
"Minum!" ujar Rey ramah, Chalisa menoleh. Dia melihat Rey membawa secangkir kopi. Kebetulan keduanya mendapat jadwal jaga malam.
Rey melihat Chalisa berjalan menuju atap rumah sakit. Dengan perlahan Rey berjalan mengikuti langkah Chalisa. Tak berapa lama Rey tiba di atap rumah sakit. Dia sengaja membawa secangkir kopi. Rey ingin meminta maaf pada Chalisa. Sikapnya kemarin dulu terlalu kasar. Sebagai seorang laki-laki Rey terlalu angkuh.
"Terima kasih!" sahut Chalisa dingin, Rey mengedipkan kedua matanya. Dia melihat jelas amarah Chalisa. Sikap dingin Rey terbalaskan kini.
Chalisa dan Rey menatap langit yang sangat tinggi. Keduanya menatap gelap malam, segelap hati keduanya tanpa cinta. Baik Rey dan Chalisa sama-sama terluka karena cinta. Rasa yang entah darimana asalnya? Nyata kini bersemayam di hati keduanya. Rasa yang tak terbalaskan dan dingin tanpa kasih sayang hangat.
"Maaf!" ujar Rey memecah kesunyian, Chalisa menoleh dengan raut wajah heran. Dia tak mengerti kenapa Rey tiba-tiba meminta maaf. Satu hal yang pasti, Chalisa tertegun dengan sikap jantan Rey. Setidaknya dengan satu kata maaf. Rey menyadari ada yang salah dengan sikapnya.
Chalisa diam tak menyahuti perkataan Rey. Dia menikmati kopi buatan Rey yang nyata menenangkan gelisah hatinya. Entah karena memang kopi buatan Rey nikmat? Atau rasa senang Chalisa menerima perhatian Rey. Sepintas Chalisa terlihat senyum-senyum sendiri. Seakan dia bahagia menerima secangkir kopi dari Rey sang penggetar hati.
"Maaf, aku telah bersikap kasar padamu. Sebagai seorang laki-laki, aku tak menghargai rasamu. Meski belum tentu rasa itu benar untukku. Namun percayalah, ada alasan dibalik sikap dinginku. Bukan aku memandang rendah dirimu. Tapi aku terlalu takut mencintai, jika aku belum yakin hatiku bersih dan tulus untuk sebuah rasa yang baru!" ujar Rey lirih, Chalisa menoleh menghadap Rey.
__ADS_1
Dia menatap raut wajah Rey ang berubah pias. Chalisa tak melihat wajah dingin Rey, melainkan raut wajah rapuh yang tersimpan di balik sikap acuhnya. Chalisa melihat sisi lemah Rey. Dokter muda berbakat yang menyimpan luka akan cinta. Teguh cinta yang nyata tak terbalas. Sepintas Chalisa penasaran, siapa wanita yang begitu bodoh menolak rasa Rey.
"Seteguh itu cintamu padanya, sampai kamu rela menahan luka selama ini. Kamu menyimpan duka yang begitu lama. Menolak setiap rasa dan perhatian. Hanya demi cinta yang nyata menolakmu. Sungguh bodoh wanita yang tak menerima rasamu. Menepis cinta teguhmu. Jujur aku cemburu padanya!" ujar Chalisa tegas dan dingin.
Rey menggeleng tak setuju, dia tak akan terima bila ada yang menyalahkan Davina akan lukanya. Rey teguh pada rasa yang sejak awal tak pernah bisa digapai. Bukan Rey tak ingin melupakan Davina. Namun bayangan Davina, seakan mengikuti kemanapun langkahnya pergi. Apalagi hubungan Rey dengan keluarga Prawira yang selalu mempertemukan dirinya dengan Davina.
"Jangan pernah salahkan dia atau menghina dirinya. Bukan dia yang salah menolak cintaku, tapi rasaku yang memang tak pantas dipilih. Aku memang bodoh menyimpan rasa ini. Namun aku bahagia setiap kali melihat senyum di wajahnya. Kini dia bahagia bersama keluarga kecilnya. Hanya aku yang tetap teguh pada rasa ini. Tanpa berpikir ingin mendapatkannya atau mengganti dengan cinta yang lain!" ujar Rey tegas, Chalisa terharu mendengar teguh cinta Rey.
Selama ini Chalisa menganggap seorang laki-laki tak lebih dari seorang penipu. Kebenciannya pada ayah kandungnya. Seakan tak pernah membuatnya simpati pada laki-laki. Namun saat bertemu Rey, melihat kasih sayang Rey pada Gavi. Chalisa tersentuh, hatinya luluh hanya dengan satu pandangan.
"Begitu beruntungnya dia mendapatkan tulus cintamu. Kini aku sadar, cintaku tak butuh sambutmu. Aku cukup bahagia, kamu bersedia mengenalku. Keteguhan rasamu mengajarkanku arti pengorbanan. Tak perlu lagi kamu meminta maaf. Rasamu untuknya suci dan tak pantas ternoda!" ujar Chalisa lirih, Rey diam membisu.
Chalisa memahami dukanya, tapi Rey mengacuhkan rasa yang mulai bersemi untuk Chalisa. Rey menutup mata dan hatinya, takut merasakan cinta yang nyata dia rasa. Hanya karena dia tak ingin terluka atau melukai. Namun kehadiran Chalisa, menggetarkan hatinya yang kosong. Sikap agresif Chalisa, menghangatkan hatinya yang dingin.
__ADS_1
"Terima kasih, kini aku bisa bernapas lega. Tidak ada kesalahpahaman diantara kita. Semoga kita bisa menjalin hubungan lebih baik. Sebagai sesama dokter dan saudara ipar!" ujar Rey lirih, Chalisa mengangguk pelan.
"Seandainya kamu tahu isi hatiku, tentu tidak akan semudah itu kamu bicara. Tanpa aku katakan, kamu telah merasakan sakitnya cinta tak bersambut. Aku berharap rasaku padamu takkan sesakit ini. Sungguh Rey, aku tak sanggup menahan rasa sakitnya. Namun aku harus kuat, cintaku tak akan membebanimu. Cintaku tulus demi bahagiamu, denganku atau tanpa diriku. Rey, dokter tampanku. Aku mencintaimu, aku menghargai keteguhan hatimu. Jika kamu berdoa demi hubungan baik diantara kit. Sebaliknya aku berdoa, semoga ada jodoh diantara kita!" batin Chalisa.
"Semoga ada jodoh diantara kita!" sahut Chalisa lirih, Rey menoleh dengan raut wajah terkejut. Chalisa berpura-pura tidak mengerti tatapan Rey.
"Kamu selalu membuatku terkejut dengan sikap spontanmu!" ujar Rey sembari menggelengkan kepala pelan. Chalisa tersenyum simpul, lalu dia menunjuk bintang-bintang kecil di gelapnya langit malam.
"Lihat bintang kecil itu, terlihat kecil dan jauh. Dia tidak bisa mengalahkan gelap malam. Luasnya langit seakan membuatnya jauh. Seperti itulah rasaku padamu. Cintaku memang tak sebesar rasamu padanya. Tapi cintaku terlihat jelas di gelap hatimu. Cintaku tak seteguh rasamu padanya. Namun percayalah, cintaku yang kelak menghangatkan hatimu yang beku. Malam ini aku kalah akan teguh cintamu padanya. Kelak aku akan mengalahkan gelap dan dingin hatimu. Sinar kecil cintaku yang akan membuatmu bahagia!" ujar Chalisa santai, lalu meninggalkan Rey sendirian.
Chalisa mundur akan rasanya, tapi bukan untuk selamanya tapi sementara. Chalisa menunggu saat hati Rey mulai luluh akan perhatian dan kepeduliannya. Bukan Chalisa wanita tanpa harga diri yang terus menghiba cinta Rey. Namun Chalisa percaya, cintanya pada Rey pantas diperjuangkan.
"Chalisa putri, dokter manisku. Sikap hangatmu membuatku luluh. Maaf aku tak bisa menerima cintamu. Aku terlalu takut terluka dan mungkin melukaimu. Hatiku tak sebersih dulu, masih ada satu nama di dalamnya. Aku tak ingin menjadikanmu yang kedua. Seandainya kelak aku menerima cintamu. Artinya saat itu tak lagi ada nama Davina di dalamnya. Hanya akan ada namamu yang tertulis di dinding hatiku. Satu dan selamanya. Terima kasih atas cintamu, aku percaya kelak akan ada saat kita bersatu!" batin Rey sembari tersenyum menatap punggung Chalisa yang menghilang menjauh.
__ADS_1
...**☆☆☆☆☆☆...
AUTHOR MINTA MAAF TELAH MENGECEWAKAN PARA PEMBACA**.