
Hampir seminggu Vania berada di kota ini. Vania sudah bertemu dengan calon mertuanya. Namun dia belum bertemu dengan sang calon suami. Kesibukan laki-laki yang akan menjadi calon imamnya. Membuat pertemuan mereka seakan sangat sulit. Berkali-kali Vania membuat janji untuk bertemu laki-laki itu. Namun hasilnya tetap sama, Vania tidak pernah bertemu dengan laki-laki itu. Namun Vania tidak pernah kecewa. Dia memahami kesibukan sang calon suami. Vania belajar mengerti bila laki-laki yang akan menikah dengannya bukan laki-laki biasa.
Keluarga calon imamnya bukan keluarga yang sembarangan. Jika keluarga Prawira keluarga yang kaya. Sedangkan keluarganya lahir dalam lingkungan pesantren. Sebaliknya keluarga calon suaminya mencakup keduanya. Selain mengelola pesantren yang cukup besar. Keluarga calon mertuanya memiliki bisnis dalam beberapa bidang. Salah satunya perhotelan. Vania sempat pesimis akan meneruskan perjodohan ini. Vania meras rendah diri. Dia merasa tidak pantas untuk laki-laki sehebat itu.
Kegagalan pertemuan yang terus terjadi. Membuat Vania berpikir, jika calon suaminya sengaja menghindar. Perjodohan Vania sudah terlaksana sejak Vania remaja. Tepatnya sebelum Vania berangkat ke luar negeri. Sejak saat itu Vania menjaga hati dan pandangannya. Dia tidak ingin mengenal laki-laki selain calon suaminya. Sebab itu Vania menutup seluruh wajahnya dengan cadar. Dia tidak ingin ada laki-laki yang terpesona akan kecantikan wajahnya. Vania tidak ingin melukai hati laki-laki lain. Kecantikan wajah dan hatinya sudah termiliki oleh sang calon imam. Meski dia tidak pernah mengenal laki-laki itu. Vania sudah menyerahkan seluruh hatinya.
Terkadang kenyataan tidak sesuai yang diharapkan. Selama seminggu pertemuan yang dijadwalkan selalu gagal. Terselip sebuah pemikiran dalam benak Vania. Dia berpikir kemungkinan jika sang imam telah terpikat akan wanita lain. Laki-laki dengan kelebihan yang luar biasa. Seseorang dengan kesuksesan yang besar. Tidak mungkin hidup sendiri tanpa cinta. Sejak pikiran itu bermain dalam benaknya. Vania mulai merasa pesimis akan hubungan ini. Vania tidak ingin bahagia bila melukai hati wanita lain. Vania tidak berharap, bila calon suaminya terpaksa menikah dengannya hanya karena perjodohan.
Setelah menunggu selama seminggu, Vania mulai mulai merasa lelah. Dia mulai bersikap acuh akan janji pertemuan diantara mereka. Vania tidak lagi berharap pada pertemuan yang dijanjikan. Namun satu hal yang pasti, jika pertemuan ini gagal. Vania akan pulang ke kotanya. Seminggu sudah cukup baginya menunggu. Vania tidak ingin berharap lagi. Kedua orang tuanya sudah pulang sejak dua hari yang lalu. Vania merasa tidak pantas, bila Vania terus menunggu tanpa sebuah kepastian. Meski calon mertunya pribadi yang sangat baik. Mereka sudah menganggap Vania layaknya putri mereka. Namun tetap saja, Vania akan menikah dengan putranya bukan orang tuanya. Jadi Vania harus mengenal dan dihargai oleh putra mereka.
Sore ini akan diadakan pertemuan antara Vania dan calon suaminya. Pertemuan akan diadakan di sebuah cafe. Sebuah cafe yang terletak tak jauh dari perusahaan sang calon suami. Agar tidak ada lagi alasan sang calon suami menghindar. Namun bertemu atau tidak, Vania sudah memutuskan akan kembali ke kotanya setelah sholat isya. Dia sudah memesan tiket pesawat untuk penerbangan terakhir. Vania tidak lagi berharap bertemu dengan laki-laki itu. Vania ingin membatalkan pertemuan ini, seandainya semua itu mungkin.
__ADS_1
Vania keluar dari hotel tempat tinggalnya tepat pukul 15.30 wib. Vania membawa serta koper kecilnya. Vania sudah check out dari hotel. Setelah pertemuan singkat dengan calon suaminya. Vania akan langsung menuju bandara. Dia tidak ingin tinggal lebih lama lagi di kota yang sangat asing sendirian. Vania berangkat menuju cafe menggunakan taxi. Vania tidak mudah bergantung pada orang lain. Dia pribadi yang sangat mandiri. Sekitar tiga puluh menit Vania berada dalam taxi. Menurut supir taxi, jarak cafe tidak terlalu jauh. Namun kemacetan membuatnya terasa sangat jauh dan lama. Selama di dalam taxi Vania membaca buku-buku islami. Tidak pernah Vania membuang waktu sedikitpun. Dia akan selalu menggunakan waktu sengganya untuk membaca buku.
BraaakÄ·kkk
Terdengar suara benturan yang sangat hebat. Supir taxi menginjak rem dengan tergesa-gesa. Vania sampai terjungkal menghantam jok depan. Seketika Vania memegang keningnya yang terluka. Dengan meringis kesakitan, Vania bertanya alasan supir menghentikan taxi dengan mendadak. Saat supir taxi menceritakan telah terjadi kecelakaan di depan taxinya. Seketika itu Vania turun dari taxi. Vania berlari menuju tempat kejadian.
Vania melihat sebuah kecelakaan yang sangat parah. Sebuah keluarga menggunakan sepeda motor bertabrakan dengan mobil dari arah berlawanan. Semua orang diam menyaksikan. Seolah takut untuk membantu. Jiwa kemanusian Vania menjerit. Tubuhnya seakan merasakan sakitnya para korban. Dengan sigap Vania berlari ke arah tempat kejadian. Vania meminta seseorang menghubungi ambulans. Sedangkan Vania menghampiri anak korban kecelakaan yang terpental. Hanya darah yang terlihat di jalanan. Tak ada rasa takut atau jijik bagi Vania. Selama ini dia bersama Faiq telah merawat ratusan orang yang sakit. Meski Vania bukan seorang perawat atau dokter. Namun jiwa kamanusiaannya melibihi kemampuan seorang dokter.
"Akhirnya aku bertemu denganmu lagi. Setelah seminggu aku berusaha mencarimu. Sekarang aku menemukanmu disaat aku mulai menyerah. Seandainya aku tidak melewati jalan ini. Aku tidak akan pernah melihatmu. Penilaianku tentang dirimu tidak salah. Kamu wanita yang berhati baik. Sejak pertama aku melihatmu. Hatiku mulai terusik akan tatapan kedua matamu. Sekarang dengan nyata kedua mataku melihat kemulian hatimu. Sikap sigapmu menolong mereka. Menyadarkan diriku, bahwa ketulusan itu masih ada. Noda darah yang menempel di hijab dan gamismu. Seakan tak kamu pedulikan. Hanya kekhawatiran yang jelasa terlihat di kedua matamu. Aku takjub akan kemuliaan hatimu. Sungguh seandainya aku memiliki kesempatan. Ingin aku mengenalmu, menjadikanmu makmum dunia akhiratku!" batin Raihan, dia melihat Vania yang membantu tanpa pamrih. Raihan terpesona akan kelembutan hati Vania. Tak ada rasa takut atau jijik. Hanya pertolongan yang Vania dengan penuh ketulusan.
Lalu setelah lama berusaha sendiri. Sebagian orang akhirnya tersentuh melihat keberanian Vania. Mereka ikut membantu menolong kedua orang tua sang anak. Awalnya mereka ragu menolong, karena takut berurusan dengan pihak berwajib. Namun setelah melihat keberanian Vania mereka yakin tidak akan terjadi sesuatu pada mereka. Sesungguhnya mereka berniat menolong tidak lebih.
__ADS_1
Sekitar sepuluh menit menunggu, akhirnya ambulans datang. Korban kecelakaan dibawa menggunakan ambulans. Vania ikut dalam mobil ambulans. Dia menggendong sang anak dengan penuh kasih sayang. Vania mendekap erat bocah itu. Vania meneteskan air mata. Vania merasa hatinya sakit. Ketika melihat darah yang terus mengalir. Darah yang keluar bersamaan dengan rasa sakit yang teramat.
Sekitar lima belas menit, akhirnya ambulans tiba di rumah sakit. Para korban kecelakaan langsung mendapatkan perawatan. Vania memberikan sang bocah pada salah satu perawat. Vania gelisah memikirkan kondisi para korban kecelakaan. Dia takut teejadi sesuatu pada orang tua bocah tersebut. Vania menunggu dengan cemas di luar ruangan IGD. Penampilan Vania sangat berantakan. Gamis dan hijabnya penuh dengan noda darah. Warna merah yang berasal dari darah sang bocah. Sekali lagi Vania merasakan sakit yang teramat.
Vania duduk di bangku penunggu tepat di depan IGD. Dia tidak lagi peduli pada keadaannya. Banyak orang yang melihat kearahnya. Namun Vania tak bergeming, hanya rasa cemas yang ada dalam hatinya. Bahkan Vania lupa akan janji bertemu dengan calon suaminya.
"Minumlah, kamu pasti kelelahan. Aku melihatmu sangat gelisah. Mungkin air ini bisa membuatmu tenang!" ujar Raihan ramah, Vania mendongak heran. Dia tidak menduga akan bertemu dengan Raihan di rumah sakit. Sebenarnya sejak di twmpat kejadian. Raihan selalu mempertikan gerak-gerik Vania. Sebenarnya Raihan tidak ingin mengikuti Vania sampai ke rumah sakit. Terpaksa Raihan datang ke ruamh sakit. Saat ada supir taxi memberikan barang-barang Vania.
"Terima kasih!" sahut Vania lirih, dia mengambil air meniral yang diberikan Raihan. Namun Vania tidak meminumnya. Dia meletakkannya tepat disampingnya. Raihan mengeryitkan alisnya, dia merasa Vania tidak menghargai perbuatan baiknya. Raihan kecewa dan marah akan sikap Vania.
"Aku memberikan air itu murni ingin melihatmu tenang. Lagipula aku bukan penjahat yang harus kamu hindari. Aku merasa iba melihatmu kelelahan, hanya itu tidak lebih. Satu hal lagi, aku datang bukan karena dirimu. Aku ingin mengantarkan kopermu yang tertinggal di taxi. Maaf jika kamu merasa air yang aku berikan tidak pantas kamu minum!" tutur Raihan kesal, Vania menggeleng lemah. Lalu dia berdiri berhadapan dengan Raihan.
__ADS_1
"Maaf jika sikapku melukaimu. Maaf jika aku menolak meminumnya sekarang. Sebab aku masih puasa. Tidak ada niatku menyinggungmu. Sekali lagi terima kasih!" ujar Vania lirih, dia berjalan menjauh dari Raihan. Meninggalkan Raihan yang terpesona dengan kecantikan hati dan iman yang dimiliki Vania. Sedangkan Raiha terdiam membisu, dia merasa bersalah telah berburuk sangka pada Vania.