
"Davina, bagaimana kondisimu sekarang?" ujar Farah lirih, Davina mengedikan mata. Seolah mengatakan dirinya baik-baik saja. Farah mendekat pada Davina. Lalu memeluk Davina erat, memberikan semangat pada Davina. Serta doa akan kesembuhan Davina.
Farah sahabat yang sangat dekat dengan Davina. Sejak putih abu-abu keduanya menjalin persahabatan. Bahkan keduanya memiliki kedekatan dengan Fathan, tapi mencintai Faiq. Entah persahabatan mereka yang sangat dekat. Sampai mereka bisa mencintai laki-laki yang sama. Namun selamanya dalam cinta hanya akan ada dua hati yang terpaut dan hati yang lain tersisih. Tanpa Davina sadari, hati Farahlah yang harus tersisih.
"Aku baik-baik saja! Siapa yang mengatakan padamu? Kalau aku ada di rumah sakit. Tidak mungkin kak Faiq atau mama. Aku sudah melarang mereka, untuk tidak menceritakan kondisiku. Aku tidak ingin membuat semua orang cemas dan akhirnya menjadi beban mereka!" ujar Davina lirih, sembari menatap Farah dengan tatapan sayu.
Farah menggeleng seraya tersenyum di balik cadarnya. Farah menarik tangan Davina, menggenggam sembari menepuk pelan. Farah menyalurkan semangat pada tubuh Davina yang melemah. Davina mengedipkan mata sebagai balasan dari semangat yang diberikan Farah. Sejak dulu Farah selalu ada untuk Davina. Sebaliknya Davina akan ada menemani Farah yang kesepian. Dari Davina Farah mendapatkan keluarga yang tak pernah dia miliki. Farah tidak merasa sendiri bila bersama Davina. Dia merasakan kasih sayang yang tak pernah diberikan kedua orang tuanya. Sebab itu Farah selalu bahagia bersama Davina dan keluarganya.
Farah mengetahui kondisi Davina bukan dari Faiq atau orang terdekat Davina. Melainkan dari orang yang pernah mencintai Davina. Seseorang yang harus mengalah dan pergi demi kebahagian Davina. Rey menjauh dari hidup Davina, ketika bersama tak lagi bisa tercapai. Bahkan Rey yang sengaja meminta Farah datang. Rey berharap sebagai sahabat dia bisa mendukung Davina. Agar kondisi Davina semakin membaik. Rey berpikir dukungan dan semangat Farah mampu membuat Davina pulih lebih cepat. Sebab yang dibutuhkan Davina sekaran. Hanyalah semangat menjalani hari setelah operasi.
Setelah sekian lama Rey menghilang. Akhirnya dia harus bertemu lagi dengan Davina. Rey yang sekarang bukan yang dulu. Jika dulu dia hanya dokter umum. Sekian tahun Rey menghilang dan kini menjelma menjadi dokter hebat seperti kakak sambungnya. Rey kembali dengan gelar dokter spesialis bedah. Mungkin ini yang dinamakan, cinta tak harus bersama. Namun jika kita mencintai dengan tulus. Kelak kita akan bertemu kembali dengan hati yang lebih lapang.
Rey datang bukan sebagai laki-laki yang mencintai Davina. Dia datang sebagai dokter yang ingin menyembuhkan pasiennya. Jika sebagai seorang laki-laki. Dia harus kalah dengan Faiq yang mendapatkan cinta Davina. Sebagai seorang dokter, Faiq yang harus mundur dan mengakui kehebatan Rey. Kedatangan Rey menjadi jalan kesembuhan Davina. Meski Faiq harus menahan rasa cemburu, Faiq siap selama Davina bisa disembuhkan.
Rey tak bisa bersama dengan Davina. Cintanya kalah dan dipaksa mengalah. Ketika dia melihat besar cinta Davina pada Faiq. Namun kandasnya cinta Rey pada Davina. Tidak serta merta membuat Rey melupakan persahabatan diantara mereka. Rey kini datang membantu penyembuhan Davina. Dia datang sebagai sahabat yang akan selalu ada dikala sahabatnya membutuhkan. Rey tetap ingin persahabatan mereka terjaga. Meski semua tak lagi sama.
Kondisi Davina yang semakin memburuk. Akhirnya membuat Faiq memutuskan operasi besar. Operasi pengangkatan salah satu ginjal Davina yang memburuk. Operasi yang sangat beresiko saat kondisi Davina yang mulai drop. Setelah mencari dan merundingkan dengan keluarga besarnya. Faiq memutuskan operasi bagi Davina. Lalu berkat bantuan Annisa kakak iparnya. Faiq bisa menghubungi Rey yang kini menjadi speasialis bedah terhebat. Kepergian Rey yang tiba-tiba, seakan ingin menjauh dari semua orang. Terutama Faiq dan Davina.
"Rey!" sahut Farah, Davina mengangguk mengerti. Davina sudah menduga, jika Rey yang telah menceritakan kondisinya pada Farah. Persahabatan diantara mereka berubah menjadi hambar dan canggung. Ketika cinta menelisik mengusiknya. Dalam satu waktu, Davina harus kehilangan dua orang sahabat sekaligus. Farah dan Rey pergi meninggalkannya, sesaat setelah Davina mengatakan cinta pada Faiq. Rey dan Farah pergi membawa luka yang tanpa sengaja tergores. Tanpa ada yang mengucapkan kata pisah. Keduanya menjauh dari hidup Davina.
Rey pergi tanpa berita dan kembali menjadi seorang dokter hebat. Farah menghilang bak ditelan bumi. Namun dia kembali dengan pribadi yang berbeda. Cinta membuat tiga sahabat memilih jalan masing-masing. Bukan ingin menjauh, tapi lebih baik menghindar dari rasa cinta. Ketika cinta tak lagi mampu bersatu. Farah dan Rey mencari jati diri yang baru. Mereka kembali bak kepompong yang berubah menjadi kupu-kupu.
Rey dan Farah terluka serta hancur karena cinta. Namun keduanya bijak dalam melangkah. Sebaliknya Davina pernah hancur, tapi memilih jalan yang salah. Sikap ceroboh yang kini membuatnya harus kehilangan salah satu ginjalnya. Obat-obat yang sering dikonsumsi Davina merusak sebagian ginjalnya. Pola hidup yang tidak sehat, serta kurangnya air putih. Membuat Davina membayar mahal. Penurunan fungsi ginjal, berimbas pada kandungannya. Bukan tidak bisa hamil, tapi akan butuh waktu lebih lama. Namun dibalik pesimisnya. Ada harapan yang takkan bisa diragukan lagi. Ketetapan Allah SWT yang mampu merubah apapun. Semua masih bisa, selama Davina ikhlas menjalani ketentuan-NYA.
__ADS_1
"Kamu sudah bertemu dengannya. Persahabatan kita harus berakhir, karena hati yang tak bisa dikendalikan. Aku kehilangan kalian dalam waktu yang bersamaan. Memang benar yang dikatakan orang. Tidak selamanya kita bahagia, ada kalanya rasa sedih mengisi. Tepat di saat aku bahagia, aku juga merasa sedih!" tutur Davina lirih, Farah menggeleng lemah sembari memeluk Davina.
Farah sangat menyayangi Davina. Dia tidak mungkin menghancurkan persahabatan diantara mereka. Hanya demi cinta Faiq yang tak pernah menjadi miliknya. Mengalah menjadi salah satu cara. Agar tak banyak hati yang terluka. Farah merasa Davina jauh lebih baik bersama Davina. Meski penyatuan mereka sangat sulit dan berliku.
Baik Farah atau Rey tidak pernah menyalahkan Davina akan luka yang mereka rasakan. Davina berhak merasakan cinta itu. Faiq dan Davina menjadi pasangan yang palimg ideal. Cinta Faiq layak diperjuangkan. Farah yakin kelak akan ada imam yang tercipta untuknya. Sedangkan Rey berharap akan ada cinta lain yang menyentuh hatinya.
"Hari ini semua akan baik-baik saja. Persahabatan diantara kita akan tetap ada. Aku dan Rey kembali dengan hati dan jiwa yang berbeda. Jadi tidak perlu lagi kamu menyesalkan yang pernah terjadi. Kita akan tetap bersahabat. Kamu harus sembuh, agar kamu bisa menemaniku. Kak Faiz akan datang menemuiku. Aku tidak ingin sendirian, kamu yang mengerti diriku!" ujar Farah lirih, sesaat setelah melepaskan pelukannya. Davina mengangguk seraya tersenyum ke arah Farah.
Ada rasa bahagia di hati Davina. Saat dia mendengar Farah akan menjemput kebahagiannya. Faiz sahabat Faiq akan menjadi imam dunia akhirat yang didambakan Farah. Penantian Farah akhirnya menuju titik akhir. Ketika ada seorang Faiz yang datang melamarnya. Tanpa ragu dan banyak pertanyaan. Sebuah ketulusan yang tak mengharapkan balasan.
Tok Tok Tok
Terdengar suara pintu ruangan Davina terbuka. Hana datang membawa makanan dan beberapa pakaian ganti untuk Faiq. Hana tersenyum melihat Farah dan Davina. Sekilas Hana mengenal Farah saat pernikahan Vania. Selama ini Farah dekat dengan Fathan, tapi seakan menjaga jarak dengan Hana. Mungkin masa lalu antara Rafa dan Sesil sedikit membuat Farah canggung. Meski tak pernah Hana berpikir menjauhkan Farah dengan Fathan.
"Pelukkan ini sebagai rasa sayang tante untukmu. Kamu sudah seperti putri tante. Kedua mata indahmu, mengingatkan tante akan mamamu!" ujar Hana lirih, Farah mengangguk pelan dalam pelukan Hana.
Ada rasa hangat, ketika Hana memeluknya. Kasih sayang yang selama ini dia rindukan. Seakan terbayar lunas. Rasa sepi yang menelisik ke dalam hatinya. Semua hilang hanya dengan satu pelukan tulus dari Hana. Farah selalu mengharapkan kasih sayang setulus Hana. Dia tidak pernah merasakan rasa hangat ketika memeluk Sesil. Hanya uang dan kenyamanan materi yang selalu diberikan kedua orang tuanya. Farah selalu merasa hampa, meski segalanya selalu terpenuhi.
Tubuh Farah bergetar saat menerima pelukan Hana. Pelukan dan kasih sayang yang seharusnya dia dapatkan dari orang tuanya. Namun kenyataannya tidak sesuai harapannya. Hanya uang bentuk kasih sayang kedua orang tuanya. Keharmonisan sebuah keluarga, hanya angan belaka tanpa realita.
Tanpa terasa air mata Farah menetes. Hatinya terasa ngilu, ketika dia menyadari. Betapa dia merindukan kehangatan sebuah keluarga. Hana mendengar suara isak tangis Farah. Bersamaan dengan pelukan Farah yang semakin erat. Dengan lembut Hana mengusap kepala Farah, lalu menarik tubuh Farah pelan. Mencium kening Farah lembut. Menenangkan Farah yang mulai gelisah.
"Farah sayang, menangislah sepuas hatimu. Jangan malu atau ragu, air mata ada untuk menetes. Luapkan semua rasa pahit dan sepi dalam hidupmu. Jika menangis bisa membuatmu lega, maka menangislah sepuas dan sekeras mungkin. Jangan menahan sesuatu yang memang tak mampu ditahan. Sebaliknya jangan pernah berpikir, menangis akan membuatmu terlihat lemah. Kita wanita memang lemah, itu kodrat. Sebab akan ada imam yang menguatkan dan menopang kita!" ujar Hana lirih dan lembut, Farah hanya bisa mengangguk dalam pelukan Hana.
__ADS_1
Sebuah nasehat sederhana, tapi sangat berarti bagi Farah. Nasehat yang Farah harapkan keluar dari orang tuanya. Namun kenyataannya berbeda, nasehat itu keluar dari mulut Hana. Wanita yang pernah tersakiti oleh sikap Sesil mamanya.
"Farah, ikhlas itu tidak mudah. Namun jika kita menyadari arti kata ikhlas. Kita akan menjadi pribadi yang menang. Percayalah dalam setiap sepimu. Akan ada keramaian yang kelak akan tercipta. Setiap tetes air matamu yang jatuh. Akan ada masa dimana hanya senyum yang nampak. Jika rindu terasa berat dan menyakitkan, maka ikhlas akan membuatnya indah dan mudah. Apapun yang terjadi padamu? Yakinlah akan ada masa, senyum indah terpancar dari wajahmu!" ujar Hana lagi.
Seketika Farah menatap Hana, mencari kebenaran dan keyakinan dalam setiap perkataan Hana. Seolah Farah masih ragu akan arti dari setiap perkataan Hana. Farah layaknya anak kecil yang butuh belaian tangan seorang ibu. Haus akan kasih sayang yang murni.
"Seandainya aku bisa memilih, mungkin aku akan memilih tak dilahirkan. Menjadi putri orang tua yang tak pernah menyayangiku. Tak ubahnya seorang anak tanpa orang tua. Aku terlahir tanpa cinta, sekarang aku besar tanpa cinta. Seandainya aku terlahir dari rahimmu. Mungkin aku akan bahagia!" ujar Farah lirih, Hana menggeleng lemah seraya tersenyum simpul.
Perkataan Farah tak pantas diucapkan. Apalagi bagi seseorang yang beriman. Hana tidak pernah ingin mendengar Farah mengeluh akan takdir yang tertulis. Karena sesungguhnya takdir itu ada dengan seadil-adilnya.
"Sejujurnya tante selalu berdoa, agar tak ada yang lahir dan hidup layaknya tante. Farah masih bisa melihat kedua orang tua. Farah masih bisa mencari pahala dengan berbakti pada orang tua. Sedangkan tante, sejak belia harus hidup sebatang kara. Tanpa orang tua ataupun saudara yang menemani. Ketika dewasa tante harus menikah. Dengan laki-laki yang tanpa sengaja membunuh orang tuaku. Farah selalu hidup dengan berlebih, sedangkan tante harus berjuang agar mampu menatap hari esok. Farah harus tahu, semua sudah tertulis dan adil. Tak ada timbangan yang berat sebelah. Jika Farah ingin merasakan hidup sempurna. Kapan Farah akan mengeluh dan bersimpuh pada Allah SWT? Anggaplah rasa sedihmu sebagai caramu mengingat dan bersyukur pada-NYA!" ujar Hana, Farah menunduk malu. Dia telah salah dalam menilai keluarganya.
"Maaf!" ujar Farah lirih, Hana menggeleng seraya menangkup kedua pipi Farah. Hana melihat kedua mata indah Farah. Mata yang menyimpan amarah dan sedih yang teramat.
"Kata maaf itu bukan untuk tante, tapi lebih tepat untuk mama yang melahirkanmu. Sebelum terlambat, minta maaflah padanya. Tanpa kamu sadari, kamu telah mendholimi ibu yang melahirkanmu. Rasa sakit saat mengandung dan melahirkanmu, jauh lebih sakit dari rasa sakit yang kamu rasakan. Jangan pernah merasa sendiri, ada Davina sahabatmu dan tante yang akan senantiasa menyayangimu!" ujar Hana lirih.
"Peluklah mamamu, ucapkan maafmu. Agar tidak ada lagi jarak diantara kalian!"
Davina melihat kehangatan terjalin antara Hana dan Farah. Davina tertunduk lemah, ada rasa sesal dalam hatinya. Ketika dia mengeluh akan rasa sakitnya. Tanpa dia sadari, Farah jauh lebih terluka. Sahabatnya merasa sepi tanpa keluarganya, tapi Farah tetap diam menutupi semuanya dengan sangat sempurna.
"Farah, persahabatan kita akan abadi? Bukan hanya persahabatan semu. Katakanlah setiap dukamu, bagilah bebanmu denganku. Percayalah kamu tidak sendiri, ada aku. Sahabat akan ada, bukan hanya saat bahagia tapi terluka!" sahut Davina, sontak Farah menoleh ke arah Davina. Farah memeluk tubuh Davina, ada rasa haru dan bahagia. Ketika Farah bisa merasakan kasih sayang Hana dan tukang es krim.
"Terima kasih!" ujar Farah lantang.
__ADS_1