesil membalikkan badan hampir bersamaan. Rafa menatap lekat wajah yang sangat dirindukannya. Istri yang terluka atas sikap kasarnya.


Hana terenyuh melihat perubahan yang terjadi pada Rafa. Tak ada lagi wajah tampan dan rapi, yang terlihat wajah tak terawat. Tubuh kekar Rafa menghilang berganti tubuh kurus dan lemah. Hanya beberapa minggu, Rafa seolah berubah menjadi tubuh tanpa nyawa. Adrian mendekat pada Hana.


"Hana, silahkan masuk. Jangan hanya berdiam di sana!" ujar Hana mempersilahkan masuk, Hana mengangguk pelan. Dia berjalan menghampiri Adrian. Memberikan rantang berisi makanan. Rafa terus menatap Hana, dia meluapkan seluruh kerinduan yang sudah tak tertahan.


"Pak Adrian, ini ada sedikit makanan. Mungkin tuan Rafa bersedia memakannya!" ujar Hana sopan, raut wajah Rafa kembali ceria. Adrian menoleh pada Rafa sembari mengangkat rantang ke arahnya. Rafa mengedipkan kedua mata indahnya. Adrian melihat rona bahagia di wajah Rafa. Sesil menyadari dirinya harus bermain cantik. Dia harus terlihat seperti orang yang paling berjasa pada Rafa.


"Hana, apa kabar? Bagaimana kondisi kehamilanmu?" sapa Sesil ramah seraya tersenyum. Hana menatap ke arah Sesil, dengan senyum ramah. Hana membungkuk sekadar untuk menyapa Sesil.


"Alhamdulillah, saya baik-baik saja! Terima kasih telah peduli pada saya. Nona Sesil kita tidak pernah saling menyapa. Semoga hari ini menjadi awal pertemanan yang baik diantara kita!" ujar Hana sopan, Sesil tersenyum kikuk. Dia baru menyadari, Hana memang pribadi yang baik. Hana selalu berpikir positif pada orang lain. Meski Sesil selalu mencari masalah dengannya. Hana tak pernah menyimpan dendam padanya.


"Bagaimana kabar anda tuan Rafa! Kenapa anda bisa terbaring tak berdaya. Bukankah seorang Rafa Akbar Prawira tidak akan mudah tumbang!" ujar Hana lirih, Rafa menatap kedua mata indah Hana. Tak ada lagi cinta tersirat untuknya. Rafa menunduk mengingat setiap kepingan sikap kasarnya pada Hana.


"Hana, tidak bisakah kamu memanggilku seperti biasa. Aku bukan majikanmu yang pantas kamu panggil tuan!" ujar Rafa, Adrian lesu melihat sikap Hana dan Rafa yang seolah tak pernah mengenal.


"Tuan bukan hanya untuk majikan, tapi lebih kepada menghormati orang lain. Anda orang yang baik, jadi pantas untuk saya hormati!"


"Hana, kalian bisa tidak saling membuang ego masing-masing. Mencoba saling mengerti dan memaafkan. Apa kamu tidak bisa merasakan kesedihan dan penyesalan Rafa? Dia hancur Hana, dia terpuruk!" ujar Adrian membela Rafa, Hana menunduk. Dia tidak pernah membenci Rafa, tapi menjalin hubungan kembali masih sangat tidak mungkin.


"Tuan Rafa tidak pantas terpuruk atau sedih. Seharusnya kamu kuat demi orang-orang yang menyayangimu. Bukan malah hancur, yang pada akhirnya melukai mereka!" ujar Hana lirih, Rafa menoleh pada Hana. Sesil memilih menjauh, dia tidak ingin ikut dalam perdebatan Hana dan Rafa.


"Sangat disayangkan, jika putraku melihat ayahnya tak lebih dari seorang pengecut. Seorang ayah yang tak mampu menghadapi kenyataan. Seorang ayah yang takut berjuang memperbaiki diri. Dengan sikap pengecutnya, dia menghancurkan dirinya. Hanya untuk membuktikan pada dunia. Seberapa besar rasa sakitnya, hanya belas kasihan yang dia butuhkan. Bukan semangat untuk bangkit, merubah yang salah menjadi benar!"


"Meski kulakukan semua itu, tidak akan pernah ada kata maaf darimu. Percuma rasa berani, jika hanya kepahitan yang akan kuterima. Aku memang pengecut, hidupku berakhir setelah melukai hatimu. Aku suami yang gagal!"


"Aku tidak pernah berpikir membencimu, sebenci apapun diriku padamu. Darah dagingmu tumbuh dan hidup dalam rahimku. Kata maaf dibutuhkan untuk sebuah kesalahan. Kamu tidak salah, perkataanmu benar mengenai diriku. Namun untuk mendekat padamu, aku minta maaf. Hatiku terlalu rapuh untuk terluja kembali. Aku tidak memiliki siapa-siapa? Dua nisan menjadi tempatku berkeluh kesah!"


"Sayang, aku mohon lupakan semua perkataanku!" ujar Rafa memelas, Hana menggeleng. Dia menatap wajah Rafa yang terlihat pucat, tak ada Rafa yang penuh dengan wibawa.


"Kain putih yang ternoda takkan mudah bersih. Butuh kesabaran mencucinya, jika tidak akan tetap ternoda dan membekas. Aku masih belajar menerima kenyataan, orang yang paling kucintai meragukan diriku. Menghancurkan teguhnya cintaku, mengungkit luka masa laluku. Aku tak mampu memberi janji untuk tetap bersama. Satu hal yang pasti, putramu akan lahir dengan mendengar suara azan darimu!" tutur Hana, Rafa menunduk terdiam. Luka yang ditorehkannya begitu dalam. Tak ada celah baginya untuk mengobatinya. Namun ada harapan Rafa kembali dengan Hana. Dengan satu kata sabar dan teguh akan cintanya.


Adrian dan Sesil menjadi saksi perdebatan dua hati yang saling mencintai. Adrian melihat luka Hana yang terlalu dalam, luka yang takkan mampu Rafa sembuhkan. Adrian melihat hal yang sama pada Rafa, sebuah penyesalan tanpa ujung yang entah kapan berakhir? Sesil melihat cinta Rafa untuk Hana. Cinta yang tak pernah dia terima dari Rafa.


"Hana, tidak bisakah tanganku menggenggam tangamu lagi. Demi buah hati kita. Dia tidak salah, aku yang bersalah. Jangan hukum putraku dengan menjauhkannya dariku. Aku mohon, izinkan dia mengenalku sebagai ayahnya!" ujar Rafa lirih, Hana termangu mendengar perkataan Rafa. Sebuah kenyataan yang selamanya akan menghantuinya. Ikatan Hana dan Rafa, bukan hanya sebuah pernikahan. Hadirnya buah cinta mereka yang akan menyatukan mereka.


"Sebagai seorang suami, anda telah melepas tanganku. Jadi tangan mana yang anda inginkan. Aku tidak akan lupa, jika bayi dalam rahimku mengalir darah keluarga Prawira. Aku juga tidak akan membiarkan dia kekurangan kasih sayang. Dia akan mengenalmu, aku sudah kehilangan kedua orang tuaku. Aku tidak akan membiarkan putraku merasa tak memiliki ayah!" sahut Hana lirih, Rafa mencoba untuk duduk, Adrian dan Sesil bergegas menopang tubuhnya. Hana melihat cinta yang begitu besar dari Sesil. Adrian meninggikan tempat tidur Rafa, agar bisa dalam posisi duduk.


"Itulah kebodohan terbesarku!"

__ADS_1


"Tidak ada yang perlu disesali, aku datang memberikan semangat. Anda harus bangkit, masih banyak orang yang mencintai anda lebih dari pelayan ini. Kedua orang yang setia di samping anda memiliki cinta yang besar. Pak Adrian yang akan selalu menyayangi anda layaknya saudara. Nona Sesil yang akan setia dengan cintanya pada anda!"


"Lalu cintamu, masihkah untukku!"


"Cintaku tetap teguh untuk satu nama, tapi untuk membukanya kembali. Masih sangat sulit dan sakit. Maaf!" ujar Hana lirih, Rafa mengangguk mengerti. Hati Hana terasa ngilu, melihat Sesil wanita yang berada di samping Rafa. Hana ingin menopang tubuh Rafa, tapi menopang tubuhnya sendiri Hana seolah tidak sanggup.


"Baik aku mengerti!"


"Sudah terlalu malam, saya pamit pulang dulu. Semoga anda cepat sembuh!" pamit Hana sopan, mereka bertiga mengangguk pelan.


"Hana, bagaimana kondisi Diana? Lama aku tidak melihatnya!" ujar Adrian, Hana tersenyum. Dia melihat rasa cemas yang berbalut cinta. Kedua mata Adrian seolah mengatakan semua kegundahan hatinya.


"Diana baik-baik saja. Dia sedang sibuk dengan pekerjaan barunya. Temui dia sebagai penghapus rasa cemasmu. Diana tidak ada sangkut pautnya dengan masalahku. Meski dia marah, dia tidak akan membencimu!"


Setelah mengatakan semuanya, Hana melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Rafa. Tepat saat Hana memegang handle pintu, Rafa memanggilnya.


"Hana, jika kamu mengizinkan. Bolehkah aku mengelus buah hati kita. Aku janji hanya sebentar!" ujar Rafa ragu, Hana diam seribu bahasa. Raut bahagia Rafa berubah menjadi sedih. Rasa rindunya pada sang putra tak bisa dibendung lagi. Adrian menghampiri Rafa, menepuk pelan pundaknya. Menguatkan sang sahabat, agar bisa menerima kenyataan bahwa Hana tidak akan pernah mengizinkan permintaannya.


"Silahkan, dia mungkin juga merindukan sentuhanmu!" ujar Hana, Rafa tersenyum. Adrian mengusap air matanya yang menetes. Dia terharu melihat Rafa yang bahagia setelah kesedihannya.


Hana berjalan mendekat pada Rafa. Adrian mundur beberapa langkah. Hana menyibak hijab panjangnya. Rafa melihat perut Hana yang telah membuncit. Dengan tangan bergetar Rafa menggapai perut Hana. Rafa menempelkan telapak tangannya dengan sangat lembut. Rafa mengusap perut Hana, desiran hangat mengalir dalam tubuh Rafa. Kerinduan yang tak bisa diutarakan.


Hana merasakan sentuhan lembut tangan Rafa. Kehangatan yang menghilang hanya karena salah paham. Desiran aneh menelisik hati Hana. Namun dengan cepat Hana menghapusnya. Dia tidak ingin terjebak dalam kepalsuan.


"Sayang, maafkan papa!" ujar Rafa dengan suara yang bergetar. Rafa membungkuk ingin mencium perut Hana. Dengan cepat Hana mundur, Rafa terperangah melihat sikap Hana.


"Maafkan aku, jangan berikan aku harapan palsu yang akan meninggalkan rasa sakit. Bangkitlah demi putramu, dia perlu mengenal siapa ayahnya?" ujar Hana dengan suara yang terdengar aneh. Sebenarnya Hana menahan untuk tidak menangis. Namun sepertinya pertemuan ini sedikit membuka hati Hana. Hanya Rafa yang dia cintai.


"Hana, terima kasih" ujar Rafa parau, Hana mengangguk pelan. Rafa menghapus air mata yang sudah menetes. Rafa akan bangkit dengan sedikit harapan. Kelak Hana akan menerimanya kembali. Mungkin ini perpisahan yang akan membuktikan keteguhan cinta mereka.


Rafa melihat punggung Hana yang terus menjauh. Dengan hati resah, Hana pulang ke rumahnya. Hana memantapkan hati, jika keputusannya sudah sangat tepat.


"Rafa, bangkitlah demi putramu. Buat dia bangga menjadi putramu. Aku yakin Hana akan menerimamu kelak. Yakin dengan cintamu, teguhkan hatimu!"


"Aku akan menjadi ayah terbaik untuk putraku. Mungkin sebagai suami aku tidak bisa melindunginya, tapi sebagai ayah dari putranya. Aku yakin bisa melindunginya!" ujar Rafa, Adrian memeluk Rafa. Semangat yang telah kembali. Cinta mampu menghancurkan dan menyembuhkan dalam sekejap. Dahsyatnya cinta terlihat jelas oleh Adrian.


"Aku bahagia untukmu!" bisik Adrian.


...☆☆☆☆☆...

__ADS_1


TERIMA KASIH😊😊😊


__ADS_2