
Setelah hampir seminggu Hana berada di rumah sakit. Akhirnya Cintya mengizinkan Hana pulang ke rumah. Namun dengan catatan, akan ada perawat yang menjaga Hana selama 24 jam. Sengaja Rafa meminta dua beberapa perawat untuk menjaga Hana dan Faiq. Rafa melakukan semua itu, karena Rafa tidak berharap terjadi sesuatu pada Hana. Bagi seorang Rafa menyewa beberapa perawt tidaklah sulit. Jauh lebih sulit membujuk Hana bersedia dijaga oleh perawat.
Rafa dan Hana sempat bersitegang, hanya karena Rafa yang terus memaksa menggunakan jasa perawat. Hana yang tidak ingin merepotkan orang lain. Bahkan cenderung hidup mandiri. Merasa keberatan bila dijaga oleh perawat selama 24 jam. Namun setelah Cintya yang membujuk, dengan alasan kondisi Hana yang belum stabil pasca operasi. Dengan berat hati Hana mengiyakan permintaan Rafa.
Alhasil Hana dijaga selama 24 jam oleh dua perawat dan dua lagi menjaga Faiq. Kiara dan Rizal menyetujui keputusan Rafa. Bukan tidak ingin membantu menjaga Hana dan Faiq. Namun semua akan terasa tenang, saat Hana dan Faiq dirawat oleh tangan yang berpengalaman. Hana kalah suara, dia sendirian menolak keputusan Rafa. Meski sebenarnya Hana mengetahui, Rafa tidak akan pernah memaksakan kehendak. Seandainya Hana benar-benar menolak. Namun Hana sadar diri, dia tidak boleh egois menolak begitu saja keputusan Rafa. Seandainya keputusan Rafa demi kebaikan Faiq.
Malam ini akan diadakan makan malam penyambutan untuk putra kedua Rafa dan Hana. Kiara dan Rizal yang menyiapkan semuanya. Diana dan Andrian bertugas mengurus konsumsi. Sejujurnya Diana ingin terlibat banyak dalam pesta penyambutan kali ini. Namun kondisinya terus melemah. Semenjak dia dinyatakan hamil beberapa minggu. Alhasil Diana hanya bisa memantau, tanpa bisa terjun langsung dalam acara istimewa sang sahabat.
Tidak banyak undangan yang akan hadir. Rafa hanya akan mengundang beberapa rekan bisnis yang benar-benar dekat. Kerabat yang sangat mengenal Rafa dan Hana. Meski Hana ingin acara yang sederhana. Namun arti sederhana Rafa dan Hana berbeda. Sejak dulu Hana menyadari gaya hidup Rafa yang tidak akan pernah bisa disamakan dengannya. Hana tidak mempunyai daya untuk menentang Rafa. Tubuhnya terlalu lemah untuk berdebat dengan Rafa. Hana bersedia menerima acara ini, tapi dia hanya akan ikut sebentar saja. Hana tidak ingin Rafa mengenalkannya terlalu formal. Selamanya Hana tetap Hana Khairunnisa yang merasa dirinya tak pantas berada diantara rekan kerja Rafa. Bukan merasa rendah diri, tapi Hana tidak ingin kehadirannya menjadi celah untuk orang lain menghina Rafa. Kehormatan Rafa bagi Hana layaknya pakaian yang dikenakannya. Hana tidak ingin menjadi alasan Rafa kehilangan kehormatannya.
Sekitar pukul 19.00 wib, para tamu undangan bergantian datang. Rafa menyambut mereka dengan ramah dan senyum. Adrian menemani Rafa menyambut tamu. Sedangkan Diana menemani Hana, dia tidak mungkin berkelilibg dengan fisik yang lemah. Dua sahabat yang saling mendukung. Kini berada dalam kondisi yang sama, lelah dan bahagia. Hana lemah karena baru saja melahirkan dan bahagia menyambut kelahiran Faiq putra keduanya. Sedangkan Diana lemah sebab usia kandungannya yang masih muda dan bahagia menunggu sang calon bayi. Keduanya saling mendukung sekuat mungkin. Dua sahabat yang berikrar menjadi saudara.
"Mama!" teriak Annisa, Hana dan Diana menoleh bersama. Salsa dan Naufal berjalan di belakang Annisa yang berlari menghampiri Hana. Seketika Annisa memeluk Hana, tangan mungilnya mengalung sempurna pada leher Hana. Seakan tidak ingin melepaskan pelukan pada sang mama. Salsa tersenyum melihat kedekatan Annisa dan Hana. Sedikitpun Salsa tidak marah melihat kedekatan keduanya. Meski terkadang jauh di lubuk hati terdalamnya. Ada rasa cemburu melihat putri sambungnya dengan tulus memanggil Hana dengan sebutan mama. Namun dalam sekejap, Salsa langsung membuang pikiran buruk itu. Sebab sebelum menikah dengan Naufal. Salsa sudah melihat kedekatan Annisa dan Hana. Jadi tidak pantas, jika sekarang Salsa cemburu pada hubungan mereka.
__ADS_1
"Sayang, bisa lepaskan mama sebentar. Mama tidak bernapas, bila kamu memeluk sekencang ini!" ujar Hana, lalu terdengar batuk pelan. Sontak Annisa melepaskan pelukannya pada Hana. Sesaat setelah dia mendengar suara Hana batuk. Annisa langsung menunduk penuh penyesalan. Hana tersenyum melihat Annisa gadia kecilnya. Dengan lembut Hana mengangkat dagu Annisa, mencium kening dan pipi Annisa lembut.
"Sayang, mama tidak marah. Hanya saja mama tadi benar-benar sesak. Annisa boleh memeluk mama kapanpun? Tidak akan ada yang melarang, mama akan ada disaat Annisa merindukan mama!" ujar Hana lirih, Annisa mengangguk dengan menunduk. Hana melihat jelas penyesalan dan rasa bersalah Annisa. Gadis kecil yang memanggilnya mama. Seorang anak yang tidak pernah merasakan kasih sayang tulus seorang ibu.
"Maafkan Annisa mama. Annisa bahagian bisa bertemu mama. Annisa merindukan mama, semenjak mama mengandung dedek bayi. Mama tidak pernah bertemu Annisa. Saat Annisa meminta papa mengantarku untuk bertemu mama. Dengan tegas dan marah, papa melarang Annisa. Bunda Salsa pernah mengajakku bertemu mama, tapi papa tidak mengizinkan. Papa takut aku mengganggu mama. Annisa merindukan mama, Annisa anak baik tidak akan nakal dan mengganggu mama dan dedek bayi!" tutur Annisa polos tanpa beban, Salsa terperanjat mendengar penuturan Annisa. Mungkin ini alasan penolakan Annisa setiap kali dia mengajak Annisa bertemu Hana. Semua terjadi karena larangan Naufal. Seketika menatap tajam ke arah Naufal. Dia marah pada Naufal, karena melarang Annisa pergi dengannya. Padahal Salsa bersedia tersisih, selama Annisa bahagia bertemu dengan Hana.
Saat semua merasa kecewa atas sikap Naufal. Hanya Hana yang tenang dan tetap tersenyum. Hana memahami sikap Naufal itu beralasan, tapi mungkin semua orang berpikir itu keputusan yang salah. Hana merentangkan kedua tangannya, Annisa berhambur memeluk Hana. Dengan penuh kehangatan Hana mendekap tubuh mungil Annisa. Lalu Hana memangku Annisa. Kebetulan Hana tidak boleh berdiri. Hana keluar dengan menggunakan kursi roda.
"Mama, Annisa tidak pernah mengabaikan bunda Salsa. Annisa juga menyayangi bunda Salsa, tapi Annisa juga merindukan mama. Sejak kecil Annisa hanya melihat foto mama. Hanya wajah mama yang ada dalam mimpi Annisa. Aku tidak meminta mama menikah dengan papa, karena papa telah menikah dengan bunda Salsa. Aku hanya ingin menjadi putrimu yang lain. Aku ingin memanggilmu mama!" ujar Annisa dengan suara terisak, Hana menggeleng sembari memeluk Annisa. Naufal dan Salsa diam mematung. Melihat senyum Annisa yang menyimpan luka. Naufal menyadari kesalahannya, dia mencoba merubah sesuatu yang diyakini sejak kecil menghilang dalam waktu sekejap. Sebaliknya Salsa membisu, putri sambungnya dengan sangat mudah mengutarakan isi hatinya pada Hana. Sesuatu yang tidak pernah Annisa lakukan padanya. Hati Salsa terasa ngilu, melihat air mata Annisa menetes untuk Hana.
"Annisa, maafkan kami orang dewasa yang membiarkanmu berpikir terlalu keras. Seharusnya kamu bahagia diusiamu yang masih kecil. Bukan memikirkan cara untuk bahagia. Sayang, maafkan mama yang tidak bisa selalu merangkulmu. Apapun yang kamu inginkan? Lakukanlah sayang, bahagialah jangan menangis. Mama akan terus memelukmu selama kamu memintanya. Kami yang terlalu terburu-buru memaksa untuk membuatmu mengerti. Maafkan mama sayang, maaf!" tutur Hana, Annisa membalikkan badannya menghadap Hana. Dia tidur dalam pangkuan Hana. Dekapan hangat mama yang dirindukan. Salsa menatap sendu ke arah Hana dan Annisa. Diana mendekat pada Salsa. Naufal diam menatap sang putri yang bergantung pada Hana. Semua akibat obsesi dan cintanya pada Hana dulu.
"Salsa, kakak memahami sakit hatimu. Namun diantara kita semua, kakak yakin kamu mengenal siapa Hana sebenarnya? Meski kini kamu menyalahkan hadirnya Hana merebut kasih sayang Annisa, tapi kamu juga harus memahami posisi Hana. Kamu mengenal Hana dengan baik. Sangat tidak mungkin Hana ingin merebut perhatian Annisa. Sekarang saatnya kamu membuktikan pada Annisa. Kamu ibu terbaik untuknya!" ujar Diana, lalu menarik Salsa ke dalam pelukannya. Hana dan Diana menganggap Salsa sebagai adik kecil yang harus terus mereka jaga. Salsa mengangguk dalam pelukan Diana. Setidaknya masih ada Diana yang akan mendukungnya.
__ADS_1
"Aku bukan marah pada kak Hana. Aku juga tidak menyalahkannya yang telah mendapatkan kasih sayang Annisa. Begitu juga Annisa, aku tidak marah atau kesal melihat besar cintanya pada Kak Hana. Aku marah pada diriku sendiri. Aku kalah oleh amarah dan egoku. Aku menyalahkan anak berumur 8 tahun. Hanya karena dia lebih menyayangi orang lain. Cintaku buta seakan tak mampu melihat air mata dan kerinduan gadis kecil yang haus akan kasih sayang. Aku yang jahat bukan kak Hana. Aku yang mengabaikan bukan Annisa. Cinta yang penuh rasa takut kehilangan. Membuatku lupa cara menyayangi dengan tulus!" batin Salsa pilu, Salsa memeluk erat Diana. Naufal tertegun melihat dua wanita yang dicintainya rapuh.
"Salsa, maafkan aku yang membuatmu berada pada posisi seperti ini. Kesalahan masa laluku membuat Annisa bergantung pada Hana!" ujar Naufal, Salsa diama lalu menggeleng. Hana menurunkan Annisa, dia meminta Diana membawa Annisa menjauh. Kemudian Hana mendekat pada Salsa yang tertunduk sedih.
"Salsa, kakak tidak ingin meminta maaf padamu. Bukan kakak tidak merasa bersalah padamu, tapi kakak ingin membuktikan padamu. Bahwa kakak tidak ingin merebut Annisa darimu. Hanya waktu yang akan membuat Annisa melupakan kakak dan memelukmu sepenuhnya. Sebab sampai detik ini, kamu ibunya bukan kakak. Jadi kakak mohon, mengertilah akan sikap Annisa yang masih kecil. Setidaknya sampai dia memahami arti sebuah hubungan!" ujar Hana, Salaa mengangguk. Naufal merangkul Salsa, Hana melihat cinta yang mulai bersemi dihati Naufal untuk Salsa.
"Sayang, kamu ibu yang hebat. Biasanya ibu sambung akan menyiksa anak sambungnya. Berusaha menjauhkan anak dari ayahnya, tapi kamu berbeda. Kamu menangis dan menghiba kasih sayang anak sambungmu. Kamu melupakan bahwa dia bukan putri kandungmu. Dengan penuh keikhlasan kamu menganggap Annisa sebagai putri kamdungmu. Sayang, air matamu tidak akan sia-sia. Annisa akan menganggap dirimu ibu sepenuhnya. Terima kasih atas kesabaranmu!" tutur Naufal, lagi dan lagi Salsa terdiam. Hana dan Naufal mengira Salsa diam, karena penolakan Annisa. Mereka berdua merasa Salsa benar-benar terluka.
"Aku diam bukan marah atau kecewa. Aku merasa diriku egois. Aku meminta cinta tulus, tapi hatiku masih dipenuhi rasa iri dan dengki. Bukan aku menangis akan cinta Annisa untuk kak Hana. Tapi kebodohanku yang tidak menyadari kebahagian putriku. Annisa berhak bahagia, karena Annisa nuur dari pernikahan kami!" ujar Salsa, Hana mengangguk mengaerti.
"Kesabaran tidak akan sia-sia. Akan ada saatnya semua terbayar lunas!" sahut Hana lirih.
"Iya!" ujar Hana.----
__ADS_1